Di Indonesia mendadak muncul sebuah gerbang yang ternyata di dalamnya terdapat banyak monster khayalan orang-orang, namun kini mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan seorang remaja bernama Satriaji menjadi salah satu seorang yang mendapatkan kekuatan untuk melawan para monster yang ada, di sisi lain ia mendapatkan kenyataan yang pahit tentang sahabat masa kecilnya yang sudah dianggapnya seperti kakak kandung.. apa itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadly Abdul f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 09 : Dunia Menurut Pandangan Artha
(Sudut Pandang Pertama Artha)
Angin berhembus membawa helaian pesan pada orang-orang yang merasakannya, semuanya berjalan terus melangkah menyibukkan diri dengan kesibukan masing-masing. Sangat ramai sekali tempat ini sampai aku bisa merasakan betapa leganya tempatku berpijak bahkan menghela napas saja begitu susah.
Berjalan diantara orang-orang yang lalu lalang di sana sini, yang mataku lihat hanyalah kesibukan yang seakan-akan takkan memudar kalaupun ada bencana sekalipun. Gedung-gedung tinggi terlihat menjulang tinggi ke langit meretakkan langit, sampai kulihat langit sudah tiada. Hancur lebur tidak berwarna cerah biru lagi.
Suara kendaraan terdengar masuk ke dalam gendang telingaku, begitu bising dan sudah terbiasa dengan semua ini.. kumpulan pengendara yang melawan arus, mataku hanya mengarah pada lampu hijau yang sedari tadi hanya merah saja. Tidak berganti selain dari warna merah.
Menoleh ke samping banyak orang yang menunggu juga untuk menyebrang jalan, namun karena lama aku pergi menjauhi tempat itu. Seperti meledekku saat kupergi lampu itu berganti hijau, menghembuskan napas kakiku bahkan malas menuju tempat semula.
Melihat sebuah kafe aku memasukinya mendapati suasana tenang dengan musik yang terdengar tenang, duduk di salah satu tempat tanganku meraih daftar makanan yang disediakan di tempat ini.
***
Hari yang renang sangat kusukai apalagi saat berada diantara teman-temanku, kami bercanda dan bercakap-cakap tentang hal bodoh. Percakapan tiada arti tapi hari-hari semacam ini yang kusukai dimulai dari segala hal dari kecil dan besar, itu semua aku rasakan bak mesin, aku tidak pernah capek untuk bersenda gurau seperti ini.
Namun, rasanya begitu hening seketika bagaikan ada meteor yang mau menghantam tempat kami semua. Setiap langkah guru yang semakin terdengar keras membuat keributan pada kelas tiba-tiba senyap, semua suara telah tiada digantikan dengan tatapan serius kecuali bagi para siswa yang sedang tidur.
"Baiklah! Anak-anak saatnya kita melakukan genosi--- pembelajaran maksudnya, buka buku PKN kalian!" Perintah guru dengan nada keras.
Semua murid menghela napas panjang ketika perempuan dengan pekerjaannya sebagai pengajar atau guru hampir mengatakan sebuah kata yang hebat aslinya buruk, apalagi dengan nada semangat dan keras pula.
Aku hanya bisa tersenyum kecut saja ketika mendengarnya, menuruti perintahnya tanganku meraih sebuah buku tebal materi yang diperlukan sebuah lembaran berjilid berisi tulisan. Kuambil pena dan bersiap untuk menulis semua yang harus ditulis, namun perlahan-lahan mataku terasa mengantuk. Rasa kantuk ini menguasai pikiranku untuk tidak aktif.
Beberapa saat kemudian, aku coba untuk membuka mataku kembali lalu mendapati diriku sedang tiduran di bawah naungan pohon. Pandanganku tidak teralihkan dari tanganku, di atas telapak tanganku terdapat sebuah buku dongeng membuatku teringat kalau tadi hanyalah mimpi belaka. Lagipula, mana ada dunia semacam itu walaupun ada aku ingin pergi ke sana dan tinggal menetap saja.
Suara-suara itu masih menggema dalam telinga, jeritan dan hantaman suara sangat membuatku ketakutan hanya karenanya. Tanganku gemetaran, emosiku tidak terkendali, dan semuanya tetap saja takkan bisa ada yang bisa selamat dari dunia ini.
Mencoba memaksakan diri untuk berjalan, kakiku nampaknya sudah kelelahan menopang tubuhku yang berat ini begitu juga tas punggung. Namun, dimanapun dan kapanpun keberadaanku tidak akan mengubah apapun dari takdir selain bisa tertawa kecil beberapa saat lalu menangis untuk waktu yang lama.
Biarpun seberapa kuat kekuatanku, seberapa besar daya hancur senjataku, dan seberapa kuat hatiku bisa menahan..
"Semuanya hanya akan sama saja," ujarku sembari berjalan. Tujuanku tidak pasti, karena diujung dunia sekalipun kami takkan bisa tenang dan baik-baik saja. Anak kecil juga tahu akan hal itu para orangtuanya juga tidak bisa memberikan harapan palsu pada anaknya, memaksa mereka menelan pahitnya kehidupan itulah masa sekarang.
Tidak ada hari di mana engkau bisa tertawa bersama teman-temanmu, dan saat kematian ada di hadapanmu pasti kakimu takkan bisa pergi melangkah lagi. Hanya menunggu serta menerimanya dengan senang hati, kalaupun itu demi lari dari masalah mereka yang ada di dunia ini tetap saja akan menderita.
Suara ledakan menampar pipiku dengan kerasnya, mereka meledak mengamuk di sampingku terus menerus menggelar bagai petir yang mengejar. Suara teriakan dari orang-orang di sekitarku tidak bisa direlakan lagi.
Adakalanya seseorang akan pergi jauh meninggalkan semuanya demi nyawanya sendiri, begitulah manusia tidak ada yang namanya kesetiaan yang melebihi nyawa. Begitulah pikirku. Namun, tidak semuanya seperti itu karena beberapa dari mereka tahu menahu apa artinya dari hubungan dan apa itu janji. Mengerti pengertian dan kata itu sangatlah hebat.
Akan tetapi, bagi mereka yang hanya mengartikannya ke dalam hal yang salah memperburuk keadaan serta meninggalkan semuanya lalu menyesalinya pada akhir. Kemudian, manusia tersebut tidak ada pilihan lain selain lari mengunakan pintu kematian.
Bagi mereka yang memperbudak keinginan semata bisa menghilang dalam satu detik saja tidak kurang maupun lebih, kaki mereka akan melangkah menuju tempat yang aman bagi mereka. Mulut akan menolak segala hal menurutnya buruk, dan tangan mereka akan menjatuhkan siapapun kalau bisa berguna ataupun dimanfaatkan juga tidak apa-apa. Sekalipun itu ada sangkut pautnya dengan perasaan.
Bagiku sendiri hutan ini sebuah tempat tinggal yang baru untukku, tempat dimana aku bisa menyebut tanah gersang serta pepohonan mati ini kusebut sebagai rumah untuk pulang. Walau hanya sebentar saja, sekejap saja ini lebih baik dari kehilangan segalanya lagi.
Dari hijau menjadi kuning, dari kuning menjadi coklat, dan dari cokelat menjadi hitam lalu memutih perlahan-lahan akan menjadi debu. Diterbangkan angin tanpa tujuan melayang bebas sampai menghilang di suatu tempat.
"Paman, apa yang kau lakukan ?" Tanyaku padanya.
Dia menoleh menjawab, "Uh ? Ah, aku sedang menebang salah satu pohon di sini."
Kulihat kalau dia menebangnya tanpa pikir panjang, ini pohon paling besar di sini dan juga tidak membawa satupun anak pohon. Untuk menanam pohon lagi.
"Kalau sudah ditebang tanamlah lagi."
"Ah ya ya! Akan aku lakukan nanti!" Ucapnya menjawab dengan nada keras. Terlihat matanya tidak serius menganggap perkataanku hanya bualan omong kosong. Sekadar omong kosong belaka.
Dalam hatinya ia pasti sedang berpikir kalau hak tersebut tidak usah dilakukan, lagipula pohon di dunia ini masih sangat banyak takkan ada habisnya. Mereka juga akan berkembang biak dengan sendirinya. Padahal kurasa itu ialah alasan mengapa dunia hancur sekarang, jarang kudengar anak-anak tertawa terbahak-bahak saat bermain.
Mereka membantu orang-tuanya, saat besar mereka meninggalkan rumah lalu ditipu oleh orang yang ada di atas mereka. Hanya sebuah tikus kecil tanpa pangkat dan jabatan, bagi yang di atas bisa melempari kita dengan benda berat lalu membunuh kita tanpa kita sadari.
Alasan itulah yang harusnya aku pikirkan sejak dulu, mengapa manusia harus melakukannya ? Mengapa diriku harus menghadapi hal semacam ini sendirian ? Dan sebagainya. Setiap pertanyaan akan terjawab dan pertanyaan yang baru akan muncul seiring berjalannya waktu. Itu yang kupikirkan sebagai kehidupan yang tengah kujalani sekarang ini.
tapi, yang aku tahu disini sepertinya monster di dalam gerbang tidak bersalah kan? mungkin hanya zombie yang menyerang saja
yang mulai menyerang duluan juga manusia dari bumi, apakah ada kesalahan dalam mengartikan TULISAN DI PINTU itu?
lalu, kata "Sebaiknya jangan terlalu memikirkan mengapa aku tak mau satu kelompok denganmu"
apakah ia akan meminum darah dari hewan yang ia buru?