Kinanti Larasati, gadis cantik berusia 23 tahun, harus menjadi ibu muda diusianya yang masih 20 tahun karena kesalahan yang dia lakukan dengan kekasihnya. Laki-laki yang menghamilinya tidak bertanggung jawab, dan Kinanti sendiri terbuang dari keluarganya.
Arga Dirgantara , seorang laki-laki tampan, berusia 28 tahun, pengusaha muda yang sukses, dan dia adalah ayah biologis dari anak Kinanti.
Bagaimanakah perjuangan Kinanti dalam membesarkan anaknya tanpa seorang pendamping disisinya, Akankah dia akan bersama dengan Arga lagi, atau mungkin menemukan cinta yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ju juariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Kinan....yuuk kita makan siang," ajak Ratih.
"Ya ampun Tih maaf ya aku lupa kasih tau kamu, tadi pak Ryan ngajak makan siang bareng," kataku.
"Cie...cie... yang mau maksi bareng, udah ada peningkatan ni dari seorang Kinanti, yang tadinya selalu menolak ajakan pak Ryan, ehh sekarang.....," goda Ratih.
" Aku ngga enak Tih menolak terus ajakannya. Ya udah aku batalin aja ya ajakan pak Ryan", kataku.
"Eits....kok dibatalin si, jangan Kin... lanjutkan saja kalian maksi bareng, iya kasihan pak Ryan kalau kamu nolak terus ajakannya, lagian lumayan Kin gratis," kata Ratih sambil tertawa.
"Ya sudah aku jalan duluan ya, maaf hari ini ngga bisa makan siang bareng kamu Tih", kataku.
"Santai aja Bu kayak dipantai, aku bisa makan siang bareng Dewi atau Indra" kata Ratih.
****
Aku sampai di lobby tepat waktu dan kulihat Ryan juga baru sampai, jadi dia ngga lama menungguku, karena jarak caffe dekat dengan kantor jadi kami berjalan kaki menuju caffe tersebut. Aku memilih menu gado-gado lontong, sedangkan Ryan Soto ayam, sambil makan kami mengobrol ngalor-ngidul. Selesai makan kami langsung balik ke kantor, aku langsung sholat dhuhur, begitupun dengan Ryan. Selesai sholat aku merapikan riasan wajahku, namanya juga mau ketemu client biar agak rapihanlah penampilanku biar ngga malu-maluin bos, batinku. Yes selesai, aku langsung menuju ruangan pak Dimas.
Tok tok tok, kuketuk pintu ruangan pak Dimas.
"masuk", jawab pak Dimas dari dalam ruangannya.
Ceklek.... aku membuka pintu, di dalam tampak pak Dimas duduk di bangku singgasananya, disampingnya berdiri Danu, asistennya.
"Siang pak", kataku sopan.
Hmmm.....kata pak Dimas singkat, ya ampun pelit banget si jawabnya, batinku.
"Mari kita jalan sekarang biar ngga telat sampai disana, aku ngga mau mereka menunggu kita", kata pak Dimas dengan muka datarnya, dan dia langsung berjalan keluar pintu diikuti Danu dan aku.
sampai di depan lobby, sebuah mobil mewah sudah menunggu kami, kemudi diambil alih oleh Danu. Aku membuka pintu mobil bermaksud duduk disamping Danu.
$Kenapa kamu duduk di depan, duduk disini dengan saya", suara pak Dimas mengagetkanku, akhirnya aku duduk dibaris kedua bersama dengan pak Dimas, tak ada pembicaraan diantara kami, pak Dimas asyik memainkan handpone nya, aku pun diam menatap lurus ke depan ke arah jalanan. Lalu diam-diam pandanganku beralih ke pak Dimas. Ternyata pak Dimas ini ganteng juga ya....hidungnya mancung, berkulit bersih, rambut ikal bergelombang, bola matanya kecoklatan, seorang executive muda pula, perfect banget deh, idaman setiap wanita, kenapa aku baru menyadarinya ya, pantas saja banyak cewe-cewe di kantor yang kadang suka heboh saat pak Dimas lewat, batinku sambil tersenyum.
"Ada apa dengan wajah saya," tiba- tiba pak Dimas membuyarkan pandanganku.
"Apa ada yang aneh, kamu juga tersenyum-senyum sendiri", katanya tanpa ekspresi.
Ya ampun malunya aku kepergok pak Dimas sedang memandanginya.
Kulihat Danu tersenyum tipis sambil terus menyetir kendaraan.
"Ngga pak, maaf", kataku singkat.
"Iya kamu kenapa memandangi saya sambil tersenyum gitu" kata pak Dimas masih dengan muka datarnya.
"Bapak mau jawaban jujur atau bohong", kataku.
"Ya jelas saya mau jawaban jujur dari kamu", kata pak Dimas dengan intonasi agak tinggi tapi tetep tanpa ekspresi.
"Tapi bapak jangan marah ya," kataku lagi.
"Ya sudah cepet katakan ngga usah berte-tele", katanya lagi.
"Saya tuh baru sadar hari ini kalau ternyata bapak itu tampan", kataku pelan.
"Kemana aja kamu selama ini baru menyadari kalau saya ini tampan".katanya.
"Tidur kali pak" jawabku ngasal. Upps aku langsung menutup mulutku karena asal ngomong saja dengan bos.
++++++++++++++++++++++++++++++++++
Hai readers ku tersayang, makasi ya sudah mampir ke cerita saya, jangan lupa tuk kasih like, vote, komen. Jangan lupa juga tuk mampir ke cerita saya yang berjudul Seputih cinta Karina.
Thanks readers, love u♥️♥️
apa thor sehat-sehat kah
semangat thor...💪💪