Masalalu,
Semuanya berasal dari masalalu.
Masalalu yang mengubah hidupku.
Mengobrak abrik hati yang telah lama tersakiti.
Sebuah rahasia yang berawal dariku, membuat berbagai macam pertikaian dan perebutan terjadi. Mencari titik celah untuk mendapatkan rahasia yang tersimpan rapat dalam memori.
Aku...
Adalah titik pemicu peperangan terjadi.
Barang berharga yang mereka incar yang telah lama hilang kini mulai terkuak kembali.
Memaksaku untuk melindungi diri dari para musuh yang berniat ingin mencelakai.
Dia...
Suamiku.
Pria yang dengan tulus mencintaiku, meski harus melalui masa panjang untuk akhirnya bersama.
Pun tak luput melindungiku hanya untuk harta berharga.
Apa aku...
Hanya barang yang diperebutkan?
Atau hanya manusia yang perlu dimusnahkan?
follow akun ig author : @maulidamaulida84
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MA84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Tante Lucy
Tok tok tok
Aku meregangkan tubuhku saat terganggu dengan suara ketukan pintu di luar kontrakan. Kulirik jam weker di atas nakas menunjukkan pukul 16.07. Siapa yang bertamu sore sore begini?
Tok tok tok
" Sebentar! " Aku segera melilitkan hijab pasminaku untuk menutupi rambutku yang berantakan. Malas dandan, paling yang datang bu kost yang nagih uang bulanan.
Cklek
" Sia--- "
" April sayang... " aku yang tak siap di peluk hampir saja terjerengap di lantai, untung saja aku sigap memegang gagang pintu untuk menahan tubuhku.
" Tan-tante Lucy? Tante ngapain di sini? " tanyaku sedikit linglung. Maklum, abis bangun tidur. Resto libur, makanya aku bisa tidur sore sore gini.
" Tante bosan di rumah, gak apa apakan kalo tante berkunjung kekontrakan kamu? " ujar beliau dengan manja. Aku hanya mampu tersenyum kikuk lalu mempersilahkan beliau masuk.
" Silahkan di minum tante "
" Terima kasih sayang... " aku tersenyum kecil membiarkan beliau meminum teh yang aku seduhkan sesuai permintaan beliau.
" Kamu tinggal di sini sendiri? " tanya tante Lucy sembari memperhatikan setiap sudut kontrakanku. Untung aku udah beberes, jadi gak akan nanggung malu kalo sampe kamarku berantakan.
" Begitulah tante, tapi alhamdullah saya nyaman tinggal di sini. " jawabku jujur. Memang benar, aku merasa nyaman hidup dalam kesendirian. Bukan tak rindu dengan keluarga, hanya saja aku ingin belajar mandiri dan menghasilkan uang sendiri tanpa meminta uang pada orang tua.
" Hm... " beliau mengangguk pelan dengan mata terus menelusuri setiap sudut kontrakan ini. Tak apa, toh tidak akan merusak barang barang juga.
" Kamu gak kerja hari ini sayang? "
" Lagi libur tante "
" Emmm tante kesini ada apa ya? " tanyaku ragu ragu, takut beliau tersindir karna pertanyaanku.
" Emang gak boleh?! " eh tiba tiba merajuk. Aku kelabakan sendiri dan langsung memeluk beliau.
" Enggak bukan gitu tante. Maaf. " sesalku. Sungguh aku tidak bermaksud menyinggung tante Lucy, apalagi sampai membuat beliau marah.
" Udah gak apa apa, "
" Sekali lagi maaf tante "
" Kamu ini. Sama persis seperti tante dulu sewaktu muda. Polos dan mudah di bohongi. Dan kamu tau? Karna kepolosan tante inilah, om jadi jatuh cinta dan akhirnya kami menikah dengan di karuniai dua putra yang sekarang sudah besar besar semua." tiba tiba saja tante Lucy bernostalgia mengenang kenangannya bersama sang suami.
" Tapi ya gitu. Tuhan hanya menakdirkan kami sampai kedua putra tante beranjak remaja. Dan itu membuat kedua putra tante sedih dan lebih menyibukkan diri di luar ketibang di dalam rumah. " sendu tante dengan air di pelupuk mata. Aku dengan cepat mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya pada tante Lucy.
" Tisu tante, "
" Terima kasih. Tersenyum kecut. Itu benar benar membuat tante sedih dan memilih menjadi singel parent sampai sekarang. "
" Tante benar benar gak tahu harus bagaimana. Pengen marah, tapi gak sanggup. Tante rindu kedua putra tante, tapi mereka benar benar tidak peka dan selalu pergi saat tante berusaha untuk berbincang hangat dengan mereka. Tante benar benar kesepian. " tangis yang sedari di tahan itupun pecah.
Aku tak tahu harus berbuat apa hanya mampu memeluk beliau sembari mengelus elus punggungnya. " Tante gak perlu sedih. Kan ada Aril. Tante bisa ngunjungin Aril kapanpun tante mau, Aril akan selalu menyambut tante dengan tangan terbuka. " ucapku. Yah hanya itu yang mampu aku katakan. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Bingung gue.
" April sayang. Soal tawaran tante kemarin, tante masih berharap kamu mau berubah pikiran. Tapi, kali ini bukan menumpang tanpa status. Tante pengen kamu jadi bagian keluarga tante. " tutur beliau dengan manik mata penuh harap. Perasaanku benar benar tidak enak...
" Mak-maksudnya tan? "
" Menikahlah dengan putraku! " Deg. Bagai di sambar geledek, ini telingaku gak salah dengarkan? Menikah? Aku percaya akan cinta saja tidak, ini pengen nikah? Yang benar saja!!
" Tante, bukan maksud ingin menolak. Tapi, menikah itu bukan sesuatu yang sederhana. Harus ada persetujuan kedua belah pihak agar tidak terjadi konflik yang mungkin akan berakibat pada kata perceraian kedepannya. Lagipun, saya masih terlalu muda untuk menjalin sebuah hubungan pernikahan, dan saya masih mau melanjutkan kuliah dulu. " tolakku halus.
" Anak tante udah setuju, tinggal meminta persetujuan kamu saja lagi. Dan juga, dalam agama tidak ada larangan untuk menikah muda. Kamu percaya sama tante, anak tante itu pria baik. Hanya saja semenjak meninggal Ayahnya, dia jadi lebih dingin. Apalagi saat di usianya yang masih muda harus mengurus perusahaan Ayahnya. "
" Sungguh, tante bukannya ingin memanfaatkan kamu. Tapi, tante ingin sekali anak tante itu bisa berubah. Dan tante merasa kamu bisa merubah sifatnya yang dingin itu. " mohonnya bahkan sampai bersimpuh di kakiku.
" Astagfirullahalazim tante! Bangun tante, jangan gini, saya gak enak! " aku langsung menarik tubuh tante Lucy untuk kembali duduk di sofa. Sumpah aku risih banget tadi.
" Jadi bagaimana? "
" Akan Aril pertimbangkan tawaran tante "
bikin aku gemes.
jadi pengen masukin ke kantong,
buat dibawa pulang.
'yes lampu ijo'
Thor novelnya gak dipromosikan?
padahal bagus loh
Me : Dingin Dingin bikin meleleh ya, ril?😆
tetap semangat nulisnya.
Aku suka dengan gaya bahasanya
ku udah ngirim kopi untuk kakak
semangat.....