NovelToon NovelToon
Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Dokter Genius / Kehidupan di Kantor / Karir / Teman lama bertemu kembali / Dokter / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 5
Nama Author: Margaret R

Ketika laki-laki itu menabraknya di lobby rumah sakit, Melisa marah-marah. Pria blasteran itu dipanggilnya 'Bambang' karena menumpahkan kopi di baju kerjanya, padahal tak ada sebaris pun kumis melintang diatas bibirnya.

Pun ketika pria itu memberinya sapu tangan untuk membersihkan tumpahan kopinya dia menambah julukannya menjadi manusia kuno prasejarah.

Dan ternyata sejam kemudian Melisa tahu, Bambang yang kuno itu adalah Boss-nya.

●●●●
Cerita Vincent yang ditolak ama Liana dan Gendhis dimari. Yukkk masuk 🤣🤣🤣

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEASON 1 Part 8. Masalah Lagi

Hari ini ada rapat koordinasi keuangan semester dengan masing-masing kepala bagian unit keuangan. Alamat lembur lagi, sudah jam 7 lewat aku baru selesai dengan unit terakhir.

Otakku sudah panas, perut lapar, gak sanggup nyetir pulang makan dirumah, aku makan di RS aja.

Apesnya ada Bambang di kafetaria RS. Kafetaria ini buka sampai jam 9 untungnya. Dia melihatku, gak nyapa entar dibilang gak sopan lagi.

"Malam Dok,..."

"Baru selesai meeting? Ayo duduk sini aja." Dia pake kemeja biru lagi, tapi dengan corak yang lain, tampaknya dia memang penyuka biru.

"Iya."

Tapi sejak kejadian terakhir aku memberi batas padanya. Dia tak pernah mencoba apa-apa lagi, pekerjaan berjalan seperti biasa dua minggu terakhir ini. Sebenarnya aku lega... Mungkin dia sudah menemukan mainan yang bisa dia ganggu dan melupakanku.

Aku terlalu beku untuk dicairkan, terlalu sulit didekati, tidak menarik untuk dijadikan kesayangan... Ini hanya pikiranku, aku tak tahu apa yang dipikirkannya tentu saja.

Tapi sekarang baru aku inget, sapu tangannya aku lupa balikin.

"Saya selalu lupa mau kembalikan ini." Sudah dua minggu sapu tangan dibungkus plastik bening itu di tasku.

"Ohh..." Dia menerimanya. "Ini sebenarnya hadiah Mama saya ketika ketika pertama bekerja. Ini ada satu set isi 6, saya sudah menghilangkan 4, tinggal dua, kadang saya merasa ini seperti pembawa keberuntungan." Dia tertawa kecil menjelaskan sapu tangan itu.

"Kenapa Dokter tak memintanya."

"Saya pikir kamu membuangnya. Seperti membuang tissue... Saya sudah merelakannya. Terima kasih buat ini..." Dia tersenyum kecil padaku. "Mama sudah baik."

"Sudah." Aku menjawabnya sambil menyuap makananku.

"Good. Kamu gak kepikiran lagi. Masih berantem sama adek?" Aku hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaannya. Aku melonggarkan pertahananku sekarang. Tidak merasa terganggu ketika dia bertanya. Karena mengganggap dia melakukannya bukan karena ingin sesuatu tapi hanya membina hubungan baik.

"Kalau mau diturutin, tiap hari ada aja.Tapi sekarang orangnya nge-kost jadi sudahlah anggap saja dia bisa ngurus diri dia sendiri." Sekarang berkurang karena gak ada orangnya dirumah.

"Ohh begitu... Kayanya udah gak tahan denger kakaknya ngomel." Bambang menyindirku dengan tertawa dan aku hanya meringis karena mungkin itu benar.

Teleponku berbunyi, siapa yang menelepon malam begini. Nomornya tidak kukenal. Aku tidak mengangkatnya...

"Kenapa tidak diangkat." Dia heran aku tak mengangkat teleponku yang bergetar di meja.

"Nomor tidak dikenal." Aku membiarkannya tapi kemudian nomor itu menelepon lagi. Aku mengangkatnya akhirnya.

"Halo?"

"Halo Kak, Kakak Melisa ya. Kakaknya Ardy?" Seorang pria meneleponku, temannya Ardy?

"Iya, siapa ini."

"Aku temennya Ardy Kak, saya Hendrik. Mau kasih tahu tadi Ardy ditangkep polisi. Katanya bawa sabu sama temennya namanya Johan dan Dino. Tapi pas dia minta tolong telepon kakak gak tahu temennya itu bawa sabu. Katanya dia cuma ikut di ruangan itu."

"Bawa sabu?!"

"Katanya dia ikut doang Kak. Kayanya Ardy gak pernah pake gituan. Sekarang dia di Polres Jakarta Pusat kak..." Sekarang aku udah lemes duluan. Yang kutakutkan selama ini terjadi, Ardy bergaul dengan orang-orang yang kecanduan. Kalau dia sampe nyoba...

"Makasih Hendrik, kakak ke kantor polisi entar..." Aku langsung blank. Gak tahu harus gimana. Harus bawa orang yang tahu gimana nanganin ini. Siapa?! Aku gak punya kenalan? Siapa yang punya kenalan? Orang legal? Pak Tonny?!

"Kamu kenapa? Siapa yang bawa sabu?" Dokter Vincent bertanya tapi tak kujawab karena otakku sibuk berpikir siapa yang harus kuhubungi untuk membantuku. Tanganku gemetar melihat kontak di ponselku. "Melisa?! Ada apa?" Aku melihat Dokter Vincent bertanya.

"Ardy..." Suaraku gemetar karena panik. Gimana kalo Mama tahu, gimana kalo Ardy beneran kecanduan? Rehabnya aku uang dari mana? Mesti pinjem ke siapa? Urusan polisi berapa duit? Segala pikiran dan ketakutan ada di dalam kepalaku.

"Ardy? Ardy kenapa?" Pak Vincent orang hukum juga, mungkin dia punya kenalan? Apa aku harus minta bantuan koneksinya. "Kamu jawab yang jelas?!" Dia tak sabar melihat jawabanku yang cuma satu kata.

"Pak Vincent... " Aku melihat ke arahnya. Mungkin tak apa nanya koneksi "... Bapak...punya kenalan orang yang bisa ngurusin ketangkep sabu? Katanya Ardy ketangkep sama temennya yang bawa sabu? Tapi ... saya gak tahu apa dia pake juga. Gimana ... ngurusnya ini." Vincent terdiam. Aku bangkit dari dari kursi, aku harus ke Polres Jakarta Pusat dulu.

Mungkin aku bisa nelepon orang legal minta saran gimana... Urusan sama polisi, pasti keluar duit lagi. Aku masih punya cash money,... mungkin cukup.

"Kamu mau kemana?!" Aku meninggalkan makananku begitu saja. Aku harus ke kantor polisi dulu.

"Saya mau ke polres dulu..." Suaraku udah gemetaran. Gimana Ardy kalo beneran nyoba shabu, ini gara-gara aku izinkan dia kost. Harusnya aku gak izinkan dia kost. Pikiranku tak bisa fokus lagi.

"Duduk dulu! Saya telepon orang dulu!" Dia menahan tanganku.

"Bapak punya kenalan yang bisa urus?" Kuharap dia mau menolong.

"Ada, kamu duduk dulu." Aku duduk menurutinya, karena aku tak tahu bagaimana mengurus ini. Aku melihatnya mengecek kontaknya dan menelepon seseorang kemudian.

"Gendhis, malam." Dia diam menunggu jawaban, dia menelepon seorang wanita, pengacara?! Apa wanita bisa mengurus hal-hal seperti ini. "Adek temen saya kena ciduk sabu sama polisi, kita gak tahu dia makai apa engga. Kamu bisa bantu?" Wanita itu bicara disana.

"Ohh Herman... Oke. Ini orangnya yang mau bicara." Dia oper ke rekannya ya?

"Ini Pak Herman, pengacara khusus kriminal. Kamu ngomong ke dia..." Dia memberikan teleponnya padaku. Aku langsung mengambilnya.

"Iya Pak Herman..."

"Dengan Ibu siapa?" Seseorang menjawab disana.

"Saya Melisa. Gimana ya pak, kata temennya, adik saya ditahan di Polres Jakarta Pusat . Katanya dia keciduk sama temennya yang lain. Gimana urusannya itu ya Pak. Kalau dia pakai gimana, kalo enggak gimana?"

"Ohh belum tahu, baru ketangkep ya... Saya kirim orang kesana buat dampingi. Saya minta nomor telepon Ibu. Segera orang saya kesana..." Aku langsung kasih nomorku. Jika orangnya kantor pengacara sudah datang, ini pasti ada charge. Berapa lagi ini duitnya, belum lagi buat bayar polisinya.

Ardy kenapa gak abis-abis sih bikin jantungan.

"Oke nanti orang saya hubungi Ibu, kita nanti ketemu di Polres saja."

"Iya Pak." Yang penting ini diurus dulu. Duit mau gak mau harus keluar.

"Udah Dok, saya ke kantor polisi dulu. Makasih Dok..."

"Tunggu dulu, saya antar. Mobil kamu biar dibawa sopir saya..."

"Gak usah Dok, saya bisa sendiri."

"Gak usah gimana. Liat pucetnya muka kamu, udah gemetaran gitu, blank gitu nabrak di jalan nambah urusan."

"Tapi Dok, ini ..." Dia tak memperdulikan protesku dan menelepon sopirnya menyuruhnya ke parkiran.

"Saya gak pa pa Dok. Beneran saya bisa sendiri, saya udah dibantu kenalan orang aja udah bisa. Saya bisa sendiri...." Aku tak ingin dia membantu sampai sejauh ini. Kami tak ada hubungan apapun. Dia mulai berjalan pergi, terpaksa aku harus menyusulnya.

"Kalau saya mau bantu ya saya bantu. Kunci mobil. Gak usah debat dengan saya..."

"Tapi Dok..." Dia langsung menghela napas kesal begitu aku berusaha membantahnya lagi.

"Kunci mobil..."

"Saya ...beneran gak enak. Saya ngerepotin...." Aku tetap tak berani memberinya kunci mobil, tapi dia memotong kalimatku.

"Satu kali lagi kamu ngebantah, saya batalin bantuan pengacara pribadi saya." Terpaksa nurut sekarang, kalau engga aku harus nyari orang kemana buat bantu.

"Ikutin mobil saya ke Polres Jakbar Pak Tino,..."

Aku duduk diam di mobil Pak Vincent kemudian, membiarkan dia yang menyetir. Tak kusangka dia mau menolongku sampai begini, aku seperti hutang budi padanya. Tapi ini Ardy, gimana kalau dia bener-bener pakai... Segala pikiran buruk sudah berseliweran. Gimana kalo ketangkepnya banyak... Kalo kena hukuman berat gimana. Masa Ardy berani? Gimana Mama kalo tahu...

"Jangan mikir yang terlalu jauh. Tenang dulu, kamu panik gak ada gunanya."

"Aku udah ingetin dia, baru ngomong ke dia... Kenapa dia ..." Sampai kapan Ardy mau membuatku kuatir seperti ini. Apa gak cukup semua yang aku udah kasih ke dia. Apa ini karena aku salah memaksanya ambil jurusan...

Akhirnya aku terisak,... karena kuatir.

Pak Vincent menghela napas melihatku menangis.

"Saya menyusahkan, harusnya..." Aku tak sanggup bilang dia gak usah mengantarku.

"Paling parah juga rehab kalo beneran pakai. Kamu tenang dulu."

Aku mencoba tenang. Berapapun biayanya yang penting Ardy gak kenapa-kenapa. Gak mungkin aku biarkan dia masuk penjara.

🧡🧡🧡

Jangan lupa kasih hadiahnya tetep di IHMB ya sampe tanggal 1 ..jempolmya jangañ lupa klik

1
Maria Ulfah
buku nya mak othor selalu bagus dan keren-keren 👍👍👍👍
Mei Saroha
meleleh nihh baca kisah Bambang Melisa...
aku padamu kk othor
Lulu
luar biasa keren
💜Ilalang Senja💜
Author...Jempolan...teruslah berkarya..
Sarange ... Author
💜Ilalang Senja💜
Kamsahamida... Author....Sarange..
Novee Lim
Andreas & sandra tidak adakah kak margaret?
Ria Nilasari
Luar biasa
Ria Nilasari
Lumayan
Jessica
Luar biasa
Sunaryo Sunaryo
Biasa
Sunaryo Sunaryo
Kecewa
Gita mujiati
Luar biasa
V-hans🌺
mukanya terlalu tua untuk umur 30 apa lagi blasteran kyak umur 40 malah 🙏
Bakul Lingerie: blesteran kan ang gitu kak, muka mereka boros. nanti menginjak 50 mukanya bakal begitu2 aja, mereka keliatan muda
total 1 replies
Anita Candra Dewi
menurutku wajah dr andreas kek org india, apa krn brewokan ya
ms. yati74
Luar biasa
Puspa Ayundari
Nt lama lama gultik kalo aturan nya nggk bikin nyaman penulis...😔
Nurul Kistianti
Luar biasa
Serevina Simanjuntak
luar biasa...bale lg baca novel ini
GegeSter
hihihi.. maap leo.. bukan minggir.. tapi lebih cakep erwin diliat dari kamera 360 nya juga..
u itu terlalu perpect, ga ada unsur badass nya 🤣
legira
aku suka semua novel mu kak .yg paling favorit itu l hate my bos..😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!