NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah faham

Cheyrin akhirnya mengangguk pelan dan masuk ke dalam mobil. Suasana di dalam hening. Evan tidak banyak bertanya, hanya fokus pada jalan. Cheyrin duduk tegak, kedua tangannya menggenggam tali tas di pangkuan.

Sepanjang perjalanan, ia beberapa kali melirik ponsel. Layarnya tetap gelap. Tidak ada pesan dari Jayden.

Dua puluh menit kemudian, mobil berhenti di ujung gang sempit menuju kos Cheyrin. Lampu mobil menyorot gerbang kos yang masih terkunci. Lingkungan yang sepi, hanya di terangi lampu dari teras kos.

Evan mematikan mesin, lalu menoleh ke Cheyrin.

"Udah sampai ni chey. Oh iya, besok jadwal kamu libur. Jadi nggak perlu datang ke restoran."

Cheyrin terkejut sesaat, lalu cepat membungkuk sopan.

"Baik, Pak Evan. Terima kasih sudah mengingatkan."

Ia turun dengan hati-hati, lalu berdiri di depan gerbang sambil memegang tasnya erat.

"Terima kasih banyak, Pak Evan. Maaf sudah merepotkan."

Evan menggeleng pelan.

"Enggak ngerepotin kok. Langsung masuk aja ya."

Cheyrin menatap mobil itu sampai mesin kembali menyala.

"Selamat malam, Pak Evan."

"Selamat malam, Cheyrin. Istirahat yang cukup."

Mobil itu mundur perlahan, lalu berbalik dan menghilang di ujung gang. Cheyrin menghela napas panjang. Ia membuka gerbang itu, melangkah masuk dengan perasaan lega karena dapat libur, tapi juga cemas karena Jayden belum memberi kabar.

.

.

Cheyrin baru saja membuka pintu kamar kosnya ketika ponsel di saku bergetar. Nama Jayden muncul di layar.

Ia menarik napas panjang sebelum mengangkatnya.

"Halo."

Suara Jayden terdengar serak dan bersalah dari seberang.

"Chey... maaf ya. Gue ketiduran. Pas bangun udah jam setengah dua belas."

Cheyrin menutup pintu pelan, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Ia menghela napas.

"Udah gue duga sih."

"Serius Chey, maafin gue," ujar Jayden cepat, suaranya penuh penyesalan.

"Gue nggak sengaja beneran. Mau bakso gak? Oh iya. Terus lo pulang sama siapa?"

Cheyrin menahan senyum, meski suaranya dibuat datar.

"Gue dianter Pak Evan pulang."

"HAH? Pak Evan?" Suara Jayden langsung naik setengah oktaf.

"Chey, gue bener-bener minta maaf ya. Pasti lo ngerasa nggak nyaman. Gue janji nggak bakal kejadian lagi."

Cheyrin menggeleng pelan meski Jayden tidak bisa melihatnya.

"Udah, Jay. Udah tengah malam. Tidur sana."

Ia berusaha terdengar kesal, tapi di akhir kalimatnya malah terselip tawa kecil.

"Besok kalau masih ketiduran lagi, beneran gue marah."

Di seberang, Jayden menghela napas lega.

"Siap, putri. Makasih ya nggak beneran marah. Selamat istirahat."

Cheyrin meletakkan ponselnya tanpa menjawab. Ia menatap langit-langit kamar, antara lega karena sudah sampai kos dengan selamat, dan jengkel karena Jayden.

Keesokan harinya

Matahari jam 10 pagi menyinari halaman tengah kampus.

Hari ini giliran kelas Ekonomi Mikro Pak Wira yang dapat jadwal outdoor. Katanya supaya tidak jenuh dan dapat pencerahan.

Halaman kampus itu luas. Rumputnya hijau dan rapi.

Di bawah rindang pohon beringin besar, kelompok Ekonomi duduk melingkar di atas tikar. Laptop terbuka, kertas berserakan.

Awalnya semua teduh.

Tapi matahari terus bergerak.

Dan sialnya, posisi Cheyrin paling depan. Tepat di ujung bayangan pohon.

Sekarang sinar matahari langsung jatuh ke wajahnya. Cheyrin menyipit. Tangannya reflek menutupi dahi.

Langkah kaki dan suara tawa memecah suasana.

"Permisi Pak! Tim kurir dadakan lapor!"

Steven dan Jayden muncul dari arah gedung. Keduanya membawa map cokelat.

Mereka baru saja disuruh dosen lain untuk mengantar berkas ke Pak Wira, dosen yang sedang mengawasi kelas outdoor ini.

Jayden, seperti biasa, paling berisik.

"Maaf ganggu Pak. Kami disuruh Bu Lani. Katanya kalau telat, nilai kami dipotong sekelas," katanya sambil nyengir, tangannya menyodorkan map.

"Tapi tenang Pak, kami larinya pake mode ngebut. Hemat waktu, hemat tenaga."

Beberapa mahasiswa langsung menoleh. Ada yang ketawa kecil. Dara juga menoleh. Tapi berbeda. Dia tidak tertawa. Hanya memperhatikan Jayden.

Bahkan Pak Wira yang tadinya serius juga ikut tersenyum.

"Ya sudah, taruh di meja saya. Terima kasih."

Semua fokus ke Jayden. Termasuk Cheyrin yang ikut menoleh, meski matanya masih menyipit karena silau.

Steven hanya mendengarkan teman nya itu, tidak ikut tertawa. Pandangannya justru berhenti di Cheyrin.

Wajahnya sudah merah karena matahari. Keringat di pelipis. Jelas dia kepanasan.

Tanpa sepatah kata, Steven melangkah maju satu langkah.

Ia berdiri tepat di sebelah Jayden, lalu sedikit menggeser posisinya.

Tubuhnya kini memotong arah cahaya.

Bayangan Steven jatuh, menutupi wajah Cheyrin sepenuhnya.

Cheyrin terdiam.

Ia merasakan teduh itu. Ia tahu siapa yang berdiri di depannya.

Pelan, ia mendongak.

Steven menoleh. Senyum kecil. Hampir tidak terlihat, tapi tulus.

Cheyrin membalas. Senyum tipis, singkat. Lalu ia menunduk lagi, pura-pura fokus ke catatannya.

Sementara itu Jayden masih asyik menjelaskan sesuatu ke Pak Wira.

Dari barisan belakang, Lisa melihat semuanya.

Pulpen di tangannya berhenti. Matanya tidak berkedip.

Dari pojok, Dara menutup laptopnya pelan. Senyumnya tipis. Terlalu tipis untuk dibilang tulus. Ia melirik ke Lisa sekilas. Lalu kembali mengetik.

 

Matahari siang menyengat halaman parkiran. Suara mesin motor dan obrolan mahasiswa bercampur menjadi satu.

Di ujung deretan motor, empat orang gadis berdiri. Lisa, Dara, dan dua orang teman mereka. Mereka tampak sedang menunggu sebelum pulang.

Salah satu teman Lisa menatapnya heran. Sejak kelas tadi, Lisa terlalu diam.

"Lis, lo kenapa sih? Dari tadi diem aja," tanya temannya.

Lisa menggeleng cepat. "Enggak kok. Gapapa."

Suasana hening sejenak.

Dara yang dari tadi bersandar di motornya, akhirnya angkat bicara. Nadanya datar, seolah hanya bertanya biasa.

"Apa karena Steven?"

Kedua temannya langsung menoleh ke arah Dara.

"Emang Steven kenapa?"

Dara tidak langsung menjawab. Ia memasang helm dengan santai, lalu melirik sekilas ke arah gerbang parkiran.

"Lo enggak lihat tadi? Waktu di kelas outdoor."

Dara menjeda sebentar. "Si Steven ngelindungin Cheyrin dari panas. Terus senyum ke Cheyrin."

Kata-kata itu jatuh seperti batu ke air tenang.

Kedua teman Lisa terkejut. Salah satunya sampai menutup mulut.

"Hah? Serius?"

"Lo yakin? Bukannya Cheyrin sama Jayden... udah kayak pacar aja ya? Satu angkatan juga udah pada tau kok."

Lisa tidak menjawab. Wajahnya menegang. Tangannya meremas tali tas lebih erat.

Dara menoleh pelan. Tepat pada saat itu, langkah kaki terdengar dari belakang mereka.

Jayden muncul sambil mendorong motornya. Ia tampak sibuk dengan ponsel di tangan, tidak menyadari ada empat orang perempuan di depannya.

Dara melihat Jayden. Senyum tipisnya muncul.

Lalu, dengan volume yang sengaja sedikit dikeraskan, ia melanjutkan kalimatnya.

"Ya kali aja ya... kayaknya Steven suka deh sama Cheyrin."

Suara itu cukup jelas terdengar di sela-sela suara motor yang dinyalakan orang lain.

Jayden terhenti. Jarinya yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya kini berhenti di udara.

Ia mendengar.

Tapi ia tidak menoleh. Tidak bertanya.

Rahang Jayden mengeras. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, menyalakan motornya. Suara breng mesin menutupi semua.

Dara kembali menatap lurus ke depan.

"Udah yuk. Pulang."

Keempat perempuan itu pergi meninggalkan parkiran.

Jayden tetap di tempatnya beberapa detik. Menunggu mereka menjauh.

Baru kemudian ia tancap gas.

Di balik helm, alisnya bertaut.

Steven... Cheyrin... suka?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!