"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
"Elzio! Kamu bener-bener gak bisa diajak hemat ya!"
Clara menepuk paha Elzio cukup keras saat mereka melangkah masuk ke dalam restoran fine dining bernuansa emas dan kaca di kawasan elit Jakarta Pusat. Matanya membelalak menatap daftar menu di depan pintu yang angkanya memuat terlalu banyak digit nol.
"Satu porsi steak di sini harganya sejuta lima ratus?!" gerutu Clara berbisik, memelototi Elzio galak. "Kita ini baru merintis bisnis, El! Perusahaan kita baru dapet untung dikit, uangnya harus diputer lagi buat modal! Kenapa malah dibuang-buang buat makan siang beginian?!"
Elzio hanya menyunggingkan senyum tipisnya, menarik kursi mewah berbalut beludru untuk Clara. "Ini bukan buang-buang uang, sweetheart. Ini apresiasi untuk kamu yang sudah bekerja keras."
"Apresiasi gak harus sampai bikin kantong bolong!" senggak Clara, mendudukkan diri dengan wajah cemberut. "Mulai besok gak ada makan di restoran kaya gini. Kamu makan masakan rumah atau nasi bungkus sama aku! Titik!"
"Nasi bungkus?" Elzio menaikkan sebelah alisnya, terkekeh pelan. "Baik, kalau calon istri saya yang masak, batu pun akan saya makan."
"Gak usah gombal! Hemat, Elzio! H-E-M-A-T!" tegur Clara, menekankan setiap hurufnya sambil melipat lengan di dada.
Namun, sebelum Elzio sempat membalas omelan Clara, sebuah suara berwibawa beraksen kental memotong pembicaraan mereka dari arah belakang.
"Elzio? My goodness, Elzio Mahendra?!"
Elzio membeku seketika. Binar jenaka di matanya menguap tanpa sisa.
Seorang pria paruh baya bersetelan jas custom-made berkelas tinggi melangkah mendekat, didampingi dua pengawal berbadan tegap. Pria itu membelalakkan mata gembira, langsung mengulurkan tangannya pada Elzio.
"Alexander?" gumam Elzio kaku, suara baritonnya mendadak sangat rendah dan tegang.
"Haha! It really is you!" seru Alexander sambil menjabat tangan Elzio erat-erat. "It's been such a long time since we last met at the annual summit in Zurich! How have you been? How's AetherCorp doing? I heard you recently acquired all the major property shares across Southeast Asia!"
DEG.
Darah Clara seolah berhenti mengalir. Kata 'AetherCorp' menyengat pendengarannya bagaikan sabetan cambuk.
Clara perlahan menoleh, menatap pria asing itu, lalu beralih menatap profil samping wajah Elzio yang kini pucat pasi dan kaku bagaikan patung.
"Aether... Corp?" cicit Clara pelan, suaranya halus namun memotong keheningan di meja itu.
Alexander menoleh pada Clara, menyunggingkan senyum ramah tanpa menyadari bahaya besar yang sedang mengintai di meja tersebut. "Oh, hello, miss! You must be Mr. Elzio's new personal secretary. Your boss is truly remarkable. At such a young age, he's already leading AetherCorp, one of the world's most secretive business conglomerates."
Udara di sekitar meja itu mendadak terasa membeku total.
Tangan Clara yang memegang buku menu perlahan gemetar hebat. Binar hangat di matanya seketika padam, berganti dengan tatapan dingin, tajam, dan penuh keterkejutan yang amat dalam.
"Konglomerasi raksasa... AetherCorp?" bisik Clara lagi, suaranya kini menajam dingin, menatap lurus ke dalam iris mata Elzio. "Bukan... bukannya kamu cuma mantan CEO Mahendra Group yang bangkrut, Elzio?"
Keringat dingin menyelisik deras di tengkuk Elzio. Jantungnya berdegup gila-gilaan. Pria yang biasanya mampu mengintimidasi ribuan orang di dunia bawah tanah itu kini mendadak kehabisan kata-kata di depan seorang wanita.
"Clara... dengarkan saya dulu," bisik Elzio parau, suaranya bergetar hebat. Pria itu meraih jemari Clara, namun Clara dengan cepat menarik tangannya kasar.
SRET!
"Jangan sentuh aku!" bentak Clara, berdiri dari kursinya.
Alexander yang menyadari ada yang tidak beres mendadak menghentikan tawa ramahnya. "Loh... Elzio? Did I say something wrong?"
"Alexander, shut up and leave us now!" desis Elzio penuh ancaman membunuh, menatap temannya itu dengan kilat mata yang sangat mengerikan.
Alexander menelan ludah kasar, menyadari dia baru saja membocorkan rahasia terbesar sang raksasa "Ah... I'm so sorry. My mistake. I'll leave you two alone." Pria itu tergesa-gesa pergi bersama pengawalnya.
Kini, hanya ada Elzio dan Clara yang berdiri berhadapan di tengah suasana restoran mewah yang mendadak terasa bagaikan arena eksekusi.
"Clara, please... biarkan saya jelaskan," pinta Elzio penuh keputusasaan, melangkah mendekat.
"Jelasin apa?!" air mata emosi menetes membasahi pipi Clara, suaranya melengking menahan rasa sakit dan pengkhianatan yang teramat dalam. "Jelasin kalau selama ini kamu cuma manfaatin aku?! Jelasin kalau drama kamu 'bangkrut', berpura-pura numpang di kontrakan aku, dan pura-pura merintis bisnis kecil dari uang peninggalan Ibu aku... itu semua cuma permainan konyol kamu?!"
"Bukan begitu, Clara! Demi Tuhan, tidak begitu!" jerit Elzio, berusaha menyambar kedua bahu Clara, namun Clara mundur teratur dengan pandangan penuh kejijikan.
"Kamu ingat syarat aku kemarin, Elzio?!" bisik Clara parau, dadanya naik turun memburu karena emosi yang membakar. "Aku bilang jangan pernah ada kebohongan di antara kita! Aku bilang kalau kamu bohong sekali aja... aku bakal pergi dan gak akan pernah mau ngetatap muka kamu lagi!"
"Clara, saya mohon... jangan katakan itu!" suara Elzio memecah, matanya yang biasa dingin kini meremang basah oleh rasa takut yang luar biasa. "Saya melakukan ini karena saya takut kamu menolak saya! Saya takut kamu menganggap saya membeli kamu dengan uang saya!"
"Tapi kamu tetap bohong, Elzio!" bentak Clara histeris. "Kamu bikin aku merasa bersalah! Kamu bikin aku ngerasa kasihan sama kamu! Kamu mainin perasaan aku cuma demi pemuasan ego kamu!"
"Clara!"
"Cukup!" tegas Clara mutlak. Dia menyapu air matanya dengan kasar, membalikkan badan dan melangkah cepat keluar dari restoran.
"Clara! Tunggu, Clara!"
Elzio mengejar Clara tanpa peduli pada tatapan puluhan pengunjung restoran yang terpana melihat seorang CEO terkemuka berteriak panik.
Di luar gedung, hujan deras mendadak mengguyur kota Jakarta. Clara melangkah menembus tirai hujan tanpa peduli tubuhnya basah kuyup.
GRAB!
Elzio berhasil menyambar pergelangan tangan Clara di bawah guyuran hujan deras, menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya secara paksa.
"Lepasin aku, Elzio! Lepasin!" jerit Clara sambil memukul-mukul dada tegap Elzio yang basah kuyup.
"Tidak akan! Saya tidak akan pernah melepaskan kamu!" tegas Elzio, mempererat dekapannya meski Clara terus memberontak dan memukulnya. Air mata Elzio menyatu dengan rintik hujan di wajah tampannya. "Bunuh saya, Clara! Siksa saya sesuka kamu! Tapi jangan pernah pergi dari hidup saya!"
"Kamu jahat, Elzio! Kamu sama aja kaya Ayah aku! Kamu penipu!" tangis Clara pecah di balik guyuran hujan.
"Saya bukan penipu untuk cinta kamu, Clara!" bisik Elzio penuh keputusasaan di dekat telinga Clara. "AetherCorp, seluruh harta saya, bahkan bernyawa saya... ambil semuanya! Saya sudah balik namakan seluruh aset itu atas nama kamu kemarin malam! Semuanya milik kamu, Clara! Saya tidak punya apa-apa lagi selain kamu!"
Clara membeku di dalam pelukan Elzio. Tangannya yang terkepal di dada Elzio perlahan melonggar, matanya membelalak tak percaya. "Kamu... kamu bilang apa?"
"Semua perusahaan itu... AetherCorp... sudah milik kamu," ujar Elzio parau, napasnya beradu dengan dinginnya air hujan. "Saya tidak berbohong soal memberikan seluruh hidup saya untuk kamu. Saya hanya takut... sangat takut kehilangan kamu kalau kamu tahu siapa saya sebenarnya."
Clara menengadah, menatap wajah Elzio yang basah oleh air hujan dan air mata. Pria gila yang biasanya tak tersentuh dan menguasai dunia ini... kini berlutut di bawah kakinya di tengah hujan deras, menatapnya dengan pandangan memohon ampun bagaikan seorang pesakitan.
"Bangun, Elzio..." bisik Clara gemetar.
"Tidak sebelum kamu berjanji tidak akan pergi membuang saya, Clara," jawab Elzio mantap, genggaman tangannya di pinggang Clara sama sekali tak mengendur.
Di bawah guyuran hujan yang makin lebat, benteng kemarahan Clara kembali beradu dengan kejujuran pahit dari pria yang rela menyerahkan seluruh kerajaannya hanya demi tidak kehilangan dirinya.