NovelToon NovelToon
Bingkai Surga Untuk Ellana

Bingkai Surga Untuk Ellana

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:623.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

"Aku sudah menutup semua pandanganku untuk dunia yang sementara ini, Ellana. Aku sudah buta, buta akan keindahan yang tersaji di luar sana. Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang memang tidak ingin aku lakukan. Jangan paksa aku untuk menjadi seorang suami yang tidak pernah bisa mencium aroma surga karena tidak bisa berlaku adil."

***



Ketika Allah menunjukkan kasih sayangNya dengan menggubahkan segores ujian di dalam bahtera rumah tangga, mungkinkah cinta itu masih tetap terbingkai utuh? Sanggupkah sepasang suami istri menjalani ujian itu dengan penuh keikhlasan? Dengan selalu berpegang teguh pada janji Allah bahwa akan ada surga bagi orang-orang yang sabar dan ikhlas?

Dan ketika sebuah janji telah terikrar untuk sehidup sesurga bersama seorang wanita yang telah ia pilih untuk ia jadikan pendamping hidup, mungkinkah janji itu akan tetap terjaga, meskipun pendampingnya kini sudah tidak lagi sempurna? Masihkah surga itu tetap terbingkai indah di dalam kehidupan mereka?


Rama Gilang Pradana bersama Ellana Alessia Safaraz Ismail akan memulai kisah mereka di sini. Sosok dua manusia yang mendamba surga dalam perjalanan cinta mereka.


Slow Update

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana

"Mashaallah... Saya benar-benar tidak menyangka jika mas Rama malah sudah kenal dengan keponakan saya ini!"

Afif, Alya, Rama, Ellana duduk bersama di sofa ruang tamu. Di hadapan mereka sudah tersaji martabak telur dan teh hangat. Keempat orang beda generasi itu terlihat larut dalam bincang-bincang hangat mereka.

Rama menyunggingkan senyum manisnya. "Kemarin sore sebelum pak Afif datang ke resto, saya dan juga Ellana baru saja bertemu, Pak!"

"Jadi kemarin jika kamu lebih lama berada di resto mas Rama, bisa bertemu dengan Om, El!," ujar Afif sambil melirik ke arah Ellana.

"Mungkin seperti itu, Om!"

Afif hanya terkekeh pelan. Ia masih sedikit takjub dengan cara kerja sebuah takdir. Ia yang sempat berangan-angan memperkenalkan sang keponakan dengan lelaki tampan bernama Rama, justru keduanya malah sudah saling mengenal. Dan, saat ini posisi Ellana sudah putus dengan Diko, itu artinya banyak peluang untuk Ellana bisa lebih mengenal pemuda tampan ini.

Afif menyeruput teh hangat yang ada di tangannya. "Oh iya El, kamu tahu tidak kalau mas Rama ini juga asli orang Jogja?"

Ellana terkesiap, hampir saja ia tersedak martabak telur yang sedang ia kunyah. "Eh, apa benar itu Om?" Ellana melirik ke arah Rama mencoba untuk mencari kebenaran yang diucapkan oleh Afif. "Benarkah itu, Ram?"

"Iya El, aku orang Jogja."

"Ya ampun ternyata kita berasal dari kota yang sama." Dahi Ellana sedikit mengerut. "Eh, tapi kenapa kamu bisa buka resto di Bandung, Ram?"

Senyum manis terlukis jelas di wajah Rama. "Resto yang kamu singgahi tadi adalah milik almarhum kakekku. Karena ayahku sudah nyaman tinggal di Jogja dan sama sekali tidak memiliki niat untuk kembali ke Bandung, jadi resto yang ada di sini di serahkan kepada sepupu-sepupu ayah. Nah, selama enam bulan terakhir ini, aku dikirim ke sini untuk mendampingi anak dari pamanku menghandle resto ini."

"Ohhh seperti itu? Lalu jika di Jogja, kegiatanmu apa Ram?"

Rama terkekeh. "Aku pengangguran, El!"

"Ah.. Mas Rama ini terlalu merendah. Bukankah usaha kafe milik ayah mas Rama ini begitu banyak ya? Yang membuat mas Rama sibuk setiap harinya?," ucap Afif ikut menimpali obrolan Rama dan sang keponakan.

"Itu semua milik ayah saya, Pak. Sedangkan milik saya pribadi baru ada satu."

Afif semakin dibuat terkesima oleh sifat pemuda tampan ini. Meskipun sang ayah merupakan salah satu orang nomor satu di bidang per kafe-an, namun ia lebih bangga dengan apa yang menjadi miliknya sendiri. "Semoga dari satu bisa bertambah dua, tiga, empat dan seterusnya ya Mas!"

Rama tersenyum simpul. "Aamiin ya rabbal alamiin."

Afif menoleh ke arah Ellana yang terlihat begitu menikmati martabak telurnya. "El, mas Rama ini putra dari pak Arjuna Rahmanu Wijaya. Kamu pasti tahu, bukan?"

Dahi El sedikit mengerut. "Pak Arjuna Rahmanu Wijaya? Itu kan pemilik kafe Moonlight yang banyak berdiri di Jogja kan Om?"

"Iya El, kafe milik pak Arjuna itu merupakan tempat favorit papa kamu untuk melakukan meeting bersama relasi bisnisnya."

Ellana terkekeh. "Iya, papa malah justru lebih senang mengadakan meeting di kafe milik orang lain daripada kafe milik om Afif."

Alya yang sedari tadi diam saja ikut terkekeh. "Nama kafe milik ayah mas Rama ini sama dengan nama kafe milik suami saya sebelum berganti nama."

"Benarkah seperti itu, Bu?"

"Iya Mas. Sebelum berganti nama menjadi Coffee Paste, kafe milik suami saya ini namanya Moonlight. Ternyata nama itu berkah di tangan pak Arjuna, hingga menjadi sukses seperti sekarang ini."

"Aamiin , Alhamdulillah. Semua rezeki sudah diatur oleh Allah, Bu. Kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar untuk menjemputnya."

"Betul sekali itu Mas." Alya kembali menyunggingkan senyum. "Eh mari silakan dinikmati, Mas. Nanti keburu dingin."

"Iya Bu, terimakasih."

***

Ellana berdiri di depan jendela kamar sembari mendongakkan kepalanya melihat hamparan langit malam yang saat ini dipenuhi oleh ribuan kerlip bintang yang nampak bersinar terang. Ditemani dengan pantulan cahaya lembut sang dewi malam seolah mempertegas akan kebesaran Allah. Wanita 28 tahun itu nampak larut dalam pikirannya sendiri. Entah apa yang menjadi beban pikirannya.

Afif yang berdiri di depan pintu kamar sang keponakan yang kebetulan terbuka lebar, hanya bisa menatap Ellana dengan seutas senyum yang mengembang di bibirnya. Perlahan ia melangkahkan kaki untuk lebih dekat dengan Ellana, dan berdiri tepat di samping tubuh gadis itu.

"Apakah kamu sepemikiran dengan Om, jika Rama itu adalah lelaki yang tampan dan sholeh?"

Penuturan Afif yang tiba-tiba, seketika membuat Ellana terperanjat. Ia bangun dari lamunannya kemudian menoleh ke arah samping, dan terlihat kakak dari sang papa sudah berdiri di sampingnya.

"Om Afif kok tiba-tiba ada di sini? El kaget, tahu?!"

Afif tersenyum simpul. "Bagaimana menurutmu? Apakah benar yang Om katakan? Bahwa Rama adalah sosok pemuda yang tampan dan juga sholeh?"

Masih sambil menatap keluar jendela, bibir El sedikit mencebik. "Issshhhh om Afif ini bicara apa? Masa El harus menilai Rama?"

Afif terkekeh melihat ekspresi wajah El yang sulit untuk diartikan. Sang keponakan ini nampaknya sedang malu-malu kucing. "Hmmmmm.. Om sudah mendengar apa yang tengah terjadi mengenai hubunganmu dengan Diko. Lalu, sekarang apa yang menjadi rencanamu El?"

Ellana menghela nafas dalam kemudian perlahan ia hembuskan. "El juga belum memiliki rencana apapun Om. Namun sepertinya El akan kembali ke Jogja. El tidak bisa berada dekat-dekat dengan pelakor dan penghianat itu."

Dahi Afif sedikit mengerut. "Pelakor itu apa El?"

"Perebut laki orang, Om. Di sini Mia adalah pelakor. Karena sudah merebut kekasih El!"

Afif semakin mengeraskan tawanya. "Hahahaha bukan pelakor El, tapi pepacor. Karena bagaimanapun juga Diko baru menjadi pacar kamu, belum menjadi suami kamu."

Ellana kembali membuang nafas kasar mendengar gurauan om nya ini. "Hmmmmm iya deh terserah om Afif saja."

Afif tersenyum simpul. Mungkin saat ini sudah cukup ia bercanda di hadapan keponakannya ini. "Apakah kamu sudah yakin akan kembali ke Jogja? Apakah kamu membuat keputusan untuk kembali ke Jogja untuk lari dari kenyataan hidup bahwa hubunganmu sudah kandas di tengah jalan?"

Ellana mengendikkan bahunya. "Entah lari dari kenyataan atau bukan, namun El sudah mantap untuk kembali ke Jogja, Om. El juga rindu mama, papa, dan juga Al. Rasa-rasanya El sudah terlalu lama meninggalkan mereka, hanya karena dulu El ingin merasakan yang namanya kebebasan."

"Lalu, apakah saat ini kamu sudah menemukan jati dirimu yang sebenarnya?"

Ellana menundukkan wajahnya dengan rona wajah yang sedikit sendu. "Sepertinya belum Om!"

Afif tersenyum simpul. Ia mencondongkan tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan keponakannya ini. Ia pegang bahu Ellana yang membuat gadis itu mendongak dan menatap netra Afif. "Jangan putus komunikasi dengan Rama, El. Om Afif yakin jika kamu bisa dekat dengan Rama, kamu akan semakin paham siapa kamu sebenarnya."

Ellana menatap sendu wajah Afif. "Apakah ini adalah salah satu trik dari om Afif untuk menjodohkan El dengan Rama?"

Afif terbahak sambil sedikit mengacak rambut Ellana. "Tidak ada yang salah bukan? Kamu sekarang sendiri dan sepertinya Rama juga sedang tidak menjalani hubungan dengan siapapun, Om rasa ini adalah waktu yang tepat untuk kalian bisa saling mengenal satu sama lain."

Ellana menatap lekat wajah sang om dengan tatapan sulit diartikan. "Om tidak sedang mengigau kan?"

"Mengapa kamu berbicara seperti itu El?"

"Om, Rama itu salah satu pemuda yang sangat sempurna. Dia taat beribadah, tampan, baik, tutur katanya lembut, dan pastinya sholeh. Sedangkan El? El ini wanita seperti apa Om? El jauh dari kata sempurna. Tingkah laku El masih minus. Dan pastinya tipe pendamping hidup yang diinginkan oleh Rama bukanlah seperti El!"

"Hahahaha..."

Mendengar sang keponakan berbicara panjang lebar layaknya rel kereta api, membuat Afif terbahak-bahak. Sedangkan El hanya mengernyitkan dahinya. "Om Afif kok malah tertawa?"

Afif seketika menghentikan tawanya. "Iya Om tertawa karena pada akhirnya kamu mengakui bahwa Rama itu pemuda yang tampan, sholeh, bertutur kata lembut dan sempurna."

Ellana terkesiap. Buru-buru ia menutup mulutnya dengan jemari tangannya. "Eh...?!"

Afif kembali menatap wajah Ellana dengan penuh arti. "Bagi Om, kamu juga wanita sempurna El. Sifat dan wajah kamu menurun dari mama Arumi. Jika kamu mulai berhijab dan perlahan merubah apapun yang kurang baik, Om percaya jika kamu akan sama dengan wanita-wanita yang kamu nilai sebagai wanita sempurna di luar sana."

"Entahlah Om."

Afif terkekeh. "Jadi, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu untuk kembali ke Jogja?"

Ellana mengangguk. "Iya Om. El sudah membulatkan tekad untuk kembali ke Jogja."

***

"Kak Rama... Kapan pulang ke Jogja? Raina sudah kangen berat, tahu?!"

"Iya Kak. Tidak hanya kak Raina, Raisa juga sudah kangen sama kak Rama. Cepat pulang ke Jogja ya Kak!"

Wajah cantik dua orang perempuan berusia 21 tahun dan 18 tahun itu menghiasi layar ponsel yang ada di hadapan Rama. Suara keduanya juga terdengar begitu memekik telinga. Yang membuat Rama tertawa renyah.

"Iya Dek. Sebentar lagi Kakak akan pulang. Kakak juga sudah kangen sama adik-adik Kakak yang cantik ini. Gimana study kalian? Lancar?"

"Raina sudah mau Wisuda Kak. Kakak pulang ya biar bisa datang ke acara wisuda Raina!"

"Raisa juga sudah masuk kuliah Kak. Satu kampus sama kak Raina!"

Rama tersenyum lebar. "Mashaallah ternyata adik-adik Kakak ini semuanya hebat. Tunggu Kakak pulang ya. Kakak janji, sebelum acara wisuda Raina, kak Rama akan pulang."

"Bunda pegang ucapanmu Sayang!".

Rama terkesiap tatkala wajah sang bunda nampak di layar ponselnya. "Bunda!"

"Aaaaaaa Bunda gangguin saja. Raina lagi ngobrol sama kakak nih."

"Sayang, Bunda juga ingin bicara sama Kakak, pinjam sebentar ya."

Rama terkikik geli melihat kehebohan seluruh anggota keluarganya. Sampai saat ini, keluarganya memang selalu berada di dalam kehangatan yang nampak begitu nyata.

"Bunda apa kabar? Sehat?"

"Alhamdulillah Bunda sehat Sayang. Kamu sendiri bagaimana Nak?".

"Sehat juga Bun. Oh iya, ayah kemana Bun? Kok tidak terlihat?"

"Ayah di sini Sayang!"

Rama semakin mengeraskan tawanya tatkala melihat sang ayah sudah duduk di samping sang bunda. "Ayah, bikin terkejut saja tiba-tiba sudah ada di samping Bunda."

"Bagaimana pekerjaanmu di Bandung, Nak? Lancar semua?"

Rama mengangguk. "Alhamdulillah lancar semuanya Yah. Anak-anak dari paman juga sudah bisa untuk menghandle resto, jadi Rama rasa sudah saatnya untuk kembali ke Jogja."

"Alhamdulillah ... Ayah ikut lega mendengarnya Nak. Kamu memang harus segera kembali ke Jogja. Semenjak kamu di Bandung, Ayah jadi jarang berdua-duaan sama Bundamu. Jadi semisal kamu kembali ke Jogja, waktu Ayah untuk bisa berdua-duaan dengan bundamu akan lebih banyak lagi."

Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu kemudian mencubit pinggang lelaki yang duduk di sampingnya.

"Aadduuhhhduuh sakit Bun!"

"Kamu ini Mas, sudah tua juga, bicaranya masih seperti ABG."

"Hmmmmm meski sudah tua tapi kemesraan masih harus selalu seperti pengantin baru dong. Bukan begitu Nak!"

"Hahahaha iya Yah. Pokoknya kemesraan Ayah dengan Bunda tidak ada yang mengalahkan."

"Sudah, sudah. Jadi, kapan kamu akan kembali ke Jogja, Nak? Bunda sudah rindu sekali denganmu."

"Inshaallah waktu-waktu dekat ini ya Bun."

"Sampai di Jogja jangan disibukkan dengan urusan kafe ayahmu. Kamu juga harus memikirkan masa depan kamu Sayang."

"Maksud Bunda ingin meminta kamu segera mencari calon pendamping hidup, Nak. Kata Bunda, dia ingin segera menimang cucu."

Rama terkekeh. "Inshaallah ya Yah, Bun. Doakan Rama agar Rama bisa segera bertemu dengan pendamping hidup Rama ya!"

"Aamiin inshaallah.... Maka dari itu cepat pulang ya Sayang. Kami semua merindukanmu."

"Iya, Bunda, iya!"

Pada akhirnya anggota keluarga yang terpisah oleh ruang dan jarak itu mencurahkan segala kerinduan yang terasa begitu menghimpit dada. Rasa rindu itu layaknya sebuah celengan rindu yang sudah penuh dan siap untuk dipecahkan. Tentunya akan mereka pecahkan di kota Jogja.

.

.

. bersambung...

Hai-hai para pembaca tersayang... Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Bingkai Surga ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik bunga atau yang lainnya. jika punya tiket vote boleh juga jika ingin disumbangin ke author, hihiihii. dan jika menurut kakak-kakak cerita ini menginspirasi, boleh juga jika di share kepada teman-teman kakak semua..🤗🤗

Happy reading kakak..

Salam love, love, love❤️❤️❤️

🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca🌹

1
Heryta Herman
mantap nian ucapan Rama..langsung mengena di hati El,bahkan kita para pembaca kisahmu thor..
lanjut thor...
Heryta Herman
aku mampir lagi mba,ini novel ke 2 mu yg aku baca mba author...
Heryta Herman
Rama itu jodohmu yg sebenarnya El...bersabarlah...dan semangatlah meniti hari dpn mu...yg akan indah pada waktunya...
ika
cantik bgd...
Renesme
Bagus. Mengandung hikmah 👍👍👍
Muhammad Alfan
Alhamdulillah bahagianya yg mau punya baby ..bagus mba othor ceritanya amazing banget suka sekali..semangatt tp maaf ya mba othor itu yang sujud syukur bagusnya kan dirumah punya wudhu dulu terus ada niatnya jg ya mba othor bukan disembarang tempat ..bukan begitu kan mba othor sujud syukur itu kan tandanya kita bersyukur atas anugrah yg diberikan oleh Allah ..maaf ya mba othor ini mah cuma kasih masukan aja semoga ada msnfaatnya ya ...sehat selalu buat mba othor ..dari pertama baca part 1 jg aku sudah suka banget ..
Muhammad Alfan: ya mbak thor ga apa kita saling koreksi aja..maaf ya mbak othor
total 2 replies
Riska Wulandari
ketemu jodoh nih..
Lina Suwanti
🤣🤣🤣
Lina Suwanti
bikin ngiler doank🤤🤤🤤😁
Ka'Unna
semangat kak😍jangan lupa mampir y kak
Sriza Juniarti
lanjutkan rama💕
Diana Budhiarti
ha ha lucu m gemes deh
Diana Budhiarti
duhhh jangan lama lama El..
Diana Budhiarti
Allah pasti mengampuni semua dosa dan kekhilafan hambanya
Diana Budhiarti
mhmm...idaman banget ganteng n Sholeh ya si Rama
Sriza Juniarti
semngat kk,selalu berkarya...bagusss..aku suka💕🥰
Ainuria Maulida Pw
ceritanya bagus bgt 💖
Agus Niati
keren
Anonim
S😢
Renjana
Kerenlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!