Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!
Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!
Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPK 6
Ki Sambernyawa terduduk lemas di kursinya. Dia merasa seolah seluruh persendian tulang yang ada di tubuhnya terlepas dari tempatnya. Lelaki setengah baya itu bingung bagaimana harus memberi jawaban, ketika nanti Ranu dan Mei Hwa datang untuk menjenguk putranya.
Rasa geram seketika muncul pikiran ketua perguruan Elang Putih itu terhadap putranya, Teja. Dia merasa gara-gara putranya itulah hingga Arya sampai meninggalkan perguruan yang dibangunnya.
"Panggil Teja kemari dan juga perintahkan semua murid perguruan untuk keluar mencari Arya!" perintahnya kepada muridnya. Ki Sambernyawa menghela nafas berat sesaat setelah muridnya keluar dari ruangan tersebut.
Raja Gajayana menangkap kegundahan yang ada dalam pikiran Ki Sambernyawa. Dia tahu jika ketua Perguruan Elang Putih itu mengalami penyesalan besar akan menghilangnya Arya.
Seiring dengan berjalannya waktu, penguasa kerajaan Kanjuruhan itu berpamitan untuk kembali ke istana.
Sementara itu ...
Cukup jauh di luar perguruan Elang Putih, Arya terus berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Di mana ada jalan setapak, di situlah dia mengayunkan langkah kecil sambil menyenandungkan irama siulan yang berantakan. Meskipun terdengar sedikit menyakitkan bagi telinga orang lain atau bahkan mungkin membuat muak, setidaknya untuk saat ini hanya siulan itulah yang menjadi teman seperjalanannya.
Jauh di dalam batin Arya, ada sedikit rasa kehilangan harus dirasakannya. Walaupun tidak mendapat kenangan baik dari tempatnya berdiam selama dua tahun terakhir, tapi sifat kebapakan Ki Sambernyawa sudah membuatnya betah untuk tetap bertahan.
Namun entah kenapa, perasaan lega justru terasa jauh lebih besar setelah meninggalkan perguruan Elang Putih. Dia bagai seekor burung peliharaan yang bisa terbang bebas setelah berhasil keluar dari sangkar.
Pemuda berambut kemerahan itu sadar sesadar-sadarnya jika masalah yang akan dihadapinya di dunia luar jauh lebih beragam dan sulit. Beruntung pondasi yang ditanamkan kedua orang tuanya begitu menancap dalam di pikiran dan hatinya. Arya yakin dengan bekal kemampuannya berolah kanuragan dan dari cara berpikirnya yang luas, dia bisa terus melaju dalam kerasnya dunia barunya.
Di dalam ruangan pribadi Ki Sambernyawa, Teja tertunduk ketakutan melihat sorot mata kemarahan yang dipancarkan ayahnya. Selama 22 tahun hidup di dunia, baru hari ini dia mengetahui bagaimana menakutkannya sosok yang sudah membesarkannya itu.
"Kau masih beruntung Arya tidak membunuhmu, Teja! Jika dia mau, hanya dalam satu serangan saja kau bisa tewas dengan mudah. Jangankan kau, ayah saja tidak akan mampu menghadapinya!" Suara Ki Sambernyawa memenuhi ruangan tersebut hingga merembes keluar dari sela-sela papan kayu.
Beberapa murid yang mendengar kemarahan gurunya, menjadi terkejut setengah mati. Mereka tidak menyangka jika Arya yang dalam pandangan mereka begitu lemah, ternyata satu sosok yang berilmu kanuragan tinggi. Jika bukan karena guru mereka sendiri yang bicara, tentunya mereka tidak akan percaya.
Kini para murid itu menyadari jika istilah JANGAN MENILAI BUKU HANYA DARI SAMPULNYA itu benar adanya.
Teja tidak berusaha membela diri seperti yang biasa dilakukannya selama ini. Dia takut ayahnya akan semakin besar rasa marahnya jika dia berani membantah.
"Sebagai hukumannya, kau harus mengurus kandang kuda, mengisi baik mandi, dan juga mencari kayu bakar untuk dalam waktu 2 bulan. Jangan kira ayah tidak bisa bersikap keras kepadamu, Teja."
Lelaki muda itu menelan ludahnya. Pekerjaan itu terasa begitu berat di dalam pikirannya, sebab belum sekalipun dia melakukan pekerjaan yang baru saja diperintahkan untuknya tersebut selama ini. Posisinya sebagai putra pemilik perguruan membuatnya begitu diistimewakan.
"Ada lagi, jika kau ingin membuat ayah bangga, 3 bulan ke depan ada sebuah turnamen yang diselenggarakan Paduka Raja Gajayana untuk merekrut beberapa pejabat yang dalam waktu dekat akan pensiun. Salah satunya adalah jabatan wakil Senopati. Jika kau mau berlatih lebih giat lagi, peluangmu akan cukup terbuka lebar."
Teja menganggukkan kepala. Dia tahu jabatan wakil senopati merupakan posisi yang cukup prestisius di istana. Jika dia bisa meraih jabatan tersebut, secara tidak langsung akan bisa membuktikan kepada ayahnya bahwa dia tidak seburuk yang dikira.
"Jadikan pekerjaan yang ayah berikan kepadamu sebagai bekal untuk berlatih dan memperkuat fisikmu," tambah Ki Sambernyawa.
Waktu melangkah setapak demi setapak mengarungi lautan malam yang hening membentang. Semua makhluk hangat terlelap bersenandungkan mimpi yang membelai untaian kalbu.
Hanya sorot mata para hewan penguasa malam yang terlihat bersinar berkedip menghiasi kegelapan.
Di dalam sebuah hutan yang tidak terlalu lebat, Arya terpaksa harus bermalam dan tidur di atas dahan pohon besar hingga pagi menjelang. Baru kali ini dia mengalami situasi seperti ini, tapi tidak ada rasa penyesalan sedikitpun akan keputusannya.
Arya terpaksa terbangun lebih awal. Gendang telinganya menangkap suara logam yang beradu dan pekikan panjang menyayat bersahutan dalam jarak tidak jauh dari tempatnya tidur.