Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghianatan Klan Dark Moon
"Kalian berkhianat!" suara Alex menggema memenuhi aula. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya menyapu setiap wajah yang berdiri di hadapannya dengan sorot penuh kebencian. Dadanya naik turun menahan amarah. Ia tak pernah menyangka para tetua akan berani melakukan pengkhianatan sebesar ini.
Mereka bersekongkol untuk melengserkan keluarga Fabian Kell dari tampuk kepemimpinan klan Dark Moon. Malam itu, mansion milik Alex berubah menjadi lautan darah. Para pengawal dan anak buah yang selama ini setia kepadanya telah dibantai tanpa ampun, bahkan tepat di depan matanya.
"Keluarga Fabian Kell sudah tidak lagi layak memimpin klan Dark Moon. Karena itu, kami telah memutuskan untuk mengangkat pemimpin baru. Apa kau mengerti, Alex Fabian Kell?" ucap salah seorang tetua dengan nada dingin. Tak ada lagi sapaan "Pangeran" yang biasa mereka ucapkan. Gelar itu seolah telah dicabut bersama runtuhnya kekuasaan keluarga Fabian.
Setelah berhasil melumpuhkan Alex, para tetua tanpa membuang waktu langsung mengumumkan calon pemimpin baru yang akan menggantikan Fabian Kell. Mereka menolak mengangkat Alex sebagai penerus ayahnya. Menurut mereka, Alex terlalu lembut dan tidak memiliki ketegasan yang dibutuhkan untuk memimpin klan. Demi menghapus segala bentuk perlawanan, para tetua bahkan melakukan pembantaian terhadap setiap vampir yang menolak tunduk kepada pemimpin baru.
"Bergabunglah dengan kami, Alex. Pemimpin baru kita jauh lebih kuat. Bersamanya, kita akan memusnahkan Arthur."
Alex menyeringai dingin."Lebih baik mati daripada bergabung dengan para pengkhianat seperti kalian."
"Ternyata lidah tajam Fabian memang menurun kepada putranya." Suara yang begitu dikenalnya membuat Alex menoleh. Dari balik kerumunan, seorang pria paruh baya melangkah memasuki aula dengan tenang. Wajahnya keras, rambut peraknya menjadi ciri khas keluarga Gilbert.
Markus Gilbert. Pria yang sejak lama mengincar kursi kepemimpinan klan Dark Moon.
"Sudah kuduga," gumam Alex lirih. Tak mengherankan jika Markus berada di balik semua ini. Bukan rahasia lagi bahwa pria itu telah lama berambisi merebut jabatan yang selama ini dipegang ayahnya. Bahkan dahulu, Markus pernah bersusah payah menjodohkan Arthur dengan Ana Gilbert demi memperkuat pengaruh keluarganya. Namun semua rencananya hancur setelah tragedi kematian sang Ratu. Sejak saat itu, Arthur justru berbalik memusuhi para tetua.
"Alex, kau sudah tidak memiliki pilihan lain selain menerimaku sebagai pemimpin baru. Kau pasti sudah mendengar kabar tentang putraku, bukan?"
Senyum sinis terukir di bibir Alex."Tentu saja. Putramu yang terkutuk itu cukup terkenal."
"Jangan pernah menyebut kakakku seperti itu, Alex!" bentak Ana Gilbert dengan wajah memerah menahan amarah.
Alex menatapnya tanpa rasa takut."Maaf kalau kau tersinggung. Tapi memang itulah julukan yang selama ini melekat padanya."
"Berengsek!" Ana langsung menerjang Alex. Namun sebelum serangannya mengenai sasaran, Alex lebih dulu menghindar. Dalam satu gerakan cepat, ia berhasil membalikkan keadaan dan mencekik leher Ana hingga tubuh wanita itu terangkat dari lantai.
"Lepaskan dia, Alex!" Suara Markus menggelegar."Atau pria tua ini akan kubunuh tepat di depan matamu."
Jantung Alex seakan berhenti berdetak. Tatapannya langsung tertuju kepada Fabian Kell yang berada dalam cengkeraman Markus. Sang ayah sudah terluka parah dan nyaris tak mampu berdiri.
"Terkutuk kalian! Lepaskan ayahku!"
Melihat kepanikan di wajah Alex, Markus hanya tersenyum tipis. Tanpa ragu, Alex melempar tubuh Ana dan berlari secepat mungkin menuju ayahnya. Namun, dia terlambat. Sebelum tangannya sempat meraih Fabian, Markus lebih dulu meremukkan leher pria itu dengan satu hentakan keras.
KRAK!
Tubuh Fabian Kell jatuh tak bernyawa.
"AYAH!!" Jeritan Alex menggema, memecah keheningan malam yang telah dipenuhi darah dan pengkhianatan.
***
Deg.
Jantung Alea tiba-tiba berdegup lebih cepat. Entah mengapa, perasaan tidak nyaman mendadak memenuhi dadanya, seolah ada sesuatu yang telah terjadi. Sesuatu yang buruk. Tubuhnya mendadak terasa lemas, sementara pikirannya dipenuhi kegelisahan yang tak mampu ia jelaskan.
"Lea," suara lembut Sonja membuyarkan lamunannya."Ada apa? Kau terlihat cemas," tanya gadis itu penuh perhatian.
Alea menoleh dan memaksakan senyum tipis."Tidak ada apa-apa. Ayo kita kembali. Hari sudah mulai gelap."
Tanpa menunggu jawaban, Alea menggenggam tangan mungil Sonja dan mengajaknya kembali ke kastil. Sedari tadi mereka berjalan mengelilingi Hutan Fork untuk mengusir rasa bosan Sonja yang terus berada di dalam kastil.
Sesampainya di kastil, Sonja langsung menuju kamarnya. Sebenarnya ia merasa ada yang aneh dengan Alea. Wanita itu mendadak menjadi pendiam. Namun setiap kali ditanya, Alea hanya menjawab bahwa semuanya baik-baik saja.
"Kukira kalian lupa jalan pulang." Suara dingin Arthur membuat Sonja menoleh. Pria itu duduk santai di sofa dengan kedua kaki bersilang. Saat melihat Sonja, Arthur perlahan berdiri lalu melangkah menghampirinya."Sejak Alea datang, kau bahkan nyaris melupakanku."
Sonja mengernyit bingung."Apa maksudmu?"
Arthur tidak menjawab. Tangannya perlahan terangkat, mengusap lembut pipi Sonja, sementara tatapannya tak lepas dari wajah gadis itu. Dalam hati, ia ingin menjauhkan Alea dari Sonja. Bahkan melenyapkan wanita itu. Namun Arthur tahu, dia tidak bisa melakukannya. Saat ini hanya Alea yang mampu melindungi Sonja dari dirinya sendiri.
"Arthur, kenapa kau diam?" Sonja mulai kehilangan kesabaran. Dengan kesal ia menepis tangan Arthur.
Decakan pelan keluar dari bibir pria itu. Dalam sekejap, Arthur menarik tubuh Sonja hingga gadis itu menabrak dadanya. Sonja mendongak dan mendapati sepasang mata itu dipenuhi sesuatu yang tak mampu ia artikan."Kau kenapa?" bisiknya pelan.
Arthur tetap membisu. Dia merasa dirinya benar-benar bodoh. Kenapa harus cemburu pada Alea?
"Kenapa kalian berdua menjadi aneh?" gumam Sonja pelan."Alea bersikap aneh, sekarang kau juga."
Senyuman tipis akhirnya terukir di bibir Arthur."Apa Alea terlihat sedih?"
Sonja mengangguk.
"Kurasa dia sudah merasakannya."
"Merasa apa?"
Arthur menatap lurus ke arah Sonja."Kematian pemimpinnya."
***
Elleanor berjalan cepat menyusuri lorong-lorong kastil. Pandangannya menyapu ke segala arah, mencari sosok yang sejak tadi membuatnya gelisah.
"Lea!" Serunya lega saat melihat Alea berdiri di ujung lorong. Wanita itu segera menghampiri sahabatnya.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Entah kenapa sejak tadi aku diliputi firasat buruk. Kukira sesuatu terjadi padamu."
Alea menatap Elle dalam diam."Apa kau juga merasakannya?" tanyanya lirih.
Mata Elleanor langsung membesar. Dia mengangguk perlahan.
"Aku juga merasakannya."
Keduanya terdiam. Keheningan terasa begitu mencekam.
"Sesuatu yang buruk telah terjadi," gumam Alea. "Tapi aku tidak tahu apa."
Elleanor menggigit bibir bawahnya."Jangan-jangan..." Tatapannya bertemu dengan mata Alea."Pangeran Alex?"
Alea membuang napas panjang."Hubungi dia."
Tanpa membuang waktu, Elleanor segera memejamkan mata, mencoba menjalin telepati dengan Alex. Beberapa saat berlalu. Namun tak ada jawaban. Mata Elleanor terbuka kembali. Wajahnya mendadak pucat."Tidak ada respons, Lea." Suaranya bergetar.
Tatapan Alea langsung berubah tajam."Ayo, kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
***
Angin malam membelai rambut panjang Ana. Helai-helai rambut peraknya menari tertiup angin, berkilau di bawah cahaya bulan. Wanita itu duduk santai di atas dahan pohon yang menjulang tinggi. Namun, sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan ketenangan. Sejak tadi ia terus mengawasi sebuah rumah kecil yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Dia sedang menunggu.
Sudah berjam-jam berlalu. Ana tidak berniat memasuki rumah reyot itu, dia lebih memilih menunggu mangsanya keluar. Hingga akhirnya, pintu rumah terbuka. Seorang pria melangkah keluar dengan langkah pelan.
WUUSSH!
Dalam sekejap, Ana telah berdiri tepat di hadapannya.
"An, Ana." Pria itu tersentak kaget. Wajahnya seketika memucat.
Ana tersenyum tipis."Halo, Brad. Senang akhirnya kita bertemu lagi." Suara wanita itu terdengar lembut, tetapi justru membuat tubuh Brad gemetar.
"A,Ana, aku..."
"Lady." Ana memotong ucapannya."Panggil aku Lady Ana."
Mata Brad langsung membelalak. Jadi kabar itu benar. Keluarga Gilbert telah berhasil merebut kepemimpinan klan Dark Moon.
"Aku benar-benar tidak tahu di mana kakakmu berada," ucap Brad tergesa-gesa.
Seringai tipis terukir di bibir Ana."Kenapa mundur?" tanyanya sambil melangkah perlahan mendekat. "Apa kau takut padaku?"
Brad terus melangkah mundur. Jantungnya berdetak semakin cepat. Siapa yang tidak mengenal Ana Gilbert? Wanita itu terkenal kejam, arogan, dan tidak pernah ragu membunuh siapa pun yang menghalangi jalannya.
"Sepertinya," bisik Ana."Malam ini akan menjadi malam terakhirmu." Tanpa memberi kesempatan Brad bereaksi, Ana langsung menerjangnya.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Pukulan demi pukulan menghantam tubuh Brad tanpa ampun. Pria itu sama sekali tidak mampu melawan.
"Katakan selamat tinggal pada dunia." Ana mengangkat tinjunya, bersiap melancarkan serangan terakhir. Namun..
BUAGH!
Tubuh Ana mendadak terpental, dia melayang beberapa meter sebelum akhirnya menghantam batang pohon besar hingga pepohonan di sekitarnya bergetar.
Bukannya marah, Ana justru tersenyum. Perlahan dia mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Tatapannya tertuju pada sosok yang baru saja menyerangnya.
Seringainya semakin lebar."Akhirnya aku berhasil memancingmu keluar..." Tatapan Ana berubah hangat, sesuatu yang nyaris tak pernah terlihat di wajahnya."Kakakku tersayang."