Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : Gemblengan Tiga Pilar
BAB 15: Gemblengan Tiga Pilar
Kehidupan di Desa Pagedongan bener-bener menjadi tamparan keras bagi kebiasaan lama Bagus. Tidak ada lagi dering ponsel yang bergetar memburu orderan ojek online, tidak ada lagi aspal jalanan kota yang panas, dan tidak ada lagi hiruk-pikuk dunia digital. Di bawah bimbingan langsung Ki Ageng Buana, hari-hari Bagus kini diisi oleh rutinitas yang ketat, melelahkan fisik, namun secara perlahan mulai menata kembali jiwanya yang sempat porak-poranda. Penempaan spiritualnya dibagi menjadi tiga pilar utama yang tidak boleh ditawar sedikit pun: syariat, hikmah, dan tasawuf.
Pilar pertama yang harus Bagus babat habis adalah ilmu syariat. Setiap hari, bahkan sebelum fajar menyingsing membelah kabut Tegal Pelosok, Bagus sudah harus bangun untuk menimba air sumur guna mengisi bak surau kayu. Di bawah tatapan mata Ki Ageng Buana yang tajam, Bagus diajarkan kembali tentang kesucian lahiriah. Ia memperbaiki tata cara wudhu yang selama ini sering dilakukan tergesa-gesa di sela-sela waktu narik ojek. Ia dibimbing untuk mendalami fiqih ibadah yang luhur, memahami syarat dan rukun sholat yang sah, hingga meluruskan kembali bacaan Al-Qur'annya.
"Syariat itu adalah wadahnya, Bagus," ujar Ki Ageng Buana pada suatu pagi saat mereka duduk di selasar Joglo setelah sholat Subuh. "Bagaimana mungkin kamu bisa menampung air keimanan yang murni jika wadah hukum lahiriahmu masih bocor dan kotor?"
Bagus mengangguk takzim. Ia merasakan fisiknya yang dulu sering kelelahan karena begadang di jalanan kota, kini perlahan-lahan menjadi lebih bugar dan disiplin. Menimba air, menyapu pelataran tanah merah, dan konsisten menegakkan sholat lima waktu tepat pada waktunya di shaf pertama surau bener-bener mengunci keteraturan hidupnya yang baru.
Setelah pondasi syariatnya mulai kokoh, Ki Ageng Buana mulai mengenalkan Bagus pada pilar kedua, yaitu ilmu tasawuf. Ini adalah bagian yang paling berat bagi batin Bagus. Ilmu tasawuf yang diajarkan di Pagedongan bukan sekadar teori di dalam buku, melainkan sebuah aksi nyata untuk membunuh habis ego kesombongan, rasa gengsi, dan penyakit hati yang bersarang di dalam dada manusia. Bagus diperintahkan untuk melakukan riyadhah atau latihan batin yang ketat. Ia harus menjalani puasa sunnah berhari-hari, membatasi tidurnya di malam hari untuk terjaga dalam zikir, serta belajar mengikis rasa sakit hati masa lalunya terhadap caci maki Sri.
"Rasa sakit hatimu yang dulu meledak menjadi dendam itu bersumber dari egomu yang terluka, Bagus," tegas Ki Ageng Buana saat mengoreksi posisi duduk bersila Bagus yang mulai goyah karena mengantuk di sepertiga malam. "Kamu tidak terima dihina karena kamu merasa dirimu berharga di depan makhluk. Dalam tasawuf, kamu harus memandang dirimu sebagai hamba yang tidak memiliki apa-apa di hadapan Sang Khalik. Jika kamu sudah merasa bukan siapa-siapa, maka cacian ataupun pujian manusia tidak akan pernah bisa lagi menggerakkan hatimu menuju kegelapan."
Kata-kata itu menghujam jantung Bagus. Di tengah kesunyian malam pegunungan yang dingin menusuk tulang, sambil memandangi nyala lilin yang bergoyang, Bagus menangis tersedu-sedu. Ia meratapi betapa kotornya niatnya dulu ketika nekat merapalkan pelet Jaran Goyang hanya demi kepuasan ego dan kesombongan materi agar Sri berlutut di kakinya. Melalui untaian dzikir kalimat tauhid yang dibaca ribuan kali setiap malam, kabut pekat yang mengotori ulu hatinya perlahan-lahan luntur. Ego ojol yang tersakiti itu kini telah mati, digantikan oleh kepasrahan seorang hamba yang murni.
Pilar ketiga yang mulai diperkenalkan secara bertahap oleh Ki Ageng Buana adalah ilmu hikmah. Berbeda dengan ilmu hitam Ki Dukun yang mengandalkan bantuan khodam iblis pembawa petaka, ilmu hikmah sejati yang dipelajari Bagus bersumber dari kesucian doa, ayat Al-Qur'an, dan penyelarasan energi positif alam semesta yang diridhai Allah. Bagus diajarkan untuk memahami bagaimana energi dzikir yang ia rapalkan bisa bergetar menciptakan pagar pelindung gaib di sekitar tubuhnya. Ia mulai belajar mengenali tanda-tanda pergerakan energi murni di sekitarnya, bukan untuk kesaktian atau pamer kekuatan, melainkan sebagai bentuk perlindungan diri dan sarana untuk menolong sesama yang tertindas oleh kejahatan sihir.
Bagus merasakan sebuah transformasi yang luar biasa besar di dalam dirinya setelah melewati bulan-bulan penuh gemblengan tiga pilar tersebut. Cara pandangnya terhadap dunia berubah total. Ketakutannya akan teror ancaman Ki Demang perlahan sirna, digantikan oleh keyakinan tauhid yang kokoh bahwa tidak ada satupun makhluk gaib yang bisa mencelakainya tanpa izin dari Allah Yang Maha Kuasa. Jiwanya yang dulu retak, rapuh, dan mudah tersulut amarah, kini telah menjelma menjadi sebuah benteng batin yang tenang, dewasa, dan dipenuhi oleh cahaya keimanan yang baru di bawah langit Pagedongan yang sakral.
“Ketika syariat membersihkan wadah lahiriahmu, tasawuf membunuh ego kesombongan batin, dan hikmah membentengi sukmamu dengan cahaya doa. Di situlah kau akan menyadari bahwa kekuatan sejati tidak lahir dari mantra pemaksa nafsu, melainkan dari ketundukan mutlak seorang hamba di hadapan Sang Pemilik Semesta.”
— Sang Alifas Yang Merumput