NovelToon NovelToon
Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Contest / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:487.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sella.Sung

Lusia, seorang gadis pekerja keras yang manghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bekerja demi keluarga kecilnya. Bagi orang sepertinya yang belum pernah menikmati indahnya memiliki kekasih, pergi berkencan adalah hal mewah yang harus ia relakan. Tak jarang perasaan iri mengusiknya setiap kali melihat sepasang kekasih saling berbagi kasih duduk mesra di Cafe tempatnya bekerja.

“Akankah ada pria yang akan menggenggam tanganku suatu saat nanti?”.

Berbanding terbalik dengan Rayn, seorang pelukis dengan nama pena Lotus. Rayn menderita Haphephobia akibat trauma kecelakaan yang pernah dialaminya. Ketakutan dan kecemasannya akan sentuhan orang lain memaksanya untuk hidup sendiri dan tidak pernah membiarkan orang lain menyentuhnya.

“Mustahil bagi seseorang untuk hidup sendiri tanpa kontak fisik dengan orang lain seumur hidupnya, tapi itulah hidup yang harus aku jalani.”

Bagaimana jadinya jika mereka bertemu dan harus tinggal satu rumah?


NOTE :
✅ Update setiap Minggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sella.Sung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 08 - Psikopat

Perkataan Rayn membuat Lusia auto parno. Ia berpikir jika Rayn secara tidak langsung memintanya mematikan panggilan seolah tidak ingin suaranya didengar orang lain. Kemungkinan besar dia tahu Lusia sedang memberikan kode kepada seseorang yang sedang berada di ujung telepon. Sontak Lusia mengakhiri panggilan.

“Hello Dave, Dave… Dave… ha.. haha… sepertinya dia sudah tertidur,” jawab Lusia langsung menutup panggilan dan melepaskan earphone Bluetooth dengan gugup.

“Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang. Kenapa situasinya semakin menakutkan. Berada di tengah hutan tanpa penerangan, angin bertiup pertanda akan turun hujan lebat, petir menyambar, hanya bisa melihat pepohonan sepanjang jalan ditambah bersama pria dingin yang duduk seperti patung di sebelahku. Kenapa mesti complicated banget.” Lusia hanya bisa komat-kamit dalam hati.

“Tapi kau harus tenang Lusia, karena setidaknya dia masih seorang manusia sama sepertimu. Benar, dia masih manusia. Ia bukan hantu, iblis, goblin atau vampire. Kau hanya terlalu berlebihan Lusia. Jika dia ingin berniat buruk, pasti sudah melakukannya dari tadi ketika kita mulai memasuki kawasan ini,” ucap Lusia dalam hati sesekali melirik ke arah Rayn.

Lusia semakin tidak bisa mengendalikan pikirannya, ia merasa seperti menjadi pemeran utama dalam drama bergenre thriller dan horor. Terjebak bersama seseorang mungkin psikopat yang mengancam nyawanya.

“Tidak, itu tidak mungkin. Semua hanya kebetulan, dia bukan orang jahat. Jangan memfitnahnya hanya berdasarkan rasa parno yang konyol itu Lusia,” lanjut celoteh Lusia dalam hati berusaha menghibur diri lalu kembali mencoba melempar senyum pada Rayn.

Layar navigasi menunjukkan jika dia akan berada dalam titik tujuannya setelah melewati satu belokan lagi di depannya. Dari kejauhan sudah terlihat cahaya terang di balik pepohonan.

“OK, semuanya akan berakhir setelah kita melewati belokan itu,” ucap Lusia penuh semangat dalam hati dengan semakin menambah kecepatan mobilnya.

Mobil berbelok dan berhenti di depan bangunan villa besar dengan konsep modern minimalis natural. Perpaduan interior kayu modern dan arsitektur yang menarik membuat villa itu terlihat mewah dan nyaman. Halaman depan villa yang luas dengan banyak titik lampu penerangan menambah keindahan hunian itu.

“Akhirnya kita sudah sampai, aku masih tidak percaya jika ada hunian semewah ini di sini,” ucap Lusia di dalam mobil dengan mata membelalak melihat sekitar.

Rayn membuka pintu mobil lebih dulu. “Turunlah…” ucapnya singkat sebelum berjalan menuju villa.

Lusia membeku sesaat di balik kemudi. “Turun...? Apa maksudnya dengan memintaku turun?” batinnya mulai waspada.

“Derrrrrrr….!!!!”

Suara petir kembali menyambar disertai hujan yang langsung turun dengan lebatnya.

Lusia membuka kaca mobil dan berteriak, “Maaf..., aku akan langsung kembali,” teriaknya kepada Rayn yang tampak santai berjalan di bawah guyuran hujan.

“Hei…!!!” teriak Lusia kembali dengan keras, derasnya hujan membuat suaranya pasti tidak terdengar oleh Rayn.

“Ting Ting Teng Tung... .”

Terdengar sebuah instrumen musik berbunyi berulang kali, Lusia menoleh ke kursi penumpang tempat sumber suara itu berasal. Sebuah ponsel layar menyala, sebuah panggilan masuk — “Perisai Mickey memanggil…”

“Perisai Mickey…?” Lusia meraih ponsel yang tidak lain milik Rayn.

“Heiii…!” teriak Lusia melalui kaca mobil. Dilihatnya Rayn sudah memasuki teras villa. Lusia bergegas turun dan berlari menghampiri pria itu menuju teras villa.

“Kau meninggalkan ponselmu…!” teriak Lusia sambil berlari.

Rayn yang sedang memasukkan sandi pintu sontak menghentikan jarinya dan berbalik ke arah Lusia. Dilihatnya gadis yang sudah mengantarnya pulang itu berdiri dalam keadaan basah kuyup.

Pikiran aneh mulai muncul di kepala Lusia. Jangan-jangan Rayn memang sengaja meninggalkan ponselnya agar ia menyusulnya ke villa. Terlebih pria itu sempat memintanya turun sebelum keluar dari mobil.

“Jadi… apa kau bisa memberikannya kepadaku?” tanya Rayn tiba-tiba seraya menatap Lusia.

Lusia mengerutkan dahi sambil refleks mendekap tubuhnya. Untuk sesaat ia benar-benar salah paham, mengira Rayn sedang meminta sesuatu yang aneh darinya.

Rayn menatapnya datar, seolah menyadari ke mana arah pikiran gadis itu.

“Ponselku…!” ucapnya singkat sambil mengulurkan tangan.

“Oh… ponsel… haha,” ucap Lusia kecil sambil menyerahkan ponsel itu dengan canggung.

Tanpa menanggapi rasa malu Lusia, Rayn kembali menekan kode sandi pintu.

Sandi terverifikasi dan pintu terbuka perlahan. Rayn melangkah masuk lebih dulu, lalu membiarkan pintu tetap terbuka.

“Masuklah….”

Namun Lusia buru-buru menolak, langsung menggeleng cepat. Ia sama sekali tidak berniat masuk dan mengatakan bahwa dirinya akan langsung kembali.

“Kau yakin ? aku bisa membantumu menghangatkan tubuhmu sebentar di dalam.”

Kalimat itu justru membuat pikiran Lusia kembali ke mana-mana. Ia mengintip sekilas ke arah Rayn dari balik pintu dengan wajah penuh curiga.

Menghangatkan...? Apa maksudnya dengan menghangatkan tubuh? Sudah kuduga pasti ada sesuatu. Apa dia pria cabul?

“Aku akan langsung kembali...!” teriak Lusia cepat.

“Derrrrrr...!”

Suara petir yang memekakkan telinga itu langsung membuat nyali Lusia ciut seketika.

“Derrrrrr…!”

Suara petir kembali menggelegar di atas villa, membuat Lusia refleks memejamkan mata.

“Oh Tuhan, nasib buruk apa yang sedang terjadi padaku sekarang,” keluhnya sambil mengelus dada yang berdebar tidak tenang.

Hujan semakin deras membasahi halaman depan villa. Angin dingin sesekali ikut menerpa hingga membuat tubuh Lusia menggigil.

Saat ia kembali memberanikan diri melangkah meninggalkan teras, kilatan petir kembali menyambar langit malam.

“Derrrrrrr…!”

Sontak Lusia terkejut dan buru-buru mundur kembali ke dekat pintu.

Entah sejak kapan mengambilnya, Rayn kembali keluar dengan sebuah handuk di tangannya seolah sudah tahu Lusia tidak akan benar-benar berani pergi dalam keadaan hujan dan udara sedingin itu. Sejak tadi ia juga memperhatikan tubuh gadis itu yang terus menggigil di teras villa.

“Apa kau bisa mengemudi di saat hujan lebat begini?” tanya Rayn tenang.

Belum sempat Lusia menjawab, suara petir lain kembali menggelegar keras.

“Derrrrrrr…!”

“Mama…,” teriak Lusia spontan. Ia langsung jongkok sambil menutup kedua telinganya.

Kedatangan Rayn dan suara petir yang terus bersahutan benar-benar sudah mengacaukan pikiran Lusia. Gadis itu tampak tak lagi mampu membedakan mana rasa takut yang nyata dan mana yang hanya berasal dari imajinasinya sendiri. Pada akhirnya, ia hanya bisa pasrah dengan situasi yang sedang dihadapinya.

Tanpa banyak bicara, Rayn langsung meraih tangan Lusia. Sentuhan itu membuatnya sedikit tersentak. Tangan gadis itu terasa sangat dingin dan gemetar akibat udara malam dan hujan yang terus turun tanpa ampun.

Rayn menariknya berdiri lalu menuntunnya masuk ke dalam villa sebelum Lusia kembali berubah pikiran dan nekat keluar lagi ke tengah hujan.

“Sudah kukatakan dari tadi untuk masuk. Kenapa kau masih saja berdiri di luar?” tanya Rayn sambil membantu Lusia duduk di sofa.

Suasana hangat di dalam villa perlahan mulai meredakan dingin yang sejak tadi menusuk tubuh Lusia. Namun, rasa canggungnya justru semakin menjadi-jadi saat menyadari Rayn masih berdiri di dekatnya.

“Pakailah untuk mengeringkan rambutmu,” ucap Rayn seraya menyerahkan handuk di tangannya.

Lusia hanya tertunduk pelan saat menerima handuk itu. “Terima kasih,” balasnya lirih tanpa berani menatap langsung ke arah Rayn.

Rayn berjalan menuju sudut ruangan tempat perapian berada. Ia mulai merapikan beberapa potong kayu kering lalu menyalakan api dengan tenang, seolah sudah terbiasa hidup dalam suasana sunyi seperti ini.

Melihat nyala api mulai membesar, Lusia akhirnya menyadari maksud ucapan Rayn sebelumnya tentang menghangatkan tubuh. Rupanya pria itu benar-benar hanya menyiapkan perapian, bukan hal aneh seperti yang sempat dipikirkannya.

Perlahan hawa hangat mulai memenuhi ruangan, sedikit mengusir dingin yang sejak tadi melekat di tubuh Lusia.

“Kau tinggal di sini seorang diri?” tanya Lusia kepada Rayn yang masih membelakanginya.

“Eemm…,” jawab Rayn singkat tanpa menoleh.

Tak lama kemudian ia berdiri setelah memastikan api menyala dengan baik. “Tinggallah sejenak hingga hujan reda. Mengemudi seorang diri saat ini terlalu berbahaya.”

Namun bukannya tenang, Lusia justru semakin gelisah. Dalam hati ia bergumam pelan bahwa tinggal di villa terpencil bersama pria asing terdengar jauh lebih berbahaya.

“Berbahaya…?” ulang Rayn sambil mengembuskan napas kasar, rupanya masih sempat mendengar gumaman kecil itu.

Ia kemudian berbalik menatap Lusia. “Sungguh pikiran apa yang ada dalam kepalamu?”

Kalimat itu membuat Lusia terdiam sejenak. Namun sebelum sempat membalas, pikirannya justru buyar oleh hal lain. Untuk pertama kalinya ia bisa melihat wajah Rayn dengan jelas tanpa masker yang sejak tadi menutupi sebagian parasnya.

“Ya Tuhan… siapa sebenarnya pria ini?” batin Lusia tercengang. Rambut Rayn yang masih sedikit basah justru membuat wajah pria itu terlihat semakin sulit diabaikan.

Sejauh ini Lusia hanya mengenal Rayn dari suara bass di balik maskernya, tatapan matanya yang tajam, serta sikap dingin dan angkuhnya yang terasa sulit didekati. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pria setinggi 182 cm yang sejak tadi bersamanya ternyata memiliki wajah super duper tampan.

“Kenapa kau menatapku?” tanya Rayn saat menyadari Lusia hanya diam bengong memperhatikannya.

“Oh tidak, tidak ada. Aku hanya merasa tidak seharusnya terlalu lama di sini,” jawab Lusia cepat sambil meletakkan handuk di meja sebelah sofa. Dalam pikirannya, ia masih berniat segera pulang malam itu juga.

Namun Rayn justru mengingatkan kondisi jalan yang akan dilewati Lusia.“Jangan memaksa, bukankah kau tahu jika jalanan yang akan kau lewati tidak memiliki penerangan, sangat gelap, menanjak dan berkelok-kelok. Kau hanya akan mengemudi di antara pepohonan dengan cara mengemudi yang seperti keong,” ucap Rayn copy paste perkataan Lusia dalam panggilan tadi.

Lusia langsung menatap Rayn dengan waspada.

“Apa dia benar-benar memperhatikan semuanya?” batinnya. Cara Rayn mengingat setiap perkataannya tanpa meleset sedikit pun justru terdengar semakin menyeramkan di telinganya.

“Kenapa sama sekali tidak ada penerangan jalan?” keluh Lusia cepat, sengaja mengalihkan pembicaraan.

“Aku tidak membutuhkannya,” jawab Rayn singkat.

“Kau yakin tinggal di sini seorang diri? Tidak ada pembantu atau semacamnya?” tanya Lusia lagi.

Rayn tidak langsung menjawab. Ia hanya mengembuskan napas kasar sambil menatap tajam gadis yang sejak tadi terlihat ketakutan namun tidak berhenti bicara itu.

“Aaaa… haha… aku hanya merasa hunian sebesar ini pasti sulit merawat sendirian,” lanjut Lusia dengan tawa canggung.

Lusia kembali memandangi sekeliling villa yang sunyi itu. Dalam hati ia masih tidak habis pikir mengapa Rayn memilih tinggal sendirian di tempat seperti ini. Bagaimana jika pria itu sakit, atau bahkan sekarat? Tidak akan ada yang tahu. Kadang Lusia merasa Rayn seperti tokoh aneh yang hidup di alam berbeda.

“Aku akan mengambilkan minuman untukmu,” ucap Rayn sebelum berjalan meninggalkan ruang tengah.

“Jangan…!” seru Lusia spontan.

Langkah Rayn langsung terhenti. Ia menoleh dengan sedikit kebingungan mendengar penolakan cepat itu.

“Jangan…?” ulang Rayn pelan. Normalnya orang berkata tidak, tapi Lusia justru jangan.

Lusia sontak tersadar dengan ucapannya sendiri. Pikiran paranoianya tentang psikopat kembali muncul tanpa kendali begitu mendengar kata minuman.

Dengan gugup ia buru-buru melambaikan tangan kecilnya. “Eeee… em… bukan itu maksudku…”

Ia segera mencari alasan lain agar terdengar normal. “Kau tidak perlu repot-repot. Saat ini aku tidak haus.”

Rayn menatap tangan Lusia yang masih sedikit gemetar sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan. “Sudah kukatakan jangan memaksakan diri.”

Setelah mengatakan itu, ia kembali berjalan menuju dapur.

Lusia kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Meski tenggorokannya memang terasa kering dan ia sebenarnya membutuhkan air agar sedikit lebih tenang, tetap saja rasa curiganya tidak mau hilang. Bagaimana jika Rayn memasukkan sesuatu ke dalam minuman itu? Lalu ia dibuat tidak sadarkan diri dan… semakin dipikirkan, semakin menyeramkan bayangannya sendiri.

Untuk mengalihkan pikirannya, Lusia berdiri dan memperhatikan sekeliling ruangan. Hunian itu sangat luas, namun terasa terlalu kosong dengan furnitur yang minim. Ia jadi bertanya-tanya apakah semua itu karena Rayn benar-benar tinggal sendirian di tempat sesunyi ini.

Pandangan Lusia kemudian beralih ke jendela besar dengan tirai terbuka. Hujan di luar masih turun deras, sesekali disertai kilatan petir yang menyambar langit malam.

Namun detik berikutnya, jantungnya kembali berdegup tidak tenang. Dari pantulan kaca jendela, ia melihat Rayn berjalan mendekatinya perlahan dari belakang.

Siluet pria itu semakin dekat. Ayunan tangannya membuat pikiran Lusia kembali liar seolah Rayn akan menyentuhnya kapan saja.

Sudah cukup, Lusia. Jangan memberinya kesempatan. Tidak peduli hujan badai atau petir sekalipun, kau harus segera pergi dari tempat ini, pikir Lusia.

Dengan tekad yang sudah bulat, Lusia langsung memberanikan diri membalikkan badan menghadap Rayn.

“Ting… Tung…”

Suara bel pintu tiba-tiba berbunyi, membuat Rayn dan Lusia sama-sama menoleh ke arah depan.

Bagi Lusia, suara itu terasa seperti penyelamat yang datang tepat waktu. Ia segera bergerak cepat, berniat memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari villa misterius tersebut.

“Tunggu…!”

Rayn dengan sigap menahan pergelangan tangan Lusia sebelum gadis itu benar-benar melangkah pergi.

***To Be Continue***

Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃

✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..

❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍

📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)

🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.

Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆

Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃

✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..

❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍

📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)

🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.

Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆

1
Maulida
lanjut kak
Hazmin Min
menarik...
fysia gunawan
suka alur dna gaya penulisannya. typonya hampir tidak ada
Rara Kusumadewi
Kelvin apa rayn ya yg Diam diam cinta sama lusia
Rara Kusumadewi
MC cowoknya malah tak keluar" nih gimana...malah Kelvin yg muncul terus...huuft
fysia gunawan
saya sudah sempat uninstall app ini, karena tidak menemukan cerita yg benar2 pas dgn selera saya. tapi karena satu buku ini saya masih penasaran dan akhirnya install lagi.
hebatnya bahkan setelah saya tinggal sekian lama saya masih ingat cerita dan tokoh2nya

salut buat author, penuturannya pasti betul2 dipikirkan dan ditulis dalam mood yg baik dan stabil jadilah literasi yg baik. jadi buat para readers jangan suka desak2 author utk rajin update, krna hasil karya yg baik tidak dibuat tergesa-gesa
Ashley: Terima kasih banyak kak atas dukungannya.

Saya pun juga sempat hiatus sangat lama bahkan hampir satu tahun karena real life saya. Namun, kini saya akan menyisihkan waktu, meskipun hanya 1 hari waktu libur yang saya miliki dalam seminggu untuk menulis.

Saya adalah Newbie dalam bidang ini yang berawal dari hobi. Bahkan, pada dasarnya saya sungguh tidak memiliki basic kemampuan menulis. Namun, saya ingin dan akan belajar menulis dengan baik.
total 1 replies
Vie viet Ks
selalu menunggu
Vie viet Ks
kirim vote biar semangat kak ....😍
skz_0428
akhirnya update juga setelah sekian purnama
💐Lusi81
awal cerita yg menarik 🙂
𝐙⃝🦜Md. Wulan ᵇᵃˢᵉ༄⃞⃟⚡
visualnya Dady tang aku suka😘
Vie viet Ks
akhirnyaaa kau kembali thor .... sampai hampir lupa ceritanya
Elvi Na
bagus
Isnaini Neny
thor tlong ceritanya di sambung dong,,, sdh smpe slesai lebaran tpi ceritanya blm update juga... ???
Yupita Berti
cerita nya bagus
Arvino Syafier Maulana
ini up nya tiga bulan sekali yaa thor padahal cerita nya bagus...
Moms Wirda
mungkin orang yg membunuh ibu nya Rayn mengira kalau Rayn adalah micky dan berniat membunuh nya
Isnaini Neny
rayn blm mydari klo dia skrng sdh smbuh,kasian micky...😥 akhirnya author update juga,,, ternyata nggu thn baru dulu ya?
Ella Fatur Rohman
selamat tahun baru thor aku Ampe kangen nunggu kelanjutan ini Rayn jangan terlalu keras sama Mickey kasian moga authornya up lg🤗
Isnaini Neny
sdh mau thn baru tpi blm ada kelanjutan nih... 😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!