"1 salah 5 ciuman"
"Enak aja lo,gak gue gak mau!"
"Terserah"
"Ehh lo mau apa!?"
"Ngelaporin lo ke pak bima"
"Ehh setan jangan! iya udah iya! gue mau"
***
Fika lavina maureen. murid yang terkenal bodoh dalam pelajaran matematika, nilai nya yg selalu anjlok dan jauh dari kkm, membuat dirinya harus les privat matematika bersama seorang murid yg terkenal pintar, namun seorang itu tak lain adalah tetangga nya sendiri.
Arkan keano. tetangga Fika, menurut Fika sifat Arkan berbeda dengan nya, jika Arkan disekolah sangat sangat menyebalkan, namun bersama dirinya sifat nya berubah total.
lalu bagaimanakah kisah kedua nya?
apa mungkin mereka tidak menjalin hubungan?
"SUMPAH SUMPAH GUE BAKAL STRESS!"
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aniya Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08. Kelas baru
Ketika Arkan dan Fika telah sampai di sekolah, mereka menjadi pusat perhatian para siswa di SMA nya.
"Kak Arkan cocok ya sama kak Fika"
"Cantik ganteng pas deh"
"Eleh gua lebih cocok sama si Fika"
"Mauan tuh si Fika pacaran sama batu"
"Eh emang kak Arkan sama kak Fika pacaran?"
"Belum tau tuh"
"Ya mangkanya kalo lo pada gak tau gak usah ngomong orang!" ujar Fika kesal, mereka yg berbisik seketika diam.
Fika dan Arkan berbeda kelas, Arkan kelas MIPA 1 sedangkan Fika kelas MIPA 3. Saat Fika masuk ke dalam kelasnya ia menjadi sorotan tatapan oleh semua murid MIPA 3.
Saat Fika masuk ke dalam kelasnya ia menjadi sorotan tatapan oleh semua murid MIPA 3.
Fika berjalan santai, duduk disamping Dara. Bukannya ia tak mau duduk disamping Meta, namun gadis itu tidak sama sekali menegurnya ataupun menatap bahkan meliriknya.
Sampai Pak Bima masuk di kelas mereka.
“Pagi anak-anak” sapanya.
“Pagi Pak” jawab mereka serempak.
“Baiklah, bapak kesini hanya ingin memberitahu kepada nak Fika, tolong maju nak” suruhnya, Fika yang sedang memainkan penanya disenggol oleh Dara. Dara yang melirikkan matanya mengisyaratkan Fika untuk maju.
Seakan Fika mengerti, Fika maju.
“Fika kamu akan bapak pindahkan ke kelas MIPA 1” jelas Pak Bima, membuat Fika membulatkan matanya sempurna.
Sedangkan anak murid di kelasnya yang tadi sibuk dengan urusan mereka menjadi menatap Fika dengan
terkejut.
"Pak masa si Fika si Pak"
"Saya gitu Pak"
"Pakk MIPA 1 itu terlalu bagus Pak"
"Pak ntar kalo Fika gak ada, siapa yang saya godain Pak"
"Fika jangan pergi Fik"
"Si Fika enak banget njirr, padahal otak pas-pasan"
"Anjir MIPA 1 banyak cogan"
Ricuh MIPA 3
“Heh sudah diam!” ucap Pak Bima.
“Fika ambil tas dan buku-buku kamu, bapak anterin kamu sampe kelas MIPA 1” perintah Pak Bima. Fika mengangguk.
Fika melewati meja, dimana ia dan Meta duduk bersama, main bersama, teriak-teriakan, secontekan.. Huh andai Meta tidak salah paham. Fika mengemasi bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Ta, lo salah paham sama gue” ucap Fika membujuk. Meta tak menatap Fika maupun melirik sekalipun.
“Udahlah Fik, mungkin Meta butuh sendiri dulu” Ocha mewakili.
“Yaudah deh, Ta gue minta ma’af kalo gue salah” ucap Fika terakhir kali.
___
“Pak kenapa Fika si Pak?” omel Fika.
“Saya memindahkan kamu, supaya kamu bergaul dengan orang pintar Fika, nilai kamu juga sudah lumayan naik” jawab Pak Bima.
“Yaa..tapi gak pake acara pindah-pindahan Pak” cerca Fika protes.
“Suutt udah diam” suruh Pak Bima.
Dan akhirnya Fika dan Pak Bima sudah tepat di depan kelas MIPA 1. Di dalam kelas ada Miss Celine yang sedang mengajar, kelasnya tampak damai. Tidak seperti kelasnya jika ada guru, mereka tetap saja
berisik.
“Permisi Miss Celine…” tegur Pak Bima dari pintu. Miss Celine tersenyum, mendekati Pak Bima dan mulai membahas Fika.
“Fika ayo nak” ajak miss Celine, Fika mengangguk. Fika berjalan di belakang miss Celine, semua murid yang tadi sibuk dengan tugasnya kini beralih menatap Fika.
“Tolong perhatiannya sebentar” ucap Miss Celine.
“Kita kedatangan murid baru, bisa kamu perkenalkan dirimu nak?” Tanya Miss Celine, Fika mengangguk.
“Selamat pagi saya Fika Lavina Maureen, dari kelas MIPA 3, mohon kerjasamanya” ucap Fika tersenyum ramah.
“Ada pertanyaan?” Tanya Miss Celine.
Seseorang paling depan mengangkat tanganya, Fika meliriknya. Namun tatapannya beralih dengan seseoramg yang duduk di belakang tengah tertidur. Fika seperti mengenalnya, siapa dia?
“Gua Billy ketua kelas paling ganteng” ucapnya percaya diri.
“Dihh sok-sokan lu, ehh neng.. kenalin akang Oji” ucap sebelahnya lagi.
Fika hanya tersenyum tipis, kalian tahu? Kelas baru itu tidak menyenangkan, guru ada yang baru, teman baru, apapun yang baru di kelas baru.
“Baiklah nak Fika, kamu bisa duduk di kursi yang masih kosong” ucap Miss Celine, Fika mengangguk. Tatapannya teralihkan dengan kursi kosong di samping seseorang yang tertidur tadi.
___
Bu Nur..
Terajanahh terajanahh.
Astaghfirullah sadar Fik dosa nistain guru.
Bu Nur Flora. Tumbuhan: bunga, nur: cahaya.
Wahh sebuah nama yang memiliki arti yang bagus, apa sifatnya sama seperti arti namanya?
Guru yang dikenal killer, memasuki kelas MIPA 1. Bu Nur tidak mengajar di kelas Fika dulu, jadi ia tidak mengenal ataupun tahu sifat Bu Nur. Ia mengetahui jika ibu itu killer saja dari omongan kelas lain.
“Pagi anak-anak”
“Pagi Bu”
Fika memandangi seseorang yang duduk di sampingnya ini, kenapa dia santuy-santuy aja coba? Bangunin Fik, mayan nambah pahala lo. Hati baiknya mengusul.
“Ehh woii bangun, guru masuk noh” ucap Fika, setidaknya Fika pikir orang di sampingnya mendengarkan.
Tidak ada pergerakan ataupun jawaban dari orang di samping Fika. Saat Fika memegang bahu orang itu, ada pergerakan dari tubuhnya. Terkejutnya Fika saat mengetahui siapa orang disamping nya ini.
“ARKAN LO!” teriak Fika langsung berdiri menjauh, Bu Nur yang sedang berbicara tentang materi seni, menghentikan omongnnya dan menatap Fika dengan tajam. Setajam silet.
Mampus lo Fik! Baru pertama masuk udah dapet masalah lo!
“Kenapa kamu? Saya tidak pernah melihat kamu, dari kelas mana kamu?” Tanya Bu Nur dengan sedikit nada penuh penekanan. Bu Nur sudah tau bahwa ada anak baru di kelas MIPA 1.
“MIPA 3 Bu” ucap Fika.
“Oohh…, pantes..! maju sini!” Teriak Bu Nur menyuruh Fika. Fika memutar matanya jengah. Namun meski begitu ia maju. Berdiri disamping Bu Nur.
“Nama kamu?” Tanya Bu Nur menatap Fika dari bawah sampai atas.
Bisa nggak matanya gak usah ngeliat gue dari bawah sampe atas! Pengen gua colok lo!
“Fika Lavina Maureennn” ucap Fika kesal memperpanjang kata “N” dinamanya, tanpa senyum dan tatapan yang datar.
“Rok kependekan, baju ketat, dasi tidak dipakai, mau jadi apa kamu? Kalian itu generasi penerus, kalo kalian seperti ini gimana Indonesia mau maju??” sinis Bu Nur, mengelilingi tubuh Fika. Fika seperti dihina oleh nenek lampir ini! Cihh..
Tak segan-segan Fika membalas perkataan Bu Nur.
“Rok saya dah kecil Bu, kalo beli lagi kan nanggung, baju saya kena cuci jadi saya Pake baju kelas 11, dasi saya di tas Bu, Amiinn Bu semoga Fika lulusss” ucap Fika mulutnya dinyonyorin. Kirain Fika gak berani apa!
“Berani kamu ngejawab!”
“Bu kan Ibu nanyaa… nanti kalo Fika gak jawab juga Ibu marah, mending Fika jawab kan?”
“Angkat kakimu satu, dan jewer telingamu! Jangan berhenti sampai jam saya selesai!”
Oke!
MATI LO NENEK LAMPIR!
serahknlah mlikmu kpda yg brhak n yg sdah halal.