NovelToon NovelToon
PENGASUH SANG TAIPAN

PENGASUH SANG TAIPAN

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Contest / Tamat
Popularitas:307.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mbak_na

bagaimana jika seorang wanita mendapat kesempatan untuk berada dekat dengan seorang taipan berwajah tampan? mengasuh seorang CEO tampan yang pikirannya kembali ke masa anak umur 8 tahun? punya kepribadian aneh? dan kadang wajah tampan itu bertranformasi menjadi imut dan selalu meluluhlan hati seorang karin..... sampai sampai bisa menembus jiwa kejombloan karin, lalu bagaimana jika pria itu kembali ke pemikiran dewasanya? bagaimana kehidupan duo sejoli itu nantinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBUAH PERMINTAAN

Karin pov

Ya tuhan apa yang salah dengan nasibku ini? Apa aku melakukan sebuah dosa yang tak ter maafkan?

 

Aku duduk pasrah memijit beberapa kali pelipisku yang kembali sakit karena berpikir. Seharusnya ini menjadi sebuah hal yang menggiurkan dan menyenangkan untuk di lakukan wanita kebanyakan... tapi tidak denganku. Yang notabenenya masih memegang erat harga diri wanita. Ini memalukan dan membuat jantungku berdetak ribuan kali lebih cepat. Rasanya benar-benar pengen copot.

 

Aku ingin melarikan diri dari situasi yang tak tertahankan ini.... tapi..

 

“Karin..... tidak bisakah kita mandi bersama hmmm?” sial Devan mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi memelas anak kecil yang tak bisa ku tolak sedikit pun... apalagi dengan posisinya berjongkok di depanku dengan aku yang duduk di sofa. Dia bahkan memintanya dengan tatapan polos dan tak bersalah sama sekali.

 

Apa dia tidak kasihan dengan jantungku yang mungkin saja akan meledak!!

 

“ekhem... kamu sudah besar... jadi-jadi tidak seharusnya minta dimandikan lagi ”aku memperhatikan perubahan ekspresi Devan yang berubah menjadi sedih, yang tadinya sebuah senyuman bertengger ria di wajahnya, tapi kali ini bibir itu merapat seolah-olah menyimpan rapat-rapat kesedihan itu. Ya tuhan apa yang harus aku lakukan?!!! Aku tidak tega melihat wajah tampan Devan menampilkan ekspresi kesedihan itu...

 

Dengan inisiatif dan kerja sama antara hati dan juga pikiranku. Aku menarik atas dan menghelanya. Devan sudah dewasa dia punya citra dan karisma seorang pria matang dan mapan... di tambah lagi dengan tubuh yang kokoh itu-seolah-olah bisa mengangkat semua beban- membuat wanita mana pun akan tergiur untuk menyentuhnya... dan aku tidak munafik dengan diriku sendiri, aku juga ingin merasakan bagaimana menjalarkan tanganku diantara kotak-kotak itu.

 

Dan seharusnya dengan posisiku sebagai pengasuhnya sangatlah mudah mengambil kesempatan... apa lagi ketika orang yang dimaksud sudah memohon untuk hm..... di mandikan? Sial Karin! Jangan membayangkan hal yang tidak-tidak! Ingat dia memiliki ingatan anak kecil yang sangat rentan dan polos, walaupun sesekali aku melupakan fakta itu.

 

“hah... sudah kubilangkan kamu sudah besar? Belajarlah untuk menjadi orang yang mandiri biar nanti bisa menjadi orang yang sukses..... “ aku mengibaskan tanganku beberapa kali mengusir kegugupan. Kali ini Devan memang tidak menampilkan kesedihannya lagi, tapi dengan tatapan memohon dan mata coklat hitamnya yang seolah-olah bersinar-seperti anak anjing yang minta dimanjakan- membuat pertahanan hati dan pikiranku kembali runtuh. Dan syukurnya aku bisa menghindari  tatapan itu segera, kalu tidak, aku benar-benar tidak yakin jika nanti aku akan menyetujui permintaan absurdnya tersebut.

 

“Karin jahat....” eh, barusan dia bilang aku jahat? Aku memperhatikan Devan kembali yang kali ini sudah bangkit berdiri. Dia menekuk kepalanya 45 derajat dan berjalan dengan kondisi seperti itu menuju lantai dua. Apa pria itu mengambek? Oh ayolah... dia sudah besar... hah bahkan untuk beberapa waktu ini, bisa kurasakan jika Devan sedikit aneh, maksudku setela kejadian dimana dia cemburu karena sudah kuabaikan ‘1-2 kali’ dia lebih menyita banyak waktuku, bahkan ketika di dapur pun juga begitu.

 

Devan bisa dibilang agak bertingkah terlalu manja padaku. Minta di suapi makanan, main dengannya mulai dari pagi hingga siang, kemudian ketika tidur..... aku harus memeluknya dulu, bahkan ketika tidurpun dia masih memelukku degan erat, dan itu memerlukan waktu hingga 2 jam agar bisa sampai terlepas. Dan setelah terlepas.... aku hanya bebas 30 menit sebelum Devan bangun lagi.

 

Bisa dibilang dia tidak bisa tidur tanpa aku memeluknya, berada di sisinya. Di sisi lain... aku senang lelaki seperti Devan bergantung padaku, rasa hangat dan juga kenyamanan menjalar  di setiap pembuluh darahku. Ketika menyuapinya aku malu tapi senang. Ketika bermain dengannya, aku lebih banyak seperti anak kecil dengan imajinasi liar ketimbang Devan dengan pemikirannya yang kurasa lebih dewasa dibanding diriku. Ketika Devan merengek meminta sesuatu kepadaku, aku bahagia, hingga bisa melupakan setiap masalah yang selalu menimpa dan mengancam kelangsungan hidupku.

 

Jujur... Devan memang kehilangan ingatannya, tapi aku tidak bisa menampik jika aku menyukai pria itu. Tidak masalah jika dia dijuluki monster atau apa pun itu. Tapi bagiku Devan tetaplah Devanku. Dia maja dan sangat bergantung pada kehadiranku. Itu membuatku senang, bahagia. Tapi.. sampai kapa ini akan berlangsung...

 

Cepat atau lambat ingatannya akan kembali, dan aku pun akan tergusur dari hidupnya. Setidaknya aku mempersiapkan hatiku untuk semua kemungkinan yang akan datang.

 

***

 

“jadi kamu tidak ingin mengeringkan badamu?” aku menatap Devan dengan sebal, pria itu sudah menetap di kamar mandi setidaknya 30 menit, biasanya hanya 5 menit, tapi kali ini 6 kali lipat lebih lama dari biasanya. Karena dia merajuk tidak bisa mandi berasamaku. Alhasil dia mengurung dirinya sendiri di dalam kamar mandi begitu saja. Jika bukan aku mengancamnya agar keluar sekarang-kalu tidak aku akan pergi dari rumah ini- maka kujamin dia akan keluar dari kamar mandi dengan keadaan demam.

 

Aku memperhatikan Devan yang hanya memakai celana panjangnya saja, berdiri di depanku dengan menyilangkan tangan dan pipi yang di gembungkan, bahkan dia tidak menatapku yang ada didepannya sama sekali. Dasar, walaupun begini tetap saja pesona Devan mempengaruhiku, aku kesal bukan karena sikap keras kepalanya itu tapi lebih kepada ketidakmampuan hatiku menahan pesona pria itu, dengan perut sixpack dan dialiri air asil tetesan dari rambutnya membuatku hampir tidak bisa menahan diri.

 

Bisa dibilang Devan berpose sangat sexy di depanku!

 

 

Ya tuhan... kuatkanlah hatiku...

 

Aku akhirnya memutuskan untuk mengambil handuk yang tersimpan di dalam lemari Devan. Kemudian merentangkannya di depanku, aku yakin jika Devan tidak akan pernah menolak ini. Hehe... lihat saja.

 

“apa kamu yakin tidak mau mengerikan badanmu Devan Antonio?" tanyaku kembali berada di depannya.

 

Devan masih di posisinya tidak mau menjawab dan keras kepala dengan keputusan awal.

 

“baiklah, kamu yang membuatku melakukan ini” aku menampilkan tatapan jahatku, merentangkan handuk berwarna silver Devan di depan tubuhku dan segera menghamburkan diri untuk menangkap Devan. Dengan Devan yang terkejut atas aksiku, mau tak mau aku harus menangkapnya dengan posisi memeluknya secara paksa-melingkarkan kedua tanganku untuk mencapai punggung kokoh itu, dan memenjarakan Devan dengan tubuhku.

 

Bahkan Devan sedikit terdorong ke belakang dan kurasakan jika tubuhnya menjadi kaku, menahan berat badanku dan juga dirinya agar tidak terjatuh ke belakang.

 

Sebenarnya mudah saja bagi Devan untuk melepaskan pelukanku, tap, dari yang aku tahu Devan sangat menyukai sebuah pelukan, dan tidak mungkin dia akan melepaskanku begitu saja. Aku memperhatikan wajah Devan yang tadinya cemberut berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sedikit lebih senang. Aku gembira jika dia tidak marah lagi padaku.

 

“baiklah waktunya menyeka badanmu mr. Devan” dan aku melepaskan pelukanku pada tubuhnya, kemudian menyeka tubuh Devan mulai dari rambut, lehernya hingga pada punggung dan berakhir pada perutnya. Aku harus menahan nafas untuk bagian yang terakhir tentunya.

 

“baiklah sudah semuanya.... jadi, kenapa kamu marah padaku?” ujarku pelan.

 

Devan masih tak mau mengeluarkan suaranya walaupun aku tahu jika dia sangat ingin mengeluarkan pendapat.

 

“jadi... aku benar-benar jahat ya... mungkin sebaiknya aku pergi saja-“

 

“bukan begitu!” potong Devan cepat, wah.. padahal aku hanya memancingnya sedikit saja dengan kepergianku, dan dia sudah bereaksi seperti ini.... apa sebegitu menakutkannya jika aku pergi? Aku jadi tersentuh dengan ketulusan hati Devan..

 

“lalu”

 

“kenapa kari tidak mau memandikanku? Padahal aku hanya ingin dimandikan saja..”

 

Deg, pertanyaan itu lagi.....

 

“memang kenapa harus minta dimandikan? Bukannya Devan sudah besar?” tanyaku hati-hati, kurasa suasana di sekeliling kami sudah mulai mencekam karena aura n di keluarkan Devan....

 

“aku... selalu ingin di manja oleh Karin, walaupun aku tahu jika semua hal bisa kulakukan sendiri, dan semuanya terasa mudah bagiku, tapi aku juga ingin sama seperti anak-anak yang lain.... mereka selalu dimandikan oleh kakak ataupun orang tua mereka, tapi aku tidak, aku hanya ingin menjadi normal seperti mereka” dan Devan mengatakan itu semua dihadapkanku, dengan tatap sedih yang sudah menghunus jantungku, mengingatkanku pada cerita pak fet waktu itu, Devan selalu di siksa dan diabaikan oleh orang tuanya, dia kesepian dan tak punya seorang pun yang bisa dia anggap sebagai teman ataupun keluarga.

 

Dan walaupun Devan bisa melakukannya sendiri, tapi dia tentunya ingin ada seseorang yang memenuhi semua keinginannya. Tapi... dari semua kebanyakan hal, kenapa harus dimandikan menjadi keinginan terbesarnya!!!!! Ya ampun....... apa yang harus ku lakukan?!

 

Aku belum sia mencabuli-maksudku memandikan pria dewasa sepertinya!!! Ini mengerikan, jika aku memenuhi perkataan Devan, maka dalam otakku ini akan menjadi acara mandi bersama pria dan wanita, tapi tidak dengan otak Devan yang didalamnya adalah gula kapas dan mainan.

 

Ya ampun, ya ampun, ya ampun!!!!!

 

Cepat cari akal Karin, kau tidak boleh terjebak oleh permintaan polos beruang besar ini!!

1
Katarina Sutirah
cerita menarik
Yuni Tri Hastuti
Pinisirin
Rhenii RA
Saran aja thor, setiap babnya banyakin dialognya biar yang baca gak bosen, soalnya di beberapa bab kadang hanya ada 9 dialog😌
Rhenii RA
Dialognya terlalu sedikit thor
Jero Metriani
😂😂al dan mark akan bertemu jodohnya
aquawomen
kayanya Jhon sengaja ngasih obat biar Devan sakit terus
Umi Salamah
bagus sebenarnya tp kurang percakapannya jd terkesan kayak baca diary
Made Widianti
bosan juga .kkelebiha bercerita .percakapan x kurang .nggk seru jadix.
Nana effendy
hadir🤭
susy sulistyaningati
bisa disalurkan menjadi dd. bedah tuh anak2nya Karin-Devan, drpd jd monster bgt..
susy sulistyaningati
bknnya awalnya musuhnya Bram, kok malah terakhir Bram gk dibahas, malah dr. Jhon..🤔🤔
hrsnya diceritakan jg gmn Karin diselamatkan, ungkapan cinta Devan, permintaan ma'af Karin, gmn bucinnya Devan..
lha ini tiba2 sdh punya anak usia 5 th..😢😥
susy sulistyaningati
ngeri sekali dr Jhon.. sadis man..
ternyata tokohnya semya menyukai Karin kecuali Arthur..
akhirnya Jerry mampus jg, pasti de. Jhon atau suruhannya yg membunuhnya..
susy sulistyaningati
ternyata Jerry jg suka sm Karin..🤔🤔
kasihan Devan, dia sdh berusaha berubah malah Karinnya salah paham & akhirnya pergi drnya..
yg sabar ya Devan..
susy sulistyaningati
coba dinikahin & adiknya diajak tinggal bareng, mungkin Karin mau..
Lis Manda Cel
ketiga2nya ja thor...
Lis Manda Cel
ternyata lbh berbahaya dr pd bram,devan atopun arthur😔😔😔
Lis Manda Cel
lha iya karin kok mlh ngira devan cinta ma bayangan...hahaha...item doang klo bayangan apa yg mo dicinta hahaha
Lis Manda Cel
tetap semangat ya thor...gk usah baca komen2 yg tdk membangun👍👍👍
Lis Manda Cel
untung karin gk prnh mau mandiin devan ya...
Lis Manda Cel
jd devan udah ada ht ke karin dr sejak sblum hilang ingatan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!