NovelToon NovelToon
Di Bawah Lampu Operasi

Di Bawah Lampu Operasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Starry Light

Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.

Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.

Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.

Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Siang

Kantin khusus dokter dan staff rumah sakit yang biasanya riuh dengan tawa, sendok beradu piring, dan gosip shift malam.

Mendadak sunyi total. Cuma kedengeran suara AC dan kulkas.

Semua kepala menoleh bareng. Karena rombongan dr. Chandra, dr. Darma, Devan, Arlo, dan Feli menginjakkan kaki di keramik kantin.

Rombongan elit itu turun gunung. Kantin vibes nya jadi restoran bintang lima, dengan menu nasi campur seharga 20 ribu dan es teh manis 5 ribu.

Aura elit khas kelas atas begitu terasa. Karena keempat pria itu mengenakan jas kebanggaan mereka. Minus Feli yang hanya mengenakan dress hitam Louis Vuitton. Simpel. Tanpa bling-bling atau renda, tapi itu membuatnya terlihat cantik dan anggun kebangetan.

Para dokter, perawat, koas, dan residen yang sedang menikmati makan siangnya kini menunduk. Sambil bisik-bisik pelan, juga matanya yang sesekali melirik ke meja kalangan elit itu.

Feli melempar senyum ramahnya saat bersitatap dengan pengunjung kantin. Senyum tulus, anggun, dan tidak sombong. Sontak para perawat dan mahasiswa koas langsung tersenyum balik. Hal kecil itu mencairkan suasana kantin yang tadi beku.

Berbeda dengan empat pria yang duduk bersamanya. Alasan mereka makan di kantin agar terlihat merakyat, tapi faktanya nihil. Mereka masih pasang wajah mode angker level dewan direksi. Pembawaannya membuat orang biasa menjaga jarak satu meter. Menurut Feli...mending makan di ruang VIP. Lebih jujur.

Meja itu langsung terbelah menjadi dua dunia.

Jika dr. Chandra dan dr. Darma asik membicarakan metode pengobatan medis yang baru, dan masa depan dunia kedokteran di Indonesia, dengan nada antusias. Devan dan Arlo hanya bungkam, sangat terlihat jika makan siang ini hanya sekedar formal, karena urat-urat leher mereka terlihat tegang.

Obrolan yang menurut Feli membosankan dan bikin sakit kepala itu masih berlangsung. Temanya saja makan siang bersama, tapi hanya Feli yang benar-benar menikmati makan siangnya. Sambil menjadi penonton dan pendengar di meja itu.

Sedangkan Arlo mengaduk-aduk laksa Jakarta di mangkuk, sambil melirik sinis pada Devan yang menikmati soto Betawi dengan hikmat.

Feli yang tadinya semangat saat memesan Selat Solo, kini memakannya tanpa selera. Sampai suara Arlo menarik perhatiannya. Memecah kesunyian.

"Dokter Savira!" panggil Arlo. Suara ya lantang. Sengaja.

Savira membuka di tengah Kanti. Nampan di tangannya agak gemetar. Ia hendak mencari dr. Erika untuk makan siang bersama. Mendadak senam jantung.

Savira menoleh ke arahnya, senyum kaku dan sedikit menunduk. Hormat.

"Sini, gabung sama kami." kata Arlo. Senyum menyeringai. Tahu betul apa yang ia lakukan.

Clang...

Devan langsung meletakkan sendoknya. Pelan. Menyesap jus jeruk sambil menatap datar Arlo yang menyeringai. Suara Arlo membuat dr. Chandra dan dr. Darma menoleh.

Dua mata elit itu langsung mengunci Savira. Gadis R2 itu terlihat kecil dengan baju scrub yang kusut.

Feli ngikutin arah pandangan semua orang. Dia melihat Savira dari atas sampai bawah. Dress LV hitamnya agak miring saat dia mencondongkan tubuhnya ke Arlo.

"Kakak kenal dia?" Bisik Feli.

"Huem." jawab Arlo singkat. Matanya tidak lepas dari Savira. Mengamati reaksi gadis itu.

Keheningan satu detik yang rasanya satu jam. Sampai dr. Darma buka suara.

"Siapa dia, Arlo?" tanyanya. Suaranya pelan, tapi berwibawa. Pasalnya, ini hari pertama sang putra berada di rumah sakit keluarga Handaru.

Dan gadis acak ini...baru saja di panggil ke meja keluarga pemilik RS. Di sisi lain, Devan menegakkan tubuhnya, bersandar di kursi. Diam. Tapi rahangnya mengeras. Membuat Feli bergidik ngeri saat tak sengaja melihatnya.

Merasa tidak punya pilihan. Savira berjalan mendekat meja mereka dengan segenap keberanian yang tersisa.

"Selamat siang, dr. Arlo, dr, Chandra, dr, Darma, dr. Devan, dan...." ia melihat Feli bingung.

"Felicia...panggil saja Feli." Kata Feli tersenyum ramah.

Savira membalas senyum itu. Kaku, dan "Selamat siang Nona Feli." sapa Savira.

Feli tersenyum, beranjak dari duduknya. "Panggil Feli saja. Jangan nona-nona." katanya menarik Savira duduk di sebelahnya.

"Ehh..." Savira terkejut, kini ia duduk di antara Feli dan.... Devan. Ia meremas ujung baju scrub nya. Kini ia benar-benar jadi orang ketiga di antara Feli dan Devan.

Feli masih tersenyum manis melihat ekspresi kaget Savira. "Gak apa-apa kan, Pi, Om. Kalau dokter Savira duduk di sini?" Suaranya manja. Wajahnya di buat seimut mungkin. Jurus andalan saat merayu papinya.

Dokter Darma berdehem pelan, melirik dr. Chandra yang memasang wajah datar. Ia sedikit kesal melihat tingkah anak-anak nya hari ini. Bagaimana bisa acara makan siang keluarga, mereka malah memanggil orang asing?.

"Tidak apa-apa Feli. Sesekali kita harus membuat dengan kalangan biasa." bukan suara dr. Darma. Melainkan suara dr. Chandra.

Kalimat yang dikatakan dr. Chandra seperti pisau tajam yang menembus jantung Savira. Belum apa-apa, ia sudah mendapat sindiran seperti itu. Rasanya susahe dapat label: Biasa, Rendah. Dan Tidak Selevel. Bagaimana jika dr. Chandra tahu dia simpanan putranya?.

Suasana hening. Feli yang dari tadi tersenyum manis, kini wajahnya terlihat canggung melihat Savira hanya diam menunduk. Feli berusaha mencari ide untuk kembali mencairkan suasana. Sampai matanya melihat isi nampan Savira.

"Wahhh, dr. Savira makan soto Betawi juga?" katanya. "Sama dong kayak dr. Devan." Imbuhnya. Matanya bolak-balik liat mangkuk Savira dan Devan.

Savira langsung melirik mangkuk dr. Devan yang ada di sebelahnya. Kuah santan itu sisa setengah mangkuk, sama persis dengan yang ada di mangkuk nya. Savira hanya tersenyum garing, menutupi kegugupannya.

"Ehhh...minum nya juga sama-sama jus jeruk." Kata Feli membuat jantung Savira mau copot.

Meja itu kembali hening. Niat hati mencairkan suasana, malah membuat suasana semakin canggung.

Arlo tersenyum tipis, menyendok kuah laksa masuk dalam mulutnya. Tingkah ceplas-ceplos sang adik kini jadi tontonan menarik.

Dan dr. Darma. Ia melihat Savira dari balik lensa kacamata nya dengan tatapan yang sulit di artikan. Berbeda dengan dr. Chandra yang kini mengeraskan rahangnya. Ketegangan di wajah Savira tidak dapat disembunyikan.

"Feli, ini kantin rumah sakit. Wajar kalau apa yang di makan konsulen sama dengan apa yang di makan Residen. Bahkan para perawat juga makan menu itu." Kembali suara dr. Chandra yang terdengar. Datar.

Tapi...mereka tidak tahu, kalau di bawah meja. Tangan Devan mengusap lutut Savira. Sebuah isyarat agar Savira tetap tenang. Meskipun ia memasang wajah sedatar triplek.

Dan... Savira, ia bernapas lega. Menyentuh tangan Devan sambil tersenyum tipis. Sentuhan ringan itu seolah memiliki kekuatan magis. Bahunya yang tadi tegang kini sedikit turun. Merasa aman.

"Kebetulan sekali, nona Feli. Karena tadi saya cuma mengikuti pilihan menu dr. Erika...yang ternyata menunya sama dengan menu dr. Devan." Jelasnya pelan. Tenang.

*

*

*

*

*

To be continued

Pleaseeeee jangan bilang alurnya lambat....

ini bukan alurnya yang lambat, tapi alurnya padatttt......,

1
Nasi Loncom
/Smile/
Ariany Sudjana
semoga Savira bisa melewati masa kritisnya dan dokter Devan tetap setia mendampinginya
Ariany Sudjana
semoga Savira bisa melewati masa kritisnya
Rsi Anindyatama
lanjut thor....... jangan mikir kurang. two thumbs up buat author
Oktafiani Azzahra
alur nya bagus banget
Aryati Ningsih
lanjut Thor ..semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!