Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.
Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.
Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!
Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?
#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern
#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa
#ZeroToHero #BenciJadiCinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akun yang Hilang, Jebakan yang Sempang
Matahari pagi Jakarta tidak pernah ramah. Cahayanya yang terik menerobos celah-celah ventilasi kamar kos Dika, membawa serta aroma debu jalanan dan polusi yang pekat. Dika terbangun tepat saat jam alarm di ponsel retaknya menjerit.
Tidak ada lagi kasur sutra awan atau pelayan spiritual yang menuangkan air embun surga seperti di Alam Langit; yang ada hanya lantai semen sedingin es dan sisa bau minyak goreng dari piring seng di depan pintu.
Dika berdiri, meregangkan otot-otot tubuh fananya yang terasa kaku. Efek dari nasi telur dadar pemberian Lina semalam setidaknya membuat wajahnya tidak sepucat kemarin.
Sembari mengancingkan seragam kurir berwarna biru pudar yang lengannya sudah agak robek, Dika menatap cermin. Di dalam pantulan kaca yang buram itu, sepasang matanya berkedip sekali. Detik itu juga, untaian benang takdir duniawi yang rumit langsung terhampar di depannya, berkilau tipis sebelum meredup kembali.
“Hari ini adalah titik balik,” batin Dika, suaranya di dalam kepala terdengar begitu berat dan berwibawa, kontras dengan penampilannya yang berantakan.
“Si tikus kantor itu mengira dia bisa menjadikan tubuh fana ini sebagai tameng dari dosa-dosanya. Manusia bodoh. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang mengundang naga purba untuk masuk ke dalam sarang mereka.”
Dika melangkah keluar dari kosan. Di depan gerbang, ia berpapasan dengan Lina yang sudah rapi dengan seragam SMA-nya, sedang mengikat tali sepatu di teras.
Dika sengaja menegakkan pundak, memasang wajah sedingin es, lalu berjalan melewati Lina tanpa menoleh, meniru persis gaya berjalan para dewa perang saat hendak menuju medan pertempuran.
“Selamat pagi, manusia fana. Hari ini, saksikan bagaimana jalannya takdir akan menghakimi mereka yang serakah,” ucap Dika dengan nada suara yang berat dan penuh tekanan.
Lina mendongak, menatap punggung Dika yang berjalan menjauh. Sifat galaknya langsung tersulut, tapi sebelum dia sempat menyemprot Dika dengan omelan paginya, suara batin pemuda itu tiba-tiba meledak di kepalanya.
“Aduh, gaya gue tadi udah oke belum ya? Keren nggak sih? Semoga kelihatan kayak pendekar pedang yang misterius. Sial, tapi kenapa tali sepatu sebelah kiri gue malah longgar begini? Mau benerin sekarang tapi gengsi, kan udah terlanjur jalan tegap. Tahan... tahan sampai tikungan gang baru gue benerin!”
Lina yang mendengar itu langsung membekap mulutnya sendiri. Bahunya bergetar hebat menahan tawa yang hampir pecah. Rasa kesal paginya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa geli yang tak terbendung.
“Dika, Dika... lo beneran sakit jiwa,” gumam Lina sambil menggeleng-gelengkan kepala, diam-diam merasa lega karena pemuda itu tampaknya sudah kembali ceria setelah berhari-hari murung karena kemiskinan.
Namun, begitu Dika berbelok di tikungan gang dan lepas dari pandangan Lina, ekspresi wajahnya berubah total. Kehangatan komedi itu lenyap, digantikan oleh tatapan mata yang setajam mata pisau.
Tiga puluh menit kemudian, Dika tiba di kantor agen kurir cabang Jakarta Barat. Suasana di dalam gudang distribusi itu terasa sangat tegang. Puluhan kurir berkumpul di sudut ruangan, saling berbisik dengan wajah cemas. Di tengah ruangan, beberapa kardus besar tampak terbuka acak, dengan isi yang kosong melompong.
“Dika! Sini lo!”
sebuah suara melengking yang ketus memecah keheningan.
Seorang pria bertubuh tambun dengan kemeja necis yang kekecilan berdiri di depan meja administrasi. Dia adalah Pak Johan, manajer operasional cabang yang terkenal licik dan suka memotong bonus para kurir dengan alasan yang dicari-cari. Di samping Johan, berdiri dua orang pria berbadan tegap mengenakan pakaian safari hitam—petugas keamanan dari kantor pusat.
Dika melangkah maju dengan tenang, tidak ada sedikit pun rasa takut di wajahnya. “Ada apa, Pak?”
“Ada apa, lo tanya?!”
Johan menggebrak meja dengan telapak tangansya yang berminyak. “Dua paket barang mewah berisi jam tangan Rolex dan tas Hermes senilai total empat ratus juta rupiah hilang dari manifes pengiriman semalam! Dan tebak, siapa kurir terakhir yang memegang pemindaian (scanning) sistem sebelum barang itu masuk ke truk? Akun lo, Dika! Akun lo yang terdaftar di sistem!”
Para kurir lain langsung memandang Dika dengan tatapan iba sekaligus ngeri. Di dunia kerja seperti ini, dituduh menghilangkan barang senilai ratusan juta berarti akhir dari masa depan. Penjara sudah pasti menanti.
Dika diam, namun ia mengaktifkan Mata Takdirnya.
Seketika, dunia di sekitar Dika melambat. Garis-garis energi hitam yang melambangkan kebohongan dan niat jahat tampak memancar pekat dari tubuh Johan.
Benang hitam itu terhubung langsung ke sebuah laci terkunci di dalam ruang kerja pribadi Johan di lantai dua, dan ujung benang lainnya terhubung ke sebuah toko pegadaian emas di pinggiran kota. Mata
Takdir Dika bekerja lebih jauh, memperlihatkan kilasan memori takdir: tiga hari lalu, Johan diam-diam menggunakan akun Dika yang lupa dikeluarkan dari komputer kantor untuk memanipulasi data pengiriman, lalu membawa pulang barang-barang mewah tersebut.
“Tikus kecil yang menjijikkan,” batin Dika mendengus penuh penghinaan. “Menggunakan trik digital murahan seperti ini untuk
menjebakku? Di Alam Langit, jiwa orang seperti ini sudah kujadikan bahan bakar lentera spiritual selama sepuluh ribu tahun.”
“Pak Johan,” Dika berbicara, suaranya terdengar sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk ukuran orang yang sedang dituduh melakukan kriminal.
“Sistem digital bisa dimanipulasi oleh siapa saja yang memiliki akses ke komputer utama kantor. Apakah Anda punya bukti fisik bahwa saya yang membawa barang itu keluar dari gudang?”
Johan tertawa remeh, wajahnya yang berlemak bergetar.
“Bukti fisik? CCTV gudang semalam mendadak rusak karena gangguan teknis, jadi data sistem adalah bukti mutlak! Petugas dari kantor pusat sudah bersiap membawa kasus ini ke jalur hukum. Lo mau bayar ganti rugi empat ratus juta? Punya duit dari mana lo?
Rumah kos lo aja kalau dijual nggak bakal nyampe segitu!”
Dika menatap Johan lurus-lurus. Cahaya keemasan di matanya berkilat sesaat, begitu tajam hingga membuat Johan mendadak merinding dan mundur selangkah tanpa sadar.
“Kalau begitu, bagaimana jika kita periksa ruang kerja Anda sekarang, Pak Johan?” tanya Dika dengan senyuman tipis yang membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu meremang.
“M-maksud lo apa?! Ruang kerja gue nggak ada hubungannya sama kasus ini!” Johan mulai gugup, nada suaranya naik satu oktav karena panik.
Dika melangkah maju satu demi satu, auranya yang tak kasat mata mulai menekan seisi ruangan.
“Di dalam laci meja kerja Anda, di balik tumpukan berkas laporan palsu bulan lalu, ada sebuah kantong kain hitam. Di dalamnya ada dua jam tangan Rolex dan satu tas Hermes yang Anda sebut hilang. Anda berencana menjualnya sore ini ke Toko Emas Jaya Makmur di Jalan Mangga Besar. Apakah saya salah?”
Mendengar ucapan Dika yang begitu spesifik dan akurat, wajah Johan seketika berubah menjadi seputih kertas. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran dari dahinya.
“L-lo... lo ngomong omong kosong apa?! Jangan coba-coba memfitnah gue!”
Dua petugas keamanan dari kantor pusat yang sejak tadi diam, langsung menangkap perubahan drastis dari ekspresi wajah Johan. Sebagai orang terlatih, mereka tahu betul tanda-tanda orang yang sedang menyembunyikan kejahatan.
“Pak Johan,” salah satu petugas keamanan melangkah maju, menatap sang manajer dengan pandangan menyelidik.
“Demi transparansi, saya rasa tidak ada salahnya jika kita memeriksa ruangan Anda sekarang juga.”
“Nggak bisa! Itu ruangan pribadi gue! Kalian nggak punya hak—”
Sebelum Johan menyelesaikan kalimatnya, petugas keamanan itu sudah memberi isyarat kepada rekannya untuk menahan Johan, sementara mereka bersama Dika berjalan menuju lantai dua. Seluruh kurir di gudang langsung riuh, mengikuti dari belakang dengan rasa penasaran yang memuncak.
Begitu pintu ruang kerja Johan dibuka, salah satu petugas keamanan langsung memeriksa laci meja sesuai dengan instruksi detail yang diucapkan Dika tadi. Dan benar saja, di balik tumpukan berkas dokumen rahasia, sebuah kantong kain hitam ditemukan.
Sret!
Kantong itu dibuka di depan mata semua orang. Dua kotak jam tangan mewah bermerek Rolex dan satu tas Hermes yang masih terbungkus plastik pelindung berkilau di bawah lampu ruangan.
Suasana seketika menjadi hening mencekam. Johan langsung lemas, lututnya bergetar hingga dia jatuh terduduk di lantai dengan wajah frustrasi. Kebohongan yang dia rancang dengan sangat rapi hancur lebur hanya karena ucapan seorang kurir miskin yang bahkan tidak pernah masuk ke ruangannya.
Dika berdiri di ambang pintu, menatap Johan yang menyedihkan dengan pandangan meremehkan dari atas ke bawah.
“Berurusan dengan manusia fana seperti ini benar-benar membuang waktu dan energi spiritualku,” batin Dika mengeluh kecewa.
“Padahal gue udah nyiapin mantra pembalik sukma kalau-kalau dia punya pelindung gaib. Ternyata cuma begini doang kualitas penjahat bumi? Lemah banget, nggak ada tantangannya sama sekali! Mending gue buru-buru pulang, lanjut mikirin gimana caranya bantuin si Lina nanti sore.”
Petugas keamanan kantor pusat segera memborgol tangan Johan. Sebelum membawa Johan keluar, salah satu petugas itu menghampiri Dika dengan raut wajah penuh kekaguman dan rasa hormat.
“Dika, kami berterima kasih atas kejujuran dan ketajaman analisis Anda. Kantor pusat akan memberikan pembersihan nama baik secara resmi untuk Anda, dan sebagai gantinya, posisi manajer operasional cabang ini sementara kosong. Kami akan merekomendasikan nama Anda ke direksi.”
Dika hanya mengangguk datar, menjaga ekspresi wajahnya agar tetap terlihat berwibawa layaknya seorang petinggi yang menerima upeti.
“Pangkat duniawi tidak memiliki arti di mataku. Lakukan saja apa yang menjadi tugas kalian.”
Setelah semua keributan itu selesai dan Johan dibawa pergi oleh pihak kepolisian, Dika berjalan keluar dari kantor dengan langkah yang santai. Di luar, matahari siang mulai membakar kulitnya, namun pikiran Dika sudah beralih ke masalah yang jauh lebih mendesak.
Ia melirik jam di ponselnya. Pukul dua siang.
“Dua jam lagi adalah waktu di mana Lina pulang sekolah,”
ucap Dika dalam hati, matanya menatap tajam ke arah jalanan aspal yang bergelombang karena panas. “Para penagih utang itu... takdir mereka untuk patah tulang hari ini sudah terkunci di dalam mataku.”