NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Cahaya di Antara Langkah

Sore itu langit berwarna jingga lembut saat Dika kembali ke pekarangan rumah Wijaya. Di gerbang, Kirana sudah berdiri menunggu, seolah ia tahu persis kapan langkah kaki itu akan terdengar mendekat. Angin sore mengibai ujung kain baju Kirana, dan secercah cahaya matahari terbenam membuat wajahnya terlihat makin lembut.

“Bagaimana pertemuannya dengan Tuan Suryo?” tanyanya segera, berjalan menyamai langkah Dika menuju teras.

“Berjalan baik. Lahan itu luas dan berpotensi, tapi butuh penataan ulang yang teliti,” jawab Dika sambil tersenyum tipis, matanya tak lepas dari wajah gadis di sampingnya. “Saya diminta menyusun rencana lengkap.”

Kirana berhenti sejenak di bawah pohon beringin tua yang rindang. “Saya yakin hasilnya akan baik. Sejak awal, apa pun yang kamu kerjakan selalu ada perhatian lebih di dalamnya… seolah ada cahaya yang kamu bawa ke mana saja.”

Kata‑kata itu terucap begitu saja, namun membuat suasana di antara mereka menjadi hening sejenak. Dika merasakan detak jantungnya berubah sedikit lebih cepat. Ia menatap mata Kirana, dan di sana ia melihat ketulusan yang sama seperti yang ia coba jaga.

“Cahaya itu bukan milik saya sendiri, Non,” jawabnya pelan, suara rendah namun jelas. “Ia menyala karena ada orang yang percaya… dan ada orang yang menunggu dengan keyakinan yang sama.”

Wajah Kirana sedikit memerah, namun ia tidak memalingkan wajah. Senyum tipis terukir di bibirnya. “Kalau begitu… jagalah cahaya itu tetap menyala. Karena saya… saya ingin terus melihatnya bersinar.”

Sebelum percakapan berlanjut lebih jauh, suara langkah kaki Bu Marni terdengar mendekat. Mereka segera menjaga jarak sopan, namun senyum yang tersisa di bibir mereka mengandung makna yang sudah saling dimengerti.

Malam harinya, saat Dika sedang duduk merancang sketsa lahan Tuan Suryo di ruang kerjanya, pintu diketuk pelan. Kirana masuk membawa cangkir teh hangat dan sepiring kue kering.

“Ibu sedang sibuk menerima telepon, jadi saya yang diminta membawakan ini,” katanya sambil meletakkan barang‑barang itu di sudut meja, lalu matanya beralih ke kertas yang penuh garis dan catatan itu. “Kamu tidak beristirahat sedikit pun sejak pulang?”

“Belum selesai, rasanya belum tenang,” jawab Dika sambil menggeser kursi sedikit, memberi ruang. “Tapi berkat teh ini, mungkin semangatnya bertambah lagi.”

Kirana menunduk melihat sketsa yang rapi itu, lalu menoleh kembali ke arahnya. “Dika… kadang saya berpikir. Banyak orang yang datang dan pergi di rumah ini, membawa janji manis atau kemewahan. Tapi hanya kamu yang membawa ketenangan. Mengapa?”

Dika meletakkan pensilnya. “Karena saya tidak menawarkan apa yang tidak saya miliki, Non. Dan saya tidak berusaha menjadi orang lain hanya untuk disukai. Saya hanya berjalan dengan apa yang saya bawa: kejujuran dan kerja keras. Meski jalannya kadang terjal.”

“Dan justru itulah yang paling berharga,” potong Kirana lembut, suaranya hampir berbisik. “Jalan terjal tidak membuatmu berhenti, justru membuat cahaya di dadamu makin terang. Dan… cahaya itu mulai menyinari jalan saya juga.”

Hening sejenak kembali menyelimuti ruangan itu, namun kali ini bukan hening yang canggung. Ada rasa damai yang tumbuh, rasa saling mengerti bahwa di antara perbedaan latar belakang dan kedudukan ini, ada sesuatu yang lebih kuat bernama ketulusan.

“Besok kamu akan kembali ke sana?” tanya Kirana akhirnya, memecah keheningan namun tetap dengan nada lembut.

“Iya, untuk memeriksa lagi kondisi tanah dan sumber air,” jawab Dika.

“Berhati‑hatilah,” ucapnya tegas namun penuh perhatian. “Dunia di luar sana tidak selalu selembut taman ini. Tapi saya tahu… kamu tahu cara menjaga diri.”

Dika mengangguk, menatapnya dengan pandangan yang menyampaikan lebih dari sekadar ucapan terima kasih. “Saya akan selalu ingat, Non. Bahwa ada seseorang yang menunggu kabar baik dari sini.”

Saat Kirana melangkah keluar, Dika kembali memegang pensilnya. Namun sekarang, setiap garis yang ia buat terasa lebih ringan, lebih berarti. Ia sadar: perjuangannya bukan lagi hanya untuk dirinya dan ibunya. Ada harapan lain yang kini tumbuh di sampingnya — harapan yang juga dibangun di atas cahaya ketulusan yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!