NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Penghianat

Tidak ada seorang pun yang berbicara setelah melihat rekaman kamera itu, pria bermantel hitam masih berdiri di depan gerbang rumah persembunyian sambil menatap kamera dengan senyum tipis yang membuat suasana semakin mencekam. Hujan terus turun di luar, sedangkan di dalam rumah semua orang mulai saling memperhatikan dengan tatapan penuh curiga.

"Dia sengaja menunjukkan dirinya," ujar Leonard sambil menyipitkan mata. "Orang itu ingin kita tahu bahwa dia menemukan tempat ini."

"Yang berarti ada seseorang yang membocorkannya," balas Bintang sambil mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan.

Tidak ada yang menjawab. Namun ekspresi mereka sudah cukup menunjukkan bahwa semua orang memikirkan hal yang sama.

"Kau mencurigai kami?" tanya Damar sambil mengangkat alis.

"Aku mencurigai siapa pun," jawab Bintang sambil menyilangkan tangan di dada. "Karena sampai beberapa jam lalu hanya kalian yang tahu lokasi rumah ini."

"Kami tidak sebodoh itu," sahut Viktor sambil menggeleng pelan.

"Kalau begitu jelaskan kenapa pria itu bisa berdiri di depan gerbang?" tanya Bintang sambil menatapnya tajam.

Viktor terdiam. Karena kali ini ia juga tidak memiliki jawaban.

Suara notifikasi tiba-tiba terdengar dari tablet yang masih berada di atas meja, salah satu anak buah Viktor langsung memeriksanya tetapi wajahnya berubah pucat hanya dalam beberapa detik.

"Tuan..." ujarnya dengan suara pelan.

"Ada apa lagi?" tanya Viktor sambil menoleh.

Pria itu menelan ludah sebelum memutar layar tablet ke arah mereka, rekaman kamera depan kini kosong. Pria bermantel hitam itu sudah tidak ada.

"Ke mana dia pergi?" tanya Rangga sambil mengernyit.

"Itulah masalahnya." Anak buah Viktor mengusap tengkuknya gugup. "Kami tidak melihatnya pergi."

Jantung Rania langsung berdegup lebih cepat, sedangkan Bintang terlihat semakin waspada.

"Apa maksudmu tidak melihatnya pergi?" tanya Septian sambil berdiri.

"Kamera tidak merekam apa pun setelah itu."

Suasana kembali hening, kemudian terdengar suara benda pecah dari lantai atas.

Brak

Semua orang langsung menoleh.

"Itu dari atas!" seru Rangga sambil mengangkat pistolnya.

Dalam hitungan detik seluruh rumah berubah menjadi siaga, beberapa anak buah Viktor berlari menuju tangga sedangkan yang lain mulai memeriksa seluruh pintu dan jendela.

"Rania tetap di sini," ujar Bintang sambil mengokang pistolnya.

"Aku bukan anak kecil," bantah Rania sambil berdiri.

"Dan aku tidak sedang meminta pendapatmu."

Rania hendak membalas, tetapi Viktor sudah lebih dulu bergerak menuju lantai atas.

"Ayo!" bentaknya.

Mereka segera mengikuti, lorong lantai dua tampak gelap. Lampu di salah satu sisi rumah bahkan berkedip-kedip karena hujan yang semakin deras, tidak ada siapa pun di sana hanya sebuah vas bunga yang pecah di lantai.

"Kosong?" gumam Rangga sambil menyapu ruangan dengan pistolnya.

"Terlalu sepi," balas Septian.

Bintang melangkah lebih jauh ke ujung lorong, saat itulah matanya menangkap sesuatu. Sebuah pintu terbuka, padahal sebelumnya pintu itu tertutup.

"Ke sini," ujarnya pelan.

Semua orang mendekat, ruangan itu adalah ruang kerja kecil milik Viktor. Meja, lemari, dan beberapa dokumen masih berada di tempatnya, namun ada satu hal yang membuat Viktor langsung membeku. Laci mejanya terbuka.

"Brengsek!" umpatnya sambil berlari masuk.

"Apa yang hilang?" tanya Damar.

"Flashdisk itu." Viktor memeriksa isi laci dengan cepat sebelum mengangkat kepala.

Wajah Leonard langsung mengeras, sedangkan Septian menutup mata sesaat.

"Tidak..." gumamnya pelan.

Rania memperhatikan mereka bergantian.

"Ada apa dengan flashdisk itu?" tanyanya.

"Itu berisi seluruh data tentang kalian," jawab Viktor sambil mengepalkan tangan. "Tentang Raka. Tentangmu. Tentang Bintang."

Jantung Rania langsung berdegup semakin cepat.

"Dan sekarang benda itu hilang?" tanya Bintang.

Viktor mengangguk pelan, suasana menjadi semakin berat. Tidak ada yang perlu menjelaskan betapa berbahayanya situasi mereka sekarang, jika flashdisk itu jatuh ke tangan musuh berarti semua rahasia yang selama ini disembunyikan bisa terbongkar.

"Kita punya masalah yang lebih besar," ujar Leonard sambil menatap lantai.

"Lebih besar dari ini?" tanya Rangga.

Leonard menunjuk ke arah meja, semua orang langsung menoleh. Di atas meja terdapat secarik kertas yang sebelumnya tidak ada, Bintang mengambilnya lebih dulu dan di sana hanya ada satu kalimat.

Aku sudah berada di dalam rumah sebelum kalian datang.

Ruangan langsung membeku, Rania merasakan bulu kuduknya meremang sedangkan Viktor terlihat kehilangan warna di wajahnya.

"Itu tidak mungkin," ujar Damar pelan.

"Sayangnya sangat mungkin," balas Leonard sambil mengembuskan napas panjang.

Bintang membalik kertas itu, ada tulisan lain di bagian belakang. Tulisan yang jauh lebih membuat jantung semua orang berhenti berdetak.

Lihat orang di sebelahmu. Pengkhianat itu masih bersama kalian.

Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak. Karena untuk pertama kalinya malam itu mereka sadar bahwa musuh tidak hanya berada di luar rumah. Musuh itu mungkin sedang berdiri di antara mereka.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!