Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.
Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Kenangan
Sesampainya di rumah, An Na langsung melangkah masuk dan hanya duduk termenung di kursi ruang tamu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya terlihat pucat dan matanya sembab, seolah sedang menahan beban yang sangat berat di hatinya. Melihat keanehan itu, Anqi segera menghampirinya dengan perasaan khawatir.
"Kenapa kau diam saja? Ada apa?" tanya Anqi dengan nada lembut namun penuh rasa ingin tahu. Ia kemudian melanjutkan pertanyaannya, "Oh, ya, bagaimana pekerjaanmu hari ini? Apakah semuanya berjalan baik?"
Belum sempat An Na menjawab dengan kata-kata, ia tiba-tiba memeluk tubuh Anqi erat, lalu tangisnya meledak tak terbendung. Di tengah isak tangisnya, ia mulai menceritakan segala hal yang menimpanya sepanjang hari itu. Ia menceritakan betapa ia diperlakukan tidak adil, awalnya dijanjikan posisi yang layak, namun justru disuruh bekerja sebagai petugas kebersihan. Belum cukup sampai di situ, ia juga harus mengalami perlakuan tidak pantas yang dilakukan oleh salah satu Direktur perusahaan tempatnya bekerja.
Mendengar cerita yang menyakitkan itu, wajah Anqi berubah seketika. Rasa marah membara di dalam dadanya. Ia mengepalkan tangannya erat dan berkata dengan nada tegas dan penuh amarah, "An Na, apakah kau tahu rumahnya? Ayo kita datangi orang itu sekarang juga! Berani sekali dia berbuat itu padamu! Biar aku yang mengajarinya, supaya dia tidak berani lagi menyakiti orang lain."
An Na menggeleng pelan, lalu berkata dengan suara parau sambil masih menyeka air matanya, "Kau pasti tahu, kan? Di dunia ini, uang hanya memihak dan peduli pada orang-orang kaya dan berkuasa. Orang seperti kita, yang hidup sederhana dan tidak punya apa-apa, seolah tidak dianggap. Kita hanya orang miskin yang tidak berharga."
Mendengar ucapan itu, Anqi terdiam sejenak, lalu mengusap bahu An Na dengan lembut dan berkata, "Jika Keadilan tidak ada, maka sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini. Kita cari tempat lain yang lebih baik."
An Na tersenyum tipis, senyum yang penuh kepahitan namun juga sedikit harapan. Ia menatap wajah Anqi dan bertanya, "Kalau begitu, kemana kita akan pergi? Kita tidak punya banyak uang, juga tidak punya saudara di tempat lain..."
Anqi menatapnya dengan tatapan penuh keyakinan, lalu menjawab tegas, "Kemana saja, yang penting tidak tinggal di sini lagi. Selama kita masih bersama dan berusaha, pasti akan ada jalan untuk kita."
"Baiklah, Nona. Hamba akan mengikuti perintahmu," ucap An Na dengan senyum tipis yang terlihat tulus, meski masih tersisa sedikit kesedihan di matanya. Ia lalu bangkit perlahan dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur. Sebelum mulai sibuk dengan peralatan masak, ia menoleh kembali ke arah Anqi dan bertanya dengan nada lembut, "Kau pasti lapar kan? Sebentar ya, aku akan siapkan makanan untuk kita."
Anqi mengangguk pelan sebagai tanda setuju dan merasa perutnya memang sudah kelaparan. Di dapur, An Na mulai bergerak cepat menyiapkan bahan-bahan seadanya yang ada di rumah. Ia berusaha memasak sebaik mungkin meski persediaan terbatas, dengan harapan makanan itu bisa menghibur hati mereka berdua. Tak lama kemudian, asap harum mulai mengepul dari dapur dan memenuhi seluruh ruangan.
Setelah masakan matang dan tersaji di atas meja, keduanya pun duduk bersama untuk menikmati makan malam. Meskipun hanya berupa hidangan yang sangat sederhana, suasana di meja makan terasa hangat dan akrab. Mereka terlihat menikmati setiap suapan.
Di sela-sela makan, Anqi tiba-tiba membuka suara dengan nada yang agak bersemangat, "Ngomong-ngomong, An Na, ada kabar yang ingin aku sampaikan. Hari ini aku mendapat tawaran pekerjaan."
An Na tertegun sejenak, sumpit yang sedang dipegangnya terhenti. Wajahnya terlihat penuh keterkejutan dan rasa ingin tahu. Ia segera bertanya, "Benarkah? Pekerjaan apa itu, Anqi? Kenapa kau baru menceritakannya sekarang? Apakah itu pekerjaan yang baik?"
Anqi menggeleng pelan sambil tersenyum, lalu menjawab dengan jujur, "Sebenarnya aku belum tahu secara pasti apa tugas dan pekerjaanku. Orang yang menawarkannya terlihat cukup baik dan sopan kepadaku. Ia juga berjanji, jika aku bisa bekerja dengan tekun dan menunjukkan kinerja yang baik, ia akan memberikan gaji yang besar."
Mendengar penjelasan itu, raut wajah An Na berubah menjadi serius. Ia meletakkan sumpitnya sejenak dan menatap Anqi dengan penuh perhatian, lalu memberikan nasihat dengan nada lembut namun tegas, "Anqi, dengarkan aku. Apapun pekerjaan yang akan kau jalani nanti, ingatlah satu hal yang paling penting, jangan pernah membiarkan siapapun berbuat tidak pantas padamu. Jangan biarkan mereka melecehkan harga dirimu, merendahkan martabatmu, apalagi berani menyakiti hatimu maupun tubuhmu. Kita memang hidup dalam keterbatasan, tapi kita tetap punya harga diri yang harus dijaga."
Anqi mengerti maksud hati sahabatnya itu. Ia tersenyum menenangkan dan berkata, "Tenanglah, An Na. Pekerjaan ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku sudah memastikannya sekilas, dan rasanya tempat itu aman. Jangan terlalu khawatir, ya."
Mendengar jawaban itu, An Na pun merasa sedikit lega. Mereka berdua pun melanjutkan makan malam mereka dengan tenang.
“Anqi, kau tak perlu mengkhawatirkanku,” ucap An Na lembut sambil menatap sahabatnya. “Aku juga akan segera mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Dengan begitu, kita berdua bisa saling membantu dan mencukupi kebutuhan hidup kita bersama.”
Tak lama setelah percakapan itu usai, mereka berdua pun beranjak menuju kamar tidur yang sempit dan sederhana. Karena hanya ada satu tempat tidur, mereka pun harus berbagi. Setelah berbaring, An Na meletakkan tangannya di atas bantal, matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang remang-remang. Perlahan-lahan, bayangan-bayangan masa lalu yang sudah lama terkubur itu mulai muncul samar-samar di benaknya, seolah membawanya kembali ke masa yang telah lama berlalu.
Flashback...
Terlihat suasana di dalam sebuah rumah yang sangat megah dan mewah, dikelilingi perabotan yang indah dan berharga. Di sana, terlihat sosok seorang wanita yang berpakaian rapi dan elegan sedang bersiap-siap hendak pergi. Seorang gadis kecil, yaitu An Na kecil berlari menghampirinya dengan wajah penuh harap.
“Ibu… Ibu… gendong aku,” pinta An Na kecil dengan suara lembut dan polos, sambil merentangkan kedua tangannya memohon perhatian. Namun, ibunya seolah tak mendengar permintaannya itu. Ia sama sekali tidak menoleh atau menunjukkan rasa sayang sedikit pun kepada putrinya. Ia hanya memanggil pelayan yang berdiri di sudut ruangan dengan nada dingin, “Bawa dia pergi, dan hibur dia.” sambil berlalu meninggalkannya.
Hati An Na kecil terasa hancur. Ia mulai menangis, merasa diabaikan. Saat itu, ayahnya yang baru saja selesai bersiap hendak berangkat ke kantor melihat putrinya yang menangis. Segera saja ia menghampiri dan memeluk tubuh mungil itu dengan penuh kasih sayang.
“Oh... Putri rajaku jangan menangis lagi ya,” bujuk ayahnya lembut sambil mengusap kepala Anna kecil. “Katakan saja, apa yang kau inginkan? Mainan, permen, atau baju baru? Ayah akan belikan semuanya untukmu, asalkan kau jangan menangis lagi.”
Namun, An Na kecil menggeleng pelan di dalam pelukan ayahnya, lalu berkata dengan suara terisak, “Aku tidak mau mainan, Yah… Aku hanya mau ibu...”
Mendengar jawaban itu, ayahnya terdiam sejenak. Wajahnya terlihat sedih dan tak mampu berkata apa-apa, karena ia pun sadar betapa dinginnya sikap istrinya terhadap putri mereka sendiri.
Lamunan panjang An Na tiba-tiba terhenti ketika ia merasakan sentuhan lembut di bahunya. Ternyata Anqi yang menyadari sahabatnya terlihat termenung dan matanya sedikit berkaca-kaca.
“An Na, kau kenapa? Wajahmu terlihat aneh. Apakah ada sesuatu yang sedang kau pikirkan? Atau ada hal yang mengganggu hatimu?” tanya Anqi dengan nada khawatir.
An Na tersentak dari pikirannya, lalu menggelengkan kepalanya pelan sambil berusaha tersenyum agar Anqi tidak curiga. “Tidak, tidak ada apa-apa. Mungkin aku hanya sedikit lelah saja. Sebaiknya kita tidur sekarang, ya. Besok pagi kau harus bangun lebih awal untuk pekerjaan barumu itu.”
Setelah mengatakan itu, An Na mematikan lampu yang ada di samping tempat tidurnya. Kamar pun menjadi gelap, hanya diterangi cahaya remang dari luar jendela. Keduanya memejamkan mata, berusaha beristirahat, meski di hati mereka masih tersimpan berbagai perasaan dan harapan untuk hari esok.