NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 3

Entah sudah berapa kali Amelia menghela napas panjang hari ini. Gadis itu enggan menanggapi lebih jauh permintaan Rosa.

“Mbak tahu jawabannya dengan baik. Aku menolak menjadi orang ketiga di rumah tangga kalian. Aku yakin Mas Hanan lebih dari bisa menjaga dirinya sendiri. Tidak perlu ada yang menggantikan posisi istrinya sekarang ini.”

Keduanya terlibat dalam keheningan yang canggung. Amelia untuk pertama kalinya mengutarakan keluhannya atas sikap sang kakak setelah sekian lama.

“Tapi kamu bisa menjadi istri kedua Mas Hanan, Mel. Status itu sah di mata hukum. Kamu tidak perlu merasa bersalah karena ini adalah permintaanku sendiri.” Rosa tak menyerah begitu saja.

“Status istri kedua tidak lebih baik bagiku. Aku mohon kali ini Mbak juga bisa mengerti keadaanku. Aku ingin menikah dengan pria yang menjadikanku satu-satunya di hatinya, bukan hanya menjadi pajangan dalam rumah tangga.”

Rosa terkesiap untuk sesaat. Dia tak menyangka jika Amelia akan menyatakan penolakannya secara terang-terangan setelah selama ini adiknya itu pasti akan memenuhi permintaannya tanpa banyak berpikir.

Tak lama kemudian Amelia memutuskan untuk keluar dari ruangan Rosa, tepat setelah dia memegang knop pintu, suara Rosa kembali terdengar.

“Maaf karena Mbak sudah merebut semua yang harusnya menjadi milikmu, Mel. Semua ... termasuk Mas Hanan.” Suara itu terdengar sangat pelan, tapi tersampaikan dengan baik ke telinga Amelia.

Gadis itu tak menoleh, mengabaikan kalimat Rosa seolah itu hanya angin lalu karena apa yang telah terjadi memang tak bisa diulang kembali.

“Mas Hanan memang ditakdirkan untuk Mbak Rosa. Sampai detik ini aku sadar tidak akan pernah mampu bersaing dengan halo protagonis milik kakakku sendiri.”

Selama ini, Amelia seolah memahami satu hal perbedaan antara dia dan sang kakak. Amelia adalah karakter sampingan yang akan mati sewaktu-waktu demi karakter utama dan sang kakak adalah karakter utama dengan halo protagonis yang membuatnya mudah memenangkan banyak tragedi sulit sekali pun.

Begitu keluar dari ruangan Rosa, Hanan masih setia berdiri seperti penjaga yang waspada. Sementara kedua orang tua Amelia masih memasang raut wajah muram. Keduanya begitu mengkhawatirkan keadaan Rosa. Sementara Kanaya berdiri agak jauh dari mereka dan berjalan menghampiri sahabatnya ketika mendapati dirinya telah keluar dari ruangan itu.

Amelia memperhatikan ekspresi mereka satu per satu sebelum terkekeh miris dalam hati. Betapa beruntungnya sang kakak dengan semua perhatian yang dia miliki.

“Aku izin keluar sebentar, Bu.”

“Ke mana lagi kau akan pergi? Rosa sedang sakit, tapi kamu terus meninggalkannya.”

“Aku hanya ingin ke taman rumah sakit. Lagi pula Mbak Rosa harus banyak istirahat. Tidak akan lama.”

Tanpa mendengarkan jawaban sang ibu, Amelia menghampiri Kanaya dan menariknya menuju taman rumah sakit yang lumayan asri walau tampak beberapa pasien berlalu lalang di sana.

“Apa lagi yang dikatakan kakakmu kali ini?” Mata Kanaya memicing penuh kecurigaan.

“Bukan apa-apa, Nay. Dia hanya minta maaf karena merasa sudah merebut apa yang harusnya menjadi milikku.” Amelia mengatakannya dengan ringan.

“Tidak perlu dimaafkan. Enak saja kamu menderita selama ini karena dia dan dia dengan mudahnya hanya meminta maaf. Pokoknya jangan mau. Kamu tidak boleh memaafkannya.” Kanaya mencak-mencak tanpa sadar di samping Amelia membuat gadis itu tersenyum.

“Santai saja, Nay. Apa yang sudah menjadi milik kita tidak akan jatuh ke tangan orang lain.”

“Sekali-kali kamu harus marah, Mel. Aku tidak suka melihatmu terus diremehkan.”

Kanaya terus mengoceh yang bagi Amelia adalah hiburan tersendiri. Setidaknya itu berhasil mengalihkan pikirannya sejenak.

Hingga malam tiba, suasana di ruang rawat Rosa benar-benar tegang hingga terasa ke lorong rumah sakit.

“Ibu, Ayah ... Rosa mohon bujuk Mas Hanan dan Amelia agar mau menikah. Ini benar-benar akan menjadi permintaan terakhirku. Aku tidak akan meminta lebih lagi.” Rosa memejamkan matanya sejenak menyadari diamnya kedua orang tuanya. “Aku hanya ingin Mas Hanan dan Amelia berada di sisiku hingga akhir. Amelia tidak pernah mau tinggal bersama kami. Kalau begitu biarkan Amelia menjadi istri Mas Hanan juga agar dia memiliki hak yang sama denganku di rumah kami.”

Perasaan Amelia bagai diterpa badai setiap kali Rosa menuturkan kalimatnya. Wanita itu yang saat ini keadaannya sakit-sakitan masih tak menjeda permohonannya, tak peduli jika dua orang yang dia jodohkan berada di ruangan yang sama tengah mati-matian menahan penolakan di hati mereka.

Amelia dan Hanan berada di sudut ruangan yang berbeda. Keduanya mengalami gemuruh yang sama di hati mereka. Hanan yang biasanya selalu menatap permusuhan pada Amelia bahkan tak sempat memikirkan hal lain. Permintaan sang istri terasa seperti batu besar yang ditimpakan ke atas pundaknya.

“Rosa, aku—“

Kalimat Hanan terpotong oleh reaksi kejang yang tiba-tiba dialami oleh Rosa. Kepanikan melanda tanpa bisa dicegah.

Amelia langsung menekan tombol darurat di samping brankar Rosa. Wanita itu dipanggil berkali-kali, tapi tak merespons sedikit pun. Hanya setelah Hanan dan Amelia mendekat dia menggenggam erat tangan mereka dan menyatukannya di atas perutnya.

“Aku mohon ... setidaknya demi diriku. Kalian bisa menikah ... aku—“

“Baiklah, mereka akan menikah, tapi kami mohon bertahanlah. Ibu tidak bisa melihatmu terus seperti ini.” Sang ibu menginterupsi dengan satu kalimat persetujuan yang memukul telak kesadaran Amelia.

“Bu!” Amelia tanpa sadar meninggikan suaranya. Dia benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa ibunya mengiyakan permintaan kakaknya.

“Apa? Kau tidak lihat bagaimana keadaan kakakmu sekarang. Dia hanya ingin kamu menikah. Kalian bisa melakukannya demi kesembuhan putriku, setelah itu terserah kalian.” Wanita paruh baya itu menatap tajam pada Amelia.

Perasaan terasing itu semakin kuat dirasakan oleh Amelia saat menatap sorot mata galak milik ibunya. Dia bahkan tak bisa membantah dan menunduk dalam.

Dokter yang menangani Rosa datang terburu-buru dan memeriksa keadaan wanita itu. Hanya butuh beberapa detik sebelum sang dokter berkata dengan panik, “Siapkan ruang operasi segera.”

Sebelum orang-orang di luar ruangan keluar, Rosa masih menyempatkan diri menahan tangan Amelia.

“Aku janji akan bertahan, tapi kumohon setelah ini menikahlah dengan Mas Hanan.”

Sang ibu mengambil alih tangan Rosa dan berjanji, “Jangan khawatir, Nak. Kami janji akan memenuhi permintaanmu setelah operasinya berhasil. Bertahanlah.”

Rosa tersenyum tipis, sementara para perawat mendorong brankarnya tergesa menuju ruang operasi.

Separuh jiwa Amelia telah hilang. Langkahnya terasa goyah antara syok dengan keadaan kakaknya dan menghadapi kenyataan bahwa dia memiliki hutang janji yang sama sekali tak dia inginkan.

Dia akan melanggar sumpahnya sendiri. Gadis itu diam-diam masih berharap bahwa Rosa akan segera melupakan permintaannya begitu operasi selesai. Amelia bahkan tak berani menaikkan pandangannya. Takut jika matanya akan langsung menangkap kehadiran kakak iparnya yang semakin menakutkan.

Ruang operasi Rosa semakin mencekam. Dokter dan perawat lalu lalang dengan raut panik. Orang-orang yang menunggu di luar ruangan tak kalah tegangnya menanti hasil terbaik dari perjuangan tim medis melawan malaikat maut untuk menyelamatkan Rosa.

Amelia menatap kosong lampu ruang operasi yang menyala terang.

Gadis itu tak bergerak, tapi tangannya berkeringat dingin. Tak satu pun dari orang-orang di luar ruangan yang berani bersuara untuk memecah ketegangan.

Menit berlalu menjadi jam, lampu ruang operasi padam. Detik-detik menunggu orang-orang di dalam keluar terasa seperti bertahun-tahun.

Begitu dokter keluar, sosoknya langsung disambut oleh tatapan penuh harap keluarga Rosa. Pria itu membuka maskernya yang tampak ketat hingga menampilkan raut kelelahan di sana.

“Sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa keadaan pasien sudah sangat kritis dan tindak operasi memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk berhasil ....”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!