Slowburn—Romansa Komedi
Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.
Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.
Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.
Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.
Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.
Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
...~Naira Capekkk~...
Naira melangkah dengan gontai menuju rumahnya. Deru motor ojek yang ditumpanginya sejak dari gerbang pasar kecamatan perlahan terdengar menjauh, menyisakan kepulan asap tipis di udara sore yang gerah. Kedua kaki Naira rasanya hampir mati rasa. Sepanjang hari ia harus berdiri mengajar lalu mengantre di koridor kecamayan yang pengap, di sela kegiatan itu ia juga berjalan kaki di bawah terik matahari yang menyengat menuju studio foto demi mengejar waktu sebelum bakda zuhur.
Langkah lesunya samar-samar digantikan oleh renyah suara obrolan yang berasal dari teras rumah. Ayah, Ibu, dan Om Seno rupanya tengah duduk santai di sana menikmati angin sore, ditemani beberapa cangkir teh hangat dan topik pembicaraan seputar hasil perladangan yang belum juga usai.
"Baru pulang, Nai?" tanya ibunya begitu melihat Naira masuk ke dalam pekarangan. Sang ibu menatap iba pada peluh yang membasahi kening anak gadisnya.
Naira mengembuskan napas panjang, mengangguk lemas. "Iya, Bu. Tadi di kantor camat kelamaan. Pak Camat ada urusan mendadak, jadi Naira harus menunggu sampai jam istirahat selesai. Sampai telat absen siang di sekolah."
"Berkasnya sudah ada semua, Nai? Tidak ada yang kurang atau tertinggal, kan?" tanya Om Seno menimpali lebih dulu, raut wajahnya menunjukkan perhatian penuh pada urusan calon mantunya ini.
Naira menepuk tas jinjingnya yang terasa berat oleh tumpukan map berkas. "Sudah, Om. Alhamdulillah, semua tanda tangan dari kelurahan dan kecamatan sudah lengkap. Tinggal urusan tes kesehatan ke batalyon sama pendaftaran ke KUA."
Naira baru saja akan melangkah masuk melewati pintu rumah, berniat segera membasuh wajahnya yang lengket, ketika suara Om Seno kembali menengahi langkah gadis itu.
"Nai, kebetulan sore ini Om mau ke kantor pos, mau kirim wesel sekalian paket dokumen ke batalyon untuk diserahkan ke Arka. Kamu ada yang mau dititip sekalian?"
Naira menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ia tampak berpikir sesaat. Otaknya yang lelah mendadak memikirkan lembaran pasfoto berlatar kuning yang baru saja selesai dicetak di studio foto tadi siang. Sebuah ide kecil yang sedikit usil mendadak melintas di kepalanya.
"Ada, Om. Tunggu sebentar, Naira ambil dulu," jawabnya, mendadak bersemangat kembali.
Gadis itu menyeret langkahnya agak cepat menuju kamar. Di depan meja belajar yang sedikit berantakan, ia meraih satu amplop putih berukuran kecil. Jemarinya membuka perlahan potongan kertas pasfoto berlatar kuning yang masih berbau bahan kimia pencuci foto. Naira menatap cetakan wajahnya sendiri di sana. Ada satu lembar foto yang sengaja ia simpan terpisah.
Dengan senyum tipis yang tertahan di bibir, Naira memasukkan lembaran foto itu ke dalam amplop kecil, lalu mengoleskan lem kertas pada penutupnya erat-erat.
Ia kembali ke teras dengan menyembunyikan amplop itu di balik punggung, sebelum menyerahkannya pada Ayah Arka. "Ini, Om. Tolong dimasukkan ke dalam paket untuk Mas Arka, ya."
"Apa ini? Surat cinta?" tanya ibunya yang sejak tadi memperhatikan, menatap Naira dengan senyuman jahil yang menggoda.
Pipi Naira mendadak terasa hangat. Ia melengos, mencoba menyembunyikan rona merah yang terbit di wajahnya. "Bukan, Bu."
"Terus kalau bukan surat cinta, apa dong?" goda ibunya lagi, enggan menyerah.
Naira memutar tubuhnya cepat, siap melarikan diri dari interogasi. "Rahasia." Gadis itu segera melangkah lebar masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan sisa tawa kecil dari orang-orang tua di teras rumah.
...----------------...
Sementara itu, di belahan daerah yang lain, udara malam di lapangan markas batalyon terasa cukup dingin menusuk tulang. Beberapa barisan prajurit baru saja usai melaksanakan apel malam dan membubarkan diri menuju barak masing-masing. Angin malam yang berembus kencang membuat daun-daun kering beterbangan, menggoyangkan ranting pohon-pohon besar di sekitar markas dengan suara gemeresik yang menambah kesan mencekam.
Arka berjalan membelah lorong kantor staf yang panjang dan remang. Langkah sepatu larsnya yang berat terdengar konstan, berketukan menggema memantul pada dinding-dinding beton sepanjang perjalanan. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya; ia berjalan cukup buru-buru hanya untuk bisa segera sampai ke meja kerjanya. Hari ini ia belum mendengar suara Naira sama sekali, dan hal itu perlahan mulai menyiksanya.
Begitu pintu ruang kerja dibuka, tumpukan berkas laporan fisik anggota beserta buku agenda kerja bersampul hitam sudah menyambutnya, tergeletak bisu di atas meja. Arka mengabaikan tumpukan kertas itu untuk sejenak. Tangannya yang besar langsung meraih gagang telepon abu-abu gading yang terasa dingin, menekan deretan tombol angka digital dengan cepat, lalu menempelkannya ke telinga. Nada sambung pun terdengar.
Tuuut... Tuuut...
Suara gemeresak statis dari kabel telepon tua batalyon terdengar samar di sela nada tunggu yang monoton. Arka berdiri membeku di sisi meja, menghela napasnya beberapa kali dengan gusar. Menit demi menit berlalu, namun panggilan itu tetap berakhir dingin tanpa jawaban. Rasa kecewa yang familier kembali mengetuk dadanya. Ia memutus sambungan, lalu mencobanya sekali lagi hingga nada sambung ketiga berakhir, namun hasilnya tetap sama. Telepon di seberang sana tetap membisu.
"Nelepon siapa, Ka?"
Sebuah suara berat memecah keheningan ruangan. Arka tersentak kecil, langsung menoleh ke arah pintu. Kapten Yudha baru saja melangkah masuk dengan langkah tegap, membawa beberapa map tebal bersampul merah dan tumpukan lembar dokumen baru di tangannya.
Melihat kedatangan senior sekaligus atasannya, wajah Arka seketika kembali mengeras sedingin es. Secara refleks tubuhnya menegap sempurna, menyembunyikan segala gelisah pribadinya, lalu bersikap layaknya prajurit di depan komandan. "Lapor, Kapten. Sedang mencoba menghubungi calon istri saya."
Tawa Kapten Yudha terdengar pelan, menggeleng-gelengkan kepala melihat ekspresi kaku juniornya yang tampak merana itu. "Kamu ini, baru juga ditinggal sebentar sudah sebegitu cintanya? Sudah, sekarang lupakan dulu formalitas laporanmu. Simpan teleponnya. Kita harus mengerjakan semua ini hari ini juga sebelum kunjungan Tim Wasrik tiba pekan depan."
Arka menatap tumpukan dokumen baru yang diletakkan Kapten Yudha tepat di atas meja kerjanya, bersebelahan dengan gagang telepon yang baru saja ia turunkan dengan berat hati. Harapannya untuk mendengar suara lembut Naira malam ini terpaksa harus ia kubur dalam-dalam.
"Siap, Kapten."
Saya sudah memesan kopi hitam dua gelas ke kantin, sebentar lagi diantar ke sini," sahut Kapten Yudha sembari menarik kursinya maju, "Malam ini kita harus lembur semalaman."
Arka meneguk pelan ludahnya yang terasa kelat. Matanya menatap nanar tumpukan kertas putih dan map-map Wasrik di hadapannya yang seolah menertawakan rasa rindunya. Lagi-lagi, demi tugas negara, ia harus rela menahan diri. Ia hanya bisa berharap Naira tidak berpikir bahwa dirinya sengaja mengabaikan gadis itu.
Namun di saat yang sama, berpuluh-puluh kilometer dari dinginnya kantor staf batalyon, di dalam sebuah kamar kecil yang hangat di desa, Naira tidak sedang memikirkan hal buruk apa pun. Gadis itu sudah terkapar lelap, tertidur pulas dengan posisi meringkuk memeluk guling. Rasa lelah yang teramat sangat setelah seharian berjuang mengurus lembar demi lembar berkas pernikahan mereka, benar-benar telah memadamkan seluruh kesadarannya bahkan sebelum malam sempat larut.
...----------------...
Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️
Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.