Merasakan jatuh cinta diusianya yang menginjak 17 tahun, adalah sesuatu yang wajar. Namun yang tidak wajar adalah jika lelaki yang ia cintai adalah ayah sahabatnya sendiri.
Akankah persahabatan antara Alena dan Angel hancur karena Alena mencintai ayah sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon requeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi kedua
Berkat kerjasama dari berbagai pihak akhirnya acara bazaar yang diadakan dihalaman SMA NUSA BANGSA berjalan sukses.tak bisa dipungkiri Doni punya andil besar dalam acara itu, selain sebagai donatur terbesar, ia juga mengarahkan beberapa relasi bisnisnya untuk menjadi sponsor acara yang melibatkan putrinya kesayangannya.
Hari ini meski terlihat lelah namun wajah mereka memancarkan kepuasan karena acara bazaar yang mereka adakan sukses, dengan keuntungan yang lumayan besar. Semua dana yang terkumpul akan disumbangkan kepada yayasan panti asuhan.
Angel dan Alena duduk disebuah meja sambil menikmati minumam dingin yang dibelikan oleh Rangga, sementara beberapa anak laki-laki mulai membereskan meja-meja bekas acara bazaar tadi siang.
"Al.. besok papih ulang tahun, gue pengen kasih kejutan. kira-kira lu ada ide ga? " tanya Angel
Alena mulai berpikir, tiba-tiba Satu ide melesat dikepalanya. Tapi Sejenak ia ragu tidak yakin kalau Angel akan setuju.
"Gimana kalo diam-diam kita undang tante Widia " ide Alena. Angel terlihat kaget mendengar ide sahabatnya.
"gue yakin itu adalah kado yang paling berkesan buat papih lu "
Ada senyum tipis dibibir Alena.ini kesempatan untuk ia menjalankan misinya.
"gimana caranya mendatangkan tante Widia ke Jakarta? " tanya Angel. sepertinya otaknya tak seencer sahabatnya.
"diam-diam cari nomor kontaknya di hape papih lu, gimana caranya usaha supaya ga ketahuan "Alena menjelaskan
Angel manggut-manggut mulai bisa mencerna isi kepala sahabatnya. Demi melihat papih nya bahagia tak ada salahnya jika ia memberi kesempatan untuk tante Widia seperti saran Alena.
Sebuah skenario pun dibuat untuk memberi kejutan untuk Doni besok. Angel merasa bersyukur sekali mempunyai sahabat yang bisa diandalkan.
"tapi gue ga kasih kado gapapa ya.. soalnya bingung gue harus kasih kado apa buat papih lu" ucap Alena.
"ya elah.. dengan lo bantuin bikin ulang tahun papih gue berkesan juga itu udah kado yang paling berharga buat papih " ujar Angel seraya memeluk sahabatnya itu.
****
Mengikuti petunjuk sahabatnya, akhirnya Angel berhasil mendapatkan nomer ponsel Widia
"Al.. gue udah dapat nomor telepon tante Wid, terus gue harus gimana? " tanya Angel disaluran telepon
"ya lu hubungi tante Wid lah, bilang soal kejutan ultah papih lu! " jawab Alena
"ogah gue.. mending lu aza yang hubungi dia! " rupanya Angel masih gengsi
"ya udah gue yang hubungi tante wid " Alena akhirnya mengalah. gapapa lah yang penting misi berhasil
Setelah mendapat nomor kontak Widia, Alena pun menghubunginya. Setelah beberapa panggilan, akhirnya sambungan telepon pun tersambung
"mikum tante maaf ganggu, ini Alena "
"Alena mana ya ?" Widia mencoba mengingat-ingat
"Alena temannya Angel, putrinya om Doni "
"oh iya.. ada apa ya? tumben kamu telepon "
Alena pun menjelaskan maksud dan tujuannya menghubungi Widia, mendengar penuturan Alena tentu saja Widia menyambut dengan senang hati niat kedua gadis itu untuk memberi kejutan pada Doni. Dengan melibatkan dirinya, Widia merasa kalau jalan untuk mendekati Angel mulai terbuka.
"oke..besok tante akan ke Jakarta" akhirnya Widia setuju.
"makasih ya tan " Angel pun menutup panggilannya.
***
misi kedua
memanfaatkan moment ulang tahun om Doni demi melancarkan misi ini. Tapi kenapa hati ini terasa sakit ya? Semangat Alena*!!
Begitu tulisnya dibuku harian berwarna merah muda itu. Alena merasa ada yang mengganjal didadanya.Apa yang ia lakukan sangat bertolak belakang dengan hatinya.Ia tidak tau kenapa tidak bisa menolak ketika Doni meminta bantuannya untuk mendekatkan Angel dengan Widia. Ia ingin melihat orang yang diam-diam Ia kagumi itu bahagia walaupun dirinya yang harus terluka.Tak terasa air menggenang dimata indahnya. Ia tidak tau apakah ini cinta atau hanya rasa kagum saja, namun yang jelas Ia harus membuang rasa itu sebelum semakin berkembang dan membuatnya semakin terluka.
Alena tertidur dengan mendekap buku merah muda itu didadanya. Sebuah benda tak bernyawa yang Ia jadikan tempat Ia mencurahkan isi hatinya yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari sahabat dan bundanya sekali pun.
Keesokannya, Alena bangun dengan mata sedikit sembab, gadis itu mengarahkan pandangannya kelain arah menghindari tatapan menyelidik dari bundanya
"kamu habis nangis? " tanya bundanya
"semalam Alena mimpi ketemu ayah " dustanya. Percuma Ia mengaku tidak menangis sedangkan mata sembabnya sudah menjadi bukti yang tidak mungkin Ia bisa mengelak lagi.
"nanti kita ke makam ayah " bunda mengusap rambut Alena lembut, ada kabut tipis dimata bundanya. "ayo Sana pergi,jangan sampai papihnya Angel nungguin lama. ga enak! "
Alena mengambil dua kotak makan siang yang sudah disiapkan bundanya. "pergi ya bun! " pamitnya setelah mencium punggungnya tangan bundanya.
Alena masuk ke dalam mobil Doni yang sudah menunggunya didepan. Doni pun menghidupkan mesin mobilnya, kemudian melajukan mobilnya menuju ke sekolah kedua gadis itu.
Alena yang duduk dikursi belakang tidak menyadari kalau Doni diam-diam memperhatikan gadis itu melalui kaca spion.
Ada yang berbeda pada Alena pagi ini, gadis itu tidak ceria seperti biasanya, dan mata sembabnya tak luput dari perhatian duda tampan itu.
"pih, nanti sore tidak usah jemput ya. aku sama Alena mau ke mall dulu Ada yang mau dibeli "
"iya " jawab Doni sambil menepikan mobilnya didepan gedung sekolah SMA NUSA BANGSA.
Setelah kedua gadis itu turun Doni pun melajukan mobilnya menuju kantor.