"Catatan Akhir Sekolah” bercerita mengenai 4 orang yang merupakan sahabat, mereka selalu Membuat masalah di sekolah dan mereka selalu bersama-sama apa pun keadaannya, kisah yang mana suatu ketika salah satu dari mereka yang mempunyai wajah tampan.
Ia selalu memberi harapan palsu dan mempermainkan perasaan perempuan- perempuan yang suka dengannya, dan ketika salah satu dari perempuan itu ada yang benar-benar tulus mencintainya, tapi ia tetap saja memberi harapan palsu dan mempermainkan perasaan perempuan itu, hingga pada akhirnya ia menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridho pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catatan Akhir Sekolah 8
”Ya Allah, yang maha kuasa, permudahkan lah urusan kami dalam mencari tempat untuk melakukan praktik kerja industri itu ya Allah, amin!" doaku.
"Amin!" Sahut ketiganya bersama.
Setelah kami selesai berdoa, kami langsung membawa sepatu kami ke dalam kelas dan memakainya di sana.
Setelah kami selesai memakai sepatu, tiba-tiba temanku Nadya masuk ke kelas, dan memberitahu tentang sebuah informasi.
"Yang belum dapat tempat PKL di panggil sama Pak Berlin di ruangannya," kata Nadya.
Aku bersama Ipul dan Alif langsung bergegas menuju ruangan Pak Berlin, dan hanya Guntur yang tidak ikut, karena saat itu dia sedang di toilet.
"Assalamualaikum pak," salamku.
"Walaikumsalam, silakan duduk," jawab Pak Berlin.
"Saya belum dapat tempat PKL pak?" tanya Ipul.
"Gausah kamu mah," canda Pak Berlin.
Aku dan Alif tertawa.
"Pak saya belum dapat tempat PKL? jadi gmna pak?" Tanya Ipul.
"Oke, jadi ada perusahaan yang sedang membutuhkan 3 anak, untuk magang, nih kamu lihat gajinya segini dan tempatnya di sini?" tanya Pak Berlin, sambil memberi tahu tentang data perusahaan.
"Oke pak, saya mau," jawabku.
"Do Guntur gmna ini cuma 3 orang?" bisik Ipul.
"Yang ada aja dulu Pull, Guntur mah belakangan," jawabku.
"Oke kalau kalian siap, tulis nama kalian untuk di data, dan besok bawa persyaratan foto copy kartu keluarga sama kartu pelajar masing masing dua lembar," kata Pak Berlin.
"Oke pak," jawabku, tersenyum.
"Pull teman kamu diam aja kenapa?" sindir Pak Berlin, kepada Alif.
"Sakit paru-paru pak he he," jawab Ipul, sambil tertawa.
Setelah itu kami masuk ke kelas, dan langsung menghampiri Guntur yang sedang duduk, untuk memberi tahu tantang informasi ini.
"Tur lu ke toilet lama banget sih, jadi gak dapat rezeki deh?" tanya Ipul.
"Rezeki apa Pull," jawab Guntur.
"Itu Tur, sekarang mending lu ke ruangan Pak Berlin deh," kata Alif.
"Mau ngapain pea," jawab Guntur, bingung.
"Itu Tur tadi gua sama Ridho, Ipul dapat tempat PKL dari Pak Berlin," kata Alif.
"Serius lu," jawab Guntur, terkejut.
Setelah mendengar hal itu Guntur langsung bergegas menuju ruangan Pak Berlin, dan Guntur akhirnya juga mendapatkan tempat PKL, tapi sayangnya dia berbeda, dia tidak satu tempat bersama aku, Ipul dan Alif.
Gak apa-apa lah, kita hanya berpisah untuk sementara, nanti juga setelah tugas kami selesai, kami masih bisa berkumpul bersama-sama lagi.
... ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya saat waktunya pulang, aku bersama Guntur, Ipul dan Alif kembali lagi ke ruangan Pak Berlin, untuk melengkapi persyaratan dan sekalian mengambil jurnal yang nantinya untuk di isi saat praktik berlangsung.
Saat aku mau masuk ke ruangan Pak Berlin, ternyata di dalam ruangan itu ada Lia dan temanya yang sedang mengambil jurnal.
Aku malu, dan aku menyuruh Guntur, Ipul dan Alif agar tidak masuk dulu, sampai Lia keluar dari ruangan Pak Berlin.
kami menunggu di luar sampai Lia keluar, setelah Lia keluar dari ruangan Pak Berlin, dia melintas di depanku, dan Ipul langsung menggodaku.
"Lia Ridho nih?" tanya Ipul, tersenyum.
"Iya Pull," jawab Lia, tersenyum.
Ternyata benar, Lia saat itu sudah biasa- biasa saja denganku, meskipun aku tahu dia seperti itu hanya berpura-pura.
Ipul selalu menggoda aku dan Lia, saat aku tidak sengaja bertemu dengan Lia, dan dia selalu membuat aku malu.
Sudah sering aku mengingatkan jangan pernah menggoda aku dan Lia, saat aku tidak sengaja bertemu dengannya, karena semua itu sudah menjadi masa lalu, jadi tidak perlu untuk di ingat lagi, tapi tetap saja dia selalu melakukan hal itu.
Saat aku sampai di rumah, aku merasa kalau aku sudah benar-benar kehilangan dia, yang biasanya dia selalu menggodaku dan menyapaku, tapi saat itu dia bersikap dingin dan seolah-olah dia tidak pernah mengenalku.
Aku menyesal kenapa aku dulu bodoh sekali mengabaikan perempuan setulus Lia, aku benar-benar menyesal,
Tapi yang aku lihat, Lia masih sering memperhatikanku, meskipun secara diam diam, tapi saat aku perhatikan balik, dia langsung membuang muka, dan bedanya dari Lia yang dulu, dia tidak pernah menyapaku lagi.
Aku rindu dengan suaranya yang selalu memanggil namaku, aku benar-benar patah hati, dan aku harus melupakan dia, tapi aku tidak bisa, ternyata benar karma itu ada.
Aku yang tadinya sama sekali tidak mencintainya, tapi sekarang? malah aku yang sangat mencintainya, aku mau dia selalu ada di sisiku, tapi apa? aku sudah terlambat.
Saat itu aku merasakan apa yang di rasakan Lia, rasa tidak di hargai dengan orang yang kita cintai.
Aku mencoba untuk melupakan dia, tapi semakin aku mencoba melupakannya, aku malah semakin mencintainya
Begitu pun dengan Ipul dia seakan-akan seperti orang yang terkena pelet, karena sebagian dari teman-temanku ada yang berpendapat seperti itu.
Bagaimana tidak, dia selalu menuruti perintah Sumita, apa pun perintahnya, pasti akan dia lakukan.
Bahkan menurut teman-temanku Sumita itu tidak cantik, tapi menurut Ipul dia itu sangat cantik, aku juga tidak tahu apakah Ipul terkena pelet, atau tidak.
Karena memang benar adanya kalau cinta itu buta dan tuli, mungkin itu yang sedang di alami Ipul, dia tidak memandang rupa.
Hari-hariku selama aku di kelas 11 selalu di penuhi dengan kegalauan, dan aku lebih sering memikirkan Lia, dibanding memikirkan pelajaran.
... ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat itu aku sering sekali bolos saat PKL, aku bolos berdua dengan Alif dan aku bolos hampir setiap hari Jumat, karena di hari Jumat jam kerja kami bertambah menjadi lebih lama.
Aku terus terang saja malas sebenarnya melakukan praktik kerja industri di tempat itu, selain gajinya kecil tempatnya juga sangat jauh.
Dan menurutku pekerjaannya tidak sesuai dengan bayarannya, dan tidak sejahtera pula, tapi tetap aku jalani sampai selesai.
Setelah aku Selesai PKL kurang lebih selama 3 bulan, aku kembali lagi belajar di sekolah kecuali dengan Guntur.
Betapa rindunya aku dengan suasana kelas, meskipun hanya Guntur yang tidak ada.
Keesokan harinya barulah Guntur selesai dan kembali berkumpul lagi dengan kami,
Kami merasa komplit lagi, meskipun saat itu kelas kami masih terbilang sepi dan hanya beberapa murid saja yang masuk, karena sebagian dari mereka belum selesai melakukan praktik kerja industri.
Tapi menurutku tetap seru, meskipun kelas kami tidak seramai dulu yang terpenting aku bersama Guntur, Ipul dan Alif bisa berkumpul kembali.
Saat kami kelas 11, kami mendapatkan wali murid yang menurut kami sangat ramah dan baik, karena menurut kami, dia selain baik, dia juga bisa menjadi sosok ibu saat kami di sekolah.