NovelToon NovelToon
Ternyata Dia Masih Ada

Ternyata Dia Masih Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Auliya Wulandari

Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lentera di malam perayaan

“Ehmm… karena aku merasa telah berhutang budi padamu tadi, maka dengan kebaikan hatiku, aku akan memberimu kesempatan istimewa untuk menemaniku menikmati perayaan malam ini,” ujarnya dengan nada angkuh, seolah sedang memberikan kehormatan besar kepada orang di hadapannya.

Mendengar ucapan itu, Yanfei hanya menggeleng pelan sambil terus menyantap makanannya dengan tenang. Di dalam hatinya, ia bergumam, Anak ini benar-benar sangat sombong. Ia tidak menyangka bahwa bocah yang baru saja diselamatkannya justru berbicara seolah dialah yang paling berkuasa dan paling dermawan, padahal sepanjang percakapan hanya keluar kata-kata yang terdengar menyebalkan dan sulit diterima telinga.

Namun, ia sama sekali tidak menyadari sikap Yanfei. Matanya tiba-tiba tertuju pada toko makanan di pinggir jalan yang menjajakan berbagai macam manisan berwarna-warni. Wajahnya langsung berbinar, lalu menunjuk dengan jari telunjuknya yang kecil.

“Wah, manisan buah ini terlihat sangat manis dan enak! Berikan aku lebih banyak dari ini!” serunya dengan suara lantang, seolah itu adalah haknya yang mutlak.

Belum sempat penjual itu menjawab, Li Xia sudah menyahut dengan nada bercanda namun tetap mengandung teguran halus, “Hati-hati, Tuan Muda. Gigi kecilmu nanti akan dimakan ulat jika terlalu banyak memakan permen dan manisan yang terlalu manis. Nanti rasanya sakit sekali saat mengunyah makanan keras.”

Li Xia menatap bocah itu dengan pandangan yang sedikit dalam. Ia tahu betul sifat anak ini: baru berusia lima atau enam tahun, namun karena lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga bangsawan yang kaya dan berkuasa, ia terbiasa mendapatkan apa saja yang diinginkannya tanpa perlu berusaha sedikit pun. Semua keinginannya selalu dipenuhi, sehingga tumbuhlah sikap sombong dan merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain.

Mendengar teguran itu, wajahnya langsung merengut kesal. Ia menatap Li Xia dengan tatapan tidak senang, lalu berkata dengan nada ketus, “Kau ini… bisakah sesekali mengucapkan hal yang baik saja? Selalu saja ada saja yang dikritik. Sungguh menyebalkan!”

Tanpa menunggu jawaban lagi, ia langsung berbalik dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan tempat penjual manisan itu, seolah tidak peduli apakah barang yang diambilnya sudah dibayar atau belum.

Yanfei melihat keributan kecil yang terjadi antara pelayannya dan bocah itu, lalu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum lembut. Ia merasa lucu sekaligus kasihan melihat tingkah laku anak yang masih polos namun sudah terbiasa dengan sikap yang angkuh.

Namun, belum sempat mereka melangkah jauh, suara penjual itu memanggil dengan sopan namun tegas, “Nyonya, putra Nyonya juga mengambil sepotong kue opunus yang baru saja dikeluarkan dari tungku. Harganya dua keping koin perak.”

Mendengar sebutan “putra Nyonya”, tubuh Yanfei seketika membeku. Ia terdiam sejenak, tatapannya menjadi kosong seolah terlempar ke masa lalu yang sudah lama ia coba kubur dalam-dalam.

Putranya…

Anak itu baru berusia lima atau enam tahun. Jika anak yang pernah dikandungnya tujuh tahun silam itu masih hidup, mungkin usianya pun sudah sama besar, memiliki wajah yang menggemaskan dan mungkin juga sedikit nakal seperti bocah di depannya ini. Namun, jika ia memiliki anak, ia berjanji dalam hatinya akan mendidiknya dengan penuh kasih namun tegas, agar tidak tumbuh menjadi anak yang tidak tahu aturan, sembarangan mengambil barang orang lain, dan bersikap sombong hanya karena status keluarga.

Penjual itu melihat Yanfei yang diam saja, lalu bertanya sekali lagi dengan nada lebih hati-hati, “Nyonya? Apakah Nyonya akan membayar tagihan untuk putra Nyonya ini?”

Suara itu membangunkan Yanfei dari lamunan pahitnya. Ia menghela napas panjang, berusaha mengusir rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya, lalu menoleh ke arah Li Xia.

“Maafkan kami. Li Xia, bayarlah sesuai harga yang disebutkan,” ujarnya dengan suara tenang namun sedikit berat.

Setelah urusan itu selesai, ia segera melangkah mengikuti langkahnya yang sudah berjalan agak jauh di depan.

Suasana di sepanjang jalan semakin ramai dan meriah. Lampu-lampu gantung berwarna-warni menerangi setiap sudut jalan, dan aroma berbagai makanan lezat tercium memenuhi udara. ia yang sudah terbiasa melihat kemewahan, namun tetap merasa senang dengan suasana ini, berhenti sejenak di depan pedagang lentera yang menjajakan barangnya dengan banyak pilihan bentuk dan ukuran.

Ia menoleh ke belakang, melihat Yanfei yang mendekat, lalu mengambil sebuah lentera kecil yang terbuat dari kertas tipis berwarna merah muda, lalu menyodorkannya ke tangan Yanfei dengan gaya yang tetap terlihat sombong.

“Karena tadi kau sudah menemaniku berjalan-jalan dan melihat-lihat, maka aku berbaik hati membelikan lentera ini untukmu,” ujarnya dengan nada yang seolah sedang memberikan hadiah paling berharga. Ia lalu melanjutkan penjelasannya dengan suara lantang,

“Orang-orang sering berkata bahwa jika kita menuliskan doa dan harapan di atas kertas lentera ini, lalu melepaskannya ke sungai, arus air akan membawanya hingga ke hadapan para dewa di langit. Sebenarnya aku sendiri tidak terlalu mempercayai keberadaan dewa-dewa itu, dan tidak banyak orang yang benar-benar yakin hal itu bisa terjadi. Tapi karena aku merasa sudah cukup baik hati, aku akan membantumu menyampaikan pesan itu. Jadi, sekarang kita sudah seimbang dan aku tidak memiliki hutang budi apa pun lagi padamu!”

Setelah menyelesaikan kalimatnya yang panjang itu, ia langsung berbalik dan berlari kecil masuk ke dalam keramaian, meninggalkan Yanfei yang masih berdiri di tempat sambil memegang lentera itu dan menatap punggung kecilnya hingga benar-benar menghilang di antara kerumunan orang.

Melihat tingkah laku itu, Yanfei hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Anak ini… benar-benar sombong sampai ke tulang sumsumnya. Jelas sekali ia terbiasa dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan sejak kecil. Namun, entah mengapa, saat melihat wajah dan tingkah polosnya, ia justru teringat pada dirinya sendiri saat masih berusia lima belas tahun—sama-sama keras kepala, penuh rasa ingin tahu, dan merasa bisa melakukan apa saja sesuka hati tanpa memikirkan risiko di belakangnya.

“Benar-benar anak yang sangat sombong dan tidak tahu tata krama,” gumam Li Xia sambil menatap ke arah keramaian tempat bocah itu menghilang.

Yanfei mengangguk setuju, namun segera memberikan perintah dengan nada tenang dan penuh perhatian. “Minta kepada pengawal yang mengikuti kita dari kejauhan untuk tetap mengawasi dia dari jauh, dan pastikan dia sampai kembali ke kediamannya dengan selamat.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, “Bagaimanapun juga, dia hanyalah anak berusia lima atau enam tahun. Berjalan dan bermain sendirian di tengah keramaian yang begitu padat bukanlah hal yang aman. Di luar sana masih banyak orang jahat yang mengintai kesempatan. Jika nasibnya kurang baik, bisa saja ia diculik dan dijual jauh ke tempat asing sebagai budak.”

Mendengar perintah itu, Li Xia tertegun sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia menatap wajah tenang sang nonanya dengan rasa kagum yang semakin dalam. “Nona, anak itu tadi sangat tidak sopan dan berbicara sembarangan. Bahkan dia tidak pernah mengucapkan terima kasih dengan tulus, hanya membanggakan dirinya sendiri. Namun Nona masih bersikap baik dan peduli padanya sampai seperti ini?”

Yanfei tersenyum tipis sambil memegang lentera yang diberikan bocah itu. “Dia hanya anak kecil yang masih dalam masa pertumbuhan. Aku tidak akan menjadi orang yang terlalu picik dan menyimpan rasa kesal hanya karena tingkah laku anak yang belum mengerti dunia ini. Li Xia, ayo kita kembali ke kereta. Malam sudah semakin larut, dan udara mulai terasa dingin.”

Ia tahu benar, apa salahnya seorang anak jika ia sedikit nakal dan angkuh? Seiring bertambahnya usia, saat ia mulai memahami cara bergaul dan aturan kehidupan, sifat itu perlahan akan berubah menjadi lebih baik. Yang terpenting saat ini adalah memastikan keamanan bocah itu, bukan membalas ketidak sopanan nya.

“Baik, Nona,” jawab Li Xia dengan patuh, lalu berjalan mendampingi majikannya kembali ke arah pintu keluar tempat perayaan.

Di dalam genggamannya, lentera kecil itu terasa hangat. Meskipun diberikan dengan cara yang sombong dan tanpa rasa hormat, bagi Yanfei benda itu justru menjadi pengingat—bahwa meski masa lalu menyisakan luka yang tak terhapuskan, ia masih memiliki hati yang cukup lapang untuk memaafkan, mengerti, dan tetap berbuat baik kepada siapa pun, bahkan kepada anak kecil yang baru dikenal sehari saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!