" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.
Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. Perjodohan
Dua hari setelah kejadian menegangkan di dapur, suasana kediaman Wardhana kembali berkumpul lengkap di ruang makan malam. Tuan Bagian dan Nyonya Zen telah kembali dari luar kota. Atmosfer meja makan malam itu terasa jauh lebih formal dan kaku dari biasanya, menandakan ada sesuatu yang penting yang akan dibahas oleh sang kepala keluarga.
Dania yang biasanya berisik bahkan memilih diam, sementara Damian duduk tenang di sebelah Valerian yang hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa selera. Di seberang mereka, Aksa duduk dengan sikap santai, meski matanya sesekali melirik Valerian dengan tatapan intens yang tersembunyi.
Tuan Bagian Wardhana mendeham berat, meletakkan sendok dan garpunya ke atas piring marmer. "Aksa, Damian sudah mengelola perusahaan dengan baik, dan pernikahannya dengan Valerian sudah mengamankan posisi saham kita. Sekarang, sudah saatnya giliranmu."
Mendengar nama Aksa disebut, gerakan tangan Valerian seketika terhenti. Jantungnya berdesir aneh.
"Maksud Ayah?" Aksa menaikkan sebelah alisnya, senyum humorisnya sedikit memudar dari wajah tampannya.
Nyonya Zen Wardhana menimpali dengan senyuman anggun namun penuh diktator. "Ibu sudah mengatur pertemuan dengan keluarga Narendra akhir pekan ini. Putri tunggal mereka, Clarissa, baru saja menyelesaikan studinya di London. Keluarga kita membutuhkan aliansi bisnis baru di sektor properti, dan kau adalah satu-satunya harapan kami, Aksa. Dalam keluarga Wardhana, sistem penjodohan adalah tradisi yang menjamin masa depan."
Deg.
Bagai dihantam godam besar, dada Valerian mendadak terasa sesak luar biasa. Rasa mual yang aneh bergejolak di dalam perutnya, bukan karena makanan, melainkan karena rasa cemburu yang tiba-tiba membakar hatinya.
Valerian melirik ke arah Aksa. Ada rasa takut yang teramat sangat yang mendadak merayap di benaknya. Selama ini, ia terbiasa diabaikan oleh Damian, dan kehadiran Aksa dengan segala keposesifan serta gairah panasnya adalah satu-satunya hal yang membuat Valerian merasa berharga sebagai seorang wanita. Jika Aksa menikah dengan wanita lain, apakah Aksa akan berhenti menatapnya dengan penuh obsesi? Apakah ia akan kembali dicampakkan ke dalam kesepian dan tidak akan pernah merasakan lagi ada pria yang posesif memujanya?. Batin Alika bergemuruh.
Pikiran bahwa tubuh tegap Aksa akan memeluk wanita lain, dan bibir yang biasanya menciumnya dengan liar akan mencium wanita lain, membuat Valerian mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ia cemburu. Sangat cemburu pada wanita bernama Clarissa yang bahkan belum ia temui.
Di tengah kecamuk badai di dalam dada Valerian, Aksa tidak langsung menolak. Pria itu justru melirik ke arah Valerian, menangkap basah gurat cemburu, ketakutan, dan rasa kehilangan yang terlukis jelas di sepasang mata kakak iparnya.
Sudut bibir Aksa terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius yang sarat akan maksud tersembunyi.
"Penjodohan, ya?" Aksa bersandar pada kursinya, mengetukkan jemarinya di atas meja sembari menatap Valerian dengan pandangan yang kian menggelap dan mengintimidasi. "Menarik. Kalau itu memang sudah menjadi tradisi keluarga, aku tidak keberatan untuk menemui Clarissa akhir pekan ini, Bu."
Valerian tercekat. Matanya terbelalak menatap Aksa tak percaya, sementara di sebelahnya, Damian tiba-tiba menghentikan makannya dan menatap Aksa dengan pandangan tajam yang dipenuhi ketidaksukaan yang aneh.
Akhir pekan yang dinanti dengan kecemasan oleh Valerian akhirnya tiba. Restoran bintang lima bergaya klasik Eropa di pusat kota telah dipesan khusus oleh keluarga Wardhana untuk pertemuan penting ini.
Valerian duduk di samping Damian dengan gaun formal berwarna hitam yang elegan, kontras dengan hatinya yang sejak tadi terasa remuk redam. Di hadapan mereka, duduk Tuan Narendra dan Nyonya Narendra, bersama putri tunggal mereka, Clarissa Narendra.
Clarissa tampil begitu memukau dengan gaun desainer berwarna pastel yang anggun. Kulitnya putih bersih, bicaranya terdidik dengan logat khas lulusan London yang fasih, dan senyumannya sangat menawan. Dia adalah definisi wanita sempurna dari kalangan atas yang dicari oleh Nyonya Zen Wardhana untuk menjadi menantunya.
"Aksa baru saja mengambil alih proyek baru di sub-holding kita, Tuan Narendra. Kurasa dia dan Clarissa akan menjadi pasangan yang sangat serasi, baik di dalam maupun di luar bisnis," ucap Nyonya Zen penuh kebanggaan.
Aksa yang duduk di sebelah Clarissa hanya melempar senyum kasualnya yang menawan. Di depan kedua orang tuanya, Aksa bersikap sangat manis pada Clarissa. Ia menuangkan air ke gelas wanita itu, sesekali menanggapinya dengan humor cerdas yang membuat Clarissa merona dan tertawa kecil.
Setiap tawa yang keluar dari bibir Clarissa terasa seperti duri yang menusuk dada Valerian.
Valerian meremas sendoknya di bawah meja. Matanya bergerak gelisah, menatap bagaimana Aksa memperlakukan wanita lain dengan kehangatan yang biasanya hanya diberikan kepadanya. Rasa cemburu, tersisih, dan takut kehilangan bergolak hebat di dalam perut Valerian, membuatnya mual.
Aksa yang sedang mengobrol dengan Clarissa sengaja melirik ke arah Valerian. Dari seberang meja, netra gelap Aksa menangkap basah sepasang mata Valerian yang berair dan jemarinya yang gemetar menahan amarah. Aksa sengaja menunjukkan semua perhatian ini pada Clarissa hanya untuk satu alasan: menguji dan melihat seberapa dalam rasa cemburu kakak iparnya itu.
Malam harinya, kediaman keluarga Wardhana kembali sunyi. Damian langsung pergi ke ruang kerjanya setelah mereka tiba di rumah, meninggalkan Valerian yang berjalan lemas menaiki tangga menuju lantai dua sendirian.
Di koridor lantai dua yang remang-remang, Valerian berjalan seperti raga tanpa jiwa. Air matanya yang sejak tadi ditahan di restoran akhirnya luruh membasahi pipi. Logikanya menjerit bahwa ia egois; ia adalah istri Damian, ia tidak berhak cemburu pada Aksa. Namun hatinya meronta, ketakutan setengah mati jika Aksa benar-benar pergi dan menikah dengan Clarissa.
Sret.
Sebuah tangan kekar tiba-tiba menarik pergelangan tangan Valerian dengan cepat, membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan sebelum Valerian sempat berteriak.
Cklek. Pintu dikunci dari dalam.
Valerian terengah, membelalakkan matanya saat menyadari dirinya kini berada di dalam kamar tidur Aksa yang bernuansa gelap. Di depannya, Aksa berdiri tegak, telah menanggalkan jas formalnya dan menyisakan kemeja putih dengan dua kancing atas yang terbuka.
"Lepaskan aku, Aksa! Kenapa kau membawaku ke mari? Pergilah bersenang-senang dengan Clarissa-mu itu!" bisik Valerian setengah terisak, mencoba memukul dada bidang Aksa dengan sisa tenaganya.
Aksa tidak menghindar. Ia justru menangkap kedua pergelangan tangan Valerian, menguncinya di atas kepala Valerian dan merapatkan tubuh mereka ke dinding kamar. Tatapan mata Aksa yang biasanya jenaka kini berubah menjadi begitu gelap, posesif, dan penuh dengan kepuasan yang berbahaya.
"Kau cemburu, Valerian. Mengaku saja," bisik Aksa, suaranya merendah serak tepat di depan bibir Valerian yang gemetar. "Aku melihat bagaimana kau menatapku di restoran tadi. Kau membencinya saat aku menyentuh gelasnya, kau membencinya saat dia tertawa karena leluconku. Kau takut aku menjadi milik wanita lain, bukan?"
"Aksa, cukup! Aku ini kakak iparmu! Kau harus menikah dengan wanita yang setara denganmu seperti Clarissa!" tangis Valerian pecah.
Mendengar kata pernikahan, seringai di wajah Aksa lenyap, digantikan oleh ekspresi yang teramat serius dan tajam. Ia melepaskan kuncian tangannya, lalu beralih menangkup wajah Valerian dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat. Ia memaksa Valerian untuk menatap lurus ke dalam sepasang netra elangnya.
"Dengarkan aku baik-baik, Valerian," ucap Aksa dengan penekanan di setiap kata, suaranya bergetar oleh emosi dan obsesi yang mendalam. "Aku sengaja menerima pertemuan itu hanya untuk memastikan satu hal... dan sekarang aku tahu kau memiliki perasaan yang sama besarnya denganku."
Aksa memajukan wajahnya, menyatukan kening mereka hingga Valerian bisa merasakan deru napas Aksa yang memburu.
"Aku tidak akan pernah menikah dengan Clarissa, atau dengan wanita mana pun di dunia ini. Aku tidak peduli dengan tradisi penjodohan sialan keluarga ini," bisik Aksa parau, jemarinya mengusap air mata di pipi Valerian dengan kelembutan yang memabukkan. "Aku akan menunggu. Sampai kapan pun, aku akan menunggumu lepas dari Damian. Tubuh dan jiwaku sudah terkunci padamu, Valerian. Jadi, jangan pernah takut aku akan berpaling."
Detik berikutnya, Aksa membungkam bibir Valerian dengan kecupan yang begitu dalam, menuntut, namun sarat akan janji setia yang terlarang. Valerian terengah di dalam dekapan Aksa, membalas tautan bibir itu dengan kepasrahan yang kian dalam.
Di dalam kamar yang terkunci itu, Valerian benar-benar didera kebingungan yang teramat sangat atas apa yang ia rasakan.
Tepat saat pergulatan emosi dan gairah panas di dalam kamar Aksa kian menuntut, terdengar suara langkah kaki yang berat dari koridor luar.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamar Aksa.
Tok! Tok! Tok!
"Aksa? Kau di dalam? Buka pintunya, ada urusan proyek yang harus kita bicarakan sekarang," suara bariton Damian terdengar menggema dari balik pintu, terdengar begitu dingin dan penuh selidik.
Valerian seketika membeku di dalam pelukan Aksa, menahan napasnya dengan mata yang terbelalak horor. Suaminya sedang berdiri di balik pintu, sementara ia berada di atas ranjang sang adik ipar dalam kondisi pakaian yang setengah berantakan.