"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Labirin Masa Lalu
Suara klik dan desis mekanis dari roda pengunci kotak logam serat karbon itu masih menyisakan gaung samar di udara lembap ruang penyimpanan bawah tanah Gudang 17.
Namun, bagi Adrian Hutama dan Alea Corisand, keheningan yang menyusul setelahnya terasa jauh lebih mengintimidasi.
Mereka berdua berdiri membeku, terpaku pada pemandangan di atas meja logam tua yang kini diterangi seadanya oleh lampu meja portabel.
Udara di sekitar mereka mendadak terasa merosot hingga ke titik beku.
Sensasi dingin yang menusuk ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan sistem pengondisi udara otomatis ruangan steril tersebut, melainkan bersumber dari hantaman kenyataan yang baru saja terhampar di depan mata mereka.
Di atas permukaan meja yang dingin, selembar foto fisik beresolusi tinggi menuntut perhatian penuh.
Kertasnya telah sedikit menguning di bagian sudut, tetapi gambar yang tercetak di atasnya masih sangat jelas.
Foto itu menampilkan bentang alam sepasang anak manusia seorang anak laki-laki berpakaian rapi dan seorang anak perempuan dengan gaun katun putih yang sedang berdiri berdampingan di tepi sebuah danau yang jernih, dikelilingi rimbunnya pohon-pohon pinus.
Anak laki-laki itu menatap kamera dengan ekspresi datar yang khas, sementara anak perempuan di sampingnya tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
Anak laki-laki itu tidak salah lagi adalah Adrian. Dan anak perempuan itu adalah Alea.
Kenyataan ini menghantam logika mereka dengan keras. Sepanjang ingatan resmi yang mereka miliki, juga berdasarkan penuturan dari ibu mereka masing-masing, Adrian Hutama dan Alea Corisand tidak pernah bertemu satu kali pun sebelum perjodohan bisnis dan pernikahan kontrak ini dirancang oleh pihak keluarga.
Mereka tumbuh di lingkungan yang berbeda, bersekolah di benua yang berbeda, dan menjalani hidup sebagai dua orang asing yang saling terasing hingga takdir korporasi mempertemukan mereka di altar.
Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi.
Terlalu sunyi, hingga suara detak jarum jam tangan mekanis milik Adrian terdengar seperti ketukan palu hakim.
Jemari Alea yang memegang sudut foto tersebut tampak bergetar lembut.
Sinar matanya bergerak liar, meneliti setiap piksel gambar, mencari celah, mencari tanda-tanda bahwa ini hanyalah sebuah rekayasa digital yang canggih.
Namun, tekstur kertas foto, distorsi optik lensa tua, dan pendaran cahayanya terlalu organik untuk disebut sebagai sebuah kepalsuan.
"Aku... aku sama sekali tidak mengingat momen ini, Adrian..." Bisik Alea, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan.
"Aku tidak punya memori tentang danau ini. Aku tidak ingat pernah berdiri di sampingmu saat sekecil ini."
Adrian tidak langsung menyahut.
Tatapannya terkunci mati pada figur dirinya sendiri di masa lalu.
Sorot matanya yang tajam dan dingin tampak bergerak dinamis, mencoba memotong lapisan demi lapisan dinding amnesia yang mengurung masa kecilnya.
Ia memaksa kapasitas memorinya untuk bekerja keras, mencari sekecil apa pun sisa-sisa ingatan tentang hamparan air danau, aroma pinus, atau tawa anak perempuan di sampingnya.
Namun, hasilnya tetap nihil. Gelap. Kosong. Seolah-olah ada sebuah ruang hampa yang sengaja diciptakan di dalam otaknya untuk mengubur fase hidup tersebut.
"Kalau foto ini asli, dan semua dokumen manifes di dalam kotak ini valid..." Suara Adrian terdengar sangat berat dan dalam, mengindikasikan pergolakan batin yang hebat.
"Berarti kesimpulannya hanya satu, Alea. Seseorang yang memiliki otoritas mutlak atas hidup kita telah sengaja menghapus bagian masa lalu ini dari ingatan kita."
Alea mengangkat kepalanya secara perlahan, menatap lurus ke dalam manik mata Adrian yang kelam.
"Atau mereka menyembunyikannya dengan metode yang belum kita pahami. Pertanyaannya adalah, mengapa? Apa yang terjadi di danau itu hingga mereka harus bertindak sejauh ini?"
BRAKK!!!
Suara itu merambat melalui struktur beton bawah tanah, mengirimkan getaran minor ke lantai yang mereka pijak.
Keduanya langsung menoleh secara refleks. Insting bertahan hidup yang telah terasah membuat tubuh mereka menegang dalam posisi siaga penuh.
Tanpa membuang waktu satu sekon pun, Adrian mengulurkan tangannya yang kokoh dan langsung mematikan sakelar lampu meja portabel.
Dalam sekejap, ruangan inti tersebut jatuh ke dalam kegelapan yang pekat.
Hanya menyisakan pendaran merah yang redup dan monoton dari lampu indikator darurat di sudut langit-langit, memberikan atmosfer yang semakin mencekam.
"Ada seseorang di luar," bisik Adrian, suaranya sangat lirih namun sarat akan penekanan taktis.
Alea bisa merasakan aliran adrenalin mengalir deras di dalam pembuluh darahnya.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya suara debaran itu memenuhi seluruh rongga dadanya.
Di tengah keheningan yang dipaksakan itu, indra pendengaran mereka menangkap sebuah suara yang paling dihindari: derap langkah kaki.
Tap. Tap. Tap.
Langkah itu bergerak dengan ritme yang pelan, teratur, dan konstan.
Itu bukan tipe langkah kaki dari seorang petugas keamanan malam yang panik atau bingung karena alarm berbunyi.
Langkah kaki itu terasa sangat mantap, hati-hati, dan terlatih.
Seseorang di luar sana bergerak dengan efisiensi tinggi, menunjukkan bahwa ia telah mempelajari cetak biru dan tata letak geometris dari ruang arsip Gudang 17 ini sejak lama.
Sambil terus mengawasi arah pintu masuk dengan pandangan mata yang telah menyesuaikan diri dengan kegelapan, Adrian dengan gerakan taktis yang cepat mulai mengumpulkan dokumen-dokumen paling krusial dari dalam kotak logam Aurora.
Surat-surat perjanjian lama, lembaran foto fisik tepi danau, flash drive baja hitam berenkripsi militer, serta sebuah buku catatan kulit tua berlogo matahari milik George Corisand.
Semua benda itu dimasukkannya dengan rapi ke dalam tas kerja bermaterial balistik yang mereka bawa.
"Matikan ponselmu sekarang. Jangan biarkan ada pendaran cahaya atau sinyal frekuensi yang bocor," bisik Adrian di dekat telinga Alea.
Alea segera merogoh saku mantelnya, menekan tombol daya ponselnya hingga layarnya mati sepenuhnya, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku dengan gerakan tanpa suara.
Suara langkah kaki itu kini terdengar semakin dekat. Jaraknya diperkirakan hanya terpisah oleh beberapa baris rak arsip logam yang menjulang tinggi di area luar.
Tok. Tok. Tok.
Suara itu tiba-tiba berubah.
Bukan lagi sekadar suara langkah sepatu, melainkan ketukan sengaja pada tiang-tiang rak logam menggunakan benda keras.
Ketukan itu terdengar santai, tidak terburu-buru, seolah-olah sang penyusup misterius sudah sangat yakin bahwa mangsanya telah terpojok di ujung lorong dan tidak memiliki jalan keluar lain ke permukaan.
Kemudian, sebuah suara mekanis yang sangat spesifik terdengar bergaung samar di antara lorong. Suara gesekan logam bernada tinggi yang halus, disusul oleh dengungan daya rendah.
Sreeet... Bzzzt.
Adrian yang memiliki latar belakang pemahaman mendalam tentang teknologi taktis siber dan persenjataan langsung mengenali suara tersebut.
Rahangnya mengeras.
Seseorang di luar sana baru saja mengaktifkan perangkat senjata kejut listrik berdaya tinggi (stun gun militer) atau senjata pelumpuh senyap.
Situasi ini telah resmi bergeser dari sekadar spionase korporat menjadi ancaman fisik yang mematikan.
"Dia tidak datang untuk bernegosiasi," bisik Adrian, matanya menyipit tajam menembus remang-remang lampu merah.
"Dia datang untuk mengambil kembali seluruh isi Aurora, dan melenyapkan kita."
"Apa rencana kita sekarang? Pintu masuk utama sudah pasti diblokir olehnya," tanya Alea, mencoba sekuat tenaga menjaga agar suaranya tidak bergetar.
Adrian menoleh sedikit ke arah belakang meja logam, ke sudut ruangan di mana terdapat sebuah panel besi vertikal yang menghubungkan ruangan ini dengan lorong servis utilitas.
"Pintu utama terlalu jauh dan terlalu terbuka. Kita gunakan jalur evakuasi teknis."
"Apakah jalur itu aman?"
"Jalurnya sangat sempit dan dipenuhi pipa tekanan tinggi, tapi itu satu-satunya opsi yang tidak berada dalam jangkauan pandangan langsungnya. Ayo."
Mereka mulai bergerak perlahan, menyelinap di antara celah-celah rak arsip yang menjulang tinggi menyerupai labirin beton.
Setiap langkah kaki mereka diletakkan dengan sangat hati-hati di atas lantai, berusaha meminimalkan gesekan sol sepatu dengan debu.
Namun, sang penyusup di luar tampaknya tidak bergerak sendirian atau bertindak amatir. Tepat ketika Adrian dan Alea berhasil mencapai jarak beberapa meter dari panel servis.
Klik.
Lampu darurat berwarna merah yang semula berkedip di langit-langit mendadak padam sepenuhnya.
Seluruh pasokan listrik cadangan ke sistem pencahayaan bawah tanah tampaknya telah diputus secara sengaja dari panel sekering utama di luar.
Ruangan langsung jatuh ke dalam kondisi gelap total yang pekat, sejenis kegelapan yang membuat seseorang kehilangan orientasi spasial dalam sekejap.
Alea menahan napasnya, rasa panik sempat melintas di benaknya saat pandangannya menjadi buta total.
Namun sebelum rasa takut itu mengambil alih, ia merasakan sebuah tangan yang hangat dan kokoh merengkuh pergelangan tangannya dengan erat.
Jemari Adrian menggenggamnya dengan kepastian yang mutlak, memberikan jangkar arah di tengah kegelapan yang gulita.
"Genggam erat. Aku tahu jalurnya," bisik Adrian di tengah kegelapan.