NovelToon NovelToon
Hidayat Bersaudara

Hidayat Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:675
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Rahasia Terungkap Ini Tanah Kita Sendiri

Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara angin yang menyisir daun-daun pohon di atas kepala dan suara jangkrik yang mulai bersahutan menyambut sore. Faris duduk tegak, tangannya memegang sebatang rokok yang sudah hampir habis, namun belum dihisap lagi. Matanya menatap lurus ke mata Bapak dan Ibu, tatapan yang penuh ketulusan, kebanggaan, dan rasa syukur yang meluap-luap. Guntur dan Ali duduk di sebelah kanan dan kiri, sementara Maya dan Miya duduk di dekat kaki Ibu, menatap Abang mereka dengan penasaran.

"Pak... Bu... Adik-adikku semua..." Mulai Faris, suaranya rendah namun jelas, berat dan berwibawa, gaya bicaranya yang khas, berirama dan penuh penekanan. "Selama ini... dari awal kita berjuang, dari hari ke hari kita susah senang bareng-bareng... Kalian semua pasti mikir kan? Pasti pikir kalau kita pindah ke sini, sama saja kayak pindah-pindah yang dulu-dulu? Pindah sewa, pindah numpang, bayar orang lain, takut diusir, takut kontrak habis, takut ada aturan yang ngalangin?"

Ia berhenti sejenak, melihat raut wajah mereka yang mulai saling pandang. Ibu Arum Sari mengangguk pelan, ragu-ragu. "Iya, Nak... Memang begitu kan? Ibu pikir tempat ini bagus sekali, alhamdulillah kita dapat sewaan yang nyaman begini... Ibu bersyukur sekali kamu bisa cari tempat sebagus ini, meskipun pasti sewanya lumayan mahal ya..."

Faris menggeleng pelan, senyum tipis mulai terukir di bibirnya, senyum kemenangan dan kebahagiaan yang mendalam. Ia mengeluarkan sebuah map cokelat tebal dari saku jaketnya, map yang selama ini selalu ia bawa ke mana-mana, map yang berisi masa depan seluruh keluarganya. Ia letakkan map itu di tengah-tengah lingkaran, di atas kain bersih, lalu ia buka perlahan memperlihatkan tumpukan kertas-kertas berstempel resmi, peta lokasi, dan surat-surat kepemilikan yang tertulis jelas nama Wijaya Hidayat sebagai pemiliknya.

"Pak... Bu... Coba lihat ini baik-baik ya... Baca pelan-pelan tulisan dan stempelnya," ucap Faris pelan namun tegas. "Dari dulu... sejak kita kena masalah di Surabaya, sejak si Bima itu mulai ngalangin jalan kita, sejak kita disuruh pindah dan diancam penutupan... Abang mikir dalam-dalam. Abang mikir, sampai kapan kita begini terus? Sampai kapan kita jadi orang asing di tempat orang lain? Sampai kapan kita kerja keras, cari uang, tapi uangnya habis cuma buat bayar sewa tanah, bayar sewa bangunan, buat enakin hidup orang lain?"

Ia berhenti, menghisap rokoknya dalam-dalam, mengembuskan asapnya perlahan ke udara, matanya berkaca-kaca menatap orang tuanya yang mulai menunduk membaca kertas-kertas itu dengan tangan gemetar hebat.

"Abang ingat pesan Bapak... Ingat pesan Bapak dulu, kalau rezeki itu kalau dicari dengan cara halal, dengan niat baik, dan dengan kerja keras... Allah akan bukakan jalan yang seluas-luasnya. Abang ingat itu terus... Makanya, waktu itu Abang coba belajar, coba berusaha cari jalan lain selain cuma ngandelin tenaga otot sama kerja bengkel saja. Abang belajar soal saham, belajar soal perputaran uang, belajar berhitung... Dan Alhamdulillah... Rezeki itu datang juga, Pak... Bu... Datang di saat yang paling pas, datang cukup banyak, cukup buat Abang simpan, cukup buat Abang urus diam-diam tanpa kalian ketahui."

Suara Faris makin bergetar tertahan haru. Ia menunjuk ke arah sekeliling pekarangan luas itu, ke rumah, ke bengkel, ke sawah di belakang, ke segala apa yang ada di depan mata mereka sekarang.

"Abang kumpulkan uang itu... Abang tambah sama tabungan Abang sendiri yang dikit-dikit dikumpulin dari hasil servis motor, dari hasil apa saja... Lalu Abang cari tempat... Cari tempat yang bagus, subur, luas, aman, strategis... Dan Abang ketemu tempat ini... Di Desa Ketajen, Tumapel ini... Abang urus semuanya diam-diam... Dari cari pemiliknya, negosiasi harga, urus surat-surat, balik nama, bayar lunas semuanya... Semuanya Abang kerjakan sendiri diam-diam, biar nanti pas sampai di sini... pas kalian berdiri di tempat ini... Abang bisa kasih kabar paling bahagia ini..."

Ia diam sejenak, menunggu sampai Bapak dan Ibu mengangkat wajah, air mata sudah membanjiri wajah mereka berdua, tangan mereka gemetar memegang surat-surat itu seolah memegang benda paling berharga di dunia. Guntur, Ali, Maya, dan Miya sudah melongo tak percaya, mulut mereka mangap-mangap tak bisa bicara, matanya beralih dari surat-surat itu ke wajah Abang mereka yang tersenyum lebar dan bangga.

"Dan sekarang... Abang bilang sama kalian semua, dengan lantang dan tegas... Dengarkan baik-baik ya... Tempat ini... Tanah ini... Rumah ini... Bengkel ini... Semua apa yang ada di depan mata kita sekarang... Ini bukan tanah sewaan... Bukan tanah orang lain... Tapi ini tanah kita sendiri! Milik kita sepenuhnya! Sudah lunas dibayar, sudah sah secara hukum, sudah atas nama Bapak Wijaya Hidayat!"

Kalimat itu meluncur dari mulut Faris dengan kekuatan yang luar biasa, menggema di udara sore yang tenang itu. Seolah ada petir bahagia yang menyambar hati setiap anggota keluarga. Ibu Arum Sari langsung menutup wajah dengan kedua tangan, menangis tersedu-sedu tak kuat menahan rasa bahagia yang meluap-luap. Bapak Wijaya menjatuhkan tubuhnya perlahan ke belakang, bersandar pada pohon, matanya menatap langit sambil berucap syukur tak henti-hentinya, air mata kebanggaan dan haru mengalir deras di pipi keriputnya.

"Ya Allah... Ya Allah... Nak Faris... Kamu... Kamu menyembunyikan ini semua dari kami? Kamu kerjakan ini semua diam-diam? Dengan uang hasil jerih payahmu sendiri?" tanya Bapak parau, suaranya pecah tak percaya.

Faris mengangguk, berlutut di depan orang tuanya, mencium tangan mereka bergantian dengan penuh hormat dan cinta. "Iya, Pak... Iya, Bu... Maafkan Abang kalau selama ini diam saja, kalau bohong sedikit bilang ini sewaan... Abang cuma mau kasih kejutan... Abang cuma mau lihat wajah Bapak dan Ibu senang begini... Abang mau bilang... Sekarang kita nggak perlu takut lagi... Nggak perlu lari-lari lagi... Nggak ada orang yang bisa ngusir kita... Nggak ada aturan yang bisa ngalangin kita... Karena kita berdiri di atas tanah sendiri, di atas hak kita sendiri yang halal dan berkah."

Ia menoleh ke arah Guntur dan Ali yang sudah menangis bahagia sambil saling rangkul, dan ke arah si kembar yang sudah menangis sambil tertawa berlari memeluk Abangnya.

"Gun... Ali... Adik-adikku... Ingat ini hari... Ingat tanggal ini... Hari di mana keluarga Hidayat punya tanah sendiri, punya rumah sendiri hasil keringat sendiri... Ini baru awal... Ini baru langkah pertama. Nanti bengkel kita kita bangun lebih besar lagi, kita lengkapi alat-alatnya, kita buka cabang, kita buka sekolah kejuruan... Dan warung Ibu nanti kita besarkan... Semuanya bakal kita kembangkan di sini, di tanah subur ini... Di tempat yang Allah titipkan buat kita lewat tangan Abang."

Matahari terbenam sempurna di balik bukit kecil di kejauhan, menyisakan langit berwarna merah jingga yang sangat indah, seolah langit pun ikut merayakan kebahagiaan keluarga itu. Di Desa Ketajen, Tumapel ini, di atas tanah milik sendiri, perjuangan panjang mereka berubah menjadi kemenangan besar. Dan Faris Hidayat anak sulung yang sederhana namun penuh wibawa itu, tersenyum puas, karena ia telah menunaikan janji terbesarnya: membahagiakan orang tuanya dan membawakan masa depan cerah bagi adik-adiknya.

1
falea sezi
semangat nanti q kirim hadiah
falea sezi
author orang mana
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Sidoarjo
total 1 replies
falea sezi
bima kn otaknya kosong🤣 cm ngandalin harta orang tua nya aja😒
Ilham
BG jangan gantung gtu cerita nya npa bg
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Siap Kak Ilham
😌 Jangan khawatir… cerita ini nggak bakal jadi ,gantungan kunci doang, bakal lurus sampai garis finis persis di lintasan balap Nanti bab-babnya menyusul cepat kok 😂
total 1 replies
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut bg👍
Ilham
lanjut BG jangan gantung bg
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut BG cerita dari awal mantap bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!