Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Untuk Gadis yang Pernah Tinggal di Sini
Dua hari sebelum mulai bekerja di Amerta, Amaya pergi ke sebuah klenteng tua di pinggir Jakarta.
Ia datang ketika halaman masih sepi. Asap dupa naik tipis di depan altar, lonceng kecil sesekali terdengar dari ruang utama, dan para pengunjung berbicara dengan suara rendah. Amaya lebih dulu memberi hormat sesuai kebiasaan keluarga Halim, lalu meminta izin kepada penjaga sebelum membawa persembahan kertas ke tungku. Ia tidak menjadikan tempat itu panggung. Yang dibutuhkannya hanya api, kesunyian, dan sebuah cara untuk mengirim perpisahan kepada orang yang tak memiliki makam untuk didatangi.
Luka di pahanya masih menarik setiap kali berjongkok. Penjaga menawarkan kursi kecil, tetapi Amaya memilih duduk di sana agar bisa memasukkan persembahan satu per satu dengan tangannya sendiri.
Pada pagi yang sama, Sebastian juga berada di sana.
Adrian pernah berkata bahwa tempat sunyi bisa merapikan pikiran yang terlalu ramai. Karena itu Sebastian duduk di bangku kayu, mengikuti petunjuk dari buku kecil, lalu mengulang paritta pendek tiga kali.
Tidak berhasil.
Setiap kali menutup mata, yang muncul justru bibir Amaya. Setelah itu telapak tangannya. Lalu wajah perempuan itu ketika berdiri dengan baju pasien dan membalik tuduhan Selena tanpa menaikkan suara.
Sebastian membuka mata dengan kesal.
Ia datang untuk mengeluarkan Amaya dari kepala, bukan memberi perempuan itu ruang meditasi khusus.
Saat hendak pergi, ia melihat sosok bergaun sederhana berjalan pincang menuju area pembakaran kertas. Amaya membawa baskom besar yang ditutupi kain merah. Penjaga klenteng membantunya menaruh baskom di dekat tungku.
Sebastian berhenti di balik pilar.
Amaya membuka kain penutup.
Di dalamnya berjajar belasan boneka kertas berbentuk laki-laki. Wajah mereka dicetak menyerupai aktor dan penyanyi populer. Ada yang memakai setelan hitam, seragam pengawal, sweater putih, bahkan celemek dapur.
Sebastian menatap tanpa berkedip.
Amaya mengambil boneka pertama. "Yang ini bodyguard. Bahunya lebar, cocok buat jaga pintu."
Boneka itu masuk ke api.
"Yang ini anjing manis penurut. Mukanya kelihatan gampang disuruh duduk."
Boneka kedua ikut terbakar.
"Bos lalim. Banyak uang, sedikit omong. Lumayan buat bayar tagihan."
Boneka ketiga.
"Suami lembut. Bisa masak, bisa pijat, nggak gampang percaya air mata orang lain."
Penjaga yang membantu menahan pintu tungku berdeham untuk menyembunyikan tawa. "Banyak sekali, Nona."
"Dia terlalu lama dapat satu laki-laki yang salah. Aku kasih pilihan lebih banyak."
"Semua mau dikirim?"
"Semua. Biar dia pilih sendiri untuk pertama kalinya."
Penjaga itu tidak memahami siapa `dia`, tetapi ia melihat kesungguhan pada wajah Amaya dan tidak bertanya lagi. Ia hanya membantu mengatur kertas supaya terbakar aman tanpa beterbangan ke halaman.
Sebastian melipat tangan di dada. Kebutuhan perempuan itu ternyata banyak. Selera juga campur aduk.
Amaya terus memasukkan boneka kertas satu per satu. Ketika tinggal empat, senyum di wajahnya menghilang.
"Ini semua buat kamu," katanya pelan.
Sebastian tidak bisa melihat siapa yang diajak bicara.
Hanya Amaya yang tahu.
Ia sedang berbicara kepada gadis yang pernah tinggal di tubuh ini.
"Otak cinta butamu harus dipangkas," lanjutnya. "Cowok brengsek nggak pantas dapat ginjal, hidup, atau air matamu. Cowok baik banyak. Lihat, satu baskom penuh."
Kertas berwarna melengkung di dalam api. Wajah-wajah tampan berubah menjadi abu.
Amaya menatapnya sampai warna terakhir hilang. Dalam kehidupan lama, pemilik tubuh ini bahkan tidak bebas memilih kapan harus marah. Setiap penolakan disebut tidak tahu diri. Setiap keinginan dianggap persaingan dengan Selena. Satu-satunya cinta yang ia pertahankan justru dipakai sebagai tali untuk menuntunnya menuju pengorbanan berikutnya.
Karena itu boneka-boneka konyol tersebut bukan doa meminta suami. Mereka adalah olok-olok terakhir bagi alur yang pernah mengurung seorang perempuan hanya karena ia ingin dicintai.
"Bukan kamu nggak pantas dicintai. Penulisnya saja nggak memberimu kekuatan untuk melawan. Semua jalanmu ditutup, lalu kamu disalahkan karena nggak keluar."
Amaya mengambil boneka terakhir, yang memakai sweater lembut dan membawa gambar dua orang tua.
Tangannya gemetar sedikit.
"Kalau benar jiwa bisa bertukar tempat, pindahlah ke duniaku. Jadi anak Papa dan Mamaku. Mereka akan menyayangimu sampai kamu bosan. Pakai kamarku, habiskan kartuku, marahi sopir kalau terlambat. Hidup baik-baik."
Matanya panas, tetapi ia tersenyum.
"Aku yang menggantikanmu di sini. Aku akan hidup paling puas, merebut semua yang seharusnya jadi milikmu, dan nggak membiarkan siapa pun memakai kematianmu untuk terlihat menyesal."
Boneka terakhir jatuh ke api.
Sebastian hanya menangkap potongan kata dari jarak jauh. Ia melihat Amaya mengusap sudut mata dan mengira perempuan itu sedang meminta deretan suami idaman dari dunia arwah.
Setelah Amaya meninggalkan tungku bersama penjaga lain, Sebastian keluar dari balik pilar.
Ia mendekati penjaga klenteng yang tadi membantu.
"Dia membakar semua itu untuk siapa?"
Pria tua tersebut menatapnya, lalu arah Amaya pergi. "Katanya untuk seseorang bernama Amaya."
"Dirinya sendiri?"
"Mungkin."
"Orang hidup membakar persembahan untuk dirinya sendiri, bisa sampai?"
Penjaga itu tersenyum tipis. "Kalau merasa kurang, dilengkapi. Kalau merasa kehilangan, dikompensasi. Niat manusia kadang lebih tahu alamatnya daripada kita."
Sebastian melihat abu boneka kertas beterbangan di atas tungku.
Jadi Amaya merasa kekurangan laki-laki sampai harus menyusun satu tim sendiri?
Ia bahkan sempat memperhatikan kategori-kategorinya.
Sebastian memijat dahi, berbalik, lalu berjalan cepat menuju parkiran.
"Aku ini sakit," gumamnya.