Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Tapi saya datang jauh-jauh ke sini bukan cuma mencari telur emas itu, Nak Adit."
Cokro menunjuk ke arah tangan Adit yang masih menggenggam sebutir Telur Kristal Zamrud.
"Benda hijau di tanganmu itu. Aromanya bahkan tercium sampai ke hidung saya dari jarak sejauh ini."
Adit mengangkat telur puyuh itu sejajar dengan dadanya. "Oh, ini? Ini namanya Telur Kristal Zamrud."
Cokro menelan ludah dengan kasar. Matanya tidak berkedip menatap telur kecil tersebut.
"Boleh saya melihatnya lebih dekat? Saya akan bayar berapa pun harganya untuk itu." tanyanya dengan nada sedikit memohon.
Adit menyodorkan telur itu ke depan. Cokro menerimanya dengan kedua tangan yang sedikit gemetar antusias.
Ia mengeluarkan sebuah kacamata pembesar kecil dari saku jasnya.
Cokro meneliti setiap inci cangkang telur hijau itu dengan sangat teliti dan hati-hati.
"Luar biasa. Sempurna. Tidak ada cacat sedikit pun pada struktur selularnya."
"Bolehkah saya mencicipinya satu butir saja saat ini juga? Saya benar-benar tidak sabar."
Adit tersenyum ramah. "Bapak tunggu di teras saja, biar saya rebuskan sebentar."
"Tolong setengah matang saja, Nak Adit. Jangan sampai suhu panasnya merusak energi murninya," pesan Cokro dengan cepat.
Adit mengangguk dan masuk ke dapur, sementara Riana menemani Cokro duduk di kursi teras depan.
Lima menit kemudian, Adit keluar membawa mangkuk keramik kecil berisi telur puyuh rebus.
Cangkangnya sudah dikupas sebagian oleh Adit di dapur.
Uap hangat mengepul tipis dari telur itu, membawa aroma segar yang membuat perut Cokro berbunyi nyaring.
Cokro mengambil telur itu dengan sangat hati-hati menggunakan sendok kecil.
Nyam.
Ia memasukkan telur itu utuh ke dalam mulutnya tanpa ragu.
Mata Cokro terpejam rapat menikmati sensasinya.
Rahangnya bergerak pelan mengunyah tekstur telur yang sangat lembut tersebut.
Tiba-tiba, wajah Cokro berubah memerah seperti kepiting rebus.
Keringat hitam berbau tidak sedap mulai keluar merembes dari pori-pori kulit tangan dan lehernya.
Pengawalnya panik dan hendak melangkah maju mendekati majikannya.
"Tuan Cokro! Anda keracunan?" teriak pengawal itu cemas.
Cokro mengangkat sebelah tangannya, menghentikan langkah pengawalnya seketika.
"Jangan sentuh aku! Ini bukan racun, bodoh."
Cokro membuka matanya lebar-lebar. Tatapannya terlihat jauh lebih jernih dan tajam dari sebelumnya.
"Ini adalah proses detoksifikasi instan. Tubuhku sedang membuang racun menumpuk selama puluhan tahun."
Ia mengusap keringat hitam kotor itu dengan sapu tangan kain dari sakunya.
Kulit wajah Cokro yang sebelumnya keriput kini tampak sedikit lebih kencang dan bercahaya sehat.
Riana menutupi mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut melihat perubahan instan tersebut.
"Ini gila. Ini benar-benar produk yang gila," gumam Cokro dengan suara bergetar karena kegirangan.
Ia menatap Adit dengan tatapan penuh ambisi bisnis yang menyala-nyala.
"Nak Adit, saya tidak mau membuang waktu dengan basa-basi lagi."
Cokro memberi isyarat jari pada pengawalnya yang masih berdiri bingung.
Pengawal itu segera maju dan meletakkan sebuah koper hitam besar di atas meja kayu teras.
Klip klip.
Koper itu dibuka lebar. Isinya bukan tumpukan uang tunai, melainkan buku cek bank dan beberapa dokumen perjanjian resmi.
"Saya berani membayar dua miliar rupiah di muka untuk hak distribusi tunggal Telur Kristal Zamrud ini."
Riana terkesiap keras mendengarnya.
Dua miliar adalah angka yang sangat fantastis dan tidak masuk akal untuk ukuran bisnis di desa kecil.
Namun, Adit tetap memasang wajah tenang tanpa menunjukkan ekspresi terkejut yang berlebihan.
"Dua miliar memang angka yang sangat besar untuk ukuran petani desa seperti saya, Pak Cokro."
"Tapi saya tahu pasti kalau nilai barang saya di kalangan orang kaya ibukota jauh lebih mahal dari angka itu."
Cokro tersenyum tipis merespons ketenangan Adit. "Kamu sangat pintar membaca peluang pasar, Nak."
"Tentu saja. Telur ini bukan sekadar bahan makanan biasa, tapi obat awet muda yang dicari banyak konglomerat."
"Lalu, apa syarat darimu agar kita bisa sepakat?" tanya Cokro menantang.
"Pertama, hak distribusi tunggal Anda hanya berlaku untuk pengiriman di luar daerah Provinsi Jawa Tengah."
"Di dalam area provinsi ini, hak distribusinya mutlak akan dipegang oleh Mbak Riana," ucap Adit sambil menunjuk ke arah Riana.
Riana sangat terkejut dan menatap Adit dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
"Kedua, harga dua miliar itu hanya berlaku untuk kontrak sewa selama satu tahun pertama saja."
"Tahun berikutnya, kita akan melakukan negosiasi ulang berdasarkan harga pasar yang terbentuk."
Cokro tertawa keras sampai bahunya terguncang naik turun.
"Hahaha! Kamu benar-benar pebisnis berdarah dingin yang licik, Adit."
"Baiklah, tidak masalah. Saya setuju dengan semua syarat yang kamu ajukan."
Cokro mengambil pena emas dari saku dalam jasnya dan mulai menulis di atas lembaran cek.
Ia menyerahkan cek senilai dua miliar itu kepada Adit beserta dokumen kontrak untuk ditandatangani.
"Ini pembayaran penuh untuk tahun pertama kita. Besok pagi tim kargo khusus saya akan datang mengambil panen pertama."
Adit menerima cek itu dan menandatangani kontraknya dengan tenang.
"Senang bisa berbisnis dengan Anda, Pak Cokro."
"Sama-sama. Jaga baik-baik peternakan emasmu ini, Adit."
Cokro dan pengawalnya berdiri, berpamitan singkat, lalu kembali masuk ke dalam mobil SUV mewah mereka.
Mobil itu perlahan meninggalkan pekarangan rumah, menyisakan Adit dan Riana yang masih berdiri di teras.
Riana langsung memeluk lengan Adit saking senangnya melihat kertas di tangan pria itu.
"Adit! Kamu baru saja dapat dua miliar! Dan kamu masih memikirkanku untuk memegang distribusi lokal?"
"Tentu saja, Mbak. Mbak Riana kan orang pertama yang percaya padaku sejak aku miskin."
Adit menatap deretan angka nol pada cek di tangannya dengan perasaan puas.
Di dalam kepalanya, suara sistem kembali berbunyi nyaring.
[Pemberitahuan Sistem: Transaksi skala besar berhasil dilakukan.]
[Dana sebesar Rp 2.000.000.000 telah masuk ke dalam catatan kekayaan Tuan.]
[Selamat! Tuan telah mencapai tonggak pencapaian Miliarder Desa.]
[Hadiah Pencapaian: Cetak Biru Sistem Irigasi Mata Air Suci Terbuka.]
Adit tersenyum sangat lebar. Rencananya untuk mendominasi pasar kini sudah semakin tidak terbendung.
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.