"Kau terlalu banyak menyimpan kebohongan sehingga kejujuran mu di pandang semu sekarang."
Kepergian Reno bukan lah sesuatu yang salah, aku yang salah disini aku paham arti perginya. "Jangan pergi! jangan tinggalkan rumah."
Dia amat marah setelah berita itu sampai ke telinga nya...
yukk buruan cari sepenggal kalimat ini dibalik cerita aku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah lah
Suara mobil awal aku merintis karir hingga akhirnya berkarir pulang, membawa cerita tersendiri buat Tante. "Mama kakak Adri datang," aku datang menghampiri Tante, memeluknya dan seperti biasa memanjakan dia dengan membawa tas dan laptop nya.
"Kapan datang dri?" Tante duduk disambut kami anak-anaknya, ada juga bibi cuman ia hanya melaksanakan tugasnya. "Udah-udah mami mau ngobrol sama kakak dulu,kalian belajar sana." dapur simpel yang kami ubah menjadi mini bar sederhana adalah tempat cerita panjang terjadi.
"Umur mu berapa dri?" Tante datang dengan segelas minuman "23 Tan, baru ini aku ambil S1 Tan, enggak bisa lagi D3 itu penyelamat di Bank." Curhat ku ke Tante.
Begitulah wanita itu, dia wanita yang realistis serta dapat mengimbangi manja dan tegas sehingga aku dan anak-anaknya dapat menjadi orang disiplin serta bertanggung jawab atas hidup.
"Baguslah, tuntaskan lah... Kan sebentar itu." Aku mengangguk pelan."Om mu itu ada atasan nya, baik Dri Cina. Yang terpenting satu agama." Sendirian kuat nihhh.
"Bagus juga tu Tan,boleh lah bagi nomor." Kata ku tertawa.
"Oh iya Tan," segelas minuman sekali teguk membuatku berani menanyakan hal ini kepada Tante, " apa?" pelan namun tegas.
"Waktu Tante pun masih merintis di Jakarta, Kenapa Tante mau bawa aku ke hidup Tante? Sampai dibilangin orang Tante punya anak diluar nikah karena aku."
Diam seperti itu yang tak ku suka, ia tau aku ingin mulai mengulik kisah lama. " huhh." Senyuman tipis itu mengundang air mata.
"Kalau di ingat ya Dri,Dulu itu... Hah... Masih kecil bangett kau sama Tante kelas 1 SMP kau ku bawa ke Jakarta,urus ini itu ribetnya minta ampun sampai ku bikin dulu surat adopsi mu... Ih kalau ingat itu misalnya enggak kau anggap aku Mamak mu aku enggak tau lah aku kek mana kau."
"Enggak lah Tan, walaupun bukan manggil mami atau ibu aku ke Tante dengan dirawat Tante aja udah senang kali aku."
Tante bikin wajah lelucon, terus bibi datang menghampiri kami dengan buah potong.
"Adriella ni dulu bukan siapa-siapa ku Bi, Mama Bapak nya cerai. Terus tinggal sama neneknya satu kampung kami, entah Kenapa waktu itu mereka ribut besar dua keluarga. Ini anak ya, kelas 4 atau 5 SD udah berdarah-darah, itu keloid di dengkul sama di keningnya dulu dalam banget lukanya enggak tau aku ini anak di apain sama keluarganya... Yang aku tau dan dengar mereka kesusahan lah ngerawat ini anak, bapak ku dulu yang ambil dia, dibawa kerumah.Mama sayang bangett sama ini anak sayang nya kan dia masih kecil kali masih butuh perhatian jadi enggak sanggup lah orang mamak ngerawat dia, mau dibikin ke panti Asuhan..."
Aku menangis haru melihat Tante menceritakan detail sekali, dia masih seingat itu tentang kisah ku. " aku kan bagian hukum, tau lah aku kan gimana Amanin ini anak. Ku bikin dulu dia di panti Asuhan, ada kali 5-7 kali buat permohonan untuk adopsi."
Hahaha bibi yang awal nya gak mau rumpi juga ikut ngerumpi dengan kami. " Ya gak bilang apa itu juga alasan kenapa aku nikahnya lama,tapi puji Tuhan nya ketemu bapak. Itu Bapak mulai SMA Lo naksir sama aku, cuman dulu kehidupan kita jauh banget ekonomi nya enggak berani jadinya Bapak dekat-dekat sama aku eh taunya dia merantau ke luar negeri. Ya mungkin itulah jodoh kali ya ."
"Untung nya ibu juga belum nikah."
"Benar-benar"
"Berarti kalau soal urusan nikah, Tante enggak terlalu maksain aku bangett kan?" Tanya ku lembut.
"Enggak! Sembuhkan dulu trauma mu, baru kau berani bahas pernikahan,Konsultasi lah ke psikolog tentang gangguan tidur mu, Tante takut Lo Dri kamu stress dan gak fokus karena itu." Aku mengangguk pelan. "Iya Tan."
Kembali ke kamar ku, aku memiliki kamar pribadi di sini, harusnya ini kamar ku sendiri cuman sekarang Rika adikku sudah mulai dewasa dia sudah mulai tau privasi,dan sekarang ia mengikuti langkahku menuju kamar ia lah hanya untuk meminta kunci kamar agar diserahkan padanya. "Ara sudah aku suruh tidur di kamar Mami cuman kalau Papi pulang pasti di dibalikin ke aku. Aku sebel."
"Iya udah,kamar kakak buat adek...tapi dirawat ya." Dia senang sampai-sampai memeluk ku erat, "kakak kenapa sih enggak lebih lama tinggal di rumah." Aku paham betul dibalik ucapan itu, apalagi Rika sudah ku anggap adikku sendiri.
"Makan apa ya?" Hahahaha kebiasaan lama nihhh entah kenapa adek itu suka banget dengan namanya menikmati harta kakak.
"Cek out gih." Senangnya luar biasa, terlebih anak SMP emang lagi puber-pubernya jadi untuk urusan segala hal yang booming mereka jago nya.
"Kak ini cakep kan bajunya."
"3 barang cukup ya dek." Mulai kecil aku membiasakan didikan dengan tegas dan batasan yang real supaya dia tidak merasa diabaikan permintaan nya dan tidak terlalu semena-mena akan permintaan nya. "Papi kalau pulang itu sering nanyain kakak, wajar sih dah lama kan kakak sama papi gak ketemu."
"Benar sihh dek.Ntar kita family time ya ajak papi kalau udah pulang."
"Kakak masih ingat gak sih yang jatuh dari motor waktu dijemput Papi, aku masih Play ground itu ya."
"Iya masih kecil, kening kamu juga luka kan dek? Ada bekasnya mirip kakak?"
Poni tersingkap dari wajahnya, bekas keloid itu terjadi karena waktu kami jatuh dari motor dia terpental lumayan jauh... enggak ada pembedaan Om antara anaknya dan diriku, ketika menyelamatkan ia lebih dahulu menolong orang yang membutuhkan. Itu alasan Tante memilih dia sebagai ayah kami di rumah.
Panjang cerita berakhir kami tidur sama, malam yang tenang membangunkan ku dengan mimpi-mimpi aneh itu lagi. Entah kenapa sosok anak itu datang lagi ke dalam mimpi ku "Kalau kamu mau pergi aku kasih gambar ku ya buat kamu." Ingatan ku berusaha mengingat-ingat wajah kecil itu sampai sakit rasanya.
"Tuhan, jikalau boleh aku meminta tolong pertemukan aku dengan dia lagi." Hatiku tenang dengan segelas air dingin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menjelang pagi Tante sudah selesai dengan olahraga nya, rencana kami pagi ini ke pasar dengan motor sesuai dengan permintaan Tante.Nostalgia dengan motor itu merupakan quality time sempurna untuk hubungan anak dan ibu tanpa aliran darah ini.
Untuk pertama kalinya aku dapat di bonceng oleh Tante,dia menunjukkan skil bawa motor di kawasan komplek dengan ku. "Lumayan lah Tan, walaupun belokan nya patah." kata ku tertawa dan kalau kami tertawa itu dipastikan kuntilanak insecure,parah ributnya.
"Hahahaha "
"Ehhhh"
"Dri...driii" suara selain motor matic suspensi 150.
Ya walaupun di plastik putih merah hitam itu kebanyakan gorengan dan makanan sudah saji yang terpenting kebahagiaan kami sudah tercapai.
"Belajar masak lah kau Dri, biar jualan kita." kata Tante padaku... Inilah salah satu hal yang ku syukuri punya ibu seperti Tante tidak menuntut anak lebih tapi tetap terus berharap dengan cara tidak putus asa dalam memberikan arahan.