Abiyasha Harsha Pranacipta kehilangan ingatannya lima tahun lalu karena sebuah insiden kecelakaan hebat. Selama itu pula ia berusaha mengembalikan ingatannya mengenai wanita yang selalu muncul dalam mimpi buruknya.
Yasmine Abichara, seorang sekretaris direktur baru sebuah perusahaan besar di Jakarta merasa kaget ketika mengetahui bosnya adalah pria dimasa lalu yang ingin ia lupakan. Timbulnya benih-benih cinta di hati Yasmine membuatnya bertanya-tanya, mampukah ia mencintai Abiyasha saat pria itu memiliki hubungan erat dengan masa lalunya? Dan bagaimana hubungannya dengan Rio saat Yasmine tahu sejak awal tidak ada cinta untuk pria itu sedikitpun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuanitaaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Bagian 7|
Yasmine membekap mulutnya ketika mendengar penuturan dari Maya. Mereka berdua sedang duduk di sebuah kafe. Ditemani secangkir cappucino untuk Maya dan cokelat panas untuk Yasmine.
"Hilang ingatan?!" Yasmine mengulang penuturan Maya.
"Ya, ada gosip yang mengatakan kalau Pak Biyash pernah kecelakaan parah karena menabrak pembatas jalan. Nyawanya hampir terenggut karena insiden itu," jelas Maya.
Tadinya Yasmine memang mengajak Maya untuk ke kafe pada jam makan siang. Ia bertanya tentang Abiyasha. Bukan apa-apa, Yasmine bingung saat Abiyasha tidak mengenalinya. Pasti ada yang salah... Begitu pemikirannya. Ia pikir Abiyasha hanya berpura-pura tidak mengenalnya. Namun semuanya berubah ketika Maya mengatakan hal yang bahkan tidak mampu diterima akal sehat Yasmine.
"Kenapa anda bertanya soal Pak Biyash?" tanya Maya tiba-tiba. Ia merasa aneh saja saat Yasmine menyeretnya ke kafe setelah bos besarnya itu meneleponnya dan mengatakan kalau sekretaris barunya itu diizinkan pulang. Yasmine tiba-tiba saja menanyakan tentang masa lalu Biyash seolah wanita itu mengenalnya sebelumnya. "Apa anda mengenal Pak Biyash sebelumnya? Atau kalian pernah dekat atau bagaimana?"
Yasmine menggeleng kaku. "Tidak. Umm... Sejujurnya kami hanya teman. Aku hanya pernah melihatnya sesekali di kampus. Jadi saat pertemuan kami tadi... Umm, aku bertanya-tanya kenapa dia tidak mengenaliku." Yasmine menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk.
"Benarkah?"
"Ya. Hanya sebatas itu. Oh, apa kau bisa ceritakan kapan kecelakaan itu terjadi?" tanya Yasmine. Lagi-lagi mengorek informasi dari Maya yang jelas tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu antara Yasmine dan Abiyasha.
Jangan katakan...
"Lima tahun lalu. Kecelakaan itu terjadi sekitar lima tahun lalu. Pasca kecelakaan itu, beliau koma selama seminggu. Bukankah sebuah keajaiban kalau dia kembali bangun dan hidup sampai saat ini?"
Lima tahun lalu... Ya Tuhan. Selama ini aku bertanya-tanya bagaimana kabar pria itu selama lima tahun. Aku berpikir mungkin pria itu sudah menemukan kehidupannya yang baru dan lebih baik. Tapi ternyata... Dia bahkan tidak mengingatku sedikitpun.
"Pantas saja dia tidak mengenaliku..." gumam Yasmine dengan setengah melamun.
"Dia bahkan tidak mengenali orang tuanya. Menurut gosip, Pak Biyash berubah menjadi pria yang menakutkan dan bos yang menyeramkan sejak kejadian itu. Tapi namanya juga melambung tinggi karena kepiawaiannya mengelola perusahaan," jelas Maya. "Saya tidak tahu banyak dan mendengar dari gosip-gosip teman sekantor saat membicarakan atasan. Tidak sedikit lho yang naksir Pak Biyash."
Yasmine memaksakan senyum. "Tidak diragukan lagi!"
"Benar. Tapi tidak ada satupun yang ingin berurusan dengannya. Pak biyash sosok yang ditakuti di kantor. Selama dua tahun saya bekerja di kantor ini, saya bahkan tidak pernah melihat Pak Biyash tersenyum sekalipun. Sepertinya semua gosip yang dibicarakan karyawan kantor selama ini memang benar."
Yasmine mengangguk. "Aku tahu dia pria yang hebat..."
"Apa anda tahu? Bu Tarissa, sekretarisnya yang lama sering sekali mendapat dampratan dari Pak Biyash. Kabarnya mood bos besar itu sering memburuk. Makin parah kalau kepalanya sakit. Biasanya dia bisa menebarkan aura intimidasi pada siapa saja yang ada di dekatnya. Jadi saya sarankan anda untuk tetap berada jarak aman. Pak Biyash bukan atasan yang bisa diajak berteman atau mengobrol."
Yasmine tertawa. "Aku akan mengurusnya, kok. Tenang saja!"
...***...
Makan siang itu berakhir dengan cepat. Yasmine dan Maya berpisah di kantor untuk melanjutkan tugasnya masing-masing. Yasmine kembali ke ruangan pribadinya yang mungil dan mulai menyusun jadwal untuk pria itu melalui Tarissa. Wanita itu mengirimkan beberapa dokumen penting melalui email.
Untuk ruang kerjanya, Yasmine merasa ia hanya melanjutkan selera Tarissa. Sekretaris Abiyasha yang dulu itu telah mengosongkan meja dan laci kecil yang ada di ruangan tersebut, tapi tidak dengan satu dua hiasan yang menghias beberapa sudut ruangan. Seperti bunga plastik yang anggun dan beberapa vas bunga kecil lengkap dengan kaktus mini di dalamnya. Yasmine bingung harus memenuhi ruangan itu dengan apa. Hanya ada satu meja dan kursi, laci untuk menyimpan berkas-berkas, tiang untuk menggantung mantel, dan satu sofa berukuran sedang yang sepertinya digunakan untuk menerima tamu.
Disela-sela kesibukannya, Yasmine mengingat ucapan Maya. Abiyasha kehilangan ingatannya. Dan hal itu adalah sebuah fakta yang tidak pernah terpikirkan oleh dirinya. Tapi bagaimana mungkin takdir mempertemukannya kembali dengan Abiyasha sekaligus memaparkan fakta kalau pria itu sudah menjadi asing karena kehilangan semua memori tentang dirinya?
Dan apa yang akan Yasmine lakukan selanjutnya? Apa ia harus mengatakan semuanya pada pria itu atau berpura-pura melanjutkan sandiwaranya dengan konsekuensi kalau ia akan dilupakan sepenuhnya oleh pria itu? Mana yang paling baik?
Yasmine menghentikan aktivitasnya. Ia menatap laptopnya dengan pandangan kosong.
Seandainya baik dulu ataupun sekarang aku tidak bertemu denganmu... Mungkinkah kita akan sama-sama hidup bahagia?
...***...
"Ibu tidak usah berlebihan begitu," seru Abiyasha ketika Amara dan Papa wanita itu sudah pulang. Meninggalkan Ibu, ayah, dan dirinya di ruang makan untuk mengobrol banyak hal lagi. "Kita tidak akan rugi meskipun aku tidak bertunangan dengan Amara dan bersandiwara dengan mencintainya."
"Tentu saja kita akan rugi, Bi. Kau pikir posisi yang kau dan ayahmu dapatkan bukanlah dukungan dari Om Bram? Kau pikir semua yang kita dapatkan adalah hal yang instan? Bagaimana kalau mereka memutuskan hubungan diplomasi antar perusahaan kalau kau bersikeras menolak perjodohan ini? Om Bram pasti akan sangat kecewa."
Abiyasha mendesah. "Ibu, aku mohon. Seandainya Wijaya Group memang memutuskan hubungan dengan perusahaan kita, aku masih dapat menanggulanginya dengan kemampuanku. Apa ibu tidak percaya denganku?"
Abimana berdehem. Biasanya ia selalu menjadi penengah antara dua oran yang saling bicara dan adu argumen itu. Dan kali ini gilirannya untuk bersuara. "Itu akan sangat beresiko, Bi. Om Bram akan menarik semua dana investasinya pada perusahaan kita."
Merasa tidak mendapatkan dukungan dari sang Ayah, Abiyasha merasa kalut. "Itu artinya kalian berdua mendukungku untuk menjadi penipu dengan pura-pura mencintai Amara?" Abiyasha hanya tidak habis pikir. Bagaimana mungkin orang tuanya melakukan hal ini hanya demi jabatan.
"Apa salahnya. Kami bukan memilihkan wanita yang bodoh, jelek, dan tidak berpendidikan, Bi. Seharusnya kau bersyukur untuk hal itu."
"Tapi aku tidak mencintainya, Ibu!" tambah Abiyasha.
"Apa cinta menjadi sangat penting saat ini bagimu? Kau bahkan tidak tahu apa itu cinta, Abi!" balas Ibunya. Wanita cantik yang tidak lagi muda itu meraih tangan Abi. "Jadi tolong, belajarlah menerima Amara untuk Ibu kali ini saja."
Abi menatap tangan ibunya.
"Tolong, lepaskan wanita hina itu demi ibu... Kalian tidak pantas bersama..."
Kepala Abiyasha lagi-lagi berdenyut sakit. Abiyasha meringis kecil. "Baiklah. Aku akan belajar menerima Amara. Tapi jika aku tidak bisa mencintainya, aku akan mundur. Aku tidak akan menipu Amara ataupun diriku sendiri. Kalau begitu aku pamit."
Pria itu meraih jasnya. Meninggalkan ruang makan dengan langkah lebar-lebar setelah membungkuk dan memberi salam pada kedua orang tuanya.
Langkah Abi terhenti ketika seraut wajah membayangi dirinya. Ah, Yasmine. Ia belum selesai bicara dengan wanita itu. Buru-buru, Abiyasha merogoh saku celananya dan menghubungi Ronald.
"Halo, Ron. Apa kau bisa menjemputku? Aku belum ingin pulang. Aku harus kembali ke kantor. Ada urusan mendadak dan aku tidak bisa menyetir sekarang... Mm, baiklah."
Setelah mematikan sambungan telepon. Abiyasha menatap ke atas. Ke langit yang menunjukkan tanda-tanda akan hujan. Mendung. Semendung hatinya.
Pada pertengahan bulan Desember, dan ia merasa sangat sesak.
...***...
Bab ini kupersembahkan untukmu, yang dalam sedih masih mencoba membuatku tertawa lepas.
...IG : @_yuanitaaw...
Dulu aku punya keinginan menulis biografi (kisah hidupku pribadi)...pengen berbagi pengalaman & pembelajaran hidup.... tapi.... sulit.... mo mulai darimana.... makanya salut sama novelis2 sptmu....yg bisa menuangkan ide secara bebas....meski mungkin sambil merasa tertekan yaa.... tipa hari kayak yg dikejar2 biar bisa up.... hahaha...
semangat Yuanita....
bikin gemezzzz deh.....😣😣😣😣