Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Pernikahan di Atas Altar Olympus
DENG!!!!!!!!!!!
Gelombang monokrom abu-abu meledak dengan magnitude kosmis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kali ini, distorsi waktu tidak lagi menyebar di tanah, melainkan melesat naik ke angkasa, merobek atmosfer dan menabrak langsung proyeksi dua Dewa Agung di balik celah dimensi.
Seketika, kiamat itu tertunda.
Tangan raksasa dari gabungan api perak dan cahaya penghakiman yang hanya berjarak beberapa meter di atas kepala Kala mendadak membeku kaku. Kobaran api dewa yang tadinya bergejolak liar mengeras laksana kaca merah membara yang mati di udara hampa. Dua pasang mata vertikal raksasa milik Dewa Api Agni dan Dewa Cahaya Hyperion mematung kaku di balik awan dimensi, seluruh kesadaran tinggi mereka dikunci secara paksa dalam satu detik yang dijeda oleh Hukum Sepuluh Senti.
Namun, harga yang harus dibayar Kala kali ini sangat mengerikan. Karena dia memaksakan Hukum Waktu pada entitas di Ranah Dewa Sejati, tekanan balik dari ruang semesta menghantam jiwanya laksana gada besi tak kasat mata.
“AKHH!” Kala memuntahkan seteguk besar darah perak naga.
Retakan-retakan dalam muncul di sekujur kulit tubuhnya, menyemburkan darah segar yang melayang diam sebagai butiran kristal merah di udara abu-abu. Tulang-tulang di lengan kanannya yang memegang gagang pedang mulai retak karena menahan gaya tolak dari waktu yang menolak berhenti.
“Kala! Jiwamu akan hancur dalam 1,5 detik jika kau tidak melepaskan pedang itu!” suara Pohon Akalbuana menjerit cemas dari dalam sarung pedang kayu Yggdrasil. “Perbedaan ranah ini terlalu mutlak!”
"Satu detik... sudah cukup untuk mengakhiri skenario mereka!" raung Kala di dalam ruang batinnya yang hampir runtuh.
Kala tidak melarikan diri. Dengan sisa tenaganya di Ranah Penguasa Langit Tingkat Menengah, dia melesat melompati udara yang membeku laksana bayangan hitam, langsung mendarat di atas panggung batu giok tempat Putri Liana dirantai.
Di dalam dimensi waktu yang berhenti ini, Putri Liana tidak membeku sepenuhnya karena jimat suci di lehernya. Tubuhnya melambat drastis, tetapi matanya yang biru jernih bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Kala merangkak mendekatinya dengan tubuh yang hancur bersimbah darah demi menyelamatkannya. Kehampaan di dalam mata Liana sepenuhnya runtuh, digantikan oleh gelombang emosi yang mendalam.
Kala menarik pedang Jian hitamnya keluar sepenuhnya dari sarung kayu. Dengan satu tebasan vertikal yang halus, dia memotong rantai energi api dan cahaya dewa yang mengikat tubuh Liana, merobek ruang yang mengunci gadis itu.
Liana jatuh ke pelukan Kala. Di dalam sisa 0,8 detik terakhir, Liana menatap mata Black Hole Kala yang dipenuhi oleh miliaran bintang yang berputar liar.
"Kala... dewa-dewa itu tidak akan membiarkan kita hidup di dunia fana ini..." bisik Liana dengan sangat lambat di dalam ruang hampa waktu, air matanya melayang diam laksana berlian kecil di udara. "Menikahlah denganku secara spiritual di sini... Biarkan garis darah Cahaya Kosmis milikku melebur ke dalam bilah pedang hitammu. Aku menolak menjadi tumbal langit, aku hanya ingin menjadi bagian dari takdirmu!"
Liana mencengkeram jimat suci matahari di lehernya, lalu dengan sengaja menghancurkannya hingga hancur menjadi bubuk emas. Esensi jiwa dan garis darah cahaya murni di dalam tubuhnya meledak keluar, membentuk gumpalan cahaya emas suci yang melingkari tubuh mereka berdua di atas altar.
Kala menatap Liana, kehangatan murni memenuhi rongga dadanya yang hancur. "Di bawah langit yang lumpuh ini... kau adalah satu-satunya hukum yang aku patuhi, Liana."
Kala mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Liana dengan lembut di tengah keheningan semesta yang membeku. Bersamaan dengan ciuman suci itu, sebuah sumpah pernikahan spiritual kuno yang terikat oleh benang waktu terjalin di antara jiwa mereka.
WUUUSH!
Fisik fana Putri Liana perlahan mulai memudar, berubah menjadi miliaran partikel cahaya emas kosmis yang sangat murni. Partikel-partikel cahaya itu tidak menghilang ke langit, melainkan menyerbu masuk secara sukarela ke dalam bilah pedang Jian hitam tipis yang dipegang Kala.
Proses asimilasi spiritual itu memicu evolusi mutlak yang belum pernah terjadi dalam sejarah persenjataan kosmis.
Bilah pedang Jian hitam yang setipis kertas itu mendadak bergetar hebat. Guratan perak halus di tengah bilahnya bertransformasi menjadi garis emas suci yang berkilau laksana sinar fajar abadi. Energi destruktif naga purba Kronos (penghancur ruang) dan energi orisinal Cahaya Kosmis milik Liana (penembus dimensi) menyatu sempurna di bawah kendali kecerdasan gaib sarung kayu Yggdrasil.
Pedang Kala telah berevolusi ke tahap kesempurnaan mutlak: Bilah Sakral Kosmos (The Sacred Cosmic Blade).
Di saat yang sama, penggabungan jiwa dan energi murni dari Putri Suci Cahaya meluncur masuk ke dalam dantian Kala, meledakkan seluruh meridian jiwanya dan menaikkan basis kultivasinya secara gila-gilaan melewati batas Penguasa Langit, melompat langsung menduduki Ranah Setengah Dewa (Demi-God) Tingkat Awal!
Sisa 0,2 detik keheningan berakhir. Kala mendorong kembali bilah pedang barunya masuk ke dalam sarung kayu Yggdrasil dengan satu sentakan yang presisi.
KLIK.
Waktu semesta kembali diputar dengan suara dentangan jam raksasa yang seolah memecah langit.
BOOOOOOOOOOMMMMMMMM!!!!!!!!!!!
Tangan raksasa dari Dewa Api dan Dewa Cahaya yang tadi membeku di atas langit tiba-tiba melesat jatuh dengan kecepatan normal. Namun, sebelum tangan dewa itu sempat menyentuh permukaan Altar Olympus, Kala yang kini telah berada di Ranah Setengah Dewa melepaskan tangan kirinya dari sarung pedang. Dia menatap ke atas langit dengan kedua netra Black Hole yang memancarkan badai gravitasi kosmis yang tak terbatas.
"Tebasan Nihilitas Kosmos: Pembelah Langit!"
Kala menarik pedang Jian barunya keluar dari sarung kayu dalam satu gerakan iaido horizontal secepat kilat.
SLASSH!!!!!!!!!!!
Tebasan itu tidak melepaskan gelombang energi biasa. Tebasan Kala kali ini benar-benar membelah dimensi ruang langit di atas Gunung Olympus secara absolut. Sebuah celah hitam raksasa setinggi ribuan meter memotong atmosfer, memisahkan dunia fana dan dimensi Alam Atas menjadi dua bagian yang terputus.
Tangan raksasa dua Dewa Agung yang sedang meluncur turun itu mendadak terpotong rapi tepat di bagian pergelangan tangan oleh celah dimensi hitam milik Kala. Dua potongan tangan dewa raksasa itu meledak di udara, berubah menjadi hujan meteor api dan cahaya sisa yang berhamburan membakar tebing-tebing Gunung Olympus.
"AAARRRGGGHHH!!! Semut sialan!!! Kau berani melukai tubuh dewa kami!!!" raungan murka yang dipenuhi rasa sakit dari Dewa Api Agni dan Hyperion bergaung dari balik celah dimensi sebelum akhirnya celah tersebut tertutup paksa oleh distorsi ruang hampa udara milik Kala.
Seluruh Altar Olympus hancur berantakan, menyisakan tiang kristal yang telah kosong. Para Tetua Inti Klan Cahaya yang menyaksikan pemandangan mustahil itu jatuh berlutut di tanah giok, wajah mereka pucat pasi bagai mumi. Tangan dewa... telah dipotong oleh seorang pemuda fana.
Kala berdiri di tengah reruntuhan altar, memegang sarung pedang putih peraknya. Di dalam bilah pedang hitamnya, dia bisa merasakan getaran jiwa Liana yang hangat dan tenang, tersenyum menemaninya dari dalam dunia pedang sebagai Sword Spirit (Jiwa Pedang) yang abadi.
Pernikahan tragis di atas altar langit telah usai. Dengan hancurnya aliansi klan di bumi dan terpotongnya tangan dewa, Kala kini telah berdiri di puncak batas mortalitas sebagai Setengah Dewa.
Netra Black Hole-nya menatap ke arah awan langit luar yang menuju ke Alam Atas, tempat di mana istana enam Dewa Elemental berdiri menantinya.
"Liana..." bisik Kala sambil mengusap bilah pedangnya yang berkilau emas hitam. "Langkah kita berikutnya... adalah naik ke langit untuk berburu para Dewa."