NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Pengajian Ibu-Ibu

Dua minggu kemudian. Hari Minggu pagi, Bu Mirna terlihat sibuk berdandan di depan cermin. Beliau mengenakan gamis berwarna ungu muda dengan kerudung senada. Kalung emas yang dulu sempat hilang kini sudah kembali melingkar di lehernya. Tentu saja, itu adalah emas mahar milikku yang diambil paksa beberapa waktu lalu. Setiap kali melihat kalung itu, dadaku masih terasa sesak. Namun aku memilih diam. Aku percaya, suatu saat nanti Allah akan menunjukkan kebenaran dan ganti yang lebih baik.

"Fitri!"

"Iya, Ma."

"Hari ini ada pengajian di rumah Bu Hesti."

"Oh, iya Ma."

"Kamu ikut."

Aku sedikit terkejut.

"Ikut?"

"Iya. Biar ibu-ibu kenal sama kamu."

Aku mengangguk pelan.

"Baik, Ma."

Sebelum berangkat, aku lebih dulu memasak makan siang. Setelah semuanya selesai, aku mandi dan mengenakan gamis sederhana berwarna biru muda. Aku tidak memakai perhiasan berlebihan. Hanya cincin pernikahanku yang masih melingkar di jari.

Saat keluar kamar, Dinda langsung mencibir.

"Ih..."

"Apa?"

"Mbak kalau ke pengajian niatnya ibadah apa pamer cantik?"

Aku hanya tersenyum. "Ya niatnya mengaji."

"Dih..." Dinda memutar matanya.

Bu Mirna pun ikut memperhatikanku dari atas sampai bawah. "Kerudungnya jangan yang bagus-bagus. Nanti dikira mau saingan sama ibu-ibu."

"Iya, Ma." Aku kembali masuk kamar dan mengganti kerudungku dengan yang lebih sederhana.

Aku tidak ingin mencari masalah.

Sesampainya di rumah Bu Hesti sudah ramai oleh ibu-ibu kampung. Begitu kami datang, semua langsung menyapa Bu Mirna.

"Eh, Bu Mirna. Alhamdulillah datang."

"Iya dong." Bu Mirna tersenyum lebar.

Lalu beliau menarik lenganku. "Ini menantu saya."

"Oh...Masya Allah cantik ya."

Aku langsung menyalami satu per satu. Aku duduk di bagian belakang sambil mendengarkan tausiyah. Pengajian berlangsung hampir satu jam. Setelah selesai, seperti biasa acara dilanjutkan dengan makan bersama. Di sinilah percakapan mulai mengalir.

"Fitri kerja ya?" Tanya salah seorang ibu.

"Iya, Bu."

"Kerja di mana?"

Aku menjelaskan singkat pekerjaanku.

"Oh... Alhamdulillah."

Belum sempat pembicaraan berlanjut, Bu Mirna langsung menyela sambil tertawa kecil. "Iya, kerja sih kerja...Tapi masih harus banyak belajar ngurus rumah."

Aku hanya tersenyum sopan.

"Namanya juga masih muda." Salah satu ibu mencoba membela.

"Iya. Tapi sekarang kalau pulang kerja langsung capek. Kadang rumah belum sempat dibereskan." Bu Mirna kembali menambahkan.

Aku langsung menoleh. Rumah belum sempat dibereskan? Padahal setiap hari aku yang membersihkannya. Namun aku tetap diam.

Tak lama kemudian, Bu Lastri ikut bertanya.

"Wah Mir...katanya menantumu pintar ya."

"Iya. Pintar sih. Tapi ya begitu..." Beliau menggeleng pelan seolah-olah sedang menahan kecewa.

"Kenapa memang?"

"Terlalu sayang sama uang." Jawab mertuaku.

Aku menarik napas perlahan. Lagi. Masalah uang lagi.

"Kasihan Viyan. Harus nanggung semuanya." Lanjut nya.

Aku mengepalkan jemariku di balik meja. Padahal setiap bulan aku sudah ikut membantu kebutuhan rumah. Bahkan sebagian besar uang belanja berasal dari penghasilanku. Tetapi tidak ada seorang pun yang tahu. Karena Bu Mirna tidak pernah menceritakan bagian itu.

Di tengah percakapan, tiba-tiba Bu Rina datang membawa piring berisi kue yang ia potong lebih dulu dari dapur. Beliau tersenyum kepadaku.

"Fitri."

"Iya, Bu."

"Kemarin gudangnya sudah selesai dibersihkan?"

"Iya, Bu."

"Sendirian?"

"Iya."

Ruangan mendadak sedikit hening. Beberapa ibu mulai saling berpandangan. Bu Rina melanjutkan, "Hebat ya. Padahal saya lihat dari pagi sampai siang Fitri terus yang kerja."

Aku langsung menoleh. Bu Mirna terlihat sedikit kaku.

"Ah...Itu kan memang kerjaannya." Jawab beliau cepat.

Bu Rina tersenyum tipis. "Lho. Saya kira Dinda bantu."

"Oh, Dinda lagi banyak tugas kuliah." Jawab Bu Mirna.

"Tapi waktu itu saya lihat Dinda di kamar main HP."

Suasana semakin sunyi. Dinda yang sejak tadi sibuk bermain ponsel langsung mengangkat wajah.

"Eh...Itu..." Belum sempat ia menjawab, Bu Hesti segera mengalihkan pembicaraan.

"Sudah-sudah. Yuk makan kuenya." Ucap Bu Hesti.

Percakapan pun beralih. Namun... Aku melihat beberapa ibu mulai memandangku dengan tatapan berbeda. Bukan lagi penuh prasangka. Melainkan penuh rasa penasaran.

Dalam perjalanan pulang, Bu Mirna sama sekali tidak berbicara. Wajahnya terlihat kesal. Begitu sampai di rumah, beliau langsung masuk ke kamarnya tanpa melepas sandal.

Aku memilih masuk ke kamar mandi untuk berganti baju dan sekalian membersihkan kamar mandi. Setengah jam kemudian, saat sedang mencuci gelas di wastafel, Dinda tiba-tiba menghampiriku.

"Senang ya?"

Aku menoleh. "Kenapa?"

"Tadi Bu Rina belain Mbak."

"Aku enggak minta dibelain siapa pun." Jawabku datar.

Dinda tersenyum sinis. "Mulai sekarang....Mbak jangan sok baik deh."

Aku mengernyitkan dahi. "Aku enggak mengerti maksudmu."

"Halah.. Jangan pura-pura. Kamu sengaja kan bikin orang-orang kasihan sama kamu?" Ucap nya lagi.

Aku menggeleng. "Dinda..Orang bisa melihat sendiri. Itu bukan karena aku bercerita."

Dinda mendengus kesal lalu pergi. Aku kembali mencuci gelas. Dalam hati aku bersyukur. Untuk pertama kalinya... Ada orang lain yang melihat sendiri kenyataan yang terjadi di rumah ini. Bukan dari ceritaku.

Bukan dari pembelaanku. Melainkan dengan mata kepala mereka sendiri.

Dan sejak hari itu... Sedikit demi sedikit, topeng Bu Mirna mulai retak.

Meski belum hancur. Tetapi celah kecil itu sudah cukup untuk membuat sebagian tetangga mulai mempertanyakan semua cerita yang selama ini mereka percayai.

----

Malam harinya, Suamiku sempat menanyakan hari ku.

"Gimana sayang, apa mama menyuruh kerja yang berat-berat lagi hari ini?" Tanya suamiku.

"Engga kok mas. Ku tadi siang habis ikut ke pengajian." Jawabku.

"Oalah, baguslah. Pokoknya kalau ada yang mau diceritakan, langsung ceritakan sama mas ya?"

"Iya mass.." Jawabku tersenyum.

Aku belum berani menceritakan apa yang ibunya perbuat padaku karena ku takut suamiku tidak mempercayai itu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!