NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Tiga hari berlalu dengan cepat.

​Sejak kedatangan rombongan Keluarga Gu, kediaman Keluarga Shen menjadi jauh lebih riuh dari biasanya. Setiap pagi, para pemuda dari kedua keluarga berkumpul di halaman latihan.

​Tujuan resminya sederhana: berlatih bersama demi mempererat hubungan. Namun bagi mayoritas pemuda Keluarga Shen, ada alasan tersembunyi yang jauh lebih menarik—mereka ingin menyaksikan langsung kehebatan para jenius dari Keluarga Gu, terutama Gu Qingli.

​Gadis itu selalu menjadi pusat dari segala perhatian. Bukan sekadar karena kecantikannya yang menawan, melainkan karena tingkat kekuatannya yang mengerikan untuk seusianya.

​"Apa benar dia sudah berada di Pengumpulan Qi tingkat kesembilan?"

"Katanya begitu. Padahal umurnya baru enam belas tahun!"

"Kalau dia berhasil menerobos ke tahap Pendirian Fondasi tahun ini, dia bakal jadi kultivator termuda dalam sejarah Keluarga Gu yang mencapai tingkat itu."

"Benar-benar mengagumkan..."

​Di bawah rindangnya pohon di pinggir halaman, Yunche mendengarkan bisik-bisik itu sambil mengunyah sebatang tangkai daun.

​Shen Ruowei yang duduk di sampingnya menatapnya dengan raut wajah heran. "Kau makan rumput?"

​Yunche berhenti mengunyah, lalu memandangi tangkai di tangannya. "Ini bukan rumput."

​"Lalu?"

​"Daun."

​"Daun juga tumbuhan, Bodoh!"

​"Iya, aku tahu."

​"Terus kenapa kau makan?"

​Yunche menunjuk ke arah barisan jamuan di tepi halaman. "Karena aku tidak punya uang untuk membeli camilan."

​Ruowei memijat pelipisnya. "Kau kan bisa minta ke dapur."

​"Sudah."

​"Lalu?"

​"Dimarahi."

​"Kenapa lagi?"

​"Katanya aku sudah makan tiga kali pagi ini."

​Ruowei menatapnya datar. "Memangnya koki dapur salah?"

​"Menurutku salah. Orang sedang tumbuh itu butuh makan banyak," sahut Yunche polos lalu kembali mengunyah.

​Ruowei menghela napas panjang, memutuskan untuk tidak memusingkan tingkah aneh Yunche. Matanya beralih ke tengah halaman latihan.

​Di sana, Gu Qingli berdiri anggun. Di hadapannya, seorang pemuda Keluarga Shen tampak bersiap dengan wajah tegang.

​"Silakan," ujar Gu Qingli tenang.

​Pemuda itu mengepalkan tangan erat-erat. "Nona Gu, mohon bimbingannya!"

​"Jangan sungkan."

​Pemuda itu melesat maju. "Ha!"

​Tinju kanannya menerjang cepat, namun Gu Qingli hanya bergeser setengah langkah dengan sangat ringan. Pukulan itu meleset menembus angin hampa. Tak mau menyerah, pemuda itu berbalik cepat dan melancarkan serangkaian tebasan tangan.

​Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Gu Qingli selalu selangkah lebih cepat memprediksi pergerakannya.

​Bang!

​Tanpa sempat disadari lawan, dorongan telapak tangan Gu Qingli mendarat di dada pemuda itu. Tubuhnya terdorong mundur beberapa meter hingga nyaris terjatuh.

​Halaman mendadak hening. Gu Qingli menarik kembali tangannya dengan sopan. "Maafkan aku."

​Pemuda itu terengah-engah, memegangi dadanya seraya tersenyum pahit. "Tidak apa-apa... Nona Gu memang terlalu kuat."

​Sorak-sorai kekaguman langsung membahana dari tepi lapangan.

​Yunche yang menyaksikan hal itu hanya menaikkan satu alisnya. "Hmm..."

​Ruowei menoleh. "Hmm apa?"

​"Dia memang kuat."

​"Kau iri?"

​"Tidak."

​"Yakin?"

​"Yakin sekali," Yunche menunjuk dadanya sendiri. "Aku cuma penasaran."

​"Penasaran tentang apa?"

​Yunche memperhatikan sosok Gu Qingli. "Dia makan apa, ya, sampai bisa sekuat itu?"

​Ruowei membatu. "Kau serius menanyakan itu?"

​"Tentu saja. Siapa tahu ada ramuan atau makanan khusus."

​Ruowei menatapnya lama. "Kadang-kadang aku heran bagaimana otakmu bisa bekerja."

​Yunche tersenyum jenaka. "Yang penting masih berfungsi."

​Latihan terus berlanjut. Satu per satu pemuda Keluarga Shen maju menantang Gu Qingli, namun tak seorang pun berhasil menang. Bahkan beberapa murid senior yang kultivasinya jauh di atas Yunche tumbang dalam hitungan detik.

​Hingga akhirnya, tidak ada lagi yang berani melangkah ke tengah lapangan.

​Patriark Shen yang menyaksikan dari tribun memandang sekeliling. "Apakah tidak ada lagi dari kalian yang ingin mencoba?"

​Atmosfer menjadi hening. Di tengah keheningan itu, sebuah tangan terangkat santai dari bawah pohon.

​"Saya mau coba."

​Semua mata seketika tertuju ke arah sumber suara. Ruowei di sampingnya membelalakkan mata panik. "Yunche!"

Yunche berdiri sambil menepuk-nepuk celananya yang berdebu. "Kenapa?"

​"Kau mau cari mati?"

​"Berlebihan sekali."

​"Kau itu cuma Pengumpulan Qi tingkat dua!"

​"Lalu?"

​"Dia tingkat sembilan!"

​Yunche memandang Gu Qingli, lalu melirik dirinya sendiri. "Bedanya cuma tujuh tingkat."

​Ruowei menatapnya tak percaya. "Tujuh tingkat itu jurang pemisah yang sangat jauh, Bodoh!"

​Yunche mengangkat bahu. "Siapa tahu hari ini aku beruntung."

​Gelak tawa langsung pecah dari kerumunan pemuda Keluarga Shen.

​"Dia sudah gila!"

"Pengumpulan Qi tingkat dua mau melawan tingkat sembilan? Yang benar saja!"

"Ini bukan lagi keberanian, ini kebodohan murni!"

​Tanpa mengindahkan cemoohan itu, Yunche berjalan santai ke tengah halaman.

​Gu Qingli menatap pemuda yang kini berdiri di depannya. "Kau serius?"

​Yunche mengangguk. "Sangat serius."

​"Kau tahu pasti perbedaan kekuatan di antara kita, kan?"

​"Tahu."

​"Kalau begitu..." Gu Qingli menggantung kalimatnya.

​Yunche tersenyum tipis. "Jangan khawatir. Kalau aku babak belur, aku tidak akan menyalahkanmu."

​Gu Qingli mengerutkan kening. "Aku tidak mengkhawatirkan hal itu."

​"Baguslah." Yunche mengambil sebilah pedang kayu dari rak. "Kalau begitu, mari mulai."

​Gu Qingli memasang kuda-kuda bertarung, begitu pula dengan Yunche. Namun seketika itu juga, atmosfer di sekitar Yunche mendadak berubah.

​Untuk pertama kalinya sejak mengenal pemuda ini, Gu Qingli tidak melihat raut santai atau senyum jenakanya. Sorot mata Yunche kini dipenuhi fokus yang begitu tajam. Tidak ada lelucon, hanya konsentrasi penuh.

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!