Selama tujuh tahun, Keira Halim mencintai Rafael Atmadja sambil membiarkan pekerjaannya dicuri, rasa sakitnya diremehkan, dan tubuhnya disebut rusak. Malam ketika Rafael mempermalukannya di depan para mitra bisnis demi membela Celine Hartono, sentuhan paksa seorang klien memicu serangan panik yang nyaris membuat Keira kehilangan kesadaran. Kali ini ia tidak memohon untuk dipercaya. Ia mengembalikan cincin pertunangannya, pergi, lalu mengetuk pintu yang salah.
Pria di balik pintu itu adalah Adrian Wijaya—dingin, penuh rahasia, tetapi tidak pernah menyentuh Keira tanpa izin. Di dekatnya, tubuh Keira yang selalu siaga akhirnya bisa bernapas. Dalam waktu empat puluh delapan jam, mereka menyepakati batas, menandatangani perjanjian harta dan berita acara di hadapan saksi, lalu mencatatkan pernikahan mereka secara resmi. Bagi Keira, itu adalah jalan keluar. Bagi Adrian, pernikahan tersebut jauh lebih pribadi daripada yang berani ia akui.
Ketika Keira membangun Lentera Brand Lab dan merebut kembali namanya, Rafael mulai menyadari perempuan yang telah ia sia-siakan tidak akan pernah pulang. Namun penyesalan sang mantan berubah menjadi kepanikan saat identitas Adrian terbuka: suami “biasa” Keira ternyata pengendali Asterion Capital sekaligus pewaris keluarga Wijaya.
Di tengah perang reputasi, sebuah jam saku lama mengungkap bahwa Keira bukan yatim piatu tanpa asal-usul. Ia adalah satu-satunya penyintas keluarga Halim, pewaris aset lintas negara, dan saksi hidup pembunuhan sembilan belas orang yang selama ini ditutupi keluarga Atmadja. Untuk merebut kembali warisan dan nama keluarganya, Keira harus menghadapi pria berjari pendek dari ingatannya, membongkar perusahaan pencemar, dan memastikan para pelaku diadili—tanpa membiarkan cinta Adrian berubah menjadi sangkar baru.
Karena kali ini, Keira tidak sedang menunggu seorang pria menyelamatkannya. Ia sedang memilih siapa yang boleh berjalan di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Cinta Nathan Bukan Aib
Polisi menutup jalan di sekitar rumah Bandung tanpa menyalakan sirene. Budi dan Helena Kusuma menunggu di pusat krisis, jauh dari pintu. Adrian berada di perimeter luar sesuai permintaan Keira dan tidak menerima saluran komando.
Negosiator menelepon rumah. Julian menjawab pada panggilan ketiga.
"Aku hanya ingin Keira mendengar kebenaran," katanya. "Olivia datang atas kemauannya sendiri."
"Apakah ada senjata di dalam?" tanya negosiator.
Julian terdiam. Kamera termal menunjukkan dua orang di ruang depan. Tidak ada gerakan yang tampak seperti perkelahian.
Keira menerima naskah panggilan dan batas percakapan. Ia tidak boleh menjanjikan kebebasan, tidak boleh masuk rumah, dan harus memberi ruang bagi Julian untuk menjawab.
"Julian, ini Keira. Aku ada di luar bersama polisi."
"Kau membawa Adrian."
"Dia di luar perimeter kerja. Aku tidak datang sendiri karena permintaanmu berbahaya."
Julian tertawa tanpa gembira. "Kau sama seperti Nathan. Selalu percaya aturan akan menyelamatkan orang."
"Aturan tidak menyelamatkan keluargaku malam itu. Tetapi pisau juga tidak akan mengembalikan mereka."
Dari dalam terdengar suara Olivia. "Dia hanya ingin perhatian. Nathan juga begitu. Kalian membuat hubungan memalukan menjadi legenda."
Julian menarik napas keras. Negosiator memberi isyarat agar Keira terus bicara.
"Nathan mencintaimu?" tanya Keira.
"Ya."
"Dan kau mencintainya?"
"Sampai sekarang."
"Maka dengarkan aku. Cinta Nathan bukan aib. Cintamu bukan bukti kejahatan. Yang harus dibuktikan adalah siapa yang membunuhnya dan siapa yang menutupinya."
Olivia tertawa. "Kalau nama Halim masih punya nilai, pengakuan itu akan menghancurkannya."
Keira menghadap kamera dokumentasi polisi. "Saya tidak menyembunyikannya. Nathan Halim dan Julian Kusuma adalah pasangan. Cinta bukan bukti. Membunuh orang adalah bukti yang sedang kami cari."
Di dalam rumah terdengar benda logam jatuh ke lantai.
"Pisau sudah kulepas," kata Julian.
Negosiator meminta ia menjauh tiga langkah, membuka pintu, dan menunjukkan tangan. Julian mengikuti instruksi. Olivia tetap duduk di kursi, tidak terluka. Polisi masuk setelah memastikan pisau berada di lantai dan mengeluarkan keduanya secara terpisah.
Keira tidak berlari memeluk Julian. Ia menunggu petugas memastikan keadaan aman. Julian lalu menyerahkan jam pengulang Nathan dan alat perekam dari saku jaketnya.
"Aku mengundangnya dengan mengatakan ingatanmu pulih sepenuhnya," katanya. "Aku ingin dia mengaku. Aku tidak pernah menyentuhnya."
"Kau tetap membawa pisau dan menjebaknya di rumah," jawab Keira. "Aku akan mendukungmu mendapat bantuan, tetapi aku tidak akan menyebut itu benar."
Julian menunduk. "Aku tahu."
Rekaman diputar hanya oleh polisi. Potongan awal memuat suara Olivia mengakui bahwa ia memakai panggilan telepon Nathan untuk menentukan lokasinya malam pembunuhan. Ia juga berkata Matius diperintahkan membersihkan dua pelaksana setelah operasi selesai. Rekaman belum dianggap utuh sebelum ahli menguji perangkat dan apakah ada bagian dipotong.
Olivia meminta pengacara dan berhenti menjawab. Polisi tidak menahannya hanya berdasarkan pertengkaran. Mereka membawa keterangannya ke tim perkara dan menerapkan langkah hukum sesuai bukti yang sudah ada.
Julian setuju menjalani evaluasi krisis. Budi dan Helena tidak membawanya pulang sendiri. Petugas medis menilai risiko bunuh diri, risiko kekerasan, penggunaan obat, dan dukungan keluarga. Ia menerima rencana rawat serta pengawasan profesional.
"Nathan akan membenciku," katanya kepada Keira sebelum pergi.
"Aku tidak bisa bicara untuk orang mati. Tetapi aku bisa bilang aku tidak ingin kehilanganmu demi balas dendam."
Julian menyerahkan jam itu dengan kedua tangan. "Dia ingin kau punya ini. Aku terlalu takut kenangan terakhirnya akan diambil."
Barang tersebut lebih dulu difoto dan diberi nomor. Setelah petugas membuka penutup untuk pemeriksaan, sebuah lapisan tipis terlepas. Dari celah mekanisme jatuh kartu penyimpanan mikro.
Pada label kecilnya tertulis SAGARA GATE 19.
Setelah rumah aman, polisi mendokumentasikan posisi kursi, pisau, pintu, dan alat perekam. Olivia tidak diikat dan jalannya tidak pernah ditutup secara fisik, tetapi Julian mengakui ia menyembunyikan kunci mobil agar percakapan tidak berakhir. Pengakuan itu dicatat sebagai bagian penilaian tindakannya.
Budi ingin meminta polisi membiarkan Julian pulang karena ia sedang berduka. Helena menghentikannya. "Duka menjelaskan mengapa ia hancur. Duka tidak membuat pisau hilang dari ruangan."
Julian mendengar kalimat ibunya dan setuju masuk kendaraan medis. Rencana awal mencakup evaluasi dua puluh empat jam, pemeriksaan obat, dan larangan kontak langsung dengan Olivia. Keputusan berikutnya bergantung pada ahli serta proses hukum.
Olivia berusaha menarik kembali ucapannya dengan mengatakan ia hanya mengikuti permainan Julian. Ahli akan memeriksa apakah pertanyaan memaksa, bagian diedit, dan suara benar miliknya. Keira tidak mengunggah potongan paling merusak meski Naya menerima puluhan permintaan media.
"Kalau bocor sebelum diperiksa, Julian akan disebut pembohong dan penyidikan tercemar," kata Keira. "Tidak ada keuntungan cepat yang sepadan."
Adrian menunggu di luar pusat krisis. Ia menerima ringkasan yang sama dengan Keira dan tidak mendekat ketika Keira keluar. Keira memberi tahu bahwa Julian aman, bukan mengundangnya kembali ke ruang intim.
"Terima kasih sudah mengikuti batas," katanya.
"Itu kewajiban, bukan pembayaran untuk dimaafkan."
Keira mengangguk. Jawaban benar tidak langsung memperbaiki semua hal, tetapi dicatat tubuhnya sebagai satu tindakan yang tidak melukai.
Teknisi membuka jam di bawah kamera. Selain kartu, ada potongan serat biru dan nomor servis. Nomor itu cocok dengan bengkel lama yang pernah merawat perangkat keluarga Halim. Semua komponen dipisahkan, difoto, dan hanya mesin kosong yang kelak dapat dikembalikan.
Keira melihat kartu masuk kantong antistatis. Nathan tidak hanya meninggalkan suara. Ia menyembunyikan jalan menuju malam ketika seluruh rumah mereka dibuat sunyi.