Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Malam itu, Evan duduk sendirian di ruang kerjanya. Di hadapannya tergeletak foto Laura. Tatapannya dingin.
"Aku hampir lupa dengan tujuan awalku."
Rio yang berdiri di samping meja hanya diam.
"Aku terlalu lama melihat sisi baiknya. Tapi itu tidak akan mengubah kenyataan."
Rio menghela napas. "Perintah Bapak selanjutnya?"
Evan menutup bingkai foto itu.
"Mulai malam ini... buat dia bergantung padaku."
Rio mengernyit. "Maksud Bapak?"
"Putuskan semua jalan keluarnya. Ketika dia tidak punya siapa-siapa... dia hanya akan datang kepadaku."
Keesokan harinya...
Indri sedang memimpin rapat ketika Nisa masuk dengan wajah panik. "Bu Indri!"
"Ada apa, Nisa?"
"Server perusahaan diretas, Bu," ujar Nisa dengan nada panik.
Semua peserta rapat langsung gaduh.
"Data proyek hilang?"
Indri berdiri. Wajahnya pun mendadak pias. "Bagaimana bisa?"
"Saya juga tidak tahu, Bu. Tapi Tim IT sedang berusaha memulihkannya."
Tanpa membuang waktu, Indri berlari menuju ruang server yang kemudian segera disusul oleh Haris.
Selama berjam-jam seluruh tim bekerja. Namun hasilnya nihil.
Semua cadangan data proyek menghilang.
Haris tampak sangat cemas.
"Kalau data itu tidak kembali... kerja sama kita bisa batal."
Indri menundukkan kepala. "Maaf, Pa."
"Bukan salahmu. Tapi kita harus menemukan solusinya."
Saat suasana semakin tegang, Evan datang bersama Rio.
"Ada masalah apa ini. Kenapa semuanya kelihatan panik?" tanya Evan dengan ekspresi terkejut.
Haris menjelaskan semuanya.
Evan berpura-pura berpikir.
"Kebetulan... Tim kami masih menyimpan salinan seluruh data proyek."
Semua orang langsung menatapnya. "Sungguh Pak Evan?"
"Tentu. Kami bisa membantu."
Haris mengembuskan napas lega.
"Terima kasih, Pak Evan."
Indri ikut tersenyum lega.
"Kalau bukan karena Pak Evan kami pasti kesulitan."
Evan hanya membalas dengan senyum tipis. Di balik senyum itu, ia tahu... Server itu diretas atas perintahnya sendiri.
Malamnya. Rio bertanya saat mereka pulang. "Kenapa justru membantu?"
Evan menatap jalan.
"Mulai sekarang... dia akan merasa hanya aku yang selalu menyelamatkannya. Walaupun aku juga memberinya tekanan."
Rio bergidik ngeri mendengarnya. Ia tidak bisa membayangkan menjadi Indri. Evan memainkan dua peran sekaligus. Menjadi malaikat penolong, dan sewaktu-waktu bisa menjadi malaikat pencabut nyawa bagi Indri.
Beberapa hari kemudian...
Proyek berjalan kembali normal.
Indri semakin sering menghubungi Evan jika mengalami kesulitan. Tanpa disadari, semuanya berjalan sesuai rencana.
Suatu sore. Indri menerima telepon dari Evan.
"Bu Indri."
"Iya, Pak Evan?"
"Ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani malam ini."
"Malam ini?"
"Iya, karena besok pagi investor luar negeri sudah datang."
Indri melihat jam. Sudah pukul tujuh malam. Ia berpikir sejenak. "Baik, Pak Evan. Saya akan segera datang."
Sambungan telepon terputus. Indri pun bergegas pergi.
Gedung Evara Capital sudah hampir kosong saat ia sampai. Hanya beberapa lampu yang masih menyala.
Indri memasuki ruang rapat.
"Maaf jika menunggu lama."
"Tidak masalah," ujar Evan.
Di atas meja telah tersedia beberapa dokumen. Indri mulai membacanya satu per satu.
Tanpa sadar, Evan terus memperhatikannya. Perempuan itu tampak lelah. Berkali-kali Indri mengusap pelipisnya.
"Anda belum makan?"
Indri tersenyum kecil. "Belum sempat makan."
Evan menekan bel. Tak lama kemudian, Rio masuk membawa dua kotak makan.
"Sepertinya kita akan pulang sedikit larut. Makanlah dulu." Evan mendorong satu kotak makanan kehadapan Indri.
Indri sempat menolak. "Tidak usah, Pak. Nanti saja."
"Saya tidak suka bekerja saat rekan saya kelaparan."
Kalimat itu terdengar seperti perintah yang tidak bisa ditolak. Akhirnya Indri menerima makanan itu.
"Terima kasih."
Usai makan. Indri kembali membaca dokumen. Beberapa menit kemudian, kepalanya mulai terasa berat. Pandangannya sedikit berkunang-kunang.
"Pak Evan. Saya..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh Indri limbung.
Evan segera menangkap tubuhnya sebelum terjatuh.
"Bu Indri..." Evan mencoba menepuk-nepuk pipinya, tapi Indri sudah kehilangan kesadaran.
Rio yang melihat kejadian itu langsung mendekat. "Obatnya bekerja lebih cepat."
Evan mengangkat tubuh Indri ke sofa. Tatapannya kosong.
"Inilah awalnya."
Rio tampak ragu. "Pak... Kalau Bapak terus maju, tidak akan ada jalan kembali," ujarnya memperingati.
Evan menatap wajah Indri yang tertidur tanpa daya.
Bayangan Laura yang menangis histeris kembali muncul di kepalanya.
"Laura kehilangan segalanya. Kehormatannya, bahkan hidupnya... karena perempuan ini." Suara Evan terdengar dingin.
"Malam ini... Indri akan mulai merasakan bagaimana rasanya kehilangan kendali atas hidupnya."
Evan mendekati sofa tempat Indri terbaring. Namun tepat ketika jemarinya hampir menyentuh wajah perempuan itu, gerakannya terhenti.
Napasnya memburu. Di hadapannya bukan lagi bayangan Indri. Melainkan wajah Laura yang seolah sedang memandangnya dengan mata penuh kekecewaan.
Evan mengepalkan kedua tangannya. Pergolakan dalam dirinya baru saja dimulai.
Dendam mendorongnya untuk melangkah lebih jauh. Sementara hati nuraninya mulai mempertanyakan...
Apakah ia benar-benar akan berubah menjadi monster yang sama seperti orang yang pernah menghancurkan hidup adiknya?
Ruangan itu sunyi...
Hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdengung pelan.
Indri masih terbaring tak sadarkan diri di sofa ruang istirahat yang berada di samping ruang rapat.
Evan berdiri membelakanginya, kedua tangannya mengepal erat.
Bayangan Laura terus memenuhi kepalanya.
Laura yang menangis histeris.
Laura yang kehilangan masa depannya.
Laura yang meninggal setelah melahirkan.
Semua itu membuat kebencian yang sempat mereda kembali membara.
"Rio..."
Rio yang berdiri berdiri di ambang pintu segera mendekat. "Iya Pak?"
Evan memejamkan mata sejenak.
"Bawa dia ke apartemen."
Rio mengangguk. "Baik, Pak."
***
Indri perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berat, pandangannya buram. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi setelah makan malam dan penandatanganan dokumen di kantor Evara Capital.
Ingatannya terputus. Indri menoleh ke sekeliling. Ruangan itu asing. Ia berusaha bangun, namun pergerakannya memicu rasa nyeri di bawah inti tubuhnya. Nafasnya tertahan sejenak. Dan saat menyadari pakaiannya tidak lagi seperti semula, darah di wajahnya seketika menghilang. Ia segera menarik selimut menutupi tubuhnya. Tangannya gemetar hebat.
Indri segera menoleh ketika terdengar pintu kamar terbuka.
Evan melangkah masuk. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi.
"Kau sudah sadar rupanya."
Mata Indri membulat ketika melihat Evan hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang.
"Pak Evan... Apa yang terjadi?" Suaranya bergetar.
Evan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa saat, lalu berkata dengan suara datar.
"Apa yang terjadi pada adikku... kini telah menjadi bagian dari hidupmu."
Kalimat itu menghantam Indri lebih keras daripada tamparan.
Matanya membelalak.
"Apa maksud Pak Evan?"
Evan mengeluarkan sebuah foto dari dalam laci lalu meletakkannya di atas meja.
Foto seorang perempuan dengan perut besar yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Laura... Mata Indri membelalak.
"Dia adalah adikku."
Dunia Indri seakan runtuh dalam sekejap. Ia menatap foto itu, lalu menatap Evan dengan napas yang memburu.
"Aku sudah menjalani hukumanku. Aku sudah membayar semua kesalahanku. Lalu kenapa kamu tega melakukan ini padaku!" teriaknya dengan air mata yang berurai.
Evan tersenyum hambar.
"Hukumanmu di penjara hanya untuk memuaskan hukum. Bukan aku."
Ia melangkah mendekat. "Mulai hari ini, kau akan merasakan sedikit demi sedikit bagaimana adikku kehilangan hidupnya."
Indri menangis tersedu. "Aku minta maaf... Aku benar-benar menyesal. Aku tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini."
Evan memalingkan wajah.
"Penyesalanmu datang terlambat." Ia membuka pintu kamar. "Kau boleh pergi. Tapi ingat, mulai sekarang hidupmu bukan lagi milikmu sepenuhnya."
Indri segera merapikan pakaiannya, lalu berjalan keluar dengan langkah yang tidak stabil. Setiap langkah terasa begitu berat, seolah seluruh dunia menekan pundaknya.
Sementara Evan berdiri seorang diri di dalam apartemen. Ia berhasil melakukan apa yang selama bertahun-tahun ia rencanakan. Namun ketika pintu tertutup dan keheningan kembali menyelimuti ruangan, ia tidak merasakan kemenangan.
Yang ada hanyalah kehampaan.
Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri...
Apakah dendam benar-benar mampu menyembuhkan kehilangan?
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁