Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Baru, Langkah Baru
Bab 22
Langit pagi tampak cerah setelah beberapa hari dihiasi mendung. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan di halaman kampus, membuat suasana terasa hangat. Mahasiswa mulai memenuhi koridor fakultas dengan berbagai kesibukan. Ada yang tergesa-gesa menuju kelas, ada pula yang masih sempat bercanda sebelum bel berbunyi.
Karin melangkah santai melewati gerbang kampus sambil memegang segelas susu kotak yang sempat dibelinya di minimarket dekat halte. Ia mencari keberadaan Kai karena telah terbiasa bertemu di pagi hari.
"Selamat pagi."
Suara yang sudah mulai akrab itu terdengar dari samping.
Karin menoleh dan langsung tersenyum.
"Pagi."
Kai berdiri di sampingnya dengan tas hitam yang selalu ia bawa. Penampilannya masih sama seperti biasanya. Kemeja putih sederhana, celana jeans, dan sepatu yang mulai terlihat usang. Rambut berantakan. Namun entah kenapa, di mata Karin, sosok itu justru terasa semakin menenangkan.
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum."
Kai menghela napas pelan.
"Lagi?"
Karin terkekeh.
"Aku bangun kesiangan."
Tanpa banyak bicara, Kai mengeluarkan sebungkus roti dari dalam tasnya.
"Nih."
Karin membelalak.
"Untukku?"
"Iya."
"Kamu beli lagi?"
"Aku sengaja beli dua."
"Kamu memang selalu siap ya."
Kai hanya mengangkat bahu.
"Soalnya aku sudah hafal."
"Hafal apa?"
"Kamu hampir setiap pagi lupa sarapan."
Jawaban itu membuat Karin tertawa kecil. Ternyata pria yang dikenal pendiam itu diam-diam memperhatikan kebiasaan kecilnya.
Mereka berjalan berdampingan menuju gedung fakultas. Sesekali bahu mereka hampir bersentuhan. Tak ada lagi rasa canggung seperti beberapa minggu lalu. Hubungan mereka berubah begitu pelan hingga keduanya sendiri tidak menyadarinya.
Sejak awal semester, Karin dan Kai memang tidak berada di kelas yang sama. Karin berada di kelas A, sedangkan Kai di kelas B. Meski begitu, beberapa mata kuliah umum digabung dalam satu kelas besar. Di luar itu, mereka juga sering bertemu di perpustakaan, kantin, taman kampus, atau saat pulang kuliah. Tanpa disadari, kebiasaan-kebiasaan kecil itulah yang membuat hubungan mereka semakin dekat dari hari ke hari.
Begitu tiba di gedung fakultas, keduanya berjalan menuju kelas masing-masing. Hari itu kebetulan kelas Kai dan Karin berada di lantai yang sama sehingga mereka masih sempat berjalan berdampingan.
"Woi, Kai!"
Suara seseorang terdengar nyaring dari dalam kelas.
Kai menghentikan langkah.
Raka melambaikan tangan dari bangku belakang.
"Wah... akhirnya nongol juga."
Kai menghela napas pendek.
"Tumben masuk?"
"Ya iyalah."
Raka sambil menghampiri mereka. Beberapa hari belakangan ini, ia kembali mengikuti kegiatan komunitas hingga kembali membolos mata kuliah.
"Makasih ya."
Karin tampak bingung.
"Makasih?"
"Iya."
"Udah bikin si batu es ini mulai senyum."
Raka langsung menepuk bahu Kai.
"Dulu dia kalau di kelas mukanya kayak dosen killer."
Kai menepis tangan sahabatnya.
"Lebay."
"Nggak lebay."
Raka menoleh kepada Karin.
"Percaya deh. Dulu sehari paling cuma ngomong lima kalimat."
Karin tertawa.
"Serius?"
"Sumpah."
Kai memijat pelipisnya.
"Kamu banyak bicara."
"Soalnya ada yang denger."
Karin tertawa kecil.
Baru kali itu Karin melihat Kai memiliki teman yang sifatnya benar-benar bertolak belakang.
Jika Kai tenang seperti air, Raka justru seperti angin yang tidak pernah bisa diam.
Belum lama mereka mengobrol, Nia datang sambil membawa setumpuk buku.
"Karin..."
Langkahnya berhenti ketika melihat Raka. Dan Raka langsung tersenyum lebar.
"Halo."
Nia mengangguk singkat.
"Hai. Makin cantik aja."
Nia langsung menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu memang suka begitu ya?"
"Begitu gimana?"
"Baru ketemu langsung gombal."
Raka pura-pura tersinggung.
"Lho, aku cuma muji."
Kai yang melihat itu hanya menggeleng pelan.
Karin menahan tawa.
Entah kenapa, suasana pagi itu terasa jauh lebih hidup dibanding biasanya.
-
-
-
Jam kuliah berlalu seperti biasa.
Saat jam istirahat tiba, Raka kembali menghampiri Kai.
"Ke kantin yuk."
"Kamu duluan."
"Lah..."
Raka melirik Karin.
"Oh iya... udah ada teman makan."
Kai hanya menatapnya datar.
"Jangan mulai."
"Aku nggak mulai apa-apa."
Raka tertawa lepas.
"Yaudah, aku ke kantin sama anak-anak."
Ia berjalan pergi sambil bersiul.
Nia memperhatikannya beberapa detik.
"Temanmu aneh."
Kai menjawab singkat.
"Memang. Tapi baik."
Karin mengangguk setuju.
"Lucu juga."
Tanpa mereka sadari, dari lantai dua gedung fakultas, sepasang mata sedang memperhatikan.
Maureen.
Gadis berambut sebahu itu bersandar di pagar balkon.
Tatapannya tertuju kepada Kai yang sedang berbicara dengan Karin.
Ucapan Gio beberapa hari lalu kembali terngiang di kepalanya.
"Dekati Kai. Cari tahu kelemahannya."
Maureen sebenarnya tidak terlalu menyukai permintaan itu.
Namun ia merasa berutang budi kepada Gio karena pernah dibantu saat mengalami kesulitan biaya kuliah.
"Aku cuma membantu sebentar," gumamnya pelan. "Bukan berarti aku ikut menyakiti orang."
Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya berjalan turun menuju kantin.
Hari itu, untuk pertama kalinya Maureen memutuskan mendekati Kai. Bukan sebagai musuh. Bukan pula sebagai teman. Melainkan seseorang yang masih menjalankan tugas.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊