NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Patahkan Kaki Mereka

Tongkat itu terangkat tinggi.

Namun Rayhan belum menurunkannya.

Ia meletakkan ujung tongkat di lantai, tepat di antara kaki Edmond, lalu memberi isyarat kepada Brandon.

Sebuah layar menyala di dinding ruang samping.

Foto pertama adalah tangga tempat Evelyn jatuh lima tahun lalu. Gambar kedua menunjukkan daftar akses CCTV. Akun milik Yolanda membuka sistem dua puluh menit setelah ambulans berangkat. Empat belas menit kemudian, rekaman kamera tangga hilang.

"Kamu tahu siapa yang mendorong Evelyn jatuh," kata Rayhan kepada Edmond. "Mengapa diam?"

Edmond mengangkat dagu. "Evelyn baru sadar setelah lima tahun. Gerakan matanya tidak bisa dijadikan dasar tuduhan."

Arief membuka map. "Pertanyaan itu bukan tentang kesaksian Evelyn. Tiga staf rumah melihat Om Edmond berdiri di koridor lantai dua sebelum kejadian. Dua di antaranya mengingat Om Edmond berteriak memanggil Vanessa, bukan Keira."

"Mereka pelayan yang bisa dibayar."

"Salah satunya sudah meninggal," kata Arief. "Kesaksiannya tersimpan dalam surel yang dikirim kepada pengacara keluarga malam itu. Surel tersebut tidak pernah diserahkan kepada polisi."

Brandon menampilkan cap waktu dan alamat penerima. Nama Edmond tercantum dalam salinan.

Rayhan bertanya lagi, "Mengapa diam?"

"Vanessa panik. Dia masih muda. Keira sudah sering membuat masalah, jadi semua orang percaya dia pelakunya."

"Bukan semua orang. Kamu melihatnya."

Edmond tidak menjawab.

Rayhan beralih kepada Yolanda. "Kamu menghapus rekaman CCTV. Mengapa?"

Yolanda meremas tas kecilnya. "Aku tidak memahami sistem. Edmond menyuruhku menekan beberapa tombol."

"Bohong," kata Brandon.

Layar memperlihatkan panduan pemulihan rekaman yang diunduh Yolanda dari komputer rumah sebelum penghapusan. Ia juga menelepon teknisi keamanan selama enam menit dan membayar uang tunai agar salinan cadangan server tidak dibawa polisi.

"Aku melindungi anakku," kata Yolanda dengan suara pecah. "Van panik dan menangis. Kalau dia masuk penjara, hidupnya selesai."

"Keira juga anakmu."

"Keira lebih kuat. Dia tumbuh di panti. Dia bisa bertahan."

Rayhan menatapnya lama. "Jadi karena dia sudah pernah ditinggalkan, kalian menganggap dia bisa ditinggalkan lagi."

Yolanda mulai menangis. "Mama tidak punya pilihan."

"Kamu punya dua anak dan memilih satu. Itu pilihan."

Musik dari ballroom berhenti sebentar untuk pidato tamu, lalu kembali mengalun. Tidak ada suara dari ruang itu yang menembus panel tebal.

Rayhan mengangguk kepada Brandon.

Dokumen berikutnya muncul. Daftar kunjungan Lapas Perempuan Tangerang menampilkan lima tahun masa pidana Keira. Setiap bulan memiliki kolom keluarga. Semuanya kosong.

Di samping daftar kunjungan ada dua puluh tiga amplop. Keira pernah menulis ke rumah pada tahun pertama, meminta satu kali kunjungan dan salinan putusan untuk mengajukan upaya hukum. Dua belas surat diterima petugas rumah Pratama. Sebelas lainnya dikembalikan karena alamat penerima menolak kiriman.

Brandon memperbesar tanda tangan penerima. Tiga ditandatangani Yolanda. Lima menggunakan paraf sekretaris pribadi Edmond. Sisanya diterima kepala rumah tangga atas perintah tertulis agar semua surat dari lapas tidak dibawa ke ruang keluarga.

"Aku tidak pernah melihat ini," kata Yolanda.

"Tanda tanganmu ada pada tiga amplop."

"Aku tidak membaca isinya."

"Kalian semua selalu punya alasan yang sama," kata Rayhan. "Tidak membaca. Tidak melihat. Tidak bertanya. Tapi setiap kelalaian hanya jatuh pada satu orang."

"Lima tahun, nol kunjungan ke penjara," kata Rayhan. "Mengapa?"

Edmond mendengus. "Dia dihukum karena melukai orang. Kami harus mengajarinya menerima konsekuensi."

"Kalian tidak pernah datang untuk memastikan dia hidup."

"Lapas wajib menjaganya."

"Kamu tahu Daniel Adiputra membayar Rp 1 miliar kepada petugas?"

Wajah Edmond bergerak sedikit. Bukan terkejut. Hanya berhitung.

Arief menangkapnya. "Om Edmond tahu."

"Aku mendengar rumor setelah tahun kedua," kata Edmond. "Tidak ada bukti. Dan menghentikannya bisa membuat Adiputra menyerang bisnis kami."

"Enam tongkat mematahkan kaki anakmu," kata Rayhan. "Kamu menghitung harga saham."

"Itu semua demi keluarga."

Rayhan memotong, "Keluarga? Kamu bahkan tidak memasukkan namanya di Kartu Keluarga."

Brandon menaruh salinan KK di meja. Empat nama, dua kali diperbarui, tidak ada Keira. Di sampingnya ada surat rumah sakit mengenai ginjal kiri yang hilang dan hasil kecocokan delapan tahun lalu.

Pembaruan pertama dilakukan saat Keira berusia enam belas tahun, ketika keluarga mengganti alamat Pondok Indah. Pembaruan kedua dilakukan setelah ia masuk lapas. Pada keduanya, Edmond hadir sebagai kepala keluarga dan menandatangani halaman akhir.

"Satu kesalahan administrasi bisa terjadi," kata Brandon. "Dua pembaruan membutuhkan dua keputusan aktif."

"Kami belum menyelesaikan proses adopsi balik dari panti," kata Edmond.

Arief menggeser akta kelahiran. "Keira tercatat sebagai anak biologis sejak tes DNA awal. Tidak ada adopsi balik yang diperlukan."

Yolanda memandang dokumen itu seolah baru pertama kali memahami bahwa alasan mereka bisa diperiksa oleh orang lain.

Edmond melihat dokumen terakhir terlalu lama.

"Itu data medis yang dicuri," katanya.

"Itu data milik Keira yang dia izinkan untuk disimpan di luar rumah sakit."

"Rayhan Hartono, kamu tidak tahu urusan keluarga kami."

"Aku tahu kalian mengembalikan anak berusia lima belas tahun ke gudang tanpa jendela. Aku tahu uang sakunya nol. Aku tahu satu hari setelah pulang, tubuhnya diperiksa untuk kecocokan organ. Aku tahu kalian memilih satu anak untuk diselamatkan dan satu anak untuk dipakai."

Yolanda menoleh cepat kepada Edmond. "Kecocokan organ apa?"

Edmond tidak melihat istrinya.

Rahasia ginjal itu belum lengkap. Rayhan tidak memberi jawaban yang belum terbukti. Ia menggeser dokumen kembali ke map Keira.

"Pertanyaan hari ini hanya tentang hal yang sudah kalian lakukan dan akui."

Rayhan meletakkan satu lembar terakhir di meja. Itu bukan surat pengampunan. Isinya permintaan agar Edmond dan Yolanda memberikan akses ke server lama, menyerahkan semua salinan CCTV yang mungkin masih tersimpan, mencabut pernyataan keluarga yang menyebut Keira pelaku, dan tidak menghubunginya tanpa persetujuan tertulis.

"Tandatangani pengakuan fakta yang sudah terbukti," kata Rayhan. "Besok pengacara kalian bisa memperdebatkan akibat hukumnya."

Edmond membaca sampai bagian pencabutan pernyataan. "Kalau aku menandatangani, pasar akan menganggap keluarga Pratama mengakui penipuan."

"Kamu masih memikirkan pasar."

"Aku memikirkan ribuan pegawai."

"Kevin sudah memisahkan dana gaji dari kendalimu. Jangan gunakan mereka sebagai perisai."

Edmond merobek lembar itu menjadi dua.

Edmond mencoba berdiri. Dua petugas keamanan menekan bahunya kembali.

"Kalau kamu menyentuh kami, Hartono Group akan berhadapan dengan polisi, media, dan seluruh relasi Pratama Group."

"Laporkan."

"Kamu pikir uang bisa menghapus serangan?"

"Tidak." Rayhan memutar tongkat sekali dan menggenggamnya di tengah. "Uang juga tidak menghapus apa yang kalian lakukan kepada Keira."

Arief menatap Rayhan. "Pak, bukti sudah cukup untuk diserahkan kepada penyidik."

Itu bukan persetujuan. Mantan prajurit itu sedang mengingatkan batas.

Rayhan mendengarnya dan tetap memilih melangkah melewati batas tersebut.

"Keira patah kaki karena enam tongkat di penjara," katanya. "Kalian cukup satu tongkat saja."

Ia mengangguk kepada dua petugas.

Mereka menahan Edmond dan Yolanda agar tidak jatuh sebelum pukulan. Tongkat milik Edmond turun satu kali ke tungkai kanannya. Suara benturan pendek diikuti teriakan yang langsung tenggelam di dalam ruangan.

Petugas kedua menerima tongkat itu. Yolanda menjerit meminta maaf sebelum satu pukulan mengenai tungkai kirinya.

Tidak ada serangan kedua.

Hasilnya terlihat ketika mereka tidak mampu berdiri. Kaki Edmond membengkak cepat di bawah celana. Yolanda memegangi sisi bawah lutut, napasnya putus-putus. Tim medis yang menunggu di koridor masuk setelah dipanggil, memasang penyangga, memeriksa aliran darah, dan memberi analgesik sesuai dosis.

Pemeriksaan awal menunjukkan patah tulang pada keduanya. Mereka harus dibawa ke rumah sakit melalui pintu servis.

Dokter meminta izin memotong kain di sekitar tungkai untuk memasang penyangga yang benar. Rayhan memberi jalan dan tidak ikut campur pada keputusan medis. Kedua pasien mendapat obat, pemeriksaan saraf, foto radiologi, dan ambulans dalam hitungan menit.

Kontrasnya tidak bisa diabaikan. Setelah enam tongkat menghancurkan kaki Keira, ia dibiarkan kembali ke sel tanpa rontgen dan tanpa obat yang cukup. Edmond dan Yolanda menerima seluruh perlindungan medis yang dulu mereka tolak untuk anak mereka.

Brandon menyerahkan formulir kejadian kepada Rayhan. "Kita tidak menulis mereka jatuh."

"Tulis benturan benda tumpul. Simpan rekaman keluar-masuk ruangan. Kalau mereka melapor, pengacara menjawab."

Rayhan tidak meminta Arief menghapus bukti. Ia juga tidak berpura-pura tindakan itu sah. Pembalasan telah terjadi, dan kekuasaan Hartono tidak mengubah namanya menjadi keadilan.

Arief berdiri dekat pintu. "Kalau laporan dibuat, saya akan memberikan catatan sesuai fakta."

"Lakukan."

"Termasuk perintah Pak Rayhan."

"Termasuk itu."

Tidak ada perubahan pada suara Rayhan. Ia memilih tindakan tersebut dengan mengetahui bahwa konsekuensi hukum tidak boleh dialihkan kepada staf atau disembunyikan di balik nama keluarga.

Edmond menatapnya dari tandu. "Keira akan takut ketika tahu orang seperti apa kamu."

Rayhan merapikan manset. "Itu haknya."

"Dia akan meninggalkanmu."

"Itu juga haknya."

Yolanda masih menangis ketika tandunya dibawa pergi. Suara roda menghilang di koridor servis, jauh dari ballroom. Para tamu tidak mengetahui penyebab dua kursi Pratama tiba-tiba kosong.

Amanda berdiri di dekat pintu ruang samping. Ia telah mendengar pertanyaan dan dua teriakan dari celah sebelum tim medis masuk.

"Bosmu," katanya kepada Brandon, "aku suka gayanya."

Brandon menatap plester yang masih menutup buku jarinya. "Kalian berdua perlu belajar bahwa patah tulang bukan bahasa cinta."

Amanda tidak membalas. Pandangannya beralih ke lantai atas, tempat Keira sedang berbicara dengan Oma dan tidak mengetahui apa pun.

Rayhan mencuci tangannya, mengganti manset yang terkena debu, lalu kembali ke ballroom. Wajahnya tenang seolah baru menyelesaikan rapat singkat.

Keira menatap kursi Edmond dan Yolanda yang kosong.

"Mereka pulang?"

"Dibawa ke rumah sakit."

"Kenapa?"

Sebelum Rayhan menjawab, pintu utama ballroom terbuka.

Seorang perempuan dalam gaun bermerek masuk dengan langkah terukur. Rambutnya baru ditata. Senyum di bibirnya tampak sudah dilatih di depan cermin, tetapi matanya dingin dan penuh perhitungan.

Jessica Hartono née Mahendra.

Di layar ponselnya, pesan terbaru dari Vanessa masih terbuka.

`Tante, dia ada di aula utama. Sekarang adalah waktu terbaik.`

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!