Lin Xuan, seorang pemuda modern penyuka novel web, tiba-tiba bertransmigrasi ke Benua Langit Surgawi. Sialnya, ia terbangun dalam tubuh Ketua Sekte termuda dari "Sekte Bintang Jatuh"—sebuah sekte yang dulunya merupakan penguasa benua, namun kini hanya menyisakan dirinya dan sebuah gunung usang karena diserang oleh aliansi musuh. Di saat musuh datang untuk mengambil alih tanah sektenya, Lin Xuan membangkitkan "Sistem Pembangunan Sekte Abadi".
Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang klan, membangun paviliun ajaib, hingga memanggil naga penjaga, Lin Xuan memulai perjalanannya untuk mengubah sekte bobroknya menjadi kekuatan nomor satu di seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Panen Darah dan Utusan dari Laut Timur
Tiga hari setelah insiden di Kota Batu Merah, sebuah bayangan pedang raksasa yang terbuat dari hawa murni melesat membelah langit menuju Gunung Bintang Jatuh. Di atas pedang raksasa itu, Penatua Li Canggong duduk bersila sambil bernyanyi-nyanyi mabuk, sementara Ye Chen dan Su Yue'er berdiri di belakangnya dengan ekspresi jauh lebih dewasa dari sebelumnya.
Tidak ada lagi kesombongan buta di mata mereka. Sisa-sisa pertarungan hidup dan mati melawan Kuang Jiao telah membakar habis sifat kekanak-kanakan tersebut, meninggalkan ketajaman sebuah pedang yang baru saja diasah dengan darah.
Pedang terbang itu mendarat dengan mulus di pelataran Aula Utama.
Lin Xuan, yang sedang bersantai sambil membaca gulungan kuno (kosong) hanya untuk bergaya, mengangkat wajahnya. Ia bisa langsung merasakan perubahan temperamen pada kedua muridnya.
"Guru, kami telah kembali," Ye Chen dan Su Yue'er melangkah maju dan berlutut serempak. Tidak ada nada persaingan atau ejekan di antara mereka. Keduanya bergerak dengan sinergi yang belum pernah ada sebelumnya.
Ye Chen melepas tiga cincin penyimpanan dari jarinya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Murid telah mengamankan Kota Batu Merah. Seluruh sisa anggota Aliansi Tengkorak Merah telah bersumpah setia pada sekte kita. Di dalam cincin ini terdapat seratus ribu batu roh tingkat rendah, lima ribu batang logam langka untuk penempaan, dan ratusan peti tanaman obat dari gudang perbendaharaan mereka."
Lin Xuan mengangguk pelan. Ia menjentikkan jarinya, dan ketiga cincin itu melayang ke tangannya.
"Kalian melakukannya dengan sangat baik," ucap Lin Xuan, suaranya tenang namun mengandung persetujuan yang membuat dada kedua muridnya menghangat. "Guru bisa melihat bahwa kultivasi kalian tidak hanya meningkat di permukaan, tetapi fondasi jiwa kalian telah mengeras. Ingatlah, musuh terhebat kalian bukanlah kultivator dengan ranah yang lebih tinggi, melainkan kesombongan di dalam diri kalian sendiri."
"Murid akan selalu mengingat ajaran Guru!" jawab keduanya serempak.
Li Canggong menenggak araknya dan tertawa keras. "Ketua, dua anak ini benar-benar membuatku terhibur. Mereka hampir mati dipukul oleh beruang bodoh, tapi mereka berhasil membalikkan keadaan dengan kelicikan yang bagus. Masa depan sekte kita benar-benar cerah!"
Lin Xuan tersenyum tipis pada sang Penatua. Ia tahu Li Canggong sengaja tidak turun tangan untuk memberi mereka pelajaran.
"Karena Kota Batu Merah sekarang berada di bawah kendali kita," Lin Xuan berdiri dari takhtanya, "kita tidak bisa membiarkannya tanpa penjagaan. Jarak beberapa ratus mil terlalu jauh untuk distribusi sumber daya yang efisien."
Lin Xuan membuka panel Sistem di benaknya. Dengan total Poin Sekte yang kini mencapai 18.000 Poin, ia bisa bertindak layaknya seorang tiran kaya raya.
"Sistem, buka Toko Sekte. Beli Gerbang Teleportasi Ruang-Waktu (Sepasang)!"
[Pembelian Berhasil!]
[-5.000 Poin Sekte. Saldo: 13.000 Poin.]
[Gerbang Teleportasi Ruang-Waktu telah masuk ke penyimpanan. Tuan Rumah dapat menempatkan gerbang utama di sekte, dan gerbang kedua di lokasi mana pun yang telah ditaklukkan.]
Lin Xuan mengayunkan lengan bajunya. Sebuah lengkungan batu giok raksasa yang dipenuhi ukiran rasi bintang jatuh dari langit, menghantam pelataran di dekat gerbang masuk Gunung Bintang Jatuh. Pusaran energi perak yang melengkungkan ruang angkasa berputar di tengah-tengah lengkungan batu tersebut.
"Ini..." Mata Li Canggong melebar. Mabuknya sedikit berkurang. "Membangun lorong spasial yang stabil dari ketiadaan? Pemahaman ruang Ketua Sekte benar-benar telah mencapai puncak alam semesta!"
Ye Chen dan Su Yue'er sudah kebal dengan keajaiban gurunya, namun tetap saja mereka menahan napas kagum.
"Ye Chen, bawa gerbang pasangannya," Lin Xuan melemparkan sebuah miniatur lengkungan batu giok ke tangan muridnya. "Kembalilah ke Kota Batu Merah dan tanamkan benda ini di pusat kota. Dengan ini, sumber daya dan pasukan bisa berpindah antara gunung kita dan kota itu dalam sekejap mata."
Ye Chen menggenggam miniatur itu dengan erat. "Baik, Guru! Dengan ini, bahkan jika musuh mencoba merebut kota itu kembali, kita bisa mengirim Penatua Li dalam sedetik!"
Setelah memberikan beberapa pil penyembuh dari Paviliun Alkimia kepada kedua muridnya, Lin Xuan membubarkan mereka agar bisa beristirahat di Menara Waktu.
Begitu pelataran kembali sepi, senyum Lin Xuan memudar. Matanya menatap tajam ke arah ufuk timur, mengingat peringatan sistem tentang gelombang karma yang sedang mendekat.
"Sekte misterius dari laut timur... Sebaiknya mereka membawa barang bagus jika berani datang mencari masalah denganku," batinnya dingin.
Di waktu yang sama, Ibu Kota Kekaisaran Suci.
Jauh dari kedamaian Gunung Bintang Jatuh, ibu kota faksi terkuat di benua ini sedang diselimuti awan tebal yang tidak normal. Langit yang biasanya cerah kini tertutup oleh petir hijau yang menyambar-nyambar tanpa suara.
Di atas Istana Naga Emas, ruang udara tiba-tiba robek seperti kertas tipis. Dari dalam robekan dimensi itu, lautan air asin tumpah ke udara, menciptakan ilusi gelombang samudra di langit.
Sebuah kereta perang raksasa yang terbuat dari cangkang kura-kura purba melesat keluar dari pusaran air tersebut. Kereta itu ditarik oleh tiga ekor Naga Air Jiao (Flood Dragons) yang sisiknya memancarkan kilat hijau mematikan.
Di ruang takhta, Kaisar Suci yang merasakan fluktuasi ini langsung melesat keluar istana, diikuti oleh sisa jenderal dan menteri tingkat tingginya. Bukannya bersiap menyerang, penguasa benua itu justru menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kekaisaran Suci menyambut kedatangan Utusan Ilahi dari Kuil Naga Laut!" seru Kaisar Suci, menekan seluruh harga dirinya.
Dari atas kereta cangkang kura-kura, tiga sosok melayang turun. Dua orang pemuda dan seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah biru sisik naga. Pria paruh baya itu adalah Utusan Ao Hai. Matanya berwarna biru es, dan di dahinya terdapat dua tonjolan kecil menyerupai tanduk naga.
Aura yang terpancar dari Utusan Ao Hai membuat seluruh istana bergetar. Hawa murni elemen airnya begitu kental hingga udara terasa seperti menenggelamkan paru-paru siapa pun yang bernapas di dekatnya.
Ranah Transformasi Dewa Tingkat 6!
Satu tingkat di atas Kaisar Suci, dan jauh di atas batas ranah kultivator rata-rata di daratan.
"Daratan yang kotor dan energi spiritual yang tipis. Benar-benar tempat buangan," ucap Ao Hai dengan nada meremehkan, bahkan tidak melirik Kaisar Suci yang membungkuk di hadapannya.
"Utusan Ilahi benar. Daratan fana ini tidak sebanding dengan pulau suci Anda," ucap Kaisar Suci, menelan ludah. "Hamba telah menggunakan jimat transmisi yang ditinggalkan leluhur hamba karena sesuatu yang dijanjikan oleh Kuil Naga Laut ribuan tahun lalu telah muncul."
Mendengar itu, mata Ao Hai sedikit berbinar. Ia melangkah maju, melepaskan tekanan auranya sehingga Kaisar Suci terpaksa mundur dua langkah.
"Pecahan Jantung Dunia benar-benar muncul?" tanya Ao Hai, suaranya tajam seperti ujung tombak es. "Di mana benda itu? Serahkan padaku sekarang, dan Kuil Naga Laut akan memberimu satu kursi bagi keluargamu untuk mengungsi ke wilayah kami saat Bencana Surgawi tiba."
Kaisar Suci mengepalkan tangannya dengan hati-hati. "Utusan, pecahan itu tidak ada di tangan hamba. Benda itu berada di wilayah perbatasan timur, dikuasai oleh faksi aneh bernama Sekte Bintang Jatuh. Tiga Jenderal Emas dan seratus ribu pasukan hamba hancur dalam hitungan detik saat mencoba mengambilnya."
Mendengar laporan itu, dua pemuda di belakang Ao Hai tertawa sinis.
"Seratus ribu pasukan? Ahli daratan benar-benar sekumpulan sampah rapuh," ejek salah satu pemuda. "Jika Ketua Sekte mereka bisa membunuh pasukanmu, dia paling tinggi berada di awal ranah Transformasi Dewa."
Ao Hai mendengus pelan, menatap langit ke arah timur.
"Sekte Bintang Jatuh... Nama yang pernah kudengar dari catatan kuno. Mereka mengklaim sebagai sekte abadi di zaman purba. Sayangnya, ini bukan lagi era mereka," ucap Ao Hai dingin.
Ia menoleh pada Kaisar Suci. "Siapkan kapal tercepatmu. Aku ingin melihat sendiri monster macam apa di daratan miskin ini yang berani menggenggam Pecahan Jantung Dunia. Siapa pun yang berani menghalangi jalan Kuil Naga Laut, aku akan menenggelamkan gunung mereka ke dasar samudra kematian."