Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang penuh harapan
Keesokan harinya, matahari belum sepenuhnya tinggi ketika Devi dan Rani sudah berdiri di depan gerbang pabrik. Udara pagi masih sejuk, membawa aroma tanah basah dari sawah di sekitar. Keduanya mengenakan seragam kerja sederhana yang telah disiapkan semalam, kemeja biru muda dan celana panjang hitam. Di wajah mereka terpancar campuran semangat dan sedikit ketegangan.
“Dev, kamu nggak gugup, kan?” tanya Rani sambil mengencangkan tali sepatunya.
“Gugup sedikit. Tapi lebih banyak senang. Kita sudah kerja, Ran. Bukan pengangguran lagi,” jawab Devi sambil tersenyum.
Mereka masuk setelah menunjukkan kartu identitas sementara yang diberikan kemarin. Seorang karyawan bagian administrasi menuntun mereka menuju dua gudang yang berbeda. Ternyata, gudang di pabrik itu terbagi menjadi beberapa bagian. Rani ditempatkan di Gudang B, yang lebih banyak menyimpan bahan baku, sementara Devi diarahkan ke Gudang A, tempat penyimpanan barang jadi siap kirim.
“Kamu di sana ya, Ran. Nanti istirahat siang kita ketemu di kantin,” kata Devi sebelum berpisah.
“Oke. Semangat, Dev!” balas Rani sambil melambaikan tangan.
Di Gudang A, suasana sudah ramai. Beberapa pekerja laki-laki sedang memindahkan kardus-kardus besar ke atas rak. Di antara mereka, dua orang pemuda yang kelihatannya sebaya dengan Devi menghampiri.
“Halo. Kamu yang baru, ya?” sapa salah satunya dengan senyum ramah. “Saya Rudi. Ini teman saya, Rian.”
Rian mengangguk. “Selamat datang di gudang. Jangan khawatir, kami bakal bantu.”
Devi memperkenalkan diri. “Saya Devi. Baru mulai hari ini. Mohon bantuannya, ya.”
Rudi tertawa kecil. “Tenang aja. Kerja di sini nggak terlalu rumit, asal rajin dan teliti. Nanti Pak Joko yang kasih arahan. Beliau atasan kita di gudang ini.”
Nama itu membuat Devi sedikit menelan ludah. Kemarin, saat mengurus administrasi, ia sempat mendengar beberapa karyawan berbisik tentang Pak Joko yang “galak” dan “nggak main-main”. Tapi Devi mencoba menenangkan diri. Yang penting ia bekerja dengan baik.
Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh pendek ,perut buncit, dengan rambut sedikit beruban memasuki gudang. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak dan membawa papan klip. Wajahnya tegas, mata tajam menatap seisi ruangan.
“Pagi. Yang baru, maju,” perintahnya singkat.
Devi melangkah ke depan. “Saya Devi, Pak. Baru masuk hari ini.”
Pak Joko mengangguk. “Bagus. Kamu di sini kerja sama Rudi dan Rian. Tugas kalian hari ini cek stok, rapikan rak, dan pastikan semua barang sesuai daftar. Jangan ada yang tertukar. Paham?”
“Paham, Pak,” jawab Devi bersama Rudi dan Rian.
Pekerjaan dimulai. Rudi menjelaskan cara membaca kode barang, sementara Rian menunjukkan bagaimana menyusun kardus agar stabil dan mudah diambil. Devi belajar cepat. Ia mencatat setiap nomor, menghitung jumlah, dan memastikan tidak ada yang terlewat. Tangan mereka bergerak terus, memindahkan, menyusun, dan menandai.
Sekitar pukul sepuluh, seorang karyawan dari bagian logistik masuk dengan terburu-buru.
“Pak Joko, ada surat dari pusat. Minta dua orang untuk mengantar barang ke luar daerah hari ini. Pengiriman mendesak ke kabupaten sebelah.”
Pak Joko mengernyit. “Siapa yang bisa pergi?”
Rudi dan Rian saling berpandangan. Rudi mengangkat tangan. “Kami saja, Pak. Sudah biasa.”
Pak Joko mengangguk. “Baik. Bawa surat jalan dan pastikan barang sampai aman. Pulang malam nanti.”
Rudi menoleh ke Devi. “Dev, maaf ya. Kamu sendiri dulu di sini. Kalau ada yang bingung, tanya Pak Joko langsung. Atau nanti kita bantu lagi kalau sudah balik.”
“Iya, nggak apa-apa. Hati-hati di jalan,” jawab Devi.
Setelah Rudi dan Rian pergi membawa beberapa peti besar ke truk yang sudah menunggu, gudang terasa jauh lebih sepi. Hanya terdengar suara mesin forklift di kejauhan dan derit pintu besi yang sesekali terbuka. Devi melanjutkan pekerjaan sendirian. Ia memeriksa daftar stok yang tertinggal, merapikan rak yang masih berantakan, dan memastikan setiap barang berada di tempat yang benar.
Waktu berlalu. Siang hari tiba. Devi sempat istirahat sebentar di sudut gudang, memakan bekal nasi bungkus yang dibawanya dari rumah. Ia memikirkan Rani yang mungkin sedang sibuk di Gudang B. Semoga temannya juga baik-baik saja.
Sore hari, ketika jarum jam mendekati pukul empat, Pak Joko kembali masuk ke gudang dengan langkah cepat. Wajahnya lebih tegang dari biasanya.
“Devi,” panggilnya.
“Ya, Pak?”
“Kamu berhenti dulu yang lain. Sekarang fokus membereskan seluruh gudang ini. Rak yang masih berantakan harus dirapikan. Barang yang belum dicatat harus dicek ulang. Lantai harus bersih. Tidak boleh ada debu atau kardus yang berserakan.”
Devi mengangguk. “Baik, Pak.”
Tapi Pak Joko belum selesai. Ia menatap Devi dengan serius. “Dan dengarkan baik-baik. Kamu tidak boleh pulang sebelum semuanya selesai. Saya tidak peduli sudah jam berapa. Ada kemungkinan inspeksi dadakan dari pusat. Kalau mereka datang dan melihat gudang berantakan, yang kena bukan hanya saya. Paham?”
Devi terdiam sejenak. Ia menatap jam di dinding. Sudah hampir pukul empat sore. Biasanya jam kerja selesai pukul lima. Tapi dari nada suara Pak Joko, jelas perintah itu tidak bisa ditawar.
“Paham, Pak,” jawabnya pelan.
Pak Joko mengangguk. “Bagus. Kerjakan. Kalau ada yang kurang jelas, tanya sekarang. Nanti jangan bilang tidak tahu.”
Setelah itu, Pak Joko keluar, meninggalkan Devi sendirian di gudang yang luas. Suara langkah kaki pekerja lain sudah mulai jarang terdengar. Beberapa sudah bersiap-siap pulang. Devi menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bekerja lagi.
Ia mulai dari rak paling ujung. Kardus-kardus yang menumpuk tidak rapi disusun ulang sesuai kode. Ia menaiki tangga kecil, merapikan barang di tingkat atas, lalu turun lagi untuk memeriksa daftar. Setiap kali menemukan ketidaksesuaian, ia mencatat dan memindahkan. Lantai yang penuh debu disapu dengan hati-hati. Beberapa kantong plastik kosong dikumpulkan dan dibuang ke tempat sampah.
Waktu terus berjalan. Pukul lima tiba. Bunyi bel tanda pulang terdengar samar dari luar. Devi sempat melirik ke pintu, berharap ada yang datang membantu. Tapi tidak ada. Rani mungkin sudah pulang. Rudi dan Rian masih di perjalanan. Hanya dirinya yang masih di dalam.
Ia terus bekerja. Keringat mulai membasahi punggung. Tangannya sedikit lelah, tapi ia tidak berhenti. Bayangan inspeksi dadakan membuatnya semakin teliti. Ia memeriksa ulang setiap sudut. Rak yang semula miring diganjal agar stabil. Barang-barang kecil yang tercecer dikumpulkan dan dikembalikan ke tempatnya.
Pukul enam. Langit di luar sudah mulai gelap. Lampu gudang menyala terang. Devi masih sibuk di tengah tumpukan kardus. Perutnya sudah keroncongan, tapi ia menahan lapar. Ia ingat pesan kakaknya, Raka, semalam: “Jangan malas. Kerja itu tanggung jawab.”
Ia teringat juga wajah ibunya yang bangga ketika mendengar ia diterima kerja. “Nduk, jaga nama baik keluarga. Kerja jujur dan sungguh-sungguh.”
Dengan pikiran itu, Devi semakin bersemangat. Ia menyapu ulang lantai yang sudah semi bersih, memastikan tidak ada debu yang tersisa. Kemudian ia memeriksa daftar stok untuk yang ketiga kalinya. Semua cocok. Tidak ada yang kurang atau lebih.
Pukul tujuh. Suara motor di luar sudah sepi. Hanya terdengar deru mesin pabrik yang masih beroperasi di bagian lain. Devi duduk sejenak di kursi kecil di sudut, mengelap keringat di dahi. Tubuhnya lelah, tapi hatinya lega melihat gudang yang kini rapi dan tertata.
Tiba-tiba pintu gudang terbuka. Pak Joko masuk kembali, membawa secarik kertas. Ia berjalan mengelilingi gudang, memeriksa setiap rak dengan teliti. Matanya menyapu lantai, dinding, dan tumpukan barang. Devi berdiri tegak, menunggu.
Setelah beberapa menit, Pak Joko berhenti di depan Devi. Wajahnya masih tegas, tapi ada sedikit perubahan di ekspresinya.
“Sudah selesai?” tanyanya.
“Sudah, Pak. Semua sudah dirapikan dan dicek ulang,” jawab Devi.
Pak Joko mengangguk pelan. Ia membuka papan klipnya, menuliskan sesuatu, lalu menutupnya kembali.
“Bagus. Kerja bagus untuk hari pertama. Tidak banyak yang bisa fokus sendirian seperti ini. Besok datang lagi jam delapan. Jangan terlambat.”
Devi menghela napas lega. “Terima kasih, Pak.”
“Pulang sekarang. Hati-hati di jalan.”
Devi mengucapkan salam, lalu keluar dari gudang. Udara malam sudah dingin. Ia berjalan menuju gerbang, merasa tubuhnya berat tapi hatinya ringan. Di perjalanan pulang dengan ojek yang kebetulan lewat, ia memikirkan hari yang panjang itu.
Rani pasti sudah menunggu kabar. Rudi dan Rian mungkin sedang dalam perjalanan kembali. Dan dirinya… sudah melewati hari pertama sebagai pekerja gudang, sendirian, di bawah tekanan atasan yang keras, tapi berhasil.
Ketika tiba di rumah, ibunya langsung menyambut. “Nduk, kenapa malam sekali? Sudah makan belum?”
“Belum, Bu. Tadi kerja lembur. Gudang harus dibereskan karena takut ada inspeksi,” jawab Devi sambil tersenyum lelah.
Ibunya mengelus rambutnya. “Sudah, mandi dulu. Nanti Ibu buatkan makan. Kamu hebat, Nduk. Hari pertama sudah bisa dipercaya.”
Devi mengangguk. Di kamarnya, sebelum tidur, ia mengirim pesan singkat ke Rani.
“Ran, aku baru pulang. Tadi ditinggal sendiri di gudang. Pak Joko minta beresin semuanya karena takut inspeksi. Capek banget, tapi lega. Besok cerita ya.”
Balasan Rani datang cepat. “Wah, hebat kamu. Aku di Gudang B lumayan tenang. Nanti kita tukeran cerita. Istirahat yang cukup, Dev. Besok semangat lagi.”
Devi tersenyum. Ia mematikan lampu. Di luar, malam desa tenang. Di dalam hatinya, rasa bangga perlahan tumbuh. Hari ini ia belajar bahwa bekerja bukan hanya soal datang dan pulang. Ada tanggung jawab, ada tekanan, dan ada kebanggaan ketika bisa menyelesaikannya.
Besok, ia akan kembali ke gudang itu. Mungkin Rudi dan Rian sudah kembali. Mungkin ada tugas baru. Tapi yang tidak di ketahui Devi besok adalah hari yang tidak pernah ia bayangkan,dimana hari esok adalah hari yang akan merubah hidupnya.
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja