Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Hari terakhir MPLS
Mentari pagi itu bersinar cerah, seolah ikut merayakan hari terakhir Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Tap-tap... (Suara langkah kaki)
Rian berjalan melewati gerbang sekolah dengan langkah yang jauh lebih ringan dibanding hari pertama.
Tidak ada lagi rasa takut atau cemas di wajahnya, yang ada hanyalah rasa tidak sabar untuk menyelesaikan lembar petualangan ini.
Di lapangan utama, Amel sudah melambaikan tangan dengan heboh.
"Rian! Sini!" serunya dari barisan Gugus 4.
Saat Rian bergabung, Amel langsung menyenggol lengannya. "Siap untuk penutupan hari ini? Kudengar kakak panitia punya kejutan besar untuk gugus kita yang menang kemarin!"
Rian tersenyum lebar, mengangguk mantap. "Siap dong. Masih tidak menyangka hari pertama aku salah membawa makanan minuman, dan sekarang kita di sini, siap merayakan penutupan."
"Hei berdua! Jangan asyik mengobrol sendiri saja!"
Sebuah suara cempreng tiba-tiba memotong percakapan mereka.
Itu adalah Minda, gadis bertubuh mungil dengan bando biru menyala yang sejak hari pertama MPLS terkenal sebagai maskot keceriaan Gugus 4.
Di samping Minda, berdiri Lyra, gadis yang selalu membawa buku catatan kecil, pembawaannya tenang namun memiliki selera humor yang sarkas dan cerdas.
"Minda, Lyra!" Amel menyapa mereka dengan pelukan singkat.
"Kalian sudah dengar gosip tentang hadiah utama untuk gugus terbaik?"
"Tentu saja sudah," sahut Minda sambil melompat kecil, membuat kuncir kudanya ikut bergoyang.
"Aku bahkan sengaja memakai kaus kaki keberuntungan hari ini. Kalau kita sampai kalah dari Gugus 2, aku akan mogok makan di kantin selama seminggu!" Lyra memutar bola matanya jenaka, lalu membuka buku catatannya.
"Secara kalkulasi poin dari lembar penilaian panitia yang sempat kuintip kemarin, Gugus 4 memimpin 15 poin di atas Gugus 2. Jadi, Minda, perutmu aman. Kamu tidak perlu mogok makan." Rian tertawa mendengar analisis Lyra.
"Kamu sampai mengintip catatan panitia, Lyra? Dedikasi yang luar biasa."
"Ini namanya strategi, Rian," balas Lyra sambil menahan senyum.
"Kita tidak boleh pulang dengan tangan kosong setelah semua yel-yel yang kita teriakkan di depan kemarin."
Sebelum acara dimulai, seluruh anggota Gugus 4 berkumpul membentuk lingkaran kecil.
Mereka melakukan tos khas yang mereka ciptakan sendiri, menyatukan semangat untuk terakhir kalinya sebagai peserta MPLS.
Atmosfer di lapangan terasa sangat hangat, dipenuhi obrolan seru dan tawa dari ratusan siswa baru yang kini sudah saling akrab.
___________________
"Seluruh peserta MPLS dimohon untuk segera ke lapangan sekarang!!"
Tepat jam 09.00 WIB, suara bariton ketua OSIS menggema melalui pengeras suara, meminta seluruh siswa merapatkan barisan.
Upacara penutupan MPLS resmi dimulai.
Tap-tap....
Kepala Sekolah naik ke atas podium dengan senyum bangga yang tulus.
Saat Kepala Sekolah memberikan pidato, Rian mendengarkan dengan saksama.
Kata-kata beliau tentang "gerbang masa depan" dan "awal dari perjuangan yang sesungguhnya" terasa meresap ke dalam hatinya.
Rian melirik ke sekelilingnya—ke arah Amel, teman-teman barunya di Gugus 4, dan gedung sekolah yang megah.
Tempat yang awalnya terasa asing dan mengintimidasi ini sekarang terasa seperti rumah kedua yang siap melindunginya selama tiga tahun ke depan.
Momen paling emosional terjadi saat pelepasan tanda peserta MPLS secara simbolis. Perwakilan siswa maju ke depan, dan kartu tanda peserta mereka digantikan dengan dasi sekolah resmi.
"Dengan ini, kalian bukan lagi calon siswa, melainkan bagian dari keluarga besar sekolah kita," ucap Kepala Sekolah, disambut tepuk tangan riuh yang membahana di seluruh penjuru lapangan.
Prok! Prok! Prok!.... (Suara tepuk tangan)
Amel tampak berkaca-kaca karena terharu, sementara Rian merasakan desiran bangga di dadanya.
________________
Setelah bagian formal selesai, suasana khidmat langsung berubah menjadi pesta pora yang meriah.
Musik bersemangat diputar, dan panggung utama diambil alih oleh penampilan pensi (pentas seni) dari kakak-kakak kelas.
Ada penampilan band, tari modern, hingga demonstrasi keren dari berbagai ekstrakurikuler yang membuat para siswa baru berdecak kagum.
Di tengah kemeriahan itu, mikrofon kembali diambil alih oleh koordinator panitia.
"Sekarang, saatnya pengumuman yang paling ditunggu-tunggu... Gugus Terbaik MPLS Tahun Ini!"Jantung Rian berdegup kencang.
"Jatuh kepada... Gugus 4!"
Seketika itu juga, lapangan pecah oleh sorakan histeris.
Seluruh anggota Gugus 4 melompat kegirangan, saling berpelukan dan ber-high-five.
Rian diminta maju ke panggung sebagai perwakilan untuk menerima piala dan hadiah paket perlengkapan sekolah.
Di atas panggung, di bawah sorot kamera dan tatapan ratusan mata, Rian melihat ke arah Amel yang tersenyum sangat lebar.
"Hari keberuntunganmu belum habis, Rian!" bisik Amel di sela-sela riuhnya tepuk tangan.
_______________
Matahari sore telah turun merendah, memancarkan rona jingga keemasan yang hangat di atas lapangan utama sekolah.
Suara musik yang seharian penuh berdentum kini telah dimatikan.
Lapangan yang tadinya dipadati ratusan siswa kini mulai sepi, menyisakan beberapa panitia OSIS yang sibuk menggulung kabel dan sisa-sisa confetti warna-warni yang berserakan di lantai, menjadi saksi bisu kemeriahan hari itu.
Di bawah pohon peneduh dekat gerbang utama, empat orang remaja duduk melingkar di atas pembatas taman.
Rian, Amel, Minda, dan Lyra tampak kelelahan namun wajah mereka memancarkan kepuasan yang tidak bisa disembunyikan.
Di tengah-tengah mereka, berdiri sebuah piala emas berukuran sedang bertuliskan "Gugus Terbaik MPLS"—bukti nyata kerja keras mereka.Minda menyandarkan kepalanya ke bahu Amel dengan lemas, tangannya masih memeluk sekotak hadiah paket perlengkapan sekolah yang mereka menangkan.
"Suaraku benar-benar habis," bisik Minda dengan suara yang serak, sangat kontras dengan kehebohannya tadi pagi.
"Tapi melihat muka anak-anak Gugus 2 saat kita melakukan gerakan dab kompak tadi... Oh, itu sangat sepadan!"
"Sudah kubilang, kan?" Lyra menyahut sambil menutup buku catatan kecilnya dengan bunyi plak yang pelan.
"Secara statistik, selebrasi kita tadi menaikkan tingkat kepercayaan diri gugus kita sebesar delapan puluh persen. Walaupun sejujurnya, aku sempat ingin menghilang dari bumi saat Kepala Sekolah menatap kita sambil menggeleng-geleng."
Amel tertawa renyah, menepuk-nepuk kepala Minda dengan sayang.
"Tapi itu seru sekali, Lyra! Kapan lagi kita bisa sekonyol itu di depan seluruh warga sekolah?"
Amel kemudian menoleh ke arah Rian yang sejak tadi hanya diam memperhatikan sambil tersenyum.
"Rian, kamu melamun ya? Masih tidak percaya kalau kita menang?" Rian menggeleng pelan, pandangannya beralih dari piala emas ke wajah ketiga teman di hadapannya satu per satu.
"Bukan begitu," kata Rian dengan nada tulus yang membuat suasana santai itu mendadak berubah menjadi sedikit emosional.
"Aku cuma sedang berpikir... kalau saja hari senin Amel tidak menyapaku saat itu... aku mungkin tidak akan pernah duduk di sini bersama kalian. Aku pasti melewati MPLS ini sendirian dengan rasa cemas."
Minda langsung menegakkan duduknya, menatap Rian dengan mata berbinar.
"Hei, jangan bicara begitu! Kita ini sudah ditakdirkan jadi tim legendaris Gugus 4. Mau kamu punya teman atau tidak, kita pasti akan tetap berteman."
"Minda benar," tambah Lyra, nadanya yang biasanya sarkas kini terdengar sangat lembut.
"Dalam sains, ada yang disebut teori kekacauan (chaos theory). Perubahan kecil bisa mengubah masa depan. Hari senin itu mungkin terasa buruk untukmu, Rian, tapi itu adalah awal dari rantai kejadian yang membawa kita berempat menjadi sedekat ini hari ini."
Amel mengangguk mantap, menyenggol lengan Rian seperti kebiasaannya.
"Betul!"
"Yang penting adalah apa yang kita bawa pulang hari ini: piala ini, dan tentu saja... persahabatan kita."
Sore itu, di bawah langit yang perlahan menggelap, keempatnya terdiam sejenak. Ada rasa haru yang tidak terucapkan yang melingkupi mereka.
Fase orientasi yang awalnya mereka takuti kini telah berakhir, namun mereka tahu ini bukanlah akhir dari segalanya.
Ini hanyalah bab pembuka dari sebuah buku tebal yang baru saja mereka tulis bersama.
Rian menarik napas dalam-dalam, lalu mengulurkan tangan kanannya ke tengah lingkaran, mengepalkannya.
"Hari senin besok kelas reguler dimulai. Kita mungkin akan satu kelas, atau mungkin juga dipencar ke kelas yang berbeda."
"Mau sekelas atau tidak, aturan pertama: tidak ada yang boleh melupakan tos Gugus 4!" seru Minda, langsung menimpakan kepalan tangannya di atas tangan Rian.
"Aturan kedua: makan siang di kantin harus tetap bersama di meja pojok dekat koperasi," lanjut Lyra, ikut menyatukan kepalan tangannya dengan senyum tipis yang hangat.
Amel menatap ketiga sahabatnya, lalu meletakkan kepalan tangannya di puncak.
"Dan aturan ketiga: kita harus saling jaga sampai kita lulus dari sekolah ini tiga tahun lagi. Setuju?"
"Setuju!" jawab Rian, Minda, dan Lyra serempak.
Mereka mengangkat kepalan tangan mereka bersama-sama ke udara, melepaskannya dengan tawa yang berderai.
Saat mereka mulai bangkit, merapikan barang bawaan, dan berjalan bersama keluar melewati gerbang sekolah menyongsong senja, Rian merasakan sebuah keyakinan baru di dalam hatinya.
Masa SMA yang awalnya tampak abu-abu dan menakutkan, kini terlihat begitu cerah dan penuh warna berkat janji baru yang baru saja mereka ikat bersama.
Bersambung ~~~
Haloo gess!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗
Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~