NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Uang Les Anak

Tiga hari bukan waktu yang panjang untuk mencari uang delapan juta lima ratus ribu rupiah.

Nan Shin membaca rincian tagihan di dekat pintu. Biaya pendaftaran Yi Chen sebesar dua juta lima ratus ribu. Uang bulan pertama satu juta dua ratus ribu. Paket matematika tiga bulan untuk Yi Ming empat juta delapan ratus ribu.

“Mama mendaftarkan dua-duanya?”

Ibu Kho mengambil amplop dari tangannya. “Sekalian. Kalau cuma satu, nanti yang lain merasa dibedakan.”

“Kita belum sepakat.”

“Mama sudah bilang kemarin. Tempat bagus cepat penuh.”

“Mengatakan bukan meminta persetujuan.”

Ibu Kho berjalan ke meja makan dan meletakkan tagihan di samping mangkuk sarapan. “Kenapa semua harus dibuat rumit? Ini untuk anak.”

Nan Shin mengikuti. “Siapa yang Mama tulis sebagai penanggung biaya?”

“Nomor kamu. Biasanya urusan sekolah memang kamu yang bayar.”

Jawaban itu diucapkan begitu ringan, seolah penghasilannya tidak sedang dipotong dan namanya tidak berada di daftar penghentian.

“Saya tidak akan membayar sebelum kita membahas kemampuan rumah.”

Ibu Kho menatapnya tajam. “Kamu mau anak kehilangan tempat hanya karena sedang marah pada rumah sakit?”

“Ini bukan soal marah. Pendapatanku turun hampir setengah bulan ini. Kalau kontrakku dihentikan, bulan depan mungkin tidak ada gaji.”

“Cheng An akan naik jabatan.”

“Belum ada hasil.”

“Tapi peluangnya besar. Lagipula kamu nanti dapat pesangon.”

Nan Shin membeku. “Mama sudah menghitung uang dari pekerjaan yang belum resmi hilang?”

“Mama cuma bicara kemungkinan. Pesangon itu bisa dipakai untuk kebutuhan anak, bukan disimpan sendiri.”

“Belum ada angka. Belum ada keputusan. Tapi Mama sudah menentukan penggunaannya.”

Yi Ming turun tangga dengan tas sekolah. Ia berhenti ketika mendengar namanya disebut.

“Aku harus les matematika?”

Ibu Kho segera melembutkan suara. “Bagus, kan? Nilai kamu nanti naik.”

“Nilai matematikaku delapan puluh delapan.”

“Bisa jadi sembilan puluh lima.”

Yi Ming melihat ibunya. “Aku sudah ada latihan hari Selasa.”

“Mama belum memutuskan,” kata Nan Shin.

Ibu Kho menghela napas. “Jangan libatkan anak dalam urusan uang.”

“Dia bertanya tentang jadwalnya sendiri.”

Mobil antar-jemput membunyikan klakson. Nan Shin mengantar Yi Ming keluar sebelum pertengkaran bertambah tajam. Di gerbang, putranya menarik ujung lengan seragamnya.

“Kalau mahal, aku nggak usah les.”

“Kamu nggak perlu memikirkan uang.”

“Tapi Popo bilang untuk aku.”

Nan Shin berjongkok. “Mama akan pilih yang kamu butuhkan, bukan cuma yang orang bilang bagus. Kamu sekolah dulu.”

Yi Ming mengangguk dan naik kendaraan. Wajahnya masih tampak bersalah karena sebuah tagihan yang tidak pernah ia minta.

Setelah anak-anak berangkat, Nan Shin menelepon nomor lembaga pendidikan pada amplop.

Seorang petugas administrasi menjawab dengan suara ramah. “Benar, Bu. Pendaftaran untuk Yi Ming Kho dan Yi Chen Kho sudah dicatat oleh keluarga. Pembayaran awal paling lambat tiga hari.”

“Apakah pendaftaran bisa dibatalkan?”

“Bisa sebelum pembayaran, tapi tempatnya akan diberikan kepada peserta lain.”

“Siapa yang menyetujui paket tiga bulan?”

“Ibu yang datang kemarin menyebut dirinya nenek anak. Beliau bilang orang tua sudah setuju dan memberikan nomor Ibu sebagai kontak pembayaran.”

Nan Shin menatap Ibu Kho yang berdiri di dapur, mendengarkan.

“Tolong tandai bahwa keputusan belum disetujui orang tua,” kata Nan Shin. “Jangan proses sebelum ada konfirmasi langsung dari saya atau ayahnya.”

“Baik, Bu. Kami kirim formulir konfirmasi.”

“Tolong kirim juga rincian kebijakan pembatalan dan jadwal kelas percobaan,” kata Nan Shin.

“Ada kelas percobaan satu kali, Bu. Tidak dipungut biaya.”

“Baik. Anak-anak belum dimasukkan ke kelas tetap sebelum kami mengonfirmasi.”

“Sudah saya beri catatan pada kedua nama.”

Begitu telepon ditutup, Ibu Kho menghentakkan wadah plastik ke meja.

“Kamu mempermalukan Mama.”

“Saya mencegah tagihan dibuat atas nama saya tanpa persetujuan.”

“Mama sudah susah-susah datang.”

“Saya tidak meminta.”

“Dulu apa pun untuk anak kamu lakukan. Sekarang baru ada masalah kerja sedikit, semua dihitung.”

Nan Shin hampir tertawa, tetapi yang keluar hanya napas pendek. “Justru dulu semua tidak dihitung. Itu sebabnya sekarang tidak ada cadangan.”

Ia membawa tagihan ke kamar dan membuka buku biru.

Pada halaman baru, ia menulis pendapatan berdasarkan jadwal yang dipotong. Lalu pengeluaran tetap: sekolah, transportasi, dapur, listrik, BPJS tambahan, kebutuhan anak, dan cicilan yang selama ini dibagi.

Dengan gaji berkurang, saldo bulan itu nyaris habis.

Jika kontrak dihentikan, biaya delapan juta lima ratus ribu berarti mengambil dana yang belum dimilikinya atau menghabiskan uang kompensasi sebelum ia tahu berapa lama harus mencari pekerjaan baru.

Nan Shin menulis tagihan kursus di kolom keputusan tanpa persetujuan. Di kolom bukti, ia mencatat nomor amplop dan menyimpan foto formulir.

Ia tidak berhenti pada angka. Nan Shin menghubungi wali kelas Yi Ming melalui pesan pribadi dan bertanya apakah ada kesulitan belajar yang membutuhkan bantuan tambahan.

Jawaban datang saat ia sedang menyiapkan makan siang.

Nilai Yi Ming stabil. Ia kadang kurang teliti, tetapi belum membutuhkan kelas tambahan intensif. Sekolah memiliki sesi latihan gratis dua kali sebulan bagi siswa yang ingin memperbaiki materi tertentu.

Untuk Yi Chen, Nan Shin menghubungi guru TK tanpa menyebut rencana Ibu Kho. Guru menjelaskan kemampuan membaca anak masih sesuai tahap usia. Yang dibutuhkan adalah latihan pendek dan menyenangkan di rumah, bukan kelas berjam-jam setelah sekolah.

Nan Shin mencatat kedua jawaban itu.

Ia menyimpan tangkapan layar percakapan itu.

Ketika ia menunjukkannya kepada Ibu Kho, perempuan itu hanya melirik.

“Guru selalu bilang sesuai tahap. Kalau menunggu tertinggal baru bertindak, sudah terlambat.”

“Berarti kita bicara dulu dengan guru dan anak, bukan langsung membeli paket paling mahal.”

“Kamu selalu punya alasan sejak dipanggil HRD.”

“Saya membawa informasi.”

“Mama membawa pengalaman membesarkan Cheng An.”

Nan Shin tidak meremehkan pengalaman itu. Namun pengalaman membesarkan satu anak puluhan tahun lalu tidak otomatis memberi hak membuat kontrak pendidikan atas nama orang tua sekarang.

Ia menambahkan catatan baru pada buku biru: kebutuhan anak harus dikonfirmasi, bukan diasumsikan.

Ketika Cheng An pulang sore, Nan Shin meletakkan tagihan di depannya.

“Mama mendaftarkan dua anak. Saya sudah menahan prosesnya.”

Cheng An membaca nominal total. “Cukup besar.”

“Kita tidak mampu menambah ini kalau pendapatanku berhenti.”

Ibu Kho muncul dari ruang keluarga. “Kamu jangan langsung ikut dia. Ini pendidikan anakmu.”

Cheng An memijat pelipis. “Yi Ming memang perlu les?”

“Semua anak sekarang ikut.”

“Nilainya masih bagus,” kata Nan Shin.

“Kalau begitu tunda dulu,” ujar Cheng An. “Sampai hasil kerja Nan Shin jelas.”

Ibu Kho memandang putranya seolah dikhianati. “Jadi masa depan cucu menunggu masalah kontrak?”

“Bukan begitu, Ma.”

“Lalu bagaimana?”

Ponsel Nan Shin berdering sebelum jawaban datang.

Nomor HRD muncul di layar.

Ia menerima panggilan sambil tetap menatap dua orang di depannya.

“Selamat sore, Ibu Nan Shin,” kata suara yang sama dari pertemuan pertama. “Kami perlu berbicara tentang hasil evaluasi Anda.”

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!