NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Nona Masker Hitam

Perasaan gue nggak mungkin salah lihat, kan? Tadi yang keluar kamar pas mati lampu itu cewek jelek. Tapi kenapa sekarang yang keluar malah cewek gila yang tadi siang bertingkah mirip babi di depan kaca mobil gue?! Dan sialnya... kenapa dia cantik banget?! batin Rakha kacau balau, sirkuit logikanya korslet total.

"Ekhmmm..."

Rakha berdeham sangat keras, mencoba menguasai dirinya yang mendadak salah tingkah. Ia membetulkan kerah kaosnya, berpura-pura tetap memasang wajah galak.

"Tadi... gue denger suara berisik kayak knalpot bajaj rombeng dari sebelah kamar gue. Gue nggak salah denger, suaranya jelas-jelas berasal dari kamar ini! Dan itu ngeganggu tidur gue! Gue tadinya mau marahin cewek jelek yang tinggal di kamar ini. Tapi... kok malah lo yang keluar? Lo kan cewek gila tadi siang yang ngaca di kaca mobil gue iya, kan? Kayaknya gue salah ngetuk kamar. Mungkin suaranya bukan dari sini," ujar Rakha sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya terlihat canggung setengah mati.

Alin kebingungan. Cowok di depannya ini mendadak menyebutnya "cewek gila yang tadi siang", bukan lagi "cewek jelek". Alin belum menyadari bahwa karena ia baru saja memakan ubi rebusnya lagi, transformasi magis wajah barunya telah aktif kembali sebelum ia sempat berkaca.

"Aku memang pemilik kamar ini! Yang kamu maksud cewek jelek itu ya aku! Terus kamu mau apa, hah?! Dan aku nggak gila seperti yang kamu bilang!" balas Alin sengit sambil mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh, mencoba terlihat berani di depan cowok tiang listrik itu.

"Gue nggak bermaksud ngehina lo, tapi mata gue belum buta. Tadi ada cewek dekil yang keluar dari kamar lo pas mati lampu. Dan nggak mungkin cewek dekil itu adalah lo, soalnya... lo cantik banget. Tapi sayang, kelakuan lo agak gesrek," celetuk Rakha tanpa dosa, matanya masih menatap lekat-lekat garis wajah Alin yang sempurna.

Dia bilang aku cantik? Apa mungkin... aku berubah jadi cantik lagi gara-gara makan ubi rebus barusan?! batin Alin terkejut luar biasa.

Tanpa menutup pintu, Alin langsung berbalik dan lari terbirit-birit masuk ke dalam kamar, meninggalkan Rakha yang melongo heran di lorong.

Alin segera menyambar ponselnya dan menyalakan kamera depan. Benar saja! Wajahnya telah kembali menjadi sangat cantik jelita, bahkan kali ini terlihat jauh lebih bersinar dari sebelumnya.

Mampus! Aku harus bilang apa sama dia?! Ckk... bodo amatlah, yang penting sekarang cari alasan logis biar nggak ketahuan kalau tadi aku kentut! Malu banget kalau dia tahu suara knalpot bajaj itu adalah suara gas lambungku! Alin membatin panik dengan wajah memerah.

Alin kembali berjalan ke arah pintu dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin, mencoba mengatur napasnya yang memburu di depan Rakha.

"Emm... sebenarnya, tadi itu ada sepupu aku yang lagi menginap di sini. Dia... dia lagi sakit perut dan mencret-mencret gara-gara makan roti yang sudah kedaluwarsa," ujar Alin berbohong fiktif sambil memalingkan wajah, tak berani menatap langsung mata tajam Rakha.

Rakha terdiam sejenak, mengendus udara lorong yang anehnya berbau mawar mewah. "Oh pantesan... jadi gue nggak salah lihat tadi? Tolong bilang sama sepupu lo itu, kalau kentut volumenya kecilin dikit! Kamar gue berasa dipasang knalpot racing! Udah ah, gue mau tidur!" sahut Rakha ketus, lalu melengos pergi kembali masuk ke kamarnya.

Alin berdiri mematung di ambang pintu. Wajah cantiknya seketika memerah padam karena perpaduan rasa malu dan kesal yang bercampur aduk menjadi satu. Ia ingin berteriak memaki, tapi takut suaranya malah memicu interaksi lebih jauh.

Mau ditaruh di mana mukaku kalau dia sampai tahu yang kentut sekencang bajaj itu sebenarnya aku?! keluh Alin meratapi nasibnya yang ajaib sekaligus memalukan, sebelum menutup pintu perlahan.

****

Malam yang kelam penuh misteri itu perlahan memudar, digantikan oleh semburat cahaya pagi yang amat cerah menyelimuti ibu kota. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden kamar kos yang tipis, jatuh tepat di kelopak mata Alin.

Alin mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan pencahayaan yang menusuk indra penglihatannya. Tubuhnya terasa luar biasa berat, efek dari kurang tidur yang ekstrem semalam.

"Eungghhh... jam berapa sih?!" lenguh Alin dengan suara serak khas bangun tidur.

Tangannya meraba-raba area lantai di samping tempat tidur kasur busanya, mencari ponsel jadulnya.

Kepalanya menoleh ke arah jam dinding plastik yang berdetak nyaring. Jarum jam rupanya sudah menunjukkan pukul 08:45 pagi.

Alin menghela napas panjang; ia baru bisa memejamkan mata pukul empat pagi tadi, karena otaknya terus-menerus memutar ulang kejadian aneh dan memalukan bersama pria songong di sebelah kamarnya.

Dengan gerakan gontai, Alin beranjak dari kasur busanya yang sudah mulai menipis. Ia menyalakan layar ponselnya yang masih terhubung dengan kabel pengisi daya.

Matanya seketika membelalak sempurna, kantuknya menguap hilang saat melihat notifikasi SMS dari aplikasi m-banking-nya. Ada saldo masuk sebesar Rp2.000.000.

"Alhamdulillah... Bu Sinta sudah kirim gaji!" gumamnya dengan senyum tipis yang amat tulus.

Hari ini memang jadwal gajian Alin. Meskipun ia bekerja dengan jam sif yang tidak terlalu lama, konsistensinya masuk setiap hari Senin hingga Sabtu di rumah makan milik Bu Sinta akhirnya membuahkan hasil.

Walau angka dua juta tergolong kecil di Jakarta dan pas-pasan untuk biaya hidup serta sewa kos, Alin tetap merasa sangat bersyukur. Ia tahu cara bertahan hidup dengan berhemat—termasuk membagi porsi ubi jalar misteriusnya.

Rencananya hari ini cukup padat. Mengingat hari orientasi SMA Garuda tinggal menghitung hari, ia harus segera pergi ke pasar atau toko buku untuk membeli peralatan sekolah seperti buku tulis, kamus, dan alat tulis lainnya.

Mengenai seragam, pihak sekolah penerima beasiswa sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Alin melirik tas ransel usangnya yang warnanya sudah mulai pudar namun jahitannya masih kokoh.

Selama masih bisa dipakai dan tidak rusak, aku tidak boleh membuang-buang uang, batin Alin tegas, sebelum melangkah menuju kamar mandi dengan penuh semangat baru.

****

Di sisi lain kota Jakarta yang berkilau oleh kemewahan, berdiri sebuah mansion megah berarsitektur Eropa modern. Gerbang besinya menjulang tinggi, membentengi halaman rumput hijau yang tertata geometris. Namun, di balik segala kemewahan visual itu, atmosfer di sana terasa sunyi, dingin, dan mati. Jauh dari kesan ceria sebuah rumah keluarga.

Di balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah air mancur halaman depan, seorang gadis berusia tujuh belas tahun berdiri mematung.

Penampilannya sangat aneh dan kontras dengan cuaca pagi ibu kota yang mulai menghangat. Di bawah terik matahari, seluruh wajahnya tertutup rapat oleh masker kain hitam tebal dan sepasang kacamata hitam berbingkai besar.

Ia sengaja mengenakan hoodie longgar berukuran raksasa yang menyembunyikan lekuk tubuh idealnya yang setinggi 165 sentimeter—sedikit lebih jenjang dan semampai dibanding fisik Alin yang mungil.

Rambut pirang alaminya yang dipotong sebahu menari-nari ditiup angin, sesekali menyapu permukaan lensa kacamata hitamnya.

Dari balik kegelapan kacamata tersebut, sepasang matanya yang sayu dan menyimpan luka dalam mengamati para pelayan dan tukang kebun yang sedang sibuk memotong rumput.

Tiba-tiba, fokusnya terkunci pada sebuah keributan kasar di dekat gerbang utama.

Seorang nenek tua dengan pakaian yang sangat lusuh, penuh tambalan kain kumal di sana-sini, tampak sedang didorong menjauh secara paksa oleh dua satpam penjaga. Nenek itu mendekap erat sebuah buntalan kain hitam berlumur tanah dengan tangan yang gemetar hebat.

Nenek Tari.

Tanpa pikir panjang, gadis pirang itu berbalik. Ia berlari meninggalkan balkon, melintasi koridor luas yang dindingnya dihiasi jajaran lukisan klasik berharga miliaran rupiah, lalu menekan tombol lift dengan panik. Ada dorongan aneh dan getaran tidak nyaman di dalam dadanya yang memaksa ia harus menolong nenek itu.

Padahal, sudah satu tahun penuh ia menderita agorafobia akut—ketakutan hebat untuk meninggalkan kamar atau bertemu dengan manusia. Ia bahkan selalu menghabiskan waktu makan di dalam kamar yang terkunci dan terpaksa menempuh jalur homeschooling demi menghindari tatapan menghakimi dari dunia luar.

Namun pagi ini, demi nenek asing itu, ia nekat mendobrak dinding ketakutannya sendiri.

"Berhentii!!" teriak gadis itu, suaranya menggema saat kakinya menginjak halaman depan mansion.

Ia berhenti tepat beberapa meter di depan pagar besi, memegangi kedua lututnya sambil terengah-engah. Paru-parunya terasa panas membakar karena ia berlari sangat kencang dari lantai dua, memangkas jarak halaman mansion yang terlampau luas untuk fisiknya yang lemah.

"Apa yang kalian lakukan?! Kenapa kalian mengusir nenek itu secara kasar?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!