NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Jangan Ikuti Dia

Yu belum sempat menjalankan ide buruk itu.

Notes di ponselnya masih berisi satu rencana memalukan: pura-pura butuh bantuan. Di bawahnya, ia sempat menambahkan beberapa opsi baru setelah pesan Lily, lalu menghapus semuanya karena terlalu tidak tahu diri.

Bayar untuk pegang tangan?

Tidak. Tidak mungkin.

Setidaknya, belum.

Senin pagi datang dengan hujan rintik yang membuat jalan menuju Fasilkom UI basah dan licin. Yu berangkat lebih awal, mengenakan hoodie tipis, tas laptop di bahu, dan kepala yang terlalu penuh. Sejak putus dengan Kevin, ia sengaja menghindari jalur kantin utama. Ia juga mematikan notifikasi dari nomor Kevin, tetapi laki-laki itu mulai memakai cara lain.

Nomor tidak dikenal.

Akun Instagram baru.

Pesan lewat teman.

Semua isinya sama.

Yu, kita bicara.

Yu, jangan bikin masalah makin besar.

Yu, Kevin kacau gara-gara kamu.

Kalimat terakhir membuat Yu ingin tertawa. Ternyata orang yang selingkuh bisa kacau karena korban tidak bersedia duduk manis mendengarkan pembelaannya.

Siang itu, setelah kelas, Lily menarik Yu ke dekat mesin minuman.

"Lo pulang sama gue," kata Lily.

"Kelasmu masih ada."

"Bisa bolos."

"Jangan."

Lily menunjuk ponsel Yu. "Nomor baru itu masih ganggu?"

Yu memasukkan ponsel ke saku. "Aku blokir."

"Blokir satu, tumbuh tiga."

"Kamu ngomong kayak iklan jamur."

"Karena laki-laki nggak tahu diri memang jamur."

Yu hampir tertawa, tapi senyumnya hilang ketika melihat seseorang di ujung koridor.

Seorang laki-laki berdiri dekat papan pengumuman, pura-pura membaca poster seminar. Yu mengenal wajahnya. Teman Kevin. Mereka pernah bertemu dua kali saat ulang tahun Kevin, laki-laki yang terlalu banyak tertawa dan selalu memanggil Yu "cewek Kevin" alih-alih namanya.

Sekarang dia menatap Yu.

Ketika tatapan mereka bertemu, ia cepat-cepat melihat poster lagi.

Lily mengikuti arah mata Yu. "Itu siapa?"

"Teman Kevin."

Wajah Lily langsung berubah. "Gue samperin."

Yu menahan lengannya. "Jangan."

"Kenapa?"

"Dia belum ngapa-ngapain."

"Dia berdiri di fakultas lo seperti nyamuk bawa pesan dari mantan. Itu sudah ngapa-ngapain."

Yu ingin menyetujui, tetapi ia lelah. Lelah dengan konflik, lelah dengan nama Kevin, lelah menjadi pusat drama yang tidak ia mulai.

"Aku pulang sendiri. Kamu masuk kelas."

"Yu."

"Aku akan naik ojek dari depan fakultas. Aku share live location."

Lily jelas tidak puas, tapi dosen kelas berikutnya sudah mengirim pesan di grup. Setelah mengancam akan datang ke apartemen kalau Yu tidak update setiap sepuluh menit, Lily akhirnya pergi.

Yu menunggu sampai koridor lebih ramai, lalu berjalan ke arah pintu keluar.

Teman Kevin ikut bergerak.

Awalnya jaraknya jauh. Dua puluh meter. Lalu lima belas. Di dekat tangga, Yu berhenti pura-pura mengikat tali sepatu. Laki-laki itu juga berhenti, menatap ponsel.

Kulit Yu mulai berisik.

Bukan haus sentuhan biasa. Kali ini bercampur rasa takut yang lebih tajam. Bahunya kaku, telapak tangannya dingin. Ia membuka aplikasi ojek online dengan jari gemetar, tapi sinyal di dalam gedung buruk. Titik lokasi meloncat-loncat seperti mengejek.

Yu berjalan lebih cepat.

Di lobby fakultas, hujan sudah berhenti, menyisakan bau tanah basah dan suara motor dari kejauhan. Ia melihat ke belakang sekali.

Laki-laki itu masih ada.

"Yu."

Suara itu datang dari samping, bukan belakang.

Yu hampir menjerit.

Zhen berdiri di dekat pilar lobby, memakai hoodie abu-abu dan membawa payung hitam. Burger tidak ada. Helm juga tidak ada. Ia terlihat seperti mahasiswa biasa, kalau mahasiswa biasa bisa membuat beberapa orang di lobby melirik dua kali.

"Kamu ngapain di sini?" tanya Yu.

"Menjemput."

"Siapa?"

"Kamu."

Yu berkedip.

Zhen menatap ke belakang Yu. Matanya berhenti pada laki-laki teman Kevin yang mendadak sibuk dengan ponsel.

"Itu yang dari tadi mengikuti?"

Yu menegang. "Kamu tahu?"

"Aku lihat dari parkiran."

"Kamu punya kelas di sini?"

"Aku punya mata."

Jawaban itu menyebalkan, tapi entah kenapa membuat lutut Yu sedikit lebih kuat.

Zhen membuka payung. "Ayo."

"Aku bisa pulang sendiri."

"Kalau begitu pulang sendiri sambil diikuti orang itu?"

Yu tidak menjawab.

Zhen tidak mendesak. Ia hanya berdiri di sampingnya, payung terbuka, memberi ruang cukup lebar agar tubuh mereka tidak bersentuhan. Sikap itu membuat Yu sadar bahwa dia mengingat. Zhen mengingat ia tidak nyaman dengan orang yang terlalu dekat.

Mereka berjalan menuju area drop-off.

Teman Kevin mengikuti.

Kali ini jaraknya lebih dekat. Mungkin karena melihat Yu bersama Zhen, ia panik kehilangan kesempatan. Ketika Yu dan Zhen hampir sampai di pinggir jalan, laki-laki itu mempercepat langkah.

"Yu, tunggu."

Yu berhenti secara refleks.

Zhen tidak.

Ia justru bergeser setengah langkah ke depan, menempatkan tubuhnya di antara Yu dan laki-laki itu.

"Ada perlu?" suara Zhen datar.

Laki-laki itu menatap Zhen dari atas ke bawah. Ekspresinya mencoba berani, tapi gagal sedikit ketika menyadari tinggi Zhen.

"Gue cuma mau bicara sama Yu."

"Dia tidak mau bicara."

"Lu siapa?"

"Orang yang dia izinkan berdiri di sini."

Kalimat itu membuat napas Yu tertahan.

Teman Kevin mencibir. "Ini urusan Kevin sama Yu. Jangan ikut campur."

"Kalau urusannya membuat dia diikuti dari fakultas sampai jalan, aku ikut campur."

Beberapa mahasiswa mulai menoleh. Satu satpam di dekat pos keamanan memperhatikan mereka.

Laki-laki itu menurunkan suara. "Kevin cuma mau ketemu. Dia stres. Yu jangan sok korban lah."

Tangan Yu mengepal.

Zhen menoleh sedikit, cukup untuk melihat wajah Yu. "Kamu mau bicara dengan dia?"

"Tidak."

Jawabannya keluar lebih cepat dari biasanya. Tegas. Jelas.

Zhen kembali menatap laki-laki itu. "Kamu dengar."

"Gue nggak ngomong sama lu."

"Sekarang kamu ngomong sama saya." Nada Zhen tidak naik, tapi justru karena itu terasa lebih menekan. "Sampaikan ke Kevin, kalau dia mau bicara, kirim pesan satu kali. Kalau tidak dijawab, berhenti. Kalau dia mengirim orang untuk mengikuti Yu lagi, saya lapor keamanan kampus dan polisi."

Laki-laki itu tertawa pendek. "Polisi? Lebay banget."

"Mau coba?"

Hening.

Satpam mulai berjalan mendekat.

Laki-laki itu akhirnya mundur setengah langkah. "Gue cuma bantu teman."

"Bantu dia belajar ditolak."

Wajah laki-laki itu memerah. Ia menatap Yu sekilas, seperti ingin menyalahkannya sekali lagi, lalu pergi dengan langkah kasar.

Yu baru sadar ia menahan napas.

Begitu laki-laki itu menghilang di tikungan, kakinya melemas sedikit. Dunia di sekitarnya masih ramai, tetapi suara-suara itu seperti masuk dari jauh. Hujan, motor, mahasiswa, satpam. Semuanya bertumpuk.

"Yu."

Zhen berbalik.

Mungkin ia melihat wajah Yu berubah. Mungkin ia melihat tubuh Yu hampir mundur tanpa arah. Tangannya bergerak cepat, tetapi tidak menyentuh kulit terbuka. Ia menggenggam pergelangan tangan Yu di atas lengan hoodie.

Tetap saja, tekanannya terasa.

Hangat dari telapak Zhen menembus kain tipis.

Dunia langsung diam.

Bukan pelan-pelan. Langsung.

Suara motor menjauh. Bau tanah basah melembut. Rasa tajam di bawah kulitnya padam seperti lampu yang diputus arusnya. Yu menatap tangan Zhen di pergelangan tangannya, lalu naik ke wajahnya.

Zhen juga menatap titik yang sama, seolah baru sadar ia memegangnya.

"Maaf," katanya, hendak melepas.

Yu refleks menahan dengan tangan satunya, menekan punggung tangan Zhen agar tetap di sana.

Gerakan itu membuat mereka sama-sama membeku.

Satu detik.

Dua detik.

Yu mendengar detak jantungnya sendiri, tapi kali ini bukan karena takut.

Aku tamat, pikirnya.

Kalau satu genggaman di atas kain saja bisa membuat dunia seaman ini, bagaimana mungkin ia bisa pura-pura tidak membutuhkan dia?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!