Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Kita tidak salah
"Warna cokelat soga ini pantas buat Nenek, Nduk. Tenunannya rapat, kainnya tebal menahan hawa dingin."
Siti membentangkan selembar kain lurik di atas meja kayu penjual. Ujung jarinya meraba serat kasar benang tenun itu sambil tersenyum tipis. Uang kertas di balik stagennya kini cukup membelikan ibunya baju baru, hasil dari keuntungan pertama koperasi mereka. Garis lelah dan lapar di wajah Siti memudar, berganti dengan sorot mata yang tenang.
Seroja mengangguk setuju di sebelah ibunya. Ia membiarkan Siti menikmati kebahagiaan kecil memilih kain di los pasar kecamatan. Momen sederhana ini perlahan membangun kembali harga diri ibunya yang dulu dihancurkan Hardiman.
"Kita beli dua lembar, Bu. Satu untuk Nenek, satu lagi untuk Ibu," bujuk Seroja seraya menepuk pelan punggung tangan ibunya. "Ibu jangan terus-terusan pakai selendang batik pudar itu."
Siti menggeleng pelan dengan pipi merona. "Simpan saja uangnya buat modal beli bibit tomat, Nduk."
Suara ketukan keras sepatu hak tinggi di atas lantai semen memutus obrolan hangat mereka.
Ningrum melangkah masuk, membelah keramaian pasar. Kebaya sutra merah marun dan kalung mutiaranya mencolok di antara kesederhanaan los kain. Dua ajudan berseragam dinas mengekor ketat, membuka jalan bagi istri kepala dinas tersebut.
Aroma parfum luar negeri menyengat hidung Seroja, mengalahkan bau kapur barus khas toko kain. Ingatan masa kecil Seroja langsung menarik satu nama. Ningrum, istri kedua Hardiman. Sumber dari semua kehancuran masa lalu mereka.
Langkah Ningrum terhenti di tengah ruangan. Matanya yang berhias riasan tebal memindai sekeliling, mencari bahan katun halus untuk seragam amalnya. Pandangannya lantas membentur sosok Siti yang masih menggenggam kain lurik.
Napas Ningrum tertahan. Rona merah menjalar cepat di wajah putihnya. Ia menatap lekat mantan istri suaminya itu, mencari gurat kehancuran atau keputusasaan dari perempuan yang sudah dibuang ke pinggir hutan. Namun Siti berdiri tegak, memancarkan ketenangan yang tak bisa dipalsukan.
Berbulan-bulan Ningrum ditekan keluarganya di ibu kota karena belum juga memberi Hardiman keturunan. Celah kosong di hidupnya itu kini seakan ditampar oleh pemandangan di depannya. Siti, perempuan kampung yang ia singkirkan, justru bisa tertawa lepas bersama anak perempuannya. Rahang Ningrum mengeras. Kecemburuan membakar akal sehatnya.
Ia melangkah cepat menghampiri meja Siti dengan napas memburu.
"Jadi ini rupa janda kampung yang tidak tahu diri itu," desis Ningrum. Suaranya rendah, tapi cukup tajam untuk menghentikan gerakan semua orang di dalam toko.
Siti mundur selangkah. Kain lurik di tangannya terlepas. Jari-jarinya bergetar saat bayangan masa lalu kembali menekannya. Seroja langsung bergeser menutupi pandangan Ningrum, pasang badan untuk ibunya.
Ningrum menatap Seroja tajam. Gadis ini bukti hidup masa lalu Hardiman yang gagal ia hapus. Seroja membalas tatapan itu tanpa berkedip, berdiri tegak dalam balutan kebaya lurik pudarnya.
Ketenangan Seroja memancing amarah Ningrum semakin beringas.
Brak!
Ningrum menampar meja kayu di depannya. Guncangan keras itu menggeser gelas air minum milik penjual di tepian meja. Gelas itu jatuh membentur lantai semen, pecah berkeping-keping.
Pemilik toko kain berlari panik dari ruangan belakang. Wajahnya pucat melihat istri kepala dinas kabupaten mengamuk di tempat usahanya.
"Usir perempuan-perempuan kotor ini dari tokomu sekarang!" perintah Ningrum lantang. Telunjuk berkuku merahnya menuding wajah Seroja. "Orang buangan dari hutan tidak pantas berdiri dekat barang yang mau aku beli! Kalau kau biarkan mereka di sini, besok pagi tokomu ditutup aparat kecamatan!"
Ajudan dinas di belakang Ningrum ikut maju selangkah, menekan sang pemilik toko yang kini sibuk menelan ludah ketakutan.
Siti menarik lengan baju Seroja. "Ayo kita pulang, Nduk. Jangan cari perkara. Kita ngalah saja," bisiknya bergetar.
"Kita tidak salah, Bu," jawab Seroja tenang, tak bergeser sedikit pun.
Seroja menatap langsung ke mata Ningrum. Tidak ada sorot kemarahan meledak-ledak di sana, hanya tatapan dingin dan berwibawa, layaknya orang dewasa menghadapi balita yang sedang tantrum.
"Toko ini bukan ruang tamu rumah dinas suamimu, Nyonya Ningrum," ucap Seroja jelas, mengiris ketegangan di ruangan itu. "Kami pelanggan yang datang bawa uang halal hasil keringat sendiri. Kami berhak berdiri di sini. Kalau Nyonya tidak sanggup bernapas satu atap dengan kami, pintu keluarnya ada di belakang Nyonya."
Wajah Ningrum memerah padam. Napasnya tersengal hebat. Putri menteri yang terbiasa melihat orang menunduk mencium tangannya ini tak percaya ada gadis desa yang berani mendiktenya di tempat umum.
"Kau berani mengajari aku aturan, bocah kurang ajar?" geram Ningrum, melangkah maju hingga wajahnya nyaris menempel ke wajah Seroja.