Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Gala Berdarah - Bagian 2
"Ambil saja," kata Queenie.
Gelas itu berada di depan Momo, bening, berkilau, tampak tidak berbahaya. Seperti semua hal jahat yang dibawa keluarga Salim, ia datang dengan senyum dan tata krama.
Momo belum menyentuhnya ketika tangan Renard muncul dari samping.
Ia mengambil gelas itu dengan gerakan kasual, seolah memang sejak awal gelas tersebut miliknya. Queenie membeku.
"Renard," kata Momo pelan.
Renard menatap Queenie, lalu meminum isi gelas itu.
Ballroom di sekitar mereka seolah berhenti bernapas.
Queenie pucat.
Renard menurunkan gelas kosong. Sudut bibirnya bergerak, tetapi tidak bisa disebut senyum.
"Rasanya menarik."
Momo menatapnya tidak percaya. "Kamu gila?"
"Sering kau bilang begitu."
"Kenapa diminum?"
"Karena dia ingin kau meminumnya."
Queenie mundur setengah langkah. "Aku tidak tahu maksud Tuan."
Renard mengangkat mata ke balkon atas. Albert di sana menunduk sedikit, satu jari menyentuh earpiece. Momo baru mengerti. Kamera. Mereka sudah tahu.
Renard tahu, tetapi tetap minum.
Panas marah dan cemas naik bersamaan di dada Momo. "Kau tidak perlu membuktikan apa pun dengan tubuhmu."
Renard menatapnya. Untuk sesaat, wajah dinginnya retak tipis. "Tubuhku lebih aman daripada tubuhmu."
Kalimat itu terlalu rendah untuk didengar orang lain, tetapi Momo mendengarnya. Dan ia membencinya karena terasa seperti perlindungan.
Sebelum ia bisa menjawab, lampu panggung kecil menyala.
Gunawan berdiri di depan mikrofon.
"Saudara-saudara sekalian," katanya dengan suara hangat seorang pedagang yang sudah menemukan pembeli. "Malam ini saya ingin memperkenalkan seseorang."
Momo merasa perutnya mengeras.
Renard tidak bergerak, tetapi tangannya menyentuh punggung Momo.
"Putri saya, Monique Salim. Momo." Gunawan tersenyum ke arah mereka. "Sebagian dari kalian mungkin belum mengenalnya. Ia tumbuh sederhana, jauh dari sorotan. Namun darah tetap darah. Malam ini saya membuka peluang kerja sama keluarga. Siapa pun yang ingin membangun hubungan bisnis lebih dekat dengan Salim Group, pintunya terbuka."
Bisik-bisik pecah.
Momo membeku.
Ia mengerti sebelum Gunawan menyelesaikan kalimat. Pria itu tidak melelangnya dengan palu dan angka, tetapi maknanya sama. Ia menawarkan nama, tubuh, dan masa depan Momo sebagai koneksi bisnis. Di depan semua orang. Setelah menjualnya sekali kepada Renard, Gunawan masih mencoba menjual sisanya kepada siapa pun yang mau membayar.
Queenie tersenyum dari belakang gelasnya yang kosong.
Momo melangkah maju.
Renard menahan pinggangnya.
"Lepaskan," bisik Momo.
"Tidak."
"Aku harus bicara."
"Tidak di panggungnya."
Renard berdiri.
Tidak cepat. Tidak keras. Tetapi begitu ia berdiri, ruangan menjadi diam.
"Gunawan."
Satu nama itu cukup membuat mikrofon terasa tidak berguna.
Gunawan tertawa canggung. "Tuan Widjaja, tentu Anda adalah tamu kehormatan. Saya hanya bermaksud..."
"Dia bukan milikmu untuk ditawarkan."
Semua kepala menoleh.
Renard berjalan ke depan, membawa Momo bersamanya. Tangannya tetap di pinggang Momo, terbuka, jelas, seperti pernyataan di atas kulit. Momo seharusnya marah. Ia memang marah. Tetapi di bawah puluhan mata yang mengukur harga dirinya, tangan itu menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tidak jatuh.
Renard berhenti di depan panggung.
"Dia milikku."
Kalimat itu jatuh seperti kaca pecah.
Momo menoleh ke arahnya.
Milikku.
Kata yang sama dari kartu di Pulau Raja. Kata yang ia benci. Namun malam ini, di depan Gunawan yang ingin menjualnya lagi, kata itu berubah menjadi pagar berduri. Tetap menyakitkan. Tetapi menghalangi orang lain masuk.
Gunawan kehilangan warna wajahnya.
"Tuan, saya ayahnya."
"Kau pedagang yang gagal menjaga barang dagangannya." Mata Renard menggelap. "Jangan pura-pura menjadi ayah di depan orang yang tahu harga tanda tanganmu."
Beberapa tamu terengah pelan.
Momo merasa air mata naik, tetapi ia menahannya. Ia tidak akan menangis di hadapan Gunawan. Tidak malam ini.
Di balkon samping, sebuah suara tepuk tangan pelan terdengar.
Sen berdiri di sana.
Jas hitamnya membuat tubuhnya hampir menyatu dengan bayangan. Wajahnya pucat, tetapi senyumnya ringan. Seolah ditembak, jatuh, atau menghilang hanyalah bagian dari permainan yang belum selesai.
"Pidato yang bagus, Renard," katanya.
Renard menoleh.
Udara langsung membeku.
Momo merasakan tangan Renard di pinggangnya berubah keras. Queenie mundur. Darren berbicara cepat ke earpiece. Albert bergerak dari sisi lain ballroom.
Sen menatap Momo sebentar.
Tidak hangat. Tidak menyesal.
"Kau masih hidup," kata Momo.
"Kau juga."
Sakit lama dari tebing kembali menusuk. "Sayang sekali untukmu?"
Senyum Sen tidak hilang. "Mungkin."
Renard melangkah setengah di depan Momo. "Turun."
"Kau selalu suka memberi perintah."
"Dan kau selalu suka bersembunyi di tempat tinggi."
Sen tertawa kecil. "Karena dari atas, orang terlihat lebih jujur."
Sebelum Renard menjawab, suara tembakan memecah malam.
Satu kali.
Keras.
Tubuh Sen tersentak.
Momo berteriak tanpa sadar.
Sen menatap dadanya sendiri, lalu ke arah taman hotel, seolah lebih kesal daripada takut. Kakinya mundur, membentur pagar balkon.
"Sen!" suara Momo keluar sebelum ia sempat menahannya.
Mata Sen bertemu dengannya.
Untuk satu detik, sesuatu yang nyata melintas di sana.
Lalu tubuhnya jatuh dari balkon.
Ke kolam di bawah.
Ballroom meledak dalam jeritan.
Momo ingin bertanya apakah ia gila.
Tetapi Renard sudah meneguk sampanye itu.
Satu tegukan. Tenang. Hampir malas. Seolah cairan di gelas Queenie bukan ancaman, hanya rasa membosankan yang harus ia nilai.
Momo merasakan darahnya turun ke kaki. "Renard."
Queenie tersenyum beku. "Bagaimana rasanya?"
Renard menatapnya. "Menarik."
Satu kata itu membuat wajah Queenie kehilangan warna.
Ia sudah tahu. Ia minum karena tahu.
Kemarahannya begitu besar sampai Momo hampir tidak bisa bernapas. "Kamu sengaja."
"Jangan minum apa pun malam ini."
"Itu jawabanmu?"
"Itu perintahku."
"Aku bukan bawahanmu."
Renard mencondongkan tubuh. Dari luar, mereka tampak seperti pasangan yang berbicara mesra di tengah pesta. Dari dekat, Momo bisa melihat keringat tipis mulai muncul di pelipis Renard. Racun atau obat apa pun itu bekerja cepat.
"Malam ini," katanya rendah, "jadilah apa pun yang membuatmu tetap hidup. Setelah itu kau boleh membenciku lagi."
Kata setelah itu menusuk.
Momo mencengkeram lengan jasnya. "Jangan bicara seperti kau boleh mati."
Renard menatap tangannya di lengan jas. Mata amber itu berubah. Seolah di antara racun, bisnis, dan musuh, sentuhan kecil Momo justru hal yang paling sulit ia tahan.
"Kau khawatir."
"Aku marah."
"Bisa dua-duanya."
"Diam."
Ia hampir tersenyum, lalu rahangnya mengeras karena nyeri. Momo melihat itu dan rasa takutnya mengalahkan harga diri selama satu detik. Ia mengangkat tangan, hendak menyentuh wajah Renard, tetapi berhenti di udara.
Renard menangkap pergelangan tangannya.
Tidak keras. Hanya menahan.
"Jangan di sini," katanya.
Di sini.
Di depan semua orang.
Seolah jika Momo menyentuhnya, itu akan mengungkap sesuatu yang lebih berbahaya daripada racun.
Gunawan memilih saat itu untuk mendekat. Ia bicara soal kerja sama, soal keluarga, soal betapa Momo bisa menjadi jembatan yang indah antara dua kepentingan. Momo mendengar dirinya disebut dengan kata-kata bisnis yang licin. Jembatan. Ikatan. Tanda niat baik.
Renard melepaskan pergelangan Momo dan berdiri penuh.
"Dia bukan milikmu untuk ditawarkan," katanya.
Gunawan terdiam.
Renard menatap semua orang yang cukup dekat untuk mendengar. Wajahnya pucat, tetapi suaranya tidak goyah.
"Dia milikku."
Momo tahu ia harus membenci kalimat itu.
Ia memang membencinya.
Tetapi saat Gunawan mundur, saat Queenie menggigit bibir, saat orang-orang yang tadi menatapnya seperti barang tiba-tiba menurunkan pandangan, Momo merasakan sisi gelap kalimat itu: perlindungan yang datang dalam bentuk klaim.
Ia merasa kotor karena bagian dirinya lega.
Lalu kaca balkon pecah oleh suara tembakan.
Sen muncul di sisi luar, darah di bahu, senyum hilang dari wajahnya. Untuk satu detik, matanya bertemu mata Momo. Ada peringatan di sana. Atau penyesalan. Momo tidak sempat memilih.
Tembakan kedua meledak.
Sen jatuh ke belakang.
Kekacauan meledak seperti kaca.
Tamu berteriak. Pengawal bergerak. Musik berhenti di tengah nada. Momo hanya sempat melihat gelas sampanye jatuh dan pecah dekat sepatu Queenie sebelum Renard menariknya.
Dadanya keras menghantam pipi Momo. Tangannya menekan belakang kepala Momo, memaksanya menunduk. Posesif. Protektif. Terlalu kuat. Momo ingin mendorong, tetapi tubuhnya tahu peluru tidak peduli harga diri.
"Tetap di belakangku."
"Sen jatuh!"
"Aku tahu."
"Dia tertembak!"
"Aku tahu."
Renard terdengar marah karena tahu. Atau karena Momo masih memikirkan Sen saat berada dalam pelukannya. Bahkan dalam krisis, bahkan dengan racun di tubuhnya, pria itu sempat cemburu pada nama yang keluar dari mulut Momo.
"Renard, lepas."
"Tidak."
"Aku tidak bisa bernapas."
Pelukannya melonggar satu inci. Hanya satu. Cukup agar Momo menghirup udara, tidak cukup agar ia pergi. Mata amber itu menunduk ke arahnya, gelap oleh racun, amarah, dan sesuatu yang lebih telanjang.
"Kalau kau bergerak tanpa izinku malam ini, aku akan menggendongmu keluar."
"Kamu sakit."
"Aku masih bisa."
Momo percaya. Itulah masalahnya.
Di sela keributan, Momo melihat Queenie dibawa keluar oleh dua pengawal Renard. Perempuan itu masih berteriak bahwa semua ini salah paham, tetapi wajahnya pucat seperti orang yang baru melihat racunnya kembali menggigit tangan sendiri.
Gunawan menghilang di antara tamu.
Tentu saja.
Ayahnya selalu pandai pergi tepat sebelum akibat datang.
Momo mencoba mendorong tubuh Renard lagi. "Gunawan kabur."
"Biarkan."
"Dia ayahku."
"Malam ini dia target kedua."
"Siapa target pertama?"
Renard menunduk, wajahnya pucat oleh racun dan amarah. "Kau tetap bernapas."
Kalimat itu membuat Momo diam tepat saat pengawal membentuk lingkaran di sekitar mereka.
Renard menarik Momo ke dadanya, menutup tubuhnya dari kekacauan, sementara suara air pecah jauh di bawah dan darah mulai menyebar di malam Jakarta.