Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Puncak Olympus dan Murka dari Langit
Bau hangus esensi jiwa yang menguap memenuhi udara ngarai kaki Gunung Olympus. Jeritan ketakutan dan rintihan ratusan ribu sisa pasukan Aliansi Tiga Klan yang selamat terdengar laksana paduan suara dari neraka. Sejuta bilah yang tadinya diklaim tak tertandingi kini terhampar sebagai debu kosmis dan potongan besi zirar yang hancur.
Di tengah kawah raksasa yang membelah lembah, dua sosok agung—Tetua Agung Guang dan Tetua Agung Varun—tergeletak dengan zirah yang telah hancur total. Basis kultivasi Ranah Penguasa Langit (Sky Sovereign) Tingkat Puncak milik mereka berdua tidak lagi memancar anggun; energinya bocor keluar dari luka-luka retakan di sekujur tubuh mereka. Sisa esensi hukum cahaya dan samudra di tubuh mereka bergolak liar, mencoba mempertahankan sisa napas mereka yang sekarat.
Kala melangkah mendekati kedua pria tua tersebut. Setiap ketukan langkah kakinya terdengar seperti lonceng kematian di telinga sisa-sisa kultivator yang menyaksikan.
"Kau... kau bukan manusia fana... Kau adalah reinkarnasi dari malapetaka..." ratap Tetua Agung Guang dengan mata yang dipenuhi darah jernih, memandang kain kasa hitam Kala yang kini berganti dengan lubang hitam galaksi yang berputar lambat.
Kala berhenti tepat di atas tubuh mereka. Dia tidak menunjukkan rasa kasihan ataupun amarah yang meluap. Wajahnya sedingin puncak gunung es absolut.
"Aku hanyalah anak budak yang skenario hidupnya kalian tulis dengan darah," ucap Kala datar.
Mata kiri Black Hole Kala melebar. Konstelasi bintang di dalamnya berputar berlawanan arah jarum jam dengan intensitas yang jauh lebih masif daripada sebelumnya, memanfaatkan ranah Ranah Raja Bumi yang kini dia sandang.
"Menelan Esensi Langit."
WUUUSH!
Dua pusaran kegelapan hampa udara melesat dari mata kirinya, menancap langsung pada dantian Tetua Agung Guang dan Varun. Dua Master tertinggi Benua Tengah itu melolong panjang dalam keputusasaan saat sisa kultivasi Penguasa Langit Puncak mereka, beserta pemahaman hukum elemen cahaya dan samudra orisinal mereka, dikuras paksa hingga bersih. Kulit mereka mengering dan menyusut menjadi dua kerangka keriput dalam hitungan detik.
Energi kosmis yang sangat masif itu meledak di dalam pembuluh nadi Kala. Aliran meridian jiwanya bergemuruh laksana dentangan jam raksasa alam semesta.
DENG! DENG! DENG!
Dinding pembatas ranah di dalam jiwanya retak dan hancur berantakan. Mengasimilasi energi murni dari dua Penguasa Langit Puncak secara bersamaan membuat basis kultivasi Kala melompat secara ekstrem, mendobrak batas dunia fana dan menembus langsung ke Ranah Penguasa Langit (Sky Sovereign) Tingkat Menengah!
Langit gerhana matahari kosmis di atas Gunung Olympus bergetar hebat. Pusaran awan hitam raksasa setinggi ribuan meter berputar tepat di atas kepala Kala, menyambut kebangkitan Sang Penguasa Langit yang baru.
"Senior Zian!" Kala menoleh ke belakang melalui transmisi batin yang menggema di kepala Zian. "Bawa seluruh pasukan terbuang untuk mengamankan wilayah bawah. Hancurkan sisa-sisa klan suci yang ada. Aku akan naik ke puncak altar sendirian."
Zian, yang baru saja berhasil memimpin pasukan meretas sisa-sisa Formasi Penyaring Kosmos menggunakan kuas tembaga kunonya, bersujud dengan satu lutut. "Baik, Senior! Hamba akan memastikan tidak ada satu pun semut dari aliansi klan yang bisa mengganggu langkah Anda ke atas!"
Dengan satu sentakan kaki, tubuh Kala melesat laksana kilat perak hampa udara, mendaki dinding tebing Gunung Olympus yang terjal dalam kecepatan yang melampaui batas pandangan mata fana.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, Kala telah menembus lapisan awan kelabu dan menapakkan kakinya di Altar Langit Olympus.
Altar itu adalah pelataran batu giok suci berdiameter ratusan meter yang melayang di puncak tertinggi, berbatasan langsung dengan batas atmosfer luar. Di pusat altar, sebuah tiang pengorbanan dari kristal cahaya kuno berdiri tegak. Dan di sana, terikat oleh rantai energi api dan cahaya dewa yang membara, Putri Liana berdiri dengan kepala tertunduk. Jubah sutra putih sucinya ternoda oleh garis mantra pengorbanan darah.
Di sekeliling tiang tersebut, sekelompok Tetua Inti Klan Cahaya sedang merapalkan mantra terlarang, sementara gerhana matahari di atas mereka telah mencapai puncaknya, menyisakan korona merah darah yang bersinar pekat.
Namun, sebelum Kala sempat melangkah maju mendekati Liana, langit di atas Altar Olympus mendadak robek.
CRACKKK!!!
Sebuah celah dimensi raksasa sepanjang beberapa kilometer terbuka di angkasa. Dari balik celah tersebut, sebuah tekanan batin yang sejuta kali lebih menindas daripada energi Penguasa Langit meledak, menekan seluruh puncak Olympus hingga bebatuan suci mulai retak dan hancur menjadi bubuk.
Dua pasang mata raksasa yang terbuat dari kobaran api sejati dan gumpalan cahaya absolut termaterialisasi di balik awan dimensi. Itu adalah proyeksi kesadaran dari Dewa Api (Agni) dan Dewa Cahaya (Hyperion) dari Alam Dewa Agung.
"Semut fana yang menyedihkan... Berani-beraninya kau mengacaukan ritual keabadian yang kami rancang untuk semesta ini!" sebuah suara menggelegar yang sanggup meruntuhkan jiwa manusia biasa bergaung dari balik celah dimensi.
Sebuah tangan raksasa yang terbuat dari api perak dewa dan kilatan cahaya penghakiman terjulur turun dari langit, berukuran sebesar kota, meluncur deras ke arah Altar Olympus siap meratakan Kala beserta seluruh puncak gunung tersebut menjadi ketiadaan.
Itulah intervensi pertama dari para Dewa Agung. Level kekuatan tangan dewa ini telah berada di Ranah Dewa Sejati (True Deity).
Kala mendongak menatap tangan raksasa yang membawa kiamat kosmis tersebut. Menghadapi ancaman tingkat Dewa Sejati saat dirinya berada di Ranah Penganlangit Tingkat Menengah, ketegangan batin Kala memuncak. Dia tahu, jika dia menggunakan Hukum Sepuluh Senti secara normal pada tangan dewa ini, tubuhnya akan langsung hancur akibat perbedaan ranah yang terlalu jauh.
Namun, di dalam Pedang Jian hitam tipis di pinggangnya, esensi jiwa Liana yang terikat di tiang altar tiba-tiba bergetar, memancarkan gelombang kehangatan murni yang masuk ke dalam batin Kala.
“Kala... jangan takut pada langit...” suara Liana berbisik lembut di dalam pikirannya, memicu denyut energi kosmis baru di dalam nadinya. “Ambil cahayaku... dan belahlah tirani mereka!”
Kala tersenyum dingin. Tangan kirinya mencengkeram erat sarung pedang kayu Yggdrasil, sementara telapak tangan kanannya mengunci gagang pedang tipis hitamnya yang setipis kertas.
"Hukum Sepuluh Senti... Patahan Dimensi absolut!"
CHIIING!!!!!!!!!!!
Dentingan pedang yang paling nyaring, paling mematikan, dan paling megah dalam sejarah semesta meledak, memecah seluruh lolongan suara dewa di langit tinggi. Kala menarik bilah pedang hitamnya sepanjang tepat sepuluh sentimeter.