Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Delapan
Mata Laras berkaca kaca menatap ke seberang sekolahnya, dan di sampingnya ada sang adik yang memegang tangannya ikut menatap perih ke sekolah di depan sekolah mereka, di sana adalah sekolah yang lumayan elit, dan itu sekolah para sepupunya sementara Laras dan sang adik sekolah di sekolah negeri biasa di sana.
Bukan sekolahnya yang jadi masalah, tapi pemandangan du depan sekolah itu yang membuat ke dua anak itu sakit hati, di sana ada ayah mereka yang datang dengan mobil baru, tapi bukan menjemput mereka, melainkan menjemput sepupu mereka dengan tentengan makanan dari merk MCd di tangannya.
Senyum ayah mereka terlihat penuh kasih sayang ke arah ke dua sepupu mereka, itu membuat iri hati Laras dan Gibran, kepada mereka entah kapan ayahnya pernah selembut itu, bahkan ke dua anak itu lupa apa pernah ayah mereka memperlakukan mereka selembut itu, entah lah. Yang mereka ingat hanya sikap dingin dan kata kata menusuk dari ayah mereka.
"Enak ya jadi mereka, di sayangi oleh nenek, papa, mama mereka, bahkan papa kita aja lebih sayang sama mereka." gumam Gibran memegang erat tangan sang kakak.
Laras lansung menatap sang adik dengan tatapan iba. " Kita ada mama dan abang yang menyayangi kita, jadi nggak perlu perhatian dari orang lain, cukup mama dan abang saja, yang lain anggap bukan keluarga kita." ucap gadis itu dengan senyum perih di hati mereka.
"Yeyyy.... Benaran om, kita ke Timezone?! " pekik Alika kegirangan, dan ucapan itu terdengar jelas di telinga ke dua anak malang itu.
"Beneran dong masa om bohong." jawab Gilang ikut tersenyum lepas memeluk ke dua keponakannya itu, dan semua yang mereka lakukan, dapat di lihat dengan nyata oleh Laras dan Gibran.
Buka hanya Laras dan Gibran melihat itu, tapi Ares pun melihat itu dari tadi, tangannya terkepal menatap ke jadian di depan matanya, dia bisa melihat kesakitan di mata ke dua adiknya.
"Laras, Gibran, kalian sudah pulang, ayo pulang sama abang." ajak Ares dengan suara yang sengaja di keraskan.
Degggg....
Pak Galih menatap ke tiga anak anaknya yang juga berada tidak jauh darinya.
Bahkan pak Galih sendiri tidak tau klau anak anaknya sekolah di sana juga.
"Abang... Abang datang jemput kami?! " sorak Gibran, entah kemana wajah sendunya tadi, mendengar suara kakak sulungnya itu, senyum Gibran kembali melebar sempurna, seolah olah lupa dengan ke jadian yang menyakitkan di depan mata tadi.
"Tentu saja abang menjemput kalian, kalau bukan abang siapa lagi yang mau jemput kalian, memang ada orang lain yang perduli sama kalian, selain abang dan mama?! " kekeh Ares mengusap kepala kedua adiknya dengan penuh kasih sayang, suaranya sengaja dia keraskan agar di dengar oleh ayah dan adik sepupunya, bahkan oleh orang orang yang ada di sekitar sana.
"Ahhh.... Abang yang terbaik pokoknya, terimaksih ya sudah jadi abang terbaik buat kami, selalu ada kapan pun kami butuh, tetap seperti ini ya bang." ucap Laras berkaca kaca dan memeluk abangnya itu.
"Tentu saja abang akan selalu ada untuk kalian dan mama." ucap Ares memeluk ke dua adiknya dengan perasaan campur aduk.
Sementara pak Galih terpaku menatap anak anaknya, dia tidak menyangka ada anak anaknya di sana.
"Ares, Laras, Gibran." panggil pak Galih, ke tiga anak itu melihat ke arah suara yang memanggil mereka, mereka tau suara siapa itu.
"Kalian ngapain di sini?! " tanya pak Galih dengan pertanyaan konyolnya.
"Tentu saja lagi belajar, agar tidak bodoh nantinya, jadi tau mana tanggung jawab utama dan yang harus di dulu kan, nggak kaya orang yang ngaku hebat dan pintar, nyatanya oon" ucap Ares dengan ucapan sarkas
Pak Galih lansung mengepalkan tangannya, sungguh anak sulungnya itu selalu saja mengibarkan bendera perang sejak ke jadian dimana saat Ares minta uang bayaran sekolah dan di saat sang ibu menghamburkan uang di meja makan, kata kata yang keluar dari mulut anaknya selalu kata kata pedas yang menusuk hati.
"Papa nanya baik baik loh, Res. Tapi kamu kenapa jawabnya kurang ajar kaya gitu?! " geram pak Galih, ingin sekali dia menampar anaknya saat itu juga, namun apa daya, banyak orang yang melihat ke arah mereka.
"Lah, papa aja yang nggak mikir, ini di sekolah, ngapain lagi orang di sekolah klau bukan belajar, aneh." acuh Ares.
"Abang, papa mungkin nggak tau anak anaknya sekolah di mana selama ini, kan selama ini ayah lebih perhatian sama keponakannya, hingga lupa memperhatikan anak sendiri, jadi abang nggak usah heran." ceplos Laras dengan senyum manis di bibirnya siapa yang tau hati anak ini menahan sakit yang luar biasa, namun berusaha terlihat baik baik saja.
"Ahhh... Iya, kamu benar, ya udah kita pulang, abang mau ajak kalian jajan es krim." ajak Ares menggandeng tangan ke dua adiknya mereka berjalan beriringan tanpa perduli dengan papa dan sepupunya.
"Asikkk.... Adek mau dia ya bang." pinta Gibran meloncat loncat riang.
"Boleh tapi nanti harus bantu mama di rumah ya." sahut Ares yang masih menggandeng tangan adik adiknya. Berjalan meninggalkan keterpakuan sang ayah.
"Itu nggak usah di ingat kan, kami akan selalu membantu mama, apa lagi sekarang warung mama selalu ramai pengunjung, mama sampai ke teteran, tapi terlihat bahagia melayani pelanggan." sahut Gibran.
"Kakak nanti ngerjain PR dulu baru ke warung, mama nggak suka klau tugas sekolah kita jadi terbengkalai karena membantu mama." ucap Laras.
"Iya, itu yang paling penting." angguk Ares.
Anak remaja itu sudah bertekad ingin bekerja lebih kuat lagi, agar bisa membahagiakan adik adik dan mamanya.
"Alhamdulillah ya, Ya. Jam segini sudah habis." ucap bu Rini dengan setia membantu sahabatnya itu setiap hari, melihat sahabatnya sukses hati bu Rini ikut bahagia, tidak ada rasa iri di hatinya sedikit pun.
"Iya Alhamdulillah.... Tadi ada orang kelurahan datang memborong makanan, katanya ada tamu dadakan, jadi lah mereka borong makanan kita." kekeh bu Soraya mengelap keringat di dahinya, terlihat senyum bahagia di wajah wanita 40th itu.
Wajah yang dulu terlihat tirus dan kusam, sorot mata banyak tekanan, kini perlahan menghilang dari wajah itu, di ganti dengan senyum sumringah dan binar bahagia di mata itu.
"Ehhh.... Tadi staf kantor datang lagi, katanya mau pesan nasi box untuk lusa 150 box dan snacknya 150 box juga." jawab Soraya.
"Alhamdulillah.... semoga warung mu selalu laris dan semakin hari banyak pesanan." ucap bu Rini ikut bahagia.
"Aamiin.... " sahut bu Soraya.
"Makasih banyak Rin, klau bukan karena kamu dan suami mu, entah gimana nasib sekarang." ucap bu Soraya sendu.
"Bukan karena kami saja, tapi karena ada tekad di hati kamu untuk berubah juga, makanya kamu ada di posisi ini, dan kamu buktikan kepada laki medusa itu, klau kamu bisa hidup tanpa uang receh darinya." ucap Bu Rini.
"Hahaha... Iya, kamu benar, aku harus lebih maju lagi bahkan uang receh yang di berikannya itu, tidak ada apa apanya dengan pendapatan ku setengah hari." kekeh bu Soraya menyombongkan diri dengan gaya lucunya membuat bu Rini ikut tertawa.
"Hahaha... Sombong mu yang seperti ini dapat ku Terima kawan." kekeh bu Rini menepuk baju sahabatnya itu
Mereka tertawa bahagia di dalam warung sederhana itu, tapi ada kebahagiaan di sana.
Bersambung.....
Haiii.... Jangan lupa like komen dan vote ya.... 😘😘😘🥰🥰🖕
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti