"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."
Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.
Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.
Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.
Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.
Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.
Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Kenyataan Pahit
Hari itu, Alena memutuskan untuk tidak keluar mencari pekerjaan. Ia memilih tetap berada di rumah untuk menyambut kedatangan kedua mertuanya.
Sejak pagi, ia sudah sibuk di dapur bersama Santi. Mereka pergi ke pasar membeli bahan-bahan segar, lalu kembali menyiapkan berbagai hidangan favorit kedua orang tua Arsen.
Tangannya memang sibuk memasak, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana.
Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya kepada mertuanya?
Bagaimanapun juga, mereka berhak mengetahui kelakuan putra mereka.
Tapi, bagaimana jika kabar itu justru menghancurkan mereka?
Bagaimana jika kesehatan mereka terganggu karena tidak sanggup menerima kenyataan?
Semakin ia pikirkan, semakin hatinya merasa bimbang. Karena itulah, ia akhirnya menghubungi Nadia.
Begitu panggilan tersambung, Alena langsung menceritakan bahwa kedua mertuanya akan datang hari ini.
"Aku bingung, Nad," ucapnya lirih. "Apa aku harus memberitahu mereka tentang Mas Arsen?"
Di seberang telepon, Nadia terdiam cukup lama. "Kalau menurut perasaanku, mereka berhak tahu, Len."
"Aku juga berpikir begitu."
"Tapi..." Nadia menghela napas panjang. "Usia mereka sudah tidak muda lagi. Kalau mereka sampai syok, bagaimana?"
Alena memejamkan mata. "Itu yang membuatku takut."
Suasana kembali hening.
Beberapa detik kemudian Nadia berkata dengan nada lebih tenang.
"Menurutku, jangan terburu-buru memberitahu mereka. Kamu tunggu momen yang tepat."
Alena terdiam mendengarkan.
"Kalau memang harus mengatakan semuanya, pastikan kondisi mereka benar-benar siap," lanjut Nadia. "Jangan sampai niatmu mencari keadilan justru membuat orang yang tidak bersalah ikut terluka."
Ucapan itu terus terngiang di kepala Alena bahkan setelah sambungan telepon berakhir.
Tanpa terasa, waktu menunjukkan tengah hari. Semua masakan telah selesai dan berbagai hidangan tersusun rapi di atas meja makan.
Alena berdiri beberapa langkah dari meja itu sambil memperhatikan hasil masakannya.
Biasanya ia akan merasa senang. Tapi hari ini, senyum di wajahnya terasa begitu berat.
Tidak lama kemudian, suara bel rumah berbunyi, membuat jantung Alena langsung berdegup lebih cepat.
Ia segera melepas celemek yang masih menempel di tubuhnya, merapikan rambutnya sekilas, lalu berjalan menuju pintu.
Begitu pintu terbuka, senyum hangat langsung terukir di wajahnya.
"Mama, Papa..." Tanpa mampu menahan diri, Alena langsung memeluk ibu mertuanya erat.
Hana tampak sedikit terkejut, tetapi dia hanya diam tanpa ada niat untuk membalas.
Alena merasa canggung tapi, ia memaksakan senyum.
"Bagaimana kabar Mama dan Papa?"
Hana dan Danis saling berpandangan sesaat. Mereka tersenyum sebelum menjawab, "Kami baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Hana sambil mengusap lengan Alena.
Alena mengangguk pelan. "Aku juga baik, Ma."
Meski bibirnya berkata demikian, senyumnya tidak mampu menyembunyikan kesedihan di matanya.
"O, ya. Ayo masuk."
Alena menggandeng tangan Hana dengan lembut, sementara Danis mengikuti dari belakang sambil membawa koper kecil mereka.
Begitu memasuki ruang makan, Alena langsung berkata dengan sedikit antusias.
"Aku sudah memasak makanan kesukaan Mama dan Papa."
Tatapannya mengarah ke meja makan yang penuh dengan berbagai hidangan.
"Aku berharap rasanya masih sama seperti dulu."
Danis memperhatikan semua masakan itu dengan mata berbinar.
"Wah... Kelihatannya enak sekali."
Mendengar pujian itu, Alena tersenyum senang. Tapi, senyum tersebut hanya bertahan sesaat.
"Tapi sayangnya, kami belum lapar," lanjut Danis.
Hana mengangguk membenarkan. "Perjalanan tadi cukup melelahkan. Kami ingin beristirahat sebentar."
Senyum Alena perlahan memudar. Meski sedikit kecewa, ia berusaha memahami keadaan mereka.
"Ti-tidak apa-apa. Mama dan Papa istirahat dulu saja." Alena kembali tersenyum, meski kali ini senyumnya tampak dipaksakan. "Aku sudah membersihkan kamar dan mengganti sprei baru. Semoga Mama dan Papa nyaman."
Hana menatap wajah Alena beberapa saat, sebelum mengangguk. Ia dan Danis akhirnya berbalik, menuju kamar mereka.
Tidak berapa lama, Hana dan Danis masuk ke kamar tamu yang telah disiapkan untuk mereka. Keduanya melepas mantel, lalu meletakkan koper di sisi ranjang.
Danis mengembuskan napas panjang. Sejak tiba, perasaannya tidak tenang.
"Apa kita harus bersikap seperti ini kepada Alena?" tanyanya pelan. "Dia sudah menyambut kita dengan baik, bahkan memasakkan makanan kesukaan kita."
Hana menoleh tajam. "Kalau begitu, makan saja semua masakannya," sindirnya.
"Bukan begitu maksudku." Danis mengusap tengkuknya. "Aku hanya merasa sikap kita terlalu berlebihan. Terlalu jelas menunjukkan kalau kita tidak menyukainya."
Hana mendengus. "Mau bagaimana lagi? Dia sendiri yang bodoh." Ia lalu duduk di tepi ranjang dan menatap suaminya. "Sekarang telepon Arsen. Bilang kalau kita sudah sampai."
Danis mengangguk pasrah. Ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi putranya.
Tidak lama kemudian, panggilan itu tersambung.
"Halo, Pa. Ada apa?" suara Arsen terdengar dari seberang.
"Arsen, kami sudah sampai di rumahmu. Kapan kamu pulang?" tanya Danis.
Hana segera memberi isyarat agar suaminya mengaktifkan pengeras suara.
"Aku akan berusaha pulang lebih cepat," jawab Arsen.
Di saat yang sama, Alena berjalan menuju kamar mertuanya sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat.
Tapi, saat hendak mengetuk pintu, gerakannya terhenti. Samar-samar, ia terdengar suara Hana.
"Jangan cuma berusaha, kamu harus pulang cepat. Mama sudah tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi pada Alena."
Alena mengernyit. Ia mendekatkan telinga ke daun pintu dan mendengar suara Arsen.
"Memangnya kenapa, Ma? Bersikap seperti biasa saja."
"Bagaimana bisa seperti biasa?" nada Hana meninggi. "Kalau Mama terlalu baik padanya, nanti dia malah besar kepala. Lagi pula, kenapa kamu tidak segera menceraikannya saja?"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar.
Mata Alena membelalak. Tubuhnya mendadak kaku. Jantungnya berdegup keras.
"Tidak semudah itu, Ma. Mama tahu sendiri, perusahaan ku bisa berdiri karena bantuan Alena dari uang hasil penjualan rumah peninggalan orang tuanya."
Napas Alena tercekat. Tangannya mulai gemetar.
"Tapi, kamu yang bekerja keras mengembangkan perusahaan itu," seru Hana. "Tinggal kembalikan saja uangnya. Selesai."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Alena. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat agar isak nya tidak terdengar.
"Ma, kita harus bermain rapi," ujar Arsen dengan suara dingin. "Aku ingin dia keluar dari rumah ini tanpa membawa apa pun."
DEG!
Hati Alena terasa hancur berkeping-keping. Tangannya mencengkeram nampan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia tidak menyangka jika selama ini, Arsen bukan hanya mengkhianatinya, tapi juga mengincar seluruh harta yang telah ia korbankan.
Di dalam kamar, Hana menghela napas.
"Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi, kapan Mama dan Papa bisa bertemu Erina? Kami sudah tidak sabar."
Tubuh Alena berguncang. Matanya membesar penuh rasa tidak percaya.
Ternyata, Mertuanya sudah mengetahui perselingkuhan Arsen. Bahkan, mereka begitu antusias ingin bertemu wanita itu.
Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.
"Mama sabar dulu, ya," ucap Arsen. "Nanti, aku atur waktunya. Sudah dulu, aku mau meeting."
"Baiklah."
Panggilan pun berakhir.
Danis menyimpan ponselnya dan menatap istrinya dengan wajah muram.
"Aku rasa, kita sudah keterlaluan," ucapnya pelan.
Hana langsung menatapnya tidak suka. "Kamu kasihan pada Alena?"
Danis hanya diam. Dan, itu sudah cukup menjadi jawaban.
Hana mendengus sinis. "Siapa suruh dia tidak bisa memberi kita cucu? Untuk apa mempertahankan menantu yang bahkan tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga kita?"
Di luar kamar, air mata Alena akhirnya jatuh membasahi pipinya. Tangannya melemas. Nampan yang dibawanya bergetar hebat.
Selama ini, ia menganggap mereka sebagai orang tua sendiri. Ia melayani dan menghormati mereka sepenuh hati.
Tapi di mata mereka, ia hanyalah wanita yang tidak berguna, yang pantas disingkirkan begitu saja.
Perlahan, Alena melangkah mundur dengan tubuh gemetar, membawa serta hatinya yang baru saja dihancurkan oleh orang-orang yang paling ia percayai.
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
makin seru thor, lanjut...