Istri Cadangan Sang Mafia
Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.
Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.
Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Viren tidak menjawab. Ia mengambil sandwich itu, lalu menggigitnya pelan.
Tak lama kemudian, beberapa teman sekelasnya menghampiri. "Wah, bekalmu kelihatan enak," ujar salah seorang sambil melongok ke dalam kotak bekal di pangkuan Viren.
Anak itu menatap sandwich yang masih tersisa, seolah menunggu reaksi Viren.
Viren tidak menarik kotak bekalnya menjauh. Ia justru mengangkat satu potong sandwich dan mengulurkannya. "Mau?"
"Mau!" Anak itu menerimanya dengan wajah berbinar.
Melihat itu, dua anak lain ikut mendekat. "Boleh aku juga?"
Viren mengangguk singkat. Ia membagi sisa sandwich di dalam kotak tanpa ragu. Tak lama kemudian, hanya tersisa beberapa potong buah.
Serina memperhatikan pemandangan itu tanpa mengganggu. Sudut bibirnya terangkat tipis. Viren masih tidak banyak bicara, tetapi untuk pertama kalinya, bekal yang ia bawa tidak hanya dimakan sendiri.
Bu Helena yang melintas di koridor menghentikan langkahnya sejenak. Ia melihat Viren makan sambil duduk di samping Serina.
Pemandangan yang belum pernah ia lihat selama mengajar anak itu. Namun ia memilih melanjutkan langkah tanpa menyapa. Beberapa hal, lebih baik dibiarkan tumbuh tanpa disadari oleh orang yang sedang menjalaninya.
Tak lama kemudian, Viren kembali masuk ke ruang kelas. "Bekalku habis." Ia menyodorkan kotak bekal pada Serina.
Serina mengangkat kepala. " Aku tahu."
"Aku sudah pernah bilang padamu. Bekalku habis bukan berarti enak." Serina menatapnya, menunggu ia melanjutkan. "Aku membaginya dengan teman-temanku."
Sesaat hening. Lalu Serina tersenyum tipis.
"Begitu, ya."
Viren mengamati wajah Serina, seolah memastikan perempuan itu mengerti maksudnya.
Serina menutup kotak bekal yang kini kosong.
"Kalau begitu, besok saya buat lebih banyak."
Viren tidak menjawab. Namun kali ini ia tidak membantah keputusan Serina.
...****************...
Bel kelas piano berbunyi pelan. Anak-anak berlarian keluar sambil membawa tas masing-masing. Viren menunggu di dekat pintu.
Serina berdiri beberapa langkah darinya.
"Ayo, Tuan Muda."
Viren mengangguk. Keduanya berjalan menuju parkiran.
"Viren." Suara Bu Helena menghentikan langkah mereka.
Viren menoleh.
"Aku ingin bicara sebentar dengan pendampingmu."
Viren melirik Serina. Perempuan itu mengangguk kecil. "Tunggu di sana." Viren berjalan ke bangku ruang tunggu.
Bu Helena memperhatikan sampai anak itu benar-benar duduk sebelum kembali menatap Serina. "Maaf kalau pertanyaanku terlalu pribadi."
"Tidak apa-apa."
Bu Helena tersenyum tipis. "Siapa sebenarnya Anda?"
Serina tampak bingung. "Maksud Ibu?"
"Saya sudah mengajar banyak anak. Saya juga sering bertemu pengasuh, asisten rumah tangga, bahkan guru pendamping." Ia berhenti sejenak.
"Tapi saya belum pernah melihat seorang anak seperti Viren memperlakukan pendampingnya seperti Anda."
Serina terdiam.
"Dia mendengarkan Anda. Dia menerima bekal yang Anda siapkan. Bahkan hari ini dia mau berbagi makanan dengan temannya."
Bu Helena menggeleng pelan. "Itu bukan perubahan kecil."
Serina menundukkan pandangan sesaat. "Saya hanya melakukan pekerjaan saya."
"Itu bukan jawaban yang saya cari."
Serina mengangkat kepala. "Saya memang pengasuhnya."
Bu Helena memperhatikannya beberapa detik.
"Kalau begitu... Anda pasti orang yang sangat berarti bagi Viren."
Serina tidak menjawab. Tatapannya justru beralih ke arah ruang tunggu. Viren masih duduk tenang. Kedua tangannya berada di atas tasnya. Namun matanya sesekali mengarah ke arah mereka, memastikan Serina belum pergi.
Bu Helena mengikuti arah pandang itu. Senyumnya berubah tipis. Ia merasa jawabannya belum lengkap. Namun untuk sementara, itu sudah cukup.
Serina menoleh ke arah ruang tunggu. "Kalau tidak ada lagi yang ingin Ibu sampaikan, saya permisi. Tuan Muda sudah menunggu."
Bu Helena mengangguk pelan. "Tentu."
Serina membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat. "Terima kasih, Bu Helena."
"Saya yang berterima kasih."
Serina berbalik. Langkahnya tenang menghampiri Viren. "Ayo, Tuan Muda."
Viren segera berdiri tanpa diminta lagi. Ia menyampirkan tas di bahu, lalu berjalan di sisi Serina menuju pintu keluar.
Bu Helena masih memandangi keduanya dari dalam ruang kelas.
Biasanya anak-anak seusia Viren berlari lebih dulu, meninggalkan pengasuh mereka beberapa meter di belakang. Viren justru menjaga jarak langkahnya agar tetap sejajar dengan Serina.
Bu Helena mengembuskan napas pelan. "Siapa sebenarnya kamu..." gumamnya lirih.
Serina dan Viren sudah menghilang di balik lorong.
...****************...
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas tepat ketika mobil berhenti di depan gedung kolam renang. Lokasinya tidak jauh dari tempat les piano, hanya beberapa menit perjalanan.
Serina turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Viren. "Mari, Tuan Muda."
Viren turun sambil membawa tas kecil berisi perlengkapan renangnya.
Begitu memasuki area lobi, Serina berjongkok agar sejajar dengannya. "Tuan Muda, apa perlu saya bantu mengganti baju renang?"
Viren menggeleng tanpa ragu. "Tidak."
"Yakin?"
"Aku bisa sendiri."
Serina tersenyum tipis. Ia memang sudah menduga jawaban itu. "Baik. Kalau begitu saya tunggu di luar ruang ganti. Kalau kesulitan, panggil saya."
Viren mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka ritsleting tasnya, mengambil pakaian renang dan handuk kecil, lalu masuk ke ruang ganti dengan langkah mantap.
Serina tidak mengikutinya. Ia hanya berdiri di depan pintu ruang ganti.
Anak itu memang berbeda. Bukan hanya cerdas, tetapi juga terbiasa mengurus banyak hal sendiri
Peluit panjang terdengar. "Masuk ke air."
Satu per satu anak melompat ke kolam dangkal. Air memercik ke segala arah. Viren turun menggunakan tangga. Gerakannya tenang. Ia merendam tubuh hingga sebatas dada sebelum mulai mengikuti instruksi pelatih.
Serina berdiri di balik pagar pembatas bersama para orang tua dan pengasuh lain.
"Kick... satu, dua, tiga..."
Pelatih berjalan menyusuri tepi kolam, sesekali membetulkan posisi kaki anak-anak.
Seorang bocah di lintasan sebelah tampak terlalu bersemangat. Ia melepaskan pegangan papan pelampung sebelum diminta. Tubuh kecil itu meluncur ke bagian kolam yang lebih dalam.
Awalnya tidak ada yang menyadari. Baru ketika kedua tangannya mengibas air tanpa arah, suara panik terdengar.
"Pak! Pak!"
Pelatih menoleh. Terlambat. Tubuh anak itu sudah tenggelam sesaat.
Serina tidak berpikir panjang. Tasnya jatuh begitu saja ke lantai. Ia membuka sepatu sambil berlari.
"Hei, Bu!" seseorang berseru.
Byur!
Tubuh Serina menerobos permukaan air.
Gerakannya lurus dan cepat, memotong permukaan kolam tanpa banyak cipratan.
Dalam hitungan detik tangannya sudah meraih lengan anak itu. Serina memutar tubuhnya, menopang kepala si anak tetap berada di atas air, lalu berenang kembali ke tepi kolam.
Pelatih segera membantu mengangkat bocah itu.
"Bawa ke sini!"
Anak itu batuk-batuk. Air menyembur dari mulutnya. Tangis pun pecah.
Baru saat itu suasana kolam kembali bergerak.
"Astaga..."
"Dia cepat sekali."
"Itu ibunya siapa ?"
Serina hanya memeriksa napas anak itu sekilas.
"Dia tidak apa-apa."
Pelatih menatap Serina. "Anda pernah menjadi atlet?"
Serina menggeleng pelan. "Hanya bisa berenang." Jawaban itu terdengar terlalu sederhana untuk gerakan yang baru saja ia lakukan.
Di sisi lain kolam, Viren masih memegang papan pelampung. Tatapannya tidak lepas dari Serina.
Untuk pertama kalinya sejak pelajaran dimulai, konsentrasinya buyar.
"Viren."
Pelatih meniup peluit. "Kembali latihan."
Viren mengangguk pelan. Namun sebelum berbalik, matanya sekali lagi mencari sosok Serina yang sedang memeras ujung lengan bajunya seolah tidak terjadi apa-apa.