NovelToon NovelToon
TERJERAT OBSESI ELZIO

TERJERAT OBSESI ELZIO

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / CEO / Percintaan Konglomerat / Office Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

"Arka! Kamu harus bereskan ini semua sebelum matahari terbenam!"

​Elzio mondar-mandir di ruang kerjanya yang luas di kantor cangkang 'Clara Corp'. Wajahnya yang biasanya tenang tanpa ekspresi kini tampak panik parah. Kemeja putihnya sudah tergulung hingga siku, dan dasinya sudah dilonggarkan.

​Arka yang berdiri di depan meja hanya bisa menghela napas panjang, membetulkan letak kacamata itemnya.

​"Pak Elzio, bukannya dari awal saya sudah memperingatkan Anda?" ujar Arka dengan nada datar tanpa beban. "Nona Clara itu paling benci dibohongi. Sekarang Anda sendiri yang panik setengah mati karena skenario 'pria bangkrut' ini."

​"Saya tidak butuh ceramah kamu, Arka!" potong Elzio cepat, menunjuk asistennya itu dengan pulpen. "Kamu tahu sendiri kemarin malam dia bilang apa? Kalau saya bohong, detik itu juga dia pergi dan tidak mau menatap muka saya lagi! Kamu mau saya gila kalau dia benar-benar pergi?!"

​"Tentu tidak, Pak. Kalau Nona Clara pergi, Anda akan melampiaskannya ke pekerjaan dan saya yang bakal kerja 24 jam nonstop," sahut Arka jujur. "Lalu sekarang rencana Anda apa?"

​Elzio mengusap wajahnya yang terasa panas, lalu menyandarkan pinggulnya di tepi meja. "Ubah semua kepemilikan aset AetherCorp dan konsorsium internasional atas nama Clara."

​Arka membelalakkan mata di balik kacamatanya. "Semuanya, Pak? Aset bernilai ribuan triliun itu?"

​"Ya! Semuanya!" tegas Elzio tanpa ragu. "Jadi kalau suatu saat dia tahu saya yang punya AetherCorp, saya bisa bilang kalau saya tidak bohong... saya cuma bikin perusahaan atas nama dia! Paham?!"

​"Logika Anda benar-benar bengkok kalau sedang jatuh cinta, Pak," gumam Arka menggelengkan kepala. "Tapi baiklah, akan saya siapkan dokumen pengalihan sahamnya hari ini."

​KLAK.

​Pintu ruang kerja Elzio mendadak terdorong dari luar. Clara melangkah masuk membawa dua cangkir kopi hangat dan sekotak donat.

​"Elzio! Ini kopi sama snack buat—"

​Kalimat Clara terhenti. Matanya bergantian menatap Elzio yang berdiri tegang dan Arka yang sedang memegang tumpukan berkas tebal.

​"Loh? Arka?" Clara mengerutkan keningnya, melangkah mendekat. "Kamu kok ada di sini? Bukannya kamu asisten Elzio pas di Mahendra Group dulu? Kenapa masih ngintilin Elzio yang udah keluar?"

​Elzio menelan ludah kasar, melirik Arka dengan pandangan 'Awas kalau kamu salah bicara!'.

​Arka dengan cepat menguasai dirinya, membungkuk sopan pada Clara. "Selamat pagi, Nona Clara. Saya... sudah mengundurkan diri dari Mahendra Group kemarin sore."

​Clara membelalakkan mata kaget. "Hah?! Kamu resign dari perusahaan raksasa itu cuma buat ikut Elzio yang baru merintis bisnis kecil ini?!"

​"Betul, Nona," jawab Arka tanpa berkedip. "Gaji dan bonus yang diberikan Pak Elzio jauh lebih memuaskan. Dan... istri saya, Anya, yang menyuruh saya untuk tetap mengawal Pak Elzio."

​Clara menepuk jidatnya, menggeleng-geleng tak percaya. "Anya bener-bener ya... Tapi makasih ya, Arka. Lu setia banget sama Elzio."

​"Tentu saja dia setia, Clara. Saya kan atasan yang baik," potong Elzio cepat, menyambar cangkir kopi dari tangan Clara untuk mengalihkan perhatian. "Kamu ngapain ke sini, sweetheart? Bukannya kamu lagi cek laporan keuangan Clara Corp di ruang sebelah?"

​Clara mendudukkan dirinya di sofa empuk, mengambil satu donat cokelat. "Laporannya udah selesai. Dan jujur ya, El... gue masih merasa ini kaya mimpi."

​Elzio duduk di samping Clara, merangkul bahu wanita itu secara alami. "Mimpi bagaimana?"

​"Perusahaan kecil kita ini..." Clara menunjuk berkas di meja. "...pertumbuhannya aneh banget, El! Baru dua hari berdiri, tapi tadi pagi ada lima perusahaan asing bernilai triliun yang tiba-tiba nanam saham di tempat kita tanpa syarat! Ini beneran gara-gara analisis pasar lu, atau mereka yang pada gila?"

​UHUK!

​Elzio tersedak kopi yang baru disesapnya. Wajahnya memerah karena menahan batuk.

​"El! Pelan-pelan makannya!" seru Clara panik, menepuk-nepuk punggung Elzio.

​Arka di sebelah meja pura-pura membuang muka, menahan tawa melihat bos raksasanya yang gemetar ketakutan di depan seorang wanita.

​"Uhuk... Saya tidak apa-apa, Clara," ujar Elzio parau, merapikan duduknya. "Soal investor asing itu... itu karena reputasi nama saya di dunia bisnis masih sangat kuat. Mereka percaya pada kemampuan saya mengelola uang."

​Clara memiringkan kepalanya, menatap Elzio lekat-lekat dari jarak dekat. "Masa sih? Kok gue merasa ada yang aneh ya?"

​"Aneh bagaimana, sweetheart?" Elzio menahan napasnya.

​"Ya aneh aja. Lu ngakunya bangkrut, lepas dari Mahendra Group... tapi kok relasi lu tetep orang-orang kelas atas semua?" mata Clara memicing tajam. "Lu... enggak lagi nyembunyiin sesuatu kan dari gue?"

​Jantung Elzio berdegup kencang bagaikan memukul drum. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

​SRET!

​Elzio mendadak menarik tubuh Clara ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah wanita itu di dada bidangnya agar Clara tidak bisa melihat raut wajah paniknya.

​"Elzio! Apa-apaan sih?! Lepas! Gue lagi nanya!" gerutu Clara, memukul paha Elzio.

​"Saya cuma kangen sama kamu, Clara," dusta Elzio dengan suara dibuat serendah dan semanipulatif mungkin. "Jangan bahas bisnis terus. Kepala saya pusing."

​"Ihh! Alasan mulu kalau ditanya!" cetus Clara, walau tangannya kini perlahan membalas pelukan Elzio di pinggangnya. "Awas aja ya kalau lu bohong. Gue beneran bakal kabur ke luar negeri kalau lu bohongin gue!"

​Elzio memejamkan matanya rapat-rapat, mempererat dekapannya di tubuh Clara. Saya tidak akan biarkan kamu kabur sampai kapan pun, Clara.

​"Arka," panggil Elzio tanpa melepaskan pelukannya dari Clara.

​"Ya, Pak Elzio?"

​"Keluarkan semua investor asing itu dari daftar. Biarkan Clara Corp tumbuh secara organik saja."

​Clara mendongak dari dada Elzio, melotot kaget. "Loh?! Kenapa dikeluarkan?! Itu kan uang masuk, Elzio!"

​"Terlalu mencurigakan buat kamu, kan?" balas Elzio tenang, menyunggingkan senyum tampannya. "Saya mau kamu merasa nyaman. Kita tumbuh pelan-pelan saja dari bawah. Yang penting kita lakukan bersama-sama."

​Clara terpana menatap binar mata Elzio yang tampak begitu tulus dan protektif. Rasa curiganya seketika menguap, berganti dengan rasa hangat yang menjalar ke seluruh dadanya.

​"Lu tuh bener-bener ya..." bisik Clara pelan, pipinya merona merah. "...terlalu nurut sama gue."

​"Saya hanya nurut pada satu-satunya wanita yang memegang hati saya," jawab Elzio rendah, menunduk sedikit untuk mengecup bibir Clara dengan lembut di depan Arka yang berdiri kaku.

​"Ehem!" Arka berdeham keras, memecahkan suasana romantis itu. "Pak Elzio, Nona Clara... kalau Anda berdua ingin bermesraan, tolong ingat kalau saya masih berstatus manusia bernyawa di ruangan ini."

​Clara seketika mendorong dada Elzio, wajahnya merah padam karena malu. "Elzio! Ada Arka ih!"

​Elzio hanya terkekeh puas, menatap wanita di dekapannya dengan binar cinta yang meluap-luap. Di dalam hatinya, dia berjanji akan membereskan semua benang kusut kebohongan ini sehalus mungkin, sebelum Clara menyadarinya.

​"Arka," ujar Elzio santai.

​"Ya, Pak?"

​"Siapkan makan siang mewah buat calon istri saya. Dan hapus semua agenda kerja saya siang ini. Saya mau nemenin Clara jalan-jalan."

​"Elzio! Pekerjaan kita masih banyak!" protes Clara.

​"Pekerjaan bisa menunggu, Clara. Tapi waktu saya bersama kamu tidak bisa ditunda," balas Elzio mantap, menggandeng erat jemari Clara dan tidak berniat melepaskannya lagi.

1
umie chaby_ba
mampir thor..🙏
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!